Tak Menyerah

More Articles...

Komunitas 1001 Buku, Menebar knowledge untuk anak negeri

AGUSTUS 2013

Buku merupakan jendela dunia. Bak sebuah pintu menuju pengetahuan, harus dibuka dengan sering membaca. Semakin banyak bahan bacaan yang disantap tentu akan menambah pengetahuan bagi diri. Banyak pengetahuan yang didapat juga akan menguntungkan bagi diri sendiri dan orang lain.

Berawal dari tingginya minat baca anak yang masih haus akan bahan bacaan inilah yang membuat terbentuknya komunitas 1001 buku. 1001buku merupakan organisasi nirlaba, sebuah jaringan relawan dan pengelola taman bacaan anak yang didirikan di Jakarta pada bulan Mei 2002.

Kepedulian akan pentingnya bacaan yang bermutu untuk anak

Kurangnya sarana dan prasarana serta bacaan yang bermutu bagi anak, membuat Komunitas 1001 Buku merasa prihatin atas kurangnya ketersediaan akses bahan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Dari situlah kemudian 1001 buku melakukan pengumpulan dan pendistribusian bahan bacaan anak.

Tak hanya sekedar memberikan bahan bacaan bagi anak, 1001 buku juga bisa menjadi wadah peningkatan kreativitas bagi anak. Sejalan dengan perkembangannya, 1001 buku telah memfasilitasi bahan bacaan di taman-taman bacaan anak yang tergabung dalam Jaringan Taman Bacaan Anak 1001 buku.

Sejalan dengan perkembangannya, akhirnya pada tahun 2006, 1001 buku resmi menjadi sebuah yayasan. Menjadi sebuah yayasan tak lantas membuat 1001 buku melupakan tugasnya sebagai komunitas relawan. Dengan berdiri sebagai sebuah yayasan, 1001 buku tetap memposisikan komunitasnya sebagai relawan yang menjadi penggerak untuk kegiatan mereka.

Jaringan Taman Bacaan Anak 1001 Buku

Banyak cara yang bisa dilakukan para relawan 1001 buku untuk mencerdaskan generasi muda bangsa ini. Adanya jaringan taman baca anak 1001 buku merupakan salah satu langkah yang dilakukan mereka. Dengan cara demikian, anak-anak yang memiliki kegemaran membaca dapat menyalurkan hobi mereka dengan mendatangi taman bacaan yang telah disediakan.Taman bacaan yang dibentuk tersebar keseluruh pelosok negeri. Penyebaran pun merata sehingga semua anak bisa menikmati fasilitas membaca dengan gratis.

Membuat jaringan taman bacaan bagi anak merupakan kegiatan inti dari 1001 buku. Dengan melakukan pembinaan ke perpustakaan dan taman bacaan anak yang ada di seluruh Indonesia adalah menjadi hal pokok yang harus dilakukan untuk pengembangan kapasitas dan menyalurkan bahan bacaan sumbangan masyarakat secara reguler.

Jaringan Taman Bacaan Anak 1001 buku merupakan sebuah wadah bagi beragam taman bacaan swadaya masyarakat untuk saling memberi dalam mewujudkan misinya. Yayasan dan Komunitas 1001 buku berkomitmen untuk memfokuskan diri dalam memberikan pembinaan melalui berbagai kegiatan untuk menggiatkan anggota jaringan. Tiap taman bacaan dapat mendaftarkan diri untuk bergabung, dan bersama-sama melangkah maju bersama 1001 buku.

Kampanye Literasi

Komunitas 1001 buku juga mengadakan kembali Kampanye Literasi, demi mencapai misi 1001buku untuk membuat anak-anak Indonesia gemar membaca. Karena, ketersediaan bahan bacaan tak menjadi jaminan seorang anak menyadari pentingnya membaca untuk pengetahuannya.

Oleh sebab itu, 1001 buku menggiatkan kebiasaan membaca untuk anak Indonesia dengan turut serta aktif menyemangati serta menumbuhkan minat baca bagi anak. Selain itu, 1001 buku juga sering ikut serta dan terlibat dalam event-event yang diadakan oleh para sponsor dan rekanan.

Pameran-pameran, acara-acara CSR perusahaan, atau bahkan kegiatan-kegiatan kecil penguatan relawan, merupakan sarana yang pernah digunakan 1001buku untuk senantiasa membuka mata masyarakat betapa pentingnya budaya baca bagi anak Indonesia.

Membuat Book Drop Box (BDB)

BDB adalah salah satu cara pengumpulan buku dari publik dengan ditempatkannya kotak-kotak di berbagai lokasi strategis. “Pengumpulan buku biasanya kami lakukan dengan Book Drop Box di lokasi tertentu, contohnya di Mal. Ada juga kami lakukan dengan beberapa company di Cipete pada Ramadhan ini, kemudian kami juga saling berhubungan dengan komunitas lain untuk Drop Box,” jelas Tina, selaku pengurus sekaligus relawan 1001 buku.

“Kami mengumpulkan buku dari masyarakat, dengan kata lain istilah kasarnya sebagai ‘pemulung’ buku. Biasanya untuk mengumpulkan buku, kami melakukan presentasi kesebuah instansi tertentu. Begitu juga dengan pengiriman buku, sumber dana didapatkan dari para donatur,” tambah Bayu, salah satu relawan Komunitas 1001 Buku.

Buku yang berhasil dikumpulkan dari seluruh BDB akan selanjutnya diproses dengan kegiatan Sort-Pack-Distribute (SPD) yang dilakukan secara berkala oleh 1001buku. Seluruh Book Drop Box dikelola sepenuhnya oleh relawan-relawan yang menjadi bagian dari organisasi bernama 1001 buku. Pada akhirnya, buku-buku sumbangan masyarakat akan sampai ke taman-taman bacaan yang ada di seluruh nusantara.

Menyumbang Buku Lewat Sort-Pack-Distribute (SPD)

SPD merupakan sebuah kegiatan rutin 1001 buku untuk mengumpulkan buku-buku sumbangan masyarakat yang telah terkumpul dari berbagai sumber. Buku-buku yang telah terkumpul kemudian disortir untuk memastikan jika buku-buku tersebut layak disumbangkan dan tepat sasaran serta dapat memberikan manfaat.

SPD dinilai penting untuk memastikan buku yang disumbangkan oleh donatur tersebut layak untuk dibaca, terutama untuk anak-anak. Seringkali ada saja buku yang ‘kurang layak’ dibaca untuk anak, sekalipun buku itu baru. “Kadang ada buku yang berbau unsur SARA, seks, dan yang menimbulkan kontra. Nah, buku yang seperti itu kita pisahkan,” kata Bayu.

Setelah proses memilah buku dan dipastikan kelayakan buku untuk dibaca, maka mulai dilakukan sistem pengepakan dan mulai mengirimkan buku-buku tersebut ke taman-taman bacaan yang telah dimasukan waiting list untuk mendapatkan sumbangan buku. Kegiatan ini seringkali menjadi ajang bertemu untuk para relawan yang memiliki kepedulian yang sama, yaitu untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia di manapun bisa mendapatkan bacaan yang bermutu.

Menumbuhkembangkan Minat Baca Bagi Anak

Sepanjang perjalanannya, ratusan taman bacaan anak di pelosok nusantara telah terlayani, tumbuh dan berganti. Puluhan ribu buku bacaan telah dinikmati oleh anak-anak Indonesia. Ribuan relawan telah mempunyai kesempatan saling menularkan semangat kepedulian memajukan anak-anak Indonesia yang kerap kali terpinggirkan.

Tak hanya sekedar membantu berbagi buku bagi anak-anak di pelosok negeri, 1001 buku juga mengajarkan keterampilan berbahasa asing pada anak. “Selain itu kami juga mengadakan kegiatan les atau bimbel Bahasa Inggris kepada anak-anak tanpa dipungut biaya yang diperuntukan bagi anak-anak yanga da di sekitar ataupun di luar lingkungan kita. Ada sekitar ada 30 anak yang ikut belajar. Biasanya mereka datang langsung ke sini,” tutur Tina.

Kurangnya akses bahan bacaan bagi anak menjadi sebuah keprihatinan bagi 1001 buku, terlebih jika anak tersebut memiliki minat baca yang tinggi. Oleh sebab itu para relawan 1001 buku gencar dan semakin semangat menyuplai buku dari para donatur yang diperuntukan bagi tunas bangsa di Indonesia.

Organisasi 1001buku wilayah ini terbukti efektif dalam mencapai misi 1001 buku menyebarkan buku bacaan demi meningkatkan minat baca anak di seluruh pelosok Indonesia. “Semoga 1001 buku semakin berkembang dan banyak juga donatur yang menyumbangkan buku-bukunya untuk anak negeri. Yang terpenting adalah buku-buku yang telah disumbangkan dapat bermanfaat,” ucap Tina, diakhir perbincangan dengan reporter Muzakki. (Ric/Mar)

AddThis Social Bookmark Button

Komunitas Sahabat 5cm, Menebar Semangat Persahabatan dan Saling Peduli

JULI 2013

Semuanya berawal dari 5 cm, sebuah novel inspiratif tentang persahabatan karya Donny Dhirgantoro. Setelah membius pembaca dengan kisah Zafran dkk, novel ini kemudian menjadi magnet yang menarik para pembacanya untuk berkumpul dan membentuk suatu wadah dengan nama Sahabat 5 cm.

Komunitas ini terbentuk saat peluncuran buku kedua berjudul 2, Donny Dhirgantoro oleh Fitriyani (Fie), tepatnya 16 Juli 2011. Ia awalnya mengajak penulis untuk mengadakan aksi sosial, namun sang penulis buku 5cm justru mengajak untuk membuat yang lebih serius, yaitu sebuah komunitas.

Fie mengaku terinspirasi dari penulis dengan isi novelnya yang bercerita tentang bagaimana kita harus percaya dengan mimpi, lalu bagaimana mencapainya dengan tidak mudah menyerah.

Kegiatan Sahabat 5cm

Komunitas yang awalnya hanya sebagai ajang kumpul pecinta novel best seller ini lama-lama berkembang menjadi sebuah komunitas yang banyak melakukan aksi sosial.

Kalau kita bisa membuat diri kita bermanfaat untuk orang lain, kenapa tidak?” ujar Fie.

Hal ini sesuai dengan visi yang dimiliki Sahabat 5 cm, seperti isi novel Donny, persahabatan.

Visinya, mari bersahabat dan berbagi untuk Indonesia. Jika seorang anggota saja sudah mendapat teman, berarti visi kami sudah sukses. Proyek sosial bukanlah visi utama tapi bonus yang didapat dari sebuah persahabatan,” tukas Andra, salah satu tim admin dalam komunitas sahabat 5 cm.

Komunitas 5 cm ini sendiri memang lebih cenderung ke bersahabat dan berbagi. Banyak kegiatan yang dilakukan, maka akan semakin mempererat tali silaturahim antar anggota. Sekaligus, bisa memberi kontribusi untuk orang-orang yang membutuhkan di sekitar dengan saling berbagi.

Kegiatannya sangat beragam, mulai dari gathering , sekedar kumpul-kumpul, dan juga proyek berbagi yang sudah berjalan lama. Kegiatan di setiap kota seperti Jakarta, Bandung, Bengkulu, Palembang, dan Makassar adalah melakukan donor darah, berkunjung ke Yayasan Sayap Ibu, kunjungan korban kecelakaan, kunjungan korban banjir, kerja bakti sosial, atau memberikan bantuan ke panti asuhan.

Terakhir, mereka sudah mengadakan project berbagi ke delapan, contohnya di Medan. Komunitas 5 cm membantu panti asuhan untuk membangun kembali panti dengan bantuan peralatan yang rencananya akan kontinyu dilakukan tiap bulan.

Meski ada kegiatan lain berskala besar, seperti proyek nasional yang harus dipersiapkan tiga bulan sebelumnya, dan belum bisa kontinyu karena banyaknya kesibukan antar anggota. Hal ini tidak menyurutkan semangat para anggota untuk terus berbagi.

“Berbagi itu baik, tapi kadang harus memikirkan diri sendiri, keluarga, dan yang lainnya juga. Yang paling penting di sini, kita bisa memilih mana yang harus diprioritaskan,” ungkap Fie.

Sedangkan untuk proyek nasional sendiri, komunitas yang kini anggotanya mencapai hampir lima ribu orang ini melakukan kegiatan wisata sehari dengan nama sabator.

“Sabator ini artinya sarapan bareng di trotoar. Kami mengajak para pekerja jalanan, tukang sapu, tukang sampah, tukang parkir untuk sarapan dan mengobrol di trotoar,” ungkap Fie.

Bermula dari kegiatan yang biasa, menjadi luar biasa tak membuat komunitas ini berbangga diri. Menurut para anggota, dan penulis novel 5cm sendiri, kegiatan di komunitas ini cukup seperti ini saja, tidak perlu diubah menjadi sebuah organisasi.

“Mas Donny pernah bilang, kaya gini aja. Tidak usah ada organisasi. Nanti malah ada hak dan kewajiban. Intinya fun aja. Kita ngadain kegiatan bareng, berbagi, dan kita bisa terus sahabatan.”

Untuk donasi kegiatan, komunitas ini mempersilahkan bagi siapa saja yang ingin berdonasi memberikan sebagian rizkinya untuk disalurkan ke berbagai kegiatan sosial yang sudah diprogramkan. Uniknya, dari penulis novel 5 cm sendiri bersedia memberikan donasi 15% dari hasil penjualan kaos Sahabat 5 cm yang dipimpin istri penulis novel 5 cm ini. Uang tersebut masuk ke kas komunitas untuk digunakan saat pengadaan kegiatan sosial.

Mengoordinasi Rasa Bersahabat dan Berbagi untuk Negeri

Komunitas sahabat 5 cm ini terbuka. Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi anggota. Segala usia bisa masuk ke dalamnya.

Tinggal gabung di Facebook dengan akun Sahabat 5 cm, bakal mendapat banyak info dan punya banyak teman,” cerita Fie.

Anggota dalam komunitas sahabat 5 cm ini tak dipungut biaya apapun. Anggota komunitas ini pun tak harus pembaca novel 5 cm.

Orang yang bukan pembaca novel juga bisa jadi anggota. Malah ada yang tak tahu sama sekali novel 5 cm , tetap bisa jadi anggota. Anggotanya menyebar di seluruh Indonesia.”

Fie mengatakan, komunitas ini seperti taman. Setiap orang berhak keluar dan masuk taman. Ketika ada kesibukan lain dan harus keluar silakan saja. Lalu, masuk dan aktif lagi boleh saja, tidak terikat sama sekali.

Untuk kegiatan tiap kota sendiri, komunitas ini sudah mempunyai koordinator sendiri-sendiri, sehingga memudahkan setiap kegiatan yang akan digelar di tiap wilayah.

Sedangkan menanggapi berbagai respon negatif dari luar, Fie menuturkan, “Berteman dalam komunitas pasti ada. Nggak bisa lurus, wajar saja. Yang penting di sini adalah kebersamaannya dalam bersahabat dan berbagi.”

20 Tahun Lagi Masih Seperti Ini

Banyak yang berkata semakin lama, sebuah kegiatan akan semakin maju, atau justru semakin mundur. Dan komunitas sahabat 5 cm punya harapan sendiri tentang bagaimana ke depannya nanti.

“Harapan kami, sepuluh sampai duapuluh tahun lagi masih seperti ini. Masih bisa berteman, memberi manfaat buat orang lain, itu sudah cukup,” jawab Fie.

Seperti semangat yang selalu terkandung dalam novel 5 cm, ‘Dreams, faith, fight’, komunitas ini ingin terus bersahabat dan berbagi, untuk negeri. Selalu percaya pada mimpi, kekuatan, dan persahabatan. Mari bersahabat, mari berbagi, untuk Indonesia. (lin/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Istiqomah Edukasi Remaja Muslim Masa Kini

JUNI 2013

“Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus,” (Al-Baqoroh, 231).

Zaman telah berubah. Pemikiran-pemikiran baru pun bermunculan. Manusia menjadi makhluk yang semakin cinta akan dunia. Bagi sebagian yang terjerumus ke lembah kelam akan sulit untuk keluar, namun bagi yang belum terperosok sama sekali, diharapkan untuk tidak mendekati jurang kelam tersebut.

Di antara kaum yang mudah terpengaruh arus kegelapan adalah remaja. Remaja masa kini lebih mudah terpengaruh oleh derasnya arus kehidupan yang membuat mereka harus lebih kuat dalam mempertahankan kebaikan-kebaikan dalam dirinya. Fitrahnya semua manusia itu memiliki kebaikan dalam dirinya, namun lingkunganlah yang menjadikannya baik atau buruk. Begitu pula dengan remaja, bila lingkungan di sekitarnya mengajar dan mengajak untuk selalu berbuat baik, maka insyaAllah selamatlah dirinya.

Kebaikan di Tengah Kota

“Dan hendaklah ada di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”, (QS Ali Imran, 104).

Kota besar biasanya menjadi tempat tumbuhnya bibit-bibit kesesatan. Begitu pula Jakarta, kota yang dihuni oleh sekitar sembilan juta orang, menjadi area potensial bagi manusia untuk melakukan kezaliman bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Namun pada sebagian warga Jakarta lainnya, kondisi yang dimiliki Jakarta saat ini dapat menjadi ladang kebaikan-kebaikan.

Potensi inilah yang dimanfaatkan oleh Ibu Filomena Ibrahim, Ibu Farida  Hayati, Bapak Muhammad Anwar, Bapak Sabit Kartalegawa, dan Ibu Basari Husna pada tahun 12 Robiul Awal 1391 H atau bertepatan dengan 16 Mei 1971 untuk menjadikan tempat bernama Masjid Al-Azhar yang berada di tengah kota agar menjadi tempat yang baik untuk pembibitan kebaikan generasi muda. Itulah awal mula didirikan sebuah komunitas bernama Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar.

YISC Al-Azhar yang bersekretariat di Kompleks Masjid Agung Al-Azhar, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini pun kini ibarat sentra pendidikan dan pembinaan akhlak generasi muda, khususnya muslimin-muslimah usia 18-33 tahun yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Dalam dimensi kesejarahannya, organisasi ini muncul sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang menghinggapi generasi muda pada masa itu yang sedang mengalami perubahan seiring dengan pola kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan global. Para pendiri organisasi ini adalah generasi muda Islam yang sadar dan prihatin akan gejala merosotnya moral dan mental generasi muda yang cenderung semakin jauh dari akidah islamiyah dan cita-cita perjuangan bangsa, mereka merasa terpanggil untuk memperbaiki keadaan. Hal ini merupakan wujud dari rasa tanggung jawab sebagai pewaris dan pengawal akidah islamiyah dan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia yang merupakan rahmat dari Allah SWT.

Kegiatan yang Menarik

Dengan bertujuan untuk membina generasi muda yang bertanggung jawab dan dapat memperjuangkan nilai-nilai Islam serta kesejahteraan umat, YISC menjadi magnet bagi para remaja untuk menimba ilmu.

Kegiatan berbasis Al-Qur’an pun dibuat dengan bentuk yang dapat diterima dengan baik, yaitu BSQ atau Bimbingan Studi Qur’an (BSQ) yang berlangsung setiah hari Ahad pukul 08.00 WIB, dilanjut dengan kajian Studi Islam Intensif (SII) hingga waktu zuhur tiba.

YISC sebagai organisasi pemuda masjid yang pertama berdiri di Tanah Air, tak melupakan fitrah anak muda yang juga ingin belajar sambil bermain, seperti rihlah berbentuk taffaquh fiddin, LDK, nonton bareng, wisata kuliner, dan  banyak lainnya. Di komunitas yang bervisi “Menuju komunitas belajar dan berakhlak” ini para remaja diarahkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial, seperti nikah massal, khitan massal, donor darah, social trip, buka puasa dengan kaum duafa, pembinaan adik asuh, dan lain-lain.

Menurut Asa Ratna Dinasty,  salah seorang anggota YISC, “Tempat ini memberi banyak energi positif karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti para alumninya dan bisa banyak ilmu bermanfaat dari kajian-kajiannya yang selalu update dengan kondisi lingkungan saat ini.”


Lahirkan Tokoh Besar

Dengan misi Da’a ilallah (dakwah di jalan Allah), Amila shalihan (beramal sholeh), dan Innani minal muslimin (pembinaan kepribadian Muslim), YISC menjadi komunitas pencetak orang-orang yang diperhitungkan di bidangnya. Sebut saja Adhyaksa Dault, Yusril Ihza Mahendra, dan Jimly Asshiddiqie, mereka merupakan beberapa tokoh nasional yang lahir dari organisasi ini.

Fauzi Hasan, Ketua Umum YISC Al-Azhar pun mengatakan, “Di YISC, kita bisa belajar banyak hal baik tentang Islam dan fenomena yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Saya pun jadi ikut terpanggil untuk andil dalam perbaikan, khususnya yang segmentasinya para pemuda.”

Siapa sangka, dari organisasi ini terlahir tokoh besar, dan banyak di antara mereka mengawali langkah di YISC dengan motivasi ingin memperbaiki diri. Begitu pula dengan Fauzi Hasan yang motivasinya dahulu hanya ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an-nya saja, dan alhamdulillah itu sudah tercapai.

Tak jauh berbeda dengan sang ketua, Leila Diannurina sebagai anggota pun awalnya ingin belajar membaca Al-Qur’an. “Aku ingin sekali belajar baca Al-Qur’an dengan benar, karena di pengajian saya sebelumnya kurang memuaskan. Mau kursus baca Al-Qur’an secara privat lumayan mahal, dan bisa cepat bosan juga kalau belajar sendirian. Saya juga bosan dengan rutinitas pekerjaan, karena aktivitas di pengajian sebelum di YISC itu sempat vakum. Alhamdulillah ada teman yang menawarkan untuk jadi anggota YISC, masuklah saya ke YISC tahun lalu,” ucap Dina, panggilan akrab Leila Diannurina.

Kini dengan anggota baru yang daftar setiap semester sebanyak kurang lebih 300 pemuda, YISC menjadi organisasi yang makin besar. Dan di usianya yang ke 42 tahun pada Mei 2013 ini, YISC istiqomah dalam berdakwah dan tetap menjadi pilihan para pemuda dalam mencari ilmu dan mengembangkan bakat-bakatnya. Selain mengaji dan mengkaji, ada pula program pengembangan diri agar potensi dalam setiap anggotanya tidak hilang begitu saja. Sebut saja klub fotografi, tim nasyid, seni bela diri, tim futsal dan bulu tangkis, serta bagi yang hobi entrepreneur, di YISC pun ada wadah pengembangannya.

Dengan motivasi memakmurkan masjid, mempersatukan agama Allah, dan perjuangan menuju ridho Allah SWT, YISC bisa disebut sebagai komunitas remaja yang komplet. Berjuang dalam dakwah dengan balutan pengembangan akhlakul karimah yang tetap memerhatikan kebutuhan para anggotanya dan tidak lupa pada kepentingan umat secara umum. (ric)

AddThis Social Bookmark Button

Komunitas Halal-Baik-Enak, Perjuangkan Hak Muslim atas Makanan Halalan Thoyiban

MEI 2013

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqoroh, 168)

Ya, seruan bagi kita sebagai umat Islam untuk mengonsumsi makanan halal ada pada Al-Qur’an sebagai panduan hidup kita. Tak ada alasan bagi kita untuk memakan makanan haram atau belum jelas kehalalannya.

Beruntung di negeri kita yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini langkah pemerintah dalam menjaga hak kita dalam mendapatkan makanan halal mulai nyata. Seperti yang dapat kita lihat, Majelis Ulama Indonesia sebagai pemegang otoritas pemberian sertifikasi halal (bagi makanan dan produk-produk non-makanan/minuman) pun sudah menjadi “sahabat baik kita” dalam rangka pemberian sertifikat halal bagi pemilik perusahaan yang menjual produk makanan yang akan kita konsumsi.

Dengan mudahnya, kita bisa memilah mana makanan kemasan yang telah bersertifikat halal atau belum. Dengan mudah pula kita bisa memilih mana tempat makan atau restoran yang juga telah mengesahkan kehalalannya dengan mengantongi label halal bagi produk-produknya. Hampir semua “sumber” makanan kita bisa jelas “statusnya” sebagai makanan halal atau belum halal.

Hampir! Ya hampir semua, karena ternyata masih banyak produk makanan yang meragukan status halalnya. Bisa kita lihat di gerai-gerai makanan di mal-mal yang tak semua menempelkan logo halal (yang dikeluarkan oleh MUI) sebagai pengenal bahwa makanan di tempat itu adalah halal. Logo halal yang biasanya berwarna hijau itulah gerbang aman bagi kita untuk bisa makan dan minum di tempat itu. Jika sebuah restoran tak memasang logo halal, maka patut kita pertanyakan kehalalannya.

Namun, apakah kita berani meminta hak kita pada pemilik atau pelayan restoran itu, dengan hanya menanyakan kehalalan makanan yang disajikan? Padahal, itu adalah (selain hak) juga kewajiban bagi seorang muslim untuk memastikan makanan yang masuk ke dalam perut kita terbebas dari zat yang diharamkan.

Komunitas Halal-Baik-Enak

Berdiri tahun 2001, dan concern pada pemenuhan kebutuhan muslim atas makanan halal. Bukan menyediakan makanan hala bagi para anggotanya yang sudah berjumlah 4.000-an ini, namun mereka menjadi sebuah wadah bagi kita untuk mengedukasi sejauh mana tingkat kritis kita dalam mengonsumsi makanan halal.

Ada banyak kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas yang terdiri dari banyak kalangan ini. Diprogramkan setiap minggu ada yang mengisi edukasi halal di radio di Jakarta. Ada juga milis tempat berinteraksi dan berdiskusi para anggotanya di dunia maya. Dan yang lebih menarik dari komunitas yang kini diketuai oleh Rachmat Os Halawa ini adalah kegiatan Wisata Kuliner (Wiskul) Halal. Wiskul Halal merupakan kegiatan para anggotanya mencari tempat makan yang halal seperti restoran di food court pusat perbelanjaan atau berupa “sidak” ke restoran-restoran.

Sidak yang dimaksud bukanlah dengan kekerasan tanpa maksud, namun memiliki skenario mengedukasi pemilik gerai makanan tersebut untuk segera meregistrasikan perusahaanya di badan sertifi kasi halal nasional apabila produk produknya memang halal adanya.

Berani Menegur untuk Kebaikan Umat

Ada banyak kejadian unik kala para anggotanya melakukan Wiskul Halal. Seperti pada acara Wiskul Halal yang dilaksanakan pada Ahad, 31 Maret 2013 lalu di Plaza Semanggi, Jakarta, yang dilakukan oleh sekitar 30 anggota Komunitas Halal-Baik-Enak. Pada Wiskul Halal itu, rombongan mengunjungi tiga restoran.

Tempat pertama adalah restoran burger yang terkenal. Penangung jawab restoran ini, menyatakan bahwa tempatnya bekerja telah memiliki sertifi kat halal, seraya menunjukkan beberapa lembar fotokopian atas garansi halal bagi beberapa bahan makanan, seperti daging, sayur, dan lainnya, namun ternyata tak seluruhnya bisa dipertanggung jawabkan, karena hanya bahan makanannya saja yang memiliki sertifikat halal, untuk produk burgernya belum. Akhirnya rombongan pun tidak jadi makan di tempat tersebut karena tidak bisa mendapatkan kepastian halal dari resto ini

Sebelum meninggalkan tempat, salah satu anggota komunitas ini membuat surat (semacam petisi) agar restoran burger itu segera “menghalalkan” produknya demi kebaikan para konsumennya.

Tempat selanjutnya yang didatangi adalah restoran bernuansa tradisional nusantara. Di sini, sang pegawai restoran menyatakan bahwa seluruh makanannya halal karena makanan yang dijual adalah khas Indonesia. Namun karena tidak dapat menunjukkan sertifikatnya dan ketika ia tak yakin rumah pemotongan hewan (ayam dan sapi) tempatnya mengambil bahan baku daging adalah tempat yang halal, maka dapat disimpulkan bahwa restoran tersebut belumlah bisa disebut halal.

Pada restoran ketiga, barulah rombongan menemukan logo halal, yaitu D’Cost. Di restoran inilah rombongan Wiskul Halal mulai bisa tenang bersantap siang.

Perjalanan Wiskul Halal ini menguak kenyataan bahwa sebagian besar restoran belum terjamin kehalalannya. Pada Muzakki, Ustadz Rachmat mengatakan, “Saya berharap kegiatan ini dijalankan rutin ke depannya. Kita semua harus berani pada produsen untuk menanyakan bahan yang digunakan dan menolak makanannya kalau terbukti tak halal.”

“Kenapa saya berani? Apa saya tidak takut? Awalnya ngeri karena yang kami hadapi itu tembok. Tapi buat saya itu masih lebih baik daripada saya harus makan yang haram. Daripada doa saya tak diijabah, daripada katanya ‘sesuatu yang tumbuh dari yang haram, maka api neraka lebih pantas untuknya’. Itu yang saya takutkan, sehingga membuat keberanian itu muncul,” ucap Rachmat berapi-api.

Rachmat pun berkisah bahwa ia sudah benyak masuk dapur restoran. “Beberapa resto yang tadinya mengatakan halal dan begitu saya masuk dapur itu ternyata tidak halal. Tak terhitung berapa resto yang seyogianya halal, tapi nyatanya tak halal. Kebetulan pada Wiskul 2 di Central Park, satu fenomena yang tidak terlupakan oleh saya adalah cireng, which is itu makanan tradisional Sunda, itu bisa menggunakan khomr,” kata ayah dari tiga anak ini.

Kita berharap dengan adanya komunitas yang fokus pada makanan halal, baik, dan enak seperti ini dapat memacu kehati-hatian umat Islam terhadap makanan yang akan disantapnya, sehingga kita pun dapat terbebas dari siksa api neraka kelak di akhirat. Aamiin… (ric)

AddThis Social Bookmark Button

GO-JEK Indonesia, Sosial Entrepreneur yang Memberdayakan Tukang Ojek

APRIL 2013

Kemacetan di Jakarta memang tiada hentinya, terlebih maraknya pengguna mobil dan motor yang semakin bertambah setiap harinya, belum lagi ditambah angkutan umum yang juga memenuhi jalanan ibukota. Bagaimana mengatasi kemacetan di Jakarta? Pertanyaan itu kerap memenuhi kepala masyarakat sekitar juga pemerintah. Lantas bukan hal aneh lagi ketika kemacetan menjadi permasalahan yang tidak pernah selesai di Jakarta.

Bermula dari kesadaran

Dampak negatif dari kemacetan itu sendiri sangat merugikan masyarakat, seperti kerugian waktu karena kecepatan perjalanan yang rendah, pemborosan energi, meningkatkan polusi udara, bahkan menimbulkan stress bagi pengguna jalan. Sebenarnya sederhana saja, kemacetan itu disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah kendaraan dan pertambahan jumlah jalan.

Beberapa cara yang ditempuh oleh Pemerintah seperti memberlakukan three in one pada jalan-jalan tertentu, dan membangun transportasi busway nampaknya belum bisa mengatasi permasalahan ibukota.

Bermula dari kesadaran seseorang pengguna jalan yang hampir setiap hari selalu terkena macet. Dialah, Nadiem, seorang pengguna ojek. Meskipun ia memiliki mobil pribadi tetapi ia lebih menyukai menggunakan ojek karena lebih cepat sampai.

Nadiem sering berbincang dengan tukang ojek di perjalanan dan mendapatkan pengetahuan bahwa ojek-ojek yang ada dipangkalan 80 persennya adalah penunggu, tukang ojek tersebut mengantri untuk mendapatkan penumpang. Akhirnya muncul ide untuk membantu menambah penghasilan tukang ojek tersebut, maka itu sejak dua tahun yang lalu muncul GO-JEK ialah jasa ojek professional di Jakarta.

Membantu meningkatkan perekonomian tukang ojek

GO-JEK merupakan perusahaan baru yang percaya bahwa keuntungan bisnis dan dampak sosial dapat dicapai bersamaan, GO-JEK di dirikan dengan kepercayaan bahwa ojek merupakan sarana transportasi yang penting bagi masyarakat yang setiap hari menjadi korban kemacetan, profesi ojek patut ditingkatkan menjadi layanan professional yang dapat diakses secara mudah.

Selain untuk membantu meningkatkan pendapatan tukang ojek. GO-JEK juga menjadi salah satu alternatif megurangi kemacetan, GO-JEK bekerja sama dengan driver yang dapat dipercaya, berpengalaman, dan dapat diandalkan. GO-JEK menjamin keamanan dan keselamatan customernya.

GO-JEK berencana untuk terus mengembangkan layanan nilai tambah seperti Instant Courier dan Shopping & Delivery.

“Yang menjadi kelebihan GO-JEK adalah drivernya benar-benar tukang ojek. Jika di perusahan lainnya sebagai karyawan, maka GO-JEK melakukan mitra kerja dengan para tukang ojek di pangkalan-pangkalan,” ujar Sam Diah selaku marketing GO-JEK.

Untuk sistemnya, GO-JEK ada rekruter yang bertugas datang ke pangkalan-pangkalan ojek yang ada di JABODETABEK, terlebih yang kebutuhan daerahnya tinggi, rekruter itu datang dan mengenalkan GO-JEK kepada para tukang ojek, jika tertarik tukang ojek tersebut bisa langsung ke kantor dan di training tentang bagaimana caranya berbicara dengan customer dan menjelaskan penawaran kerja samanya. Lalu mereka mendapat ID Card dan menjadi bagian dari GO-JEK.

Meskipun tergolong baru  GO-JEK sudah banyak dikenal masyarakat, respon mereka positif dan merasa terbantu dengan adanya GO-JEK terlebih bagi mereka yang harus bulak-balik ke tempat yang berbeda-beda dalam satu hari. GO-JEK bertujuan menunjukkan kehandalan supir ojek dalam berbagai layanan transportasi dan pengiriman yang memudahkan kehidupan ibu kota.

Fokus di Jakarta

GO-JEK beroperasi setiap hari dari senin sampai jumat mulai pukul enam pagi sampai jam 10 malam, juga hari sabtu-minggu mulai jam 10 pagi. GO-JEK bisa membuat kerja lebih cepat. Semisalnya mengambil barang yang ketinggalan, membeli tiket, mengantar barang, meskipun customernya tidak ikut. Modal utama adalah kepercayaan.

GO-JEK sudah tersebar di JABODETABEK, sebenarnya sudah banyak permintaan untuk membuat cabang baru di luar DKI bahkan sampai ke luar negeri. Namun, GO-JEK belum bisa memenuhi permintaan tersebut karena masih fokus di Jakarta. Hingga kini jumlah driver yang bergabung dengan GO-JEK ada lebih dari 500 orang tukang ojek yang tersebar di 150 lokasi di JABODETABEK . Dan juga sudah ada hampir 50 perusahaan yang menggunakan jasa GO-JEK.

Sebagai prestasi keberhasilannya di bidang Entrepreneur, GO-JEK pernah mendapat penghargaan GP, juga penghargaan dari Amerika yang diberikan langsung oleh Hillary Clinton. Dengan ini GO-JEK terus meningkatkan kualitas dan perbaikan-perbaikan untuk kedepannya.

Memang tidak dipungkiri kehadiran GO-JEK juga membantu perekonomian tukang ojek, ada tukang ojek yang sudah bisa melunasi motor, sudah bisa membuat warung. Karena misi dario GO-JEK sendiri adalah sosial, bahkan dulu orang yang bekerja di GO-JEK sebagai karyawan awalnya adalah tukang ojek. Jika anda memilih GO-JEK sebagai alternatif transportasi, itu artinya anda membantu memenuhi kebutuhan hidup tukang ojek.

“GO-JEK masih lumayan baru jadi belum merasakan hal yang menjatuhkan, memang pasti yang namanya membuat usaha pasti ada jatuh bangunnya. Tapi, semuanya adalah proses belajar, yang penting jangan takut untuk salah dan tetap semangat, kita juga tidak menganggap hal yang menjatuhkan sebagai hal yang negatif,” kata Sam Diah, diakhir perbincangan dengan reporter muzakki. (eby)

AddThis Social Bookmark Button