Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Istiqomah Edukasi Remaja Muslim Masa Kini

JUNI 2013

“Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus,” (Al-Baqoroh, 231).

Zaman telah berubah. Pemikiran-pemikiran baru pun bermunculan. Manusia menjadi makhluk yang semakin cinta akan dunia. Bagi sebagian yang terjerumus ke lembah kelam akan sulit untuk keluar, namun bagi yang belum terperosok sama sekali, diharapkan untuk tidak mendekati jurang kelam tersebut.

Di antara kaum yang mudah terpengaruh arus kegelapan adalah remaja. Remaja masa kini lebih mudah terpengaruh oleh derasnya arus kehidupan yang membuat mereka harus lebih kuat dalam mempertahankan kebaikan-kebaikan dalam dirinya. Fitrahnya semua manusia itu memiliki kebaikan dalam dirinya, namun lingkunganlah yang menjadikannya baik atau buruk. Begitu pula dengan remaja, bila lingkungan di sekitarnya mengajar dan mengajak untuk selalu berbuat baik, maka insyaAllah selamatlah dirinya.

Kebaikan di Tengah Kota

“Dan hendaklah ada di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”, (QS Ali Imran, 104).

Kota besar biasanya menjadi tempat tumbuhnya bibit-bibit kesesatan. Begitu pula Jakarta, kota yang dihuni oleh sekitar sembilan juta orang, menjadi area potensial bagi manusia untuk melakukan kezaliman bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Namun pada sebagian warga Jakarta lainnya, kondisi yang dimiliki Jakarta saat ini dapat menjadi ladang kebaikan-kebaikan.

Potensi inilah yang dimanfaatkan oleh Ibu Filomena Ibrahim, Ibu Farida  Hayati, Bapak Muhammad Anwar, Bapak Sabit Kartalegawa, dan Ibu Basari Husna pada tahun 12 Robiul Awal 1391 H atau bertepatan dengan 16 Mei 1971 untuk menjadikan tempat bernama Masjid Al-Azhar yang berada di tengah kota agar menjadi tempat yang baik untuk pembibitan kebaikan generasi muda. Itulah awal mula didirikan sebuah komunitas bernama Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar.

YISC Al-Azhar yang bersekretariat di Kompleks Masjid Agung Al-Azhar, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini pun kini ibarat sentra pendidikan dan pembinaan akhlak generasi muda, khususnya muslimin-muslimah usia 18-33 tahun yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Dalam dimensi kesejarahannya, organisasi ini muncul sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang menghinggapi generasi muda pada masa itu yang sedang mengalami perubahan seiring dengan pola kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan global. Para pendiri organisasi ini adalah generasi muda Islam yang sadar dan prihatin akan gejala merosotnya moral dan mental generasi muda yang cenderung semakin jauh dari akidah islamiyah dan cita-cita perjuangan bangsa, mereka merasa terpanggil untuk memperbaiki keadaan. Hal ini merupakan wujud dari rasa tanggung jawab sebagai pewaris dan pengawal akidah islamiyah dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia yang merupakan rahmat dari Allah SWT.

Kegiatan yang Menarik

Dengan bertujuan untuk membina generasi muda yang bertanggung jawab dan dapat memperjuangkan nilai-nilai Islam serta kesejahteraan umat, YISC menjadi magnet bagi para remaja untuk menimba ilmu.

Kegiatan berbasis Al-Qur’an pun dibuat dengan bentuk yang dapat diterima dengan baik, yaitu BSQ atau Bimbingan Studi Qur’an (BSQ) yang berlangsung setiah hari Ahad pukul 08.00 WIB, dilanjut dengan kajian Studi Islam Intensif (SII) hingga waktu zuhur tiba.

YISC sebagai organisasi pemuda masjid yang pertama berdiri di Tanah Air, tak melupakan fitrah anak muda yang juga ingin belajar sambil bermain, seperti rihlah berbentuk taffaquh fiddin, LDK, nonton bareng, wisata kuliner, dan  banyak lainnya. Di komunitas yang bervisi “Menuju komunitas belajar dan berakhlak” ini para remaja diarahkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial, seperti nikah massal, khitan massal, donor darah, social trip, buka puasa dengan kaum duafa, pembinaan adik asuh, dan lain-lain.

Menurut Asa Ratna Dinasty,  salah seorang anggota YISC, “Tempat ini memberi banyak energi positif karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti para alumninya dan bisa banyak ilmu bermanfaat dari kajian-kajiannya yang selalu update dengan kondisi lingkungan saat ini.”


Lahirkan Tokoh Besar

Dengan misi Da’a ilallah (dakwah di jalan Allah), Amila shalihan (beramal sholeh), dan Innani minal muslimin (pembinaan kepribadian Muslim), YISC menjadi komunitas pencetak orang-orang yang diperhitungkan di bidangnya. Sebut saja Adhyaksa Dault, Yusril Ihza Mahendra, dan Jimly Asshiddiqie, mereka merupakan beberapa tokoh nasional yang lahir dari organisasi ini.

Fauzi Hasan, Ketua Umum YISC Al-Azhar pun mengatakan, “Di YISC, kita bisa belajar banyak hal baik tentang Islam dan fenomena yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Saya pun jadi ikut terpanggil untuk andil dalam perbaikan, khususnya yang segmentasinya para pemuda.”

Siapa sangka, dari organisasi ini terlahir tokoh besar, dan banyak di antara mereka mengawali langkah di YISC dengan motivasi ingin memperbaiki diri. Begitu pula dengan Fauzi Hasan yang motivasinya dahulu hanya ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an-nya saja, dan alhamdulillah itu sudah tercapai.

Tak jauh berbeda dengan sang ketua, Leila Diannurina sebagai anggota pun awalnya ingin belajar membaca Al-Qur’an. “Aku ingin sekali belajar baca Al-Qur’an dengan benar, karena di pengajian saya sebelumnya kurang memuaskan. Mau kursus baca Al-Qur’an secara privat lumayan mahal, dan bisa cepat bosan juga kalau belajar sendirian. Saya juga bosan dengan rutinitas pekerjaan, karena aktivitas di pengajian sebelum di YISC itu sempat vakum. Alhamdulillah ada teman yang menawarkan untuk jadi anggota YISC, masuklah saya ke YISC tahun lalu,” ucap Dina, panggilan akrab Leila Diannurina.

Kini dengan anggota baru yang daftar setiap semester sebanyak kurang lebih 300 pemuda, YISC menjadi organisasi yang makin besar. Dan di usianya yang ke 42 tahun pada Mei 2013 ini, YISC istiqomah dalam berdakwah dan tetap menjadi pilihan para pemuda dalam mencari ilmu dan mengembangkan bakat-bakatnya. Selain mengaji dan mengkaji, ada pula program pengembangan diri agar potensi dalam setiap anggotanya tidak hilang begitu saja. Sebut saja klub fotografi, tim nasyid, seni bela diri, tim futsal dan bulu tangkis, serta bagi yang hobi entrepreneur, di YISC pun ada wadah pengembangannya.

Dengan motivasi memakmurkan masjid, mempersatukan agama Allah, dan perjuangan menuju ridho Allah SWT, YISC bisa disebut sebagai komunitas remaja yang komplet. Berjuang dalam dakwah dengan balutan pengembangan akhlakul karimah yang tetap memerhatikan kebutuhan para anggotanya dan tidak lupa pada kepentingan umat secara umum. (ric)

AddThis Social Bookmark Button