Perjuangan Menghajikan Bunda Tercinta

NOVEMBER 2011

 

 

 

 

Tak menyerah, itulah motto perjuangan panjang yang ditempuh oleh Ifas Fasohah yang saat itu masih menempuh pendidikan disalah satu universitas negeri Islam  di Jakarta. Tersitanya waktu istirahat hingga tertundanya waktu untuk sekedar makan tak membuat langkahnya terhenti. Niat sucinya untuk dapat memberangkatkan sang bunda berhaji tak pernah pupus dari benaknya. Alhasil, kerja keras itupun berbuah manis, air mata tak terbendung ketika ia menyapu gelar juara dalam ajang lomba Fahmil Qur”an tingkat provinsi. Mimpinya pun semakin terlihat didepan mata. Meskipun ia masih harus memperjuangkan segalanya, namun keyakinan akan panggilan sang Rabb, akhirnya sang bunda pun menginjakan kakinya ditanah suci...

Tak ada seorangpun rasanya yang tak ingin menginjakan kakinya ditanah suci Mekkah, tempat dimana para kekasih Allah menuliskan sejarahnya. Berhaji, rukun Islam yang kelima ini tentu akan menjadi penyempurna bagi setiap muslim yang senantiasa haus dan rindu akan Rabbnya. Namun, tak semudah itu memenuhi panggilanNya, salah satunya yang dialami oleh Ifas Fasohah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Niat suci hatinya berbuah manis, segala perjuangannya yang penuh dengan kerja keras akhirnya dijawab oleh Allah. Doa sang bunda tentu juga menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Ia menjadi juara pertama Fahmil Qur’an dan alhamdulillah ia mampu memberangkatkan sang Bunda berhaji dengan hasil kerja kerasnya.

Keberhasilan yang diraih Ifas fasohah bukanlah hal yang tidak mungkin didapatkan oleh siapapun, namun keberhasilan ini juga bukanlah hal yang mudah untuk didapatkannya. Usaha belajar yang begitu penuh kerja keras dan penuh pengorbanan berakhir dengan indah, semua baginya tak lain berkat doa dan dukungan sang bunda tercinta. Karnanya, ketika ia dinobatkan sebagai juara satu  Fahmil Qur’an  (cerdas cermat) dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat profinsi Banten perwakilan kab.Lebak  dan mendapatkan hadiah bonus perjalanan haji maka ia langsung menyerahkan hadiah itu untuk ibunda tercinta.

 

Berawal dari Janji Sang Bupati

Janji manis dari seorang bapak bupati ketika memberikan sambutan pembekalan pada acara pembinaan Fahmil Qur’an yakni akan memberikan bonus haji bagi peserta yang menjadi juara 1 dalam lomba MTQ tingkat provinsi.  Hal ini pun menjadi suntikan penyemangat bagi Ifas Fasohah(28). Lelahnya pengorbanan dan perjuangannya belajar dengan keras untuk dapat menjadi sang juara pun hilang ketika bayangan sang “Emak” menari di benaknya. Niat suci nan ikhlas dihatinya begitu deras tak terbendungkan lagi.  Namun, berkat doa sang bunda yang tak pernah henti untuk  putrid tercinta , berbagai aral pun dapat dilewati hingga akhirnya kerja keras itu pun berbuah manis. Sang ibu dapat melaksanakan ibadah haji dengan hasil jerih payahnya sendiri. “Subhanallah...ini sungguh anugrah yang luar biasa dari Allah..” ujarnya dengan mata berkaca-kaca mengenang kejadian beberapa tahun silam yang penuh dengan perjuangan.

Ifas yang saat itu tengah mengecap pendidikan dibangku kuliah semester 3 fakultas Syariah dan Hukum di universitas Islam syarif hidayatullah jakarta (UIN) tak pernah berpikir bahwa dirinya akan lolos hingga final apalagi menjadi juara satu, baginya sudah terpilih menjadi peserta saja itu sudah membanggakan terutama bagi kedua orang tuanya. Perjalanan panjang  dihadapinya dengan penuh rasa ikhlas dan pasrah kepada sang pencipta. dan Allah mendengar doanya, dengan penuh rasa haru dan rasa syukur ia menerima hadiah itu yang ia persembahkan untuk ibunda tercinta.

Meskipun sebelumnya ia sempat merasa kurang percaya diri, namun ia tetap belajar dan bekerja keras agar mendapatkan hasil yang maksimal. Ifas juga bercerita, bahwasannya hadiah berhaji yang ia persembahkan kepada ibunda tercinta  tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Berbagai pengorbanan dilakukannya mulai dari merelakan harus bolos kuliah, menyampingkan waktu istirahat demi belajar giat, bahkan ia juga harus merelakan tropi atau piala yang memang hanya satu namun sementara itu pesertanya ada tiga orang. Meskipun ia menginginkannya, namun ifas dengan ikhlas memberikan piala itu kepada sahabatnya yang jauh lebih mengharapkan. Tidak hanya sampai disitu, piagam kejuaraan yang seharusnya menjadi miliknya itupun tak dapat ia bawa pulang karna sudah terlebih dahulu diambil orang lain yang sampai saat ini tidak pernah ia ketahui siapa dan dimana keberadannya. Namun, lagi-lagi ia berusaha ikhlas dan berserah kepada Allah hingga suatu keajaiban menghampirinya. Seorang sahabat yang saat itu menjadi juara 1 dalam ajang MTQ yang sama hanya saja bebeda dalam jenis lombanya tanpa disangka memberikan tropinya kepada ifas secara cuma- cuma dan hanya sebagai kenang-kenangan dari sahabat. Alhasil, Ifas pun dapat pulang dengan membawa tropi kejuaraan meskipun sebenarnya bukanlah tropi yang bertuliskan mata perlombaan Fahmil Qur’an yang dijuarainya melainkan tropi kejuaraan dalam lomba tafsir  Bahasa Arab.

 

Tak Semudah yang Dibayangkan

Masih banyak proses yang harus dilalui Ifas ketika itu. Meskipun ia sudah dinobatkan sebagai juaranya, namun bonus haji itu tidak langsung didapatkannya. Berbagai hal yang menjadi pengganjal trus berdatangan. Mulai dari waktu yang terus diulur dan tanpa ada kepastian, namun berkat kesabaran akhirnya panggilan dari bapak bupati itu pun datang juga dan dengan penuh semangat Ifas pun memenuhinya. Seperti yang diharapkan panggilan itu memang untuk membahas janji dari bapak bupati yang selama ini memang sudah ditunggu terutama oleh Ifas sendiri. Ia terus berharap niatnya untuk memberangkatkan haji ibunya benra-benar bisa terwujud. Karena itu memang impian terbesarnya selama ini.

Setelah mendapatkan kepastian Ifas masih diuji dengan adanya penetapan dari bapak bupati yang masih simpang siur akan bonus haji itu, dimana peserta Fahmil Qur’an yang berjumlah tiga orang sementara bupati pada saat memberikan janji bonus berhaji dahulu, tidak secara jelas mengatakan bahwa hadiah itu diperuntukan bagi semua peserta atau memang satu untuk bertiga. Mendengar pemberitaan tersebut hati Ifas sempat ciut dan sedikit menahan kecewa. Namun akhirnya keputusan pun didapatnya bahwa memang semua peserta yang mendapat juara mendapatkan bonus haji. Ifas pun merasakan kelegaan yang bukan main saat itu. karena ia merasa mimpinya selangkah lagi akan terwujud.

Ujian kembali datang ketika Ifas harus mendengar ucapan bapak bupati dalam sambutannya yang menyatakan bahwasannya hadiah haji ini khusus bagi peserta dan tidak bisa diuangkan ataupun diwakilkan. Hal ini tentu membuat ifas kaget dan sangat terkejut. Saat itu ia menangis sejadi-jadinya seraya berbicara kepada ibunya via telpon. Ia mengatakan bahwa ia takut hadiah haji itu benar-benar tidak dapat diwakilkan semntara ia berniat hadiah itu akan ia persembahkan untuk ibunya tercinta. Namun pada saat yang bersamaan ibunya justru berkata” Ya Allah, Naak....tidak apa-apa. Hadiah itu memang hak kamu. Dan berhaji itu sudah panggilan Allah. Seberapapun kerasnya manusia berusaha jika Allah belum memanggilnya maka akan sia-sia. Insyallah ibu akan mendapatkan rizki lain tuk menuju kesana..” ucap ibunya penuh keikhlasan dan hal ini semakin membuat Ifas semakin sedih dan kecewa. Ia tetap bersikeras berharap bahwa ibunyalah yang pergi haji. Bukan berarti ia enggan tuk berhaji melainkan ia lebih bahagia jika ia dapat lebih dahulu memberangkatkan ibundanya tercinta. Dengan penuh harapan dan doa akhirnya Allah menjawab semuanya. Bapak bupati akhirnya memberi keluasan bahwasannya hadiah berhaji itu tetap diberikan tanpa ada hambatan siapapun yang akan berangkat baik itu si pesertanya secara langsung maupun diwakilkan. Bukan main bahagianya perasaan Ifas ketika itu. Dengan mata air mata yang mulai menitik ketika mengenang kisahnya dahulu. Ia merasa perjuangan panjang dan penorbanannya selama ini tidaklah sia-sia. Karena saat ini ia melihat buah dari segala kerja kerasnya itu.

Ifas yang kini menetap di Jakarta menikuti jejak suaminya tercinta, yang telah dianugrahi seorang jagoan mungil bernama Neil Alam Al-Hafidzi juga mengisi kekosongannya dengan menjadi guru disebuah taman kanak-kanak Arrabani milik keluarga suaminya yang terletak di kelurahan cakung di bilangan Jakarta Timur ini merasa sangat bahagia karna telah berusaha membahagiakan kedua orang tuanya meskipun masih merasa belum cukup dan ingin terus memberikan yang terbaik bagi kedua orang tua dan seluruh keluarganya.

Ifas adalah putri ke tujuh dari sebelas bersaudara yang terlahir dari pasangan bapak H.Subaeta dan Hj.Siti Jubaedah ini mengaku bahwasannya pengalamannya dalam mengikuti MTQ hingga tingkat provinsi sungguh menjadi suatu pengalaman yang luar biasa. Dan yang terpenting adalah ketika impiannya memberangkatkan haji sang bunda dapat terwujud. “Subhanallah....ini adalah pengalaman yag sulit dilupakan, Allah begitu mengasihi saya...semua kerja keras dan seberapa besar perjuangan saya tidaklah berarti apa-apa tanpa doa dan dukungan kedua orang tua saya..” ucapnya penuh keharuan.

Kini berkat kerja kerasnya yang diiringi dengan doa dan berbumbukan keikhlasan dan kesabaran dalam setiap langkah yang diambilnya, Ifas telah meraih kebahagiaan yang utuh ditengah keluarga yang mencintainya. Baginya kebahagiaan sang bunda adalah segalanya. Kini ia masih kembali bermimpi, mimpi untuk dapat berhaji dan memenuhi panggilan Allah menuju rumahnya di kota suci Mekah sana. (Jh)

AddThis Social Bookmark Button