Tekad Menjadi Hafizhah dengan Huruf Braile

DESEMBER 2011

Dalam keterbatasannya, Diah Rahmawati tidak menyerah dan berpangku tangan begitu saja, Diah justru menjadi motivator bagi teman-temannya yang “awas” agar terus mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka. Satu keyakinan dalam diri Diah bahwa meskipun dengan segala keterbatasan yang ia miliki, Diah harus tetap gigih dalam meraih cita-citanya. Bahkan Diah tetap tekun menuntut ilmu, baik ilmu duniawi maupun ilmu agama.

Tujuh tahun yang lalu Allah telah mengambil penglihatannya. Saat itu ia masih duduk di bangku SMA, penglihatannya perlahan  menjadi  semakin kabur. Awalnya ia dan keluarganya mengira bahwa Diah hanya mengalami kelainan  mata minus. Namun  kemudian  menjelang kelulusan sekolah  menengah atasnya itu, penglihatannya benar-benar  hilang. Diah yang selama 17 tahun kehidupannya dikaruniai kesempurnaan  melihat dunia, saat itu terpuruk. Keluarga Diah pun terpukul menerima kenyataan bahwa penglihatan orang yang mereka sayangi itu terenggut oleh sebuah penyakit  kelainan  mata yang amat langka. Sejak  itu, berbagai cara dilakukan  untuk kesembuhan Diah, dari klinik mata ke klinik mata lain, bahkan berbagai pengobatan alternatif pernah dicobakan. Namun, bukannya memperoleh  kesembuhan, Diah justru semakin terpuruk. Meski semua orang di sekitarnya mencoba membesarkan hati Diah, rasa minder dan  ketakutan memulai hidup sebagai layaknya remaja seusianya cukup lama membuatnya tertekan.

Namun  kemudian  Diah mencoba bangkit setelah empat tahun  lamanya terkungkung dalam  kegelapan dan tidak berbuat apapun. Seolah memperoleh seberkas cahaya dan kekuatan dari sang Rab, Dian melangkah dengan penuh keyakinan  ke jenjang universitas, tentu saja keinginannya  itu tidak berjalan semulus teman-temannya yang mempunyai penglihatan normal. Usaha Diah untuk mengenyam  bangku  kuliah  terhambat oleh peraturan  kampus yang tidak memperbolehkan penyandang cacat sepertinya menngenyam pendidikan di perguruan tinggi, karena ditakutkan akan memperoleh kesulitan nantinya, saat itu Ia disarankan untuk masuk  ke sekolah  khusus penyandang tunanetra. Akan tetapi dengan Ridha sang Rab dan  kegigihan yang ia miliki, serta dukungan dari  yayasan  tunanetra yang menaunginya, Ia pun dapat  mengenyam  pendidikan di sebuah Universitas swasta di Jakarta, di fakultas tarbiyah,  jurusan pendidikan agama islam.

Sudah  empat  tahun Diah tercatat sebagai mahasiswi di Uhamka Jakarta. Kepeduliaan  teman-teman sekelasnya serta yayasan  senantiasa membantu Diah dalam belajar. Diah tidak pernah merasa minder dengan keadaannya, bahkan  ia menjadi jauh lebih bersyukur karena dalam keterbatasannya ia masih dapat melakukan hal yang berguna bagi tunanetra yang lain. Dian menjadi salah satu pengurus Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia, sebuah organisasi agama Islam khusus bagi penyandang cacat tunanetra. Dalam yayasan tersebut, jiwa Diah terus ditanamkan nilai-nilai rasa syukur dalam  menerima semua suratan dari Allah, serta tidak putus asa dalam menggapai cita-citanya, dalam yayasan  tersebut pulalah Diah mulai mengenal Alquran dengan huruf braile.

Diah tidak ingin keterbatasannya menjadi halangannya  dalam mengaji dan menuntut agama. Dengan tekun ia belajar membaca al-Qur’an dalam  huruf braile. Ia mengaku awalnya menemui kesulitan belajar membaca huruf hijayiah dalam  huruf braile, karena huruf hijayah dan tanda baca  dalam braile berbeda dengan huruf  hijayah yang ia pelajari sewaktu di TPA ketika penglihatannya masih normal, sehingga ia pun harus mempelajarinya dari nol. Namun meski demikian, ia yakin dapat menguasainya bahkan menjadi hafizhah (penghafal  a-Qur’uran) kelak. Ia belajar membaca alquran di yayasan yang kini menaungi lebih dari seratus tunanetra.

Selain itu hari-harinya ia isi juga dengan berbagai  kegiatan di Persatuan Tunanetra Indonnesia seperti mengadakan seminar  bagi kaum  tunanetra. “Kami sedang menyiapkan sebuah seminar tentang kanker serviks, panitianya adalah tunanetra,” tutur Diah.

“Meski saya tidak bisa melihat namun jangan menjadikan itu sebagai hambatan. Keinginan saya adalah dapat berguna bagi orang lain paling tidak untuk teman-teman sesama tunanetra,  jika kita sabar menerima takdir kita Insya Alloh masuk surga.” Begitulah keyakinan Diah yang selama ini menjadi motivasinya.

Diah tidak ingin merepotkan orang lain, setiap hari dari rumahnya di Cipete, Petabogan Diah menggunakan bus seorang diri ke kampus yang berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu dan dari rumahnya menuju jalan raya harus ia tempuh dengan  jalan kaki meskipun jaraknya lumayan jauh Diah tidak pernah mengeluh.  Pengalaman yang tidak meyenangkan pun sering diah temui saat berada di luar rumah namun hal ini tidak menjadikannya enggan  untuk keluar rumah lagi.

“Saya pernah terjatuh saat hendak melangkah naik busway. Saya berteriak karena salah satu kaki saya terpelosok lubang, saya juga pernah disangka tukang pijat saat naik angkutan umun karena melihat penampilan saya yang tidak terlepas dari tongkat yang membantu saya, namun saya tidak takut atau miner dengan keadaan saya, saya yakin semua itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga,” tuturnya sambil tersenyum.

Bersama beberapa teman sesama penyandang tunanetra lainnya di yayasan, Diah belajar berbagai  hal  seperti menggunakan komputer  dengan huruf braile, bermain musik, olahraga, kursus masak  dan lain sebagainya. “Sebenarnya orang tunanetra pun dapat melakukan apa saja seperti orang normal, asal ada kemauan yang kuat,” tuturnya lagi. Selain itu, Diah juga terlibat dalam acara-acara organisasi tunanetra mulai dari pembuatan proposal, menyebarkan proposal. Semangatnya sangat tinggi untuk dapat bermanfaat bagi orang lain.  Diah memang menjadi sosok motivator bagi teman-temannya bahkan teman-teman sekelasnya yang awas, terutama karena nilai Diah yang selalu memuaskan meski dalam keadaannya yang tidak dapat melihat.  Keinginannya untuk menjadi guru dan menjadi motivator ia capai dengan sungguh-sungguh. Cita-citanya untuk menjadi seorang guru, Diah yakini akan menjadi  ladang amalnya untuk akhirat nanti. Meski tidak lagi dapat melihat keindahan dunia, Diah berharap kelak akan melihat keindahan syurga yang kekal keindahannya, sehingga apapun aktifitas yang ia jalani, Diah niatkan senantisa untuk beribadah kepada Allah.

Kebahagiaan yang kini ia rasakan tidak terlepas karena rasa syukur yang dimilikinya, rasa syukur masih dapat melakukan berbagai hal dengan sepenuh hati, rasa syukur karena dengan keadaannya kini, ia semakin tahu bahwa orang-orang  di sekitarnya sangat menyayanginya. Dan juga rasa keyakinan bahwa Allah mempunyai recana terhadap  hidup yang kini diah jalani, agar keberadaan dirinya memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Rasa syukur dan keyakinan inilah yang jarang dimiliki oleh orang-orang dengan penglihatan normal. Ternyata falsafah sederhana ini merupakan cara pandang yang sangat spiritual, pada saat mendapatkan musibah tetap merasa untung/bersyukur karena masih merasa jauh lebih beruntung jika melihat musibah yang lebih berat lagi. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat Ibrahim ayat 7, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memberikan penyataan :Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Ku-tambah nikmatKu kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.”

Syukurilah apa yang kita punya, syukurilah apa yang kita dapatkan. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita sebagai insan yang pandai bersyukur. Amin  ( SRA)

AddThis Social Bookmark Button