Prajurit Tua
NOVEMBER 2011
Ketika aku lagi pakai sepatu di teras masjid seusai sholat dluhur, tiba-tiba para pelajar SMA yang semula duduk “ngobrol” di teras masjid berlarian menuju jalan depan masjid. Sambil berlari mereka ada yang mengeluarkan “gir” (roda gerigi) dari dalam tas, ada yang tiba-tiba sudah memegang kayu, dan ada yang melepas sabuk kemudian diputar-putar di atas kepala.
Teriakan mereka bak seperti prajurit Indian akan menyerbu para Coboy. Ya … mereka hendak menyerbu pelajar SMA sekolah lain yang tengah bergantungan di angkot. Dan sama mereka yang menjadi lawan juga sudah membawa apa saja yang bisa dijadikan senjata untuk menghadapi lawannya.
Sudah bisa aku bayangkan bakal seru sekali pertempuran para pelajar dua sekolah ini. Aku ikut berdiri dan bersegera menuju jalan depan masjid. Dalam benakku tengah mencari apa yang bisa aku lakukan untuk melerai pertempuran hebat ini.
Sedetik menjelang dua kubu prajurit pelajar yang sok merasa gagah berani bertemu dalam kancah tawuran. Tiba-tiba ada teriakan yang lebih keras lagi dari beberapa penjuru, dan bermunculan dari lorong-lorong sekitar para prajurit orang kampung yang juga tak kalah serunya sudah membawa “petungan” kayu atau bambu.
Keadaan pertempuran berubah drastis, semula dua kubu pelajar yang hendak berhadapan berubah berlarian kesana-kemari menghindari kejaran prajurit tua warga kampung. Tidak sedikit prajurit muda pelajar yang terpukul kayu atau bambu dari prajurit tua.
Ada beberapa prajurit pelajar yang tertangkap prajurit tua, dan dia minta ampun tapi tetap beberapa kali dipukul kayu oleh prajurit tua sambil berkata, “Nggak kapok-kapoknya kalian tawuran ya”. Akhirnya kemenangan bagi prajurit tua.
Dan ternyata jalanan sudah dipenuhi prajurit tua. “Kami sudah bersiap diri ketika melihat ada pelajar berkumpul di depan masjid. Biasanya akan ada tawuran. Kami langsung kontak warga yang lain”, kata salah satu warga dengan bangga sambil mengayun-ayunkan petungan bambu.
Aku terdiam binggung berdiri di tengah-tengah mereka. Siapa yang harus dibela atau siapa yang harus disalahkan? Awalnya para pelajar yang akan tawuran yang bisa disalahkan, karena bisa dibayangkan kalau tawuran itu benar-benar terjadi pasti akan ada yang berdarah. Betapa konyolnya para pelajar berkelahi tanpa jelas apa yang diperjuangkan.
Uniknya sebagian pelajar yang akan tawuran tadi juga sholat berjama’ah bersamaku di masjid. Ya Allah, mengapa setelah sholat kemudian tawuran, apalagi menjadikan masjid sebagai base mereka menghadang lawannya. Ternyata sholat belum mencegah dari berbuat kerusakan dan kemungkaran.
Maksud warga kampung memang baik hendak mencegah tawuran, tapi cara mereka juga jadi sama dengan pelajar yang akan tawuran. Lebih hebat lagi mereka sudah terbiasa bersiaga dan mengatur strategi jika ada tawuran. Ibaratnya mereka melakukan “preventif” dengan bersiaga untuk melakukan tindakan “kuratif” jika ada tawuran.
Sepengetahuan ku, upaya preventif itu mencegah sebelum terjadi, bukan malah ikut “nimbrung” tawuran. Apalagi warga kampung tentunya lebih tua dari pelajar maka tentunya harus lebih bijaksana. Demikian pula sekolah dan keluarga tempat pelajar tersebut hidup sehari-harinya, tentulah tempat terbaik membina bagi mereka untuk mencegah tawuran.
Betapa rumitnya masyarakat kita saat ini yang selalu mencari-cari pembenaran terhadap setiap tindakan kekerasan. Masyarakat sudah kehilangan kearifan dan kebijaksanaan dalam melihat konflik sosial. Dari pemimpin sampai masyarakat lapisan terbawah saat ini suka menyelesaikan semuanya dengan kekerasan Apakah ini menunjukkan semakin banyaknya ketidakberhasilan pendidikan dan pembinaan dalam keluarga?
Jangan … Keluarga jangan menyerah oleh keadaan. Keluarga harus menjadi benteng yang terkokoh dalam menghadapi perubahan zaman. Yakinlah, setiap kebaikan yang kita persembahkan kepada keluarga akan mencegah kerusakan di masyarakat. Jangan terpengaruh dengan carut-marut diluar, kita doakan mereka diluar segera sadar dan mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Semoga Allah SWT selalu menjaga iman, ibadah, dan budi pekerti keluarga kita. Serta semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesabaran, perlindungan, dan kekuatan bagi kita dalam membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Amin. • (Parung, 11 Oktober 2011)






