Tanggung Jawab Siapa
DESEMBER 2011
"Wah ... kedahuluan agama lain yang membantu pemugaran rumah di kampung ini", ucapku kepada teman-teman Lagzis setelah melihat dan membaca tanda di pintu rumah warga. Kampung Paseban Kecamatan Bayat di Klaten ini memang dikenalkan dengan kampung masyarakat tertinggal. Kampung ini juga terletak di lereng Gunung Merapi, sehingga beberapa kali terancam Erupsi Merapi.
Kemiskinan warga sudah tampak jelas dilihat dari kondisi kebanyakan rumah yang terbuat dari bambu, berlantai tanah, dan atap genteng yang sangat pendek sehingga kepala ku terbentur jika akan masuk ke rumah warga. Sanitasi rumah mereka sangat tidak sehat karena tidak ada jendela yang mengalirkan udara segar, dan tidak ada cahaya yang masuk ke rumah sehingga relatif gelap suasana dalam rumah.
"Dijualnya antara lima ratus rupiah sampai delapan ratus rupiah. Tergantung jenis gerabah yang kami buat", jelas seorang bapak tua yang tengah istirahat dari membuat gerabah. Kebanyakan warga membuat gerabah, tapi dijualnya masih mentahan belum dibakar sehingga harganya murah sekali. Biaya membakar gerabah saat ini jadi mahal karena sudah tidak ada kayu lagi yang bisa dibuat membakar, sehingga harus membeli sekam padi untuk membakar gerabah.
Sehari seorang warga maksimal mampu membuat 10 gerabah saja. Jika dikurangi biaya membeli tanah liat maka keuntungan hanya sekitar 300 rupiah per gerabah, dan gerabah disetor ke pengumpul seminggu sekali. Penghasilan seorang warga seminggu kurang lebih dua puluh ribu per minggu.
Standar WHO terbaru orang dikatakan miskin apabila penghasilan perhari tidak mencapai senilai dua Dollar Amerika. Berarti warga disini sangat miskin sekali jika diukur dengan standar WHO. Secara realita di depan mata, mereka memang tampak sekali sangat miskin.
Dalam teori disebut kemiskinan disebabkan dua hal, yaitu budaya (kultural) dan kebijakan (struktural). Kemiskinan kultural disebabkan budaya dari individu yang menyebabkan miskin, seperti malas dan gampang menyerah. Sedangkan kemiskinan struktural disebabkan kebijakan yang dibuat tidak berpihak kepada upaya-upaya perbaikan dan pengentasan orang miskin, seperti biaya sekolah yang dibuat mahal dan fasilitas transportasi di desa yang dibatasi.
Seringnya yang dipersalahkan dalam menganalisa kemiskinan adalah budaya yang menjadi penyebab kemiskinan. Tapi bisa kita lihat di desa ini warga tidak malas, mereka rajin memproduksi gerabah. Mereka menjadi miskin karena sumberdaya sudah terbatas, sampai membakar gerabah hasil karya sendiri saja tidak bisa. Juga tataniaga untuk menjual gerabah yang tidak berpihak kepada mereka, sehingga mereka terpaksa jual murah, sedangkan pengumpul dan pedagang yang mendapatkan hasil yang paling besar.
Ketika tahu kondisi masyarakat disini seperti ini Tim Lagzis menyusun strategi pendekatan. Pertama akan dikirim bantuan karitatif sebagai sarana silaturrahim, kemudian jika terjalin kepercayaan maka akan dikirim bantuan produktif. Tim Lagzis untuk bantuan karitatif memilih merenovasi genteng rumah mereka, dan memberi genteng kaca agar sanitasi dan cahaya dalam rumah menjadi lebih baik.
Ternyata hampir semua rumah warga di atas pintu utamanya sudah dipasang tanda dari kesatuan aksi gereja internasional. Padahal itu rumah warga muslim, maka spontan rasa heran ku muncul.
"Ini hanya tanda bahwa kami telah dibantu oleh mereka untuk renovasi rumah", jelas seorang ibu warga.
"Per rumah diberi bantuan material bangunan terserah apa saja, bisa semen, bisa batu bata, atau kayu. Total senilai dua juta rupiah per rumah", lanjut ibu tersebut.
"Nggak ada prosesi atau acara penyerahan bantuan. Material bantuan diambil ke rumah Ketua RW", jelas ibu tersebut ketika aku bertanya apa ada kegiatan dakwah yang dilakukan mereka.
Tiba-tiba dada ku mengharu melihat kemiskinan di depan mata ini. Di dada ku ada pertanyaan "Siapa sebenarnya yang paling bersalah".
Apa warga miskin ini? Tidak ... Mereka tidak bersalah terbukti mereka tidak malas dan terus berjuang. Apakah pemerintah yang tidak berpihak kepada mereka? Wah ... Aku nggak bisa jawab karena aku bukan seorang birokrat.
"Akulah yang paling bersalah", teriak dada ku tiba-tiba. Allah SWT telah memberi aku pengetahuan, pengertian, dan pemahaman tentang kemiskinan, dan aku juga diberi kesempatan berbuat dengan diamanahi mengelola dana umat, maka tentu aku orang yang paling bersalah dan bertanggungjawab.
Pasti setiap diri harus ikut bertanggungjawab jika dia telah memiliki pengetahuan dan kesempatan. Tapi sering kita menggabaikan rasa tanggungjawab itu dengan dalih bermacam hal. Padahal Allah SWT telah berfirman sebanyak tiga puluh satu kali diulang-ulang dalam Surat Ar-Rahman, "Nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan".
Ya Allah ampunilah kami ini yang tidak pandai bersyukur. Limpahkan selalu kepada kami pengetahuan dan kesempatan agar kami menjadi lebih bermanfaat dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Amin. (Klaten, 16-11-2011)






