Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia

DESEMBER 2012

Banyak stigma buruk masyarakat kepada para penderita gangguan jiwa. Bahkan, tak sedikit masyarakat yang memandang penderita gangguan jiwa dengan sebelah mata. Karena stigma negatif inilah, Bagus Utomo, seorang pustakawan lulusan Universitas Indonesia, bertekad mengubah stigma negatif menjadi energi positif bagi masyarakat dan penderita gangguan jiwa, khususnya skizofrenia.

Bermula dari Keluarga

Bermula dari ketidakpercayaannya akan kesembuhan dari prenyakit yag direita kakaknya, Bagus mencoba mencari tahu lebih dalam tentang penyakit gangguan jiwa yang didertita kakaknya. Skizofrenia, itulah nama gangguan jiwa yang diderita kakaknya sejak 17 tahun silam.

Sepuluh tahun tidak memiliki jawaban yang pasti atas gangguan jiwa yang diderita kakaknya, Bagus mencoba  menelusuri informasi demi informasi yang didepatkannya melalui internet. Segala informasi tentang skizofrenia, mulai dari yang berbahasa Indonesia sampai yang berbahasa Inggris dilahapnya, diterjemahkannya satu per satu dan dipelajarinya.

Berbagai di Dunia Maya

Tak berhenti sampai mempelajarinya, Bagus merasa bahwa informasi yang didapatkannya sangat bermanfaat untuk masyarakat, terutama untuk keluarga yang memiliki anggota orang dengan skizofrenia (ODS). Sejak  2001 silam, Bagus mulai mengumpulkan artikel-artikel tentang gangguan jiwa, terutama skizofrenia. Artikel tersebut disebarkan kembali olehnya di  akun google reader miliknya.

Di tahun yang sama, Bagus membuat mailing list di yahoo group. Melalui mailing group tersebut, Bagus mencoba membagi pengalaman dan ceritanya selama hidup bersama kakaknya yang ODS. Tanpa disangka, ternyata mailing list yang dibuat Bagus mendapat respon baik dari teman-teman dunia maya. Banyak anggota mailing list yang ternyata juga penderita skizofrenia atau ODS, ada juga yang merupakan keluarga dari ODS.

Merambah Dunia Facebook

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan jejaring sosial, sejak 2009 lalu, Bagus mengalihkan diskusi aktif mailing list di yahoo group ke jejaring sosial facebook. Di facebook inilah Bagus mulai mencetuskan nama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia atau yang biasa disebut KPSI.

Tanpa disangka Bagus, sambutan dari pengguna facebook sangat positif. Sampai sekarang terhitung lebih dari 6000 anggota grup KPSI di facebook yang terdiri dari penderita skizofrenia, keruarga dari penderita skizofrenia, dan orang-orang yang peduli dengan skizofrenia.

Kopdar dan Aktivitas Pendukung

Tidak hanya melakukan diskusi aktif di dunia maya dan berbagi informasi teranyar terkait skizofrenia, sejak berdirinya pada 2009 lalu, KPSI sudah melakkukan kopi darat (kopdar) secara rutin setiap tiga bulan sekali. Kegiatan-kegiatan ffline juga semakin digencarkan, seperti pelaksanaan psikoedukasi, seminar kesehatan jiwa untuk orang awam, pembentukan team support (pem pendukung) untuk penderita skizofrenia maupun keluarga deri penderita skizofrenia, art therapy (terapi seni) untuk menerapi teman-teman penderita skizofrenia.

Khusus untuk art therapy ini, Bagus memulainya dengan seni melukis. Seluruh teman-teman penderita skizofrenia diajak menuangkan emosi dan kreativitasnya melalui lukisan. Hasil lukisan ini nantinya akan dipamerkan secara ritun. “Lukisan karya teman-teman ODS akan kami pamerkan di Taman Ismail Marzuki. Beberapanya pun kami jual sebagai bentuk apresiasi terhadap teman-teman ODS,” jelas Bagus.

Kini, Bagus sedang mencoba untuk merambah ke art therapy bagian lain seperti membuat tulisan, puisi, cerpen, atau drama. “Karena saya perhatikan teman-teman skizofrenia ketika dia sudah mengetahui bahwa dia seorang penderita skizofrenia, biasa kreativitas mereka semakin tinggi. Hal ini harus dibawa ke arah positif. Makanya, saya rasa perlu mengembangkan kreativitas teman-teman. tidak hanya melalui seni lukis, tapi juga ke seni yang lainnya,” imbuh Bagus dengan semangat.

Menekankan Pemulihan Jiwa

Fokus kegiatan Komunias Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) ini memang baru pada ranah pemulihan penderira skizofrenia. Hal ini disebabkan banyaknya penderita skizofrenia yang tidak mengetahui bahwa dirinya skizofrenia. Atau, banyak juga keluarga dari penderita skizofrenia yang belum tahu bagaimana caranya menangani penderita skizofrenia atau bagaimana cara mengobati skizofrenia.

Karena alasan di atas, di KPSI ini Bagus lebih mengutamakan pemahaman tentang perlunya pengobatan bagi penderita skizofrenia. “Bagi saya, pengobatan medis itu hal yang utama. Setelah itu baru bisa dilakukan pendekatan rohani kepada penderita. Apalagi, pengobatan medis untuk penderita skizofrenia ini kan harus terus menerus  dan tidak boleh terputus. Jadi, saya tekankan betul bahwa mengonsumsi obat untuk sembuh itu perlu,” jelas Bagus.

Berbagi Semangat

Tak berhenti pada pemberian pemahaman akan perlunya pengobatan medis pada penderita skizofrenia. Di KPSi, kita bisa menemukan atmosfer semangat yang senantiasa ditransfer dari satu anggota ke anggota lainnya,  semangat bahwa semua penderita skizofrenia pasti bisa sembuh dari gangguan kejiwaan ini. Untuk itu, di KPSi ini kita akan dengan mudah menemukan orang-orang yang mau bercerita tentang perjalanan hidupnya selama menderita skizofrenia hingga sembuh, guna menyemangati teman-teman penderita skizofrenia lainnya yang masih dalam tahap pemulihan.

Sekarang, KPSI sudah melebarkan sayap ke daerah-daerah. Sesama penderita dan yang peduli dengan penderita skizofrenia kini sudah membuka cabang KPSI di daerah masing-masing. Sampai saat ini ada enam cabang KPSI di pulau Jawa, di antaranya adalah Surabaya, Jogja, Bandung, Solo, Medan, dan Jember. Kegiatan di daerah memang tidak sebanyak KSPI di Jakarta, tetapi semangat teman-teman KPSI di daerah tidak kalah  besar dari KPSI di Jakarta.

Oktober 2012 lalu, Bagus baru saja menerima penganugerahan Dr. Guislain Award dari Museum Dr. Guislain dan Janssen Research & Development, LLC di kota Ghent, Belgia. Bagus terpilih dari 20 nominasi lainnya dari seluruh dunia. Di hadapan lebih dari 200 tamu undangan dari kalangan medis dan masyarakat umum, Bagus dinilai berjasa tak kenal lelah mengikis stigma masyarakat terkait skizofrenia dan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat di Indonesia mengenai penyakit kejiwaan melalui KPSI.

“Tidak usah takut atau panik ketika kita tahu bahwa kita atau ada salah satu anggota keluarga kita yang menderita skizofrenia. Segera konsultasi pada ahlinya, ke psikiatri di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), atau langausn gke rumah sakit jiwa. Jangan pernah gengsi untuk ke rumah sakit jiwa, karena ini demi kesembuhan jiwa juga. Tidak lupa jugam KPSI siap membantu untuk proses pemulihan dan berbagi pengalaman,” tutup Bagus dalam perbincangan bersama Muzakki. (nir)

AddThis Social Bookmark Button