Tak Menyerah

Melestarikan Untuk Menjaga Aset Budaya

FEBRUARI 2012

Kebudayaan merupakan asset yang harus dijaga dan dilestarikan.  Karena kebudayaan itu merupakan ciri khas dan adat suatu bangsa. Namun tak cukup  hanya dijaga dan dilestarikan saja tapi juga dikembangkan.  Selain itu regenerasi juga penting, agar anak cucu kita kelak pun bisa dapat melihat kebudayaan yang dimiliki daerahnya. Itulah yang kini dilakukan oleh Bang Ali, menjadi ketua umum Perguruan Silat Tradisional Beksi (PSTB) H Hasbullah.

Keyakinan Muhali Yahya , diamanahkan menjadi ketua umum Perguruan Silat Tradisional Beksi (PSTB) H Hasbullah menjadi panggilan hati dirinya agar dapat melestarikan kebudayaan dari adat Betawi satu ini. Lima tahun sejak 2006 mengabdi sebagai ketua umum silat Beksi, ternyata pada masa awal-awal kepemimpinannya pria berusia empat puluh tiga tahun ini pun sempat  ragu terjun menjadi ketua umum.

“Bagi saya yang terpenting aset kebudayaan silat Beksi ini harus tetap dikembangkan. Soal rizki, setiap orang sudah dipersiapkan oleh Allah. Cara dan tempatnya saja berbeda,” kata Bang Ali yang mengaku belajar Silat Beksi sejak 90-an.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Keyakinan yang Tidak Tergoyahkan

JANUARI 2012

Seorang Mantan Pendeta, nama asli Stevanus Rahmat Sumangkir  ini memang bukanlah orang biasa, tidak terhitung berapa banyak orang yang telah beliau kristenkan dahulu saat beliau masih  mengabdikan diri kepada gereja sebagai sosial worker.  Namun kini, menjadi orang yang disegani oleh kalangan muslim, sebagai ketua Paguyuban Mualaf Al-Kalama.

Tidak terhitung pula barapa kepala keluarga yang dahulu beliau bina dalam kebaktian kristen, kedudukannya sebagai pendeta  di kota tempat kelahirannya, Tegal memang tidak bisa dianggap remeh karena sebagai petinggi gereja beliau sangat disegani oleh pemeluk agama kristen. Oleh karena itu bukanlah jalan yang mudah untuk menerima dan mempertahankan  Islam sebagai agama terakhirnya. Namun kini, Beliau  tetap menjadi orang yang disegani oleh kalangan muslim, sebagai ketua Paguyuban Mualaf Al-Kalama.

Abdurahman, sebuah nama yang diberikan oleh kaum muslim kepada beliau. Mantan pendeta ini selalu terenyuh setiap kali diminta menceritakan kembali perjalanan beliau menuju hidayah Allah, matanya terlihat berkaca-kaca ketika mengenang kembali betapa kerasnya perjuangan  beliau untuk masuk Islam. Saat itu, tahun 1996 bersama sang Istri, Maria Andrisiana disaksikan oleh jamaah umat muslim dari berbagai penjuru daerah megucapkan dua kalimat syahadat diiringi dengan suara takbir dan tangis haru yang menggema, saat itulah Bapak dengan dua orang anak ini merasakan ukhwah Islam yang begitu hangat dengan sesama Muslim. Muslim dan muslimah dari berbagai daerah menyambut mereka dari kesyirikan menuju gerbang ketauhidan kepada Allah.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Tekad Menjadi Hafizhah dengan Huruf Braile

DESEMBER 2011

Dalam keterbatasannya, Diah Rahmawati tidak menyerah dan berpangku tangan begitu saja, Diah justru menjadi motivator bagi teman-temannya yang “awas” agar terus mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka. Satu keyakinan dalam diri Diah bahwa meskipun dengan segala keterbatasan yang ia miliki, Diah harus tetap gigih dalam meraih cita-citanya. Bahkan Diah tetap tekun menuntut ilmu, baik ilmu duniawi maupun ilmu agama.

Tujuh tahun yang lalu Allah telah mengambil penglihatannya. Saat itu ia masih duduk di bangku SMA, penglihatannya perlahan  menjadi  semakin kabur. Awalnya ia dan keluarganya mengira bahwa Diah hanya mengalami kelainan  mata minus. Namun  kemudian  menjelang kelulusan sekolah  menengah atasnya itu, penglihatannya benar-benar  hilang. Diah yang selama 17 tahun kehidupannya dikaruniai kesempurnaan  melihat dunia, saat itu terpuruk. Keluarga Diah pun terpukul menerima kenyataan bahwa penglihatan orang yang mereka sayangi itu terenggut oleh sebuah penyakit  kelainan  mata yang amat langka. Sejak  itu, berbagai cara dilakukan  untuk kesembuhan Diah, dari klinik mata ke klinik mata lain, bahkan berbagai pengobatan alternatif pernah dicobakan. Namun, bukannya memperoleh  kesembuhan, Diah justru semakin terpuruk. Meski semua orang di sekitarnya mencoba membesarkan hati Diah, rasa minder dan  ketakutan memulai hidup sebagai layaknya remaja seusianya cukup lama membuatnya tertekan.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Perjuangan Menghajikan Bunda Tercinta

NOVEMBER 2011

 

 

 

 

Tak menyerah, itulah motto perjuangan panjang yang ditempuh oleh Ifas Fasohah yang saat itu masih menempuh pendidikan disalah satu universitas negeri Islam  di Jakarta. Tersitanya waktu istirahat hingga tertundanya waktu untuk sekedar makan tak membuat langkahnya terhenti. Niat sucinya untuk dapat memberangkatkan sang bunda berhaji tak pernah pupus dari benaknya. Alhasil, kerja keras itupun berbuah manis, air mata tak terbendung ketika ia menyapu gelar juara dalam ajang lomba Fahmil Qur”an tingkat provinsi. Mimpinya pun semakin terlihat didepan mata. Meskipun ia masih harus memperjuangkan segalanya, namun keyakinan akan panggilan sang Rabb, akhirnya sang bunda pun menginjakan kakinya ditanah suci...

Tak ada seorangpun rasanya yang tak ingin menginjakan kakinya ditanah suci Mekkah, tempat dimana para kekasih Allah menuliskan sejarahnya. Berhaji, rukun Islam yang kelima ini tentu akan menjadi penyempurna bagi setiap muslim yang senantiasa haus dan rindu akan Rabbnya. Namun, tak semudah itu memenuhi panggilanNya, salah satunya yang dialami oleh Ifas Fasohah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Niat suci hatinya berbuah manis, segala perjuangannya yang penuh dengan kerja keras akhirnya dijawab oleh Allah. Doa sang bunda tentu juga menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Ia menjadi juara pertama Fahmil Qur’an dan alhamdulillah ia mampu memberangkatkan sang Bunda berhaji dengan hasil kerja kerasnya.

Keberhasilan yang diraih Ifas fasohah bukanlah hal yang tidak mungkin didapatkan oleh siapapun, namun keberhasilan ini juga bukanlah hal yang mudah untuk didapatkannya. Usaha belajar yang begitu penuh kerja keras dan penuh pengorbanan berakhir dengan indah, semua baginya tak lain berkat doa dan dukungan sang bunda tercinta. Karnanya, ketika ia dinobatkan sebagai juara satu  Fahmil Qur’an  (cerdas cermat) dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat profinsi Banten perwakilan kab.Lebak  dan mendapatkan hadiah bonus perjalanan haji maka ia langsung menyerahkan hadiah itu untuk ibunda tercinta.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Budidaya Lebah

OKTOBER 2011

“Beternak Lebah tidak sama dengan beternak unggas atau binatang lainnya, karena Lebah itu hidupnya bebas di alam terbuka. Lebah yang  diternak menghasilkan madu asli yang bermutu tinggi karena system pengambilan madunya tidak diperas atau merusak sarang lebahnya sehingga madu tidak tercemar oleh telur (larva) yang pecah”. Urai Setyono Peternak Lebah

Usaha peternakan Lebah "Pondok Lebah" ini didirikan sejak maret 1996 dan karena dorongan 2 hal yang mendasar, yaitu: Pertama, Memeperhatikan kurangnya madu asli di Indonesia yang diakibatkan makin menyempitnya lahan bagi lebah liar dan cara pengambilan madu oleh pemburu pencari madu hutan yang tidak memperdulikan kelestarian lebah itu sendiri dan meningkatnya kebutuhan madu asli bagi masyarakat dan keperluan farmasi. Kedua, Petunjuk dari kitab suci Al Qur'an Surat An-Nahl Ayat 68 dan Ayat 69 tentang lebah, madu dan obat bagi manusia.

Budidaya Lebah Mellifera

Latar belakang pendidikan teknik sipil dan sebagai kontraktor yang Setyono geluti saat itu tak membuat peternakan lebahnya tidak jelas. Dengan hobi ternak yang ini miliki justru Setyono dan Tujuh pekerjanya terus mengembangkan peternakannya. Terbukti yang awalnya Cuma mempunyai 60 koloni lebah, kini Setyono mempunyai 600 koloni lebih. Lebah yang diternak merupakan jenis lebah Mellifera. Lebah tersebut terdiri dari lebah jantan, pekerja dan ratu. Yang mana lebah pekerja bisa bertahan hidup hanya 2 bulan, maka dari itu lebah ratu harus bertelor setiap hari.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...