Rumah Belajar Anak Langit, Selamatkan Lingkungan Bersama Anak Jalanan

AGUSTUS 2012

Thamrin

Isu pemanasan global atau global warming bukanlah basa-basi. Suhu udara yang semakin panas adalah salah satu pertanda bahwa Bumi makin memprihatinkan keadaannya. Kalau suhu Bumi semakin panas, maka kehidupan yang ada di dalamnya pun akan terancam.

Sebagai manusia yang ditugaskan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka Bumi ini sudah sepatutnya menjalankan tugas tersebut sebaik-baiknya, bukannya malah menghancurkan dengan mengeruk semua sumber daya yang ada di dalam Bumi ini.

Belum terlambat apabila kita semua bergerak untuk bersama-sama menyelamatkan Bumi. Kita, orang dewasa harus menanamkan rasa cinta lingkungan kepada generasi mendatang, yaitu anak-anak yang kini masih bisa kita arahkan untuk lebih peduli pada Bumi.

Di Kota Tangerang, ada sekelompok manusia yang begitu peduli pada lingkungan, hingga salah satu mimpi dari mereka adalah “Menciptakan Surga di Dunia”. Kelompok itu bernama Rumah Belajar Anak Langit.

Dahulu tempat yang terletak di Jalan Akses Tanah Gocap, Tangerang ini belum berupa rumah belajar, melainkan masih berupa saung. MH Thamrin sebagai salah satu sukarelawan yang mengajar di sini awalnya datang untuk berdongeng di depan anak-anak jalanan yang ada.

“Saya basic-nya teater Grogol. Saya beri dongeng di depan  anak-anak, ternyata pada suka, lalu jadi tertantang karena dongeng yang saya bawakan itu unik, sambil melipat kaki di leher, lipat tubuh, berupa monolog lah kalau di teater,” kata Thamrin mengenang masa awalnya datang ke Anak Langit.

Dari situlah ia semakin tergugah kesadaran dan kepedulian akan lingkungan, sambil juga memberikan semangat buat para sukarelawan lainnya. Thamrin merasa asyik menamukan sesuatu untuk digeluti.

Ketika hendak membuat acara atau kegiatan, para sukarelawan dan anak-anak binaan (andik/ anak didik) itu harus mengamen untuk cari dana. Pendiri Rumah Belajar ini pun unik, yaitu terdiri dari para musisi, Pegawai Negeri Sipil, pedagang kali lima, aktivis jalan raya, dan lain sebagainya.

Thamrin menyatakan bahwa tempat ini bukanlah rumah singgah atau panti asuhan, melainkan rumah belajar. Siapa pun anak bangsa yang mau belajar di sini, siap ditampung.

“Semuanya memberikan spirit atau semangat belajar buat yang lain. Yang rumahnya jauh atau tak punya rumah atau orang tua, boleh tinggal di sini, tapi dibatasi sampai usia 17 tahun,” ucap Bang Thamrin.

Setelah andik berusia 17 tahun, mereka “dilepas”, Dan sebelum mereka “dilepas”,  terlebih dahulu diberi program kemandirian. Mereka tetap dipantau agar hidupnya tetap terarah.

“Kami tak melarang mereka untuk turun ke jalan (mengamen dsb), tapi mengarahkan bagaimana dia bisa mencukupi kebutuhan hidup sehingga tak turun ke jalan. Karena hak asasi manusia mau turun ke jalan juga,” tutur Thamrin.

Keunggulan Rumah Belajar Anak Langit

Salah satu keunggulan yang ada dalam rumah belajar ini karena pelajarannya. Pelajaran yang diberikan pada andik yaitu: recycle art, pembuatan benda seni dari barang-barang (sampah) yang masih bisa berguna, bisa menjadi boneka atau robot-robotan atau berbagai benda unik lainnya. Ada pula daur ulang sampah plastik, pembinaan teater dan film, pelatihan komputer, serta pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Musik perkusi pun diajari, hingga terbentuk kelompok musik perkusi Ketipak Ketipuk.

Barang yang didaur ulang dijadikan suvenir bagi teman-teman yang datang sebagai oleh-oleh, untuk mengingatkan bahwa mereka telah menjadi anggota keluarga Anak Langit.

Selain memanfaatkan “benda-benda tak berguna”, upaya penyelamatan lingkungan pun dilakukan dengan membudidayakan tanaman obat serta pohon-pohonan. Ilmunya didapat dengan cara pemutaran film benih, motivasi cinta alam, dan praktik langsung memelihara pohon di lingkungan sekitar Rumah Belajar Anak Langit.

Hingga kini ada 200-an andik yang didata, dengan 50an sukarelawan. Mereka berasal dari usia yang berbeda-beda, dari SD sampai SMA. Semua andik bisa belajar dengan nyaman di tempat yang terdiri dari tempat ibadah Mushola On The Sky dengan atap jerami dan alas kayu. Ada juga Saung Babat Alas Aal-Fatihah, dapur, kantor, ruang sekolah, saung tua, saung putra, saung putri, kamar mandi, gudang recycle barang bekas, laboratorium, perpustakaan, serta galeri.

Rencana Besar di Masa Depan

Ada rencana besar untuk ke depannya, yaitu mau membuat kampung Wisata Kreatif di permukiman Kampung Cacing, pinggiran Kali Cisadane. Masyarakat yang mencari cacing di Kali Cisadane, diarahkan untuk menjadi kampung kreatif yang mengimplementasikan budaya Badui di kota.

Perjuangan untuk menuju ke arah sana memang masih jauh, karena hingga kini lahan yang dipakai oleh Rumah Belajar Anak Langit adalah pemerintah pusat. Mereka memanfaatkan pinggiran sepadan kali sebagai “pusat kebudayaan”.

Kak Melati, salah satu sukarelawan yang turut membina andik di bidang lingkungan hidup mengatakan, “Kalau pemerintah mau pakai, silakan, tapi kami berjuang untuk dilegalkan. Tangerang belum punya tempat wisata, padahal Tangerang ini strategis karena dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Makanya mimpi kami yaitu “Membuat Surga di Dunia”, adalah dengan membuat dunia ini indah bagaikan surga. Banyak pohon yang buah-buahnya bisa langsung dipetik dan dimakan. Ada ikan yang siap diambil untuk dimasak. Tanaman obat yang tak terbatas. Semua kebutuhan hidup ada di satu tempat.”

Tak bisa dimungkiri, sebuah tempat yang melakukan banyak kegiatan (apalagi kegiatan pendidikan) memerlukan biaya yang tak sedikit. Alhamdulillah, Rumah belajar Anak Langit memiliki donatur tak terikat, ada pula pemberian dana dari Corporate Social Responsibility perusahaan. Dana yang masuk ke tempat ini merupakan buah dan berkah dari silaturahim yang terlajin dari mereka yang datang ke tempat yang didirikan tujuh tahun yang lalu ini. Pada tiga menit pertama, orang yang datang ke Rumah Belajar Anak Langit dianggap tamu, menit selanjutnya adalah keluarga. Dari kuatan doa dan silaturahim itulah yang menambah rezeki dan menambah usia, sehingga Anak Langit pun bisa bertahan.

Pemerintah baru dua tahun ini memberi dana hibah dan “terpaksa” kami terima karena ada keluarga yang ada di sana. “Awalnya tak mau diterima karena mau independen, dan ingin membuktikan tak ingin seperti lembaga lain, yang baru muncul sudah minta-minta dana pada pemerintah,” ungkap Thamrin.

Harapan dari para sukarelawan Rumah Belajar Anak Langit yang diketuai oleh Bapak Jhon Mukmin Kusnendar ini yaitu Rumah Belajar Anak Langit keberadaannya dilegalkan pemerintah. Dari sejarah diketahui bahwa situs artefak ditemukan di pinggir kali, maka Anak :angit pun diharapkan ada di tepian kali di seluruh dunia.  (ric)

AddThis Social Bookmark Button