Shalawat Membawaku Untuk Lebih Bermanfaat
OKTOBER 2011

Hidup selalu berubah. Berubah untuk lebih baik dari sebelumnya, agar jauh lebih bermanfaat. Karena itu selagi ada kesempatan untuk dapat berubah, sudah seyogyanya seseorang memanfaatkan kesempatan. Sehingga ada ungkapan ‘hidup ini seperti roda berputar’ benar-benar dimanfaatkan agar dapat merasakan indahnya dunia dari perjalanan hidup yang sesaat.
Nama Sulis, rasanya sudah tidak asing lagi ditelinga pencinta shalawat. Yah, mungkin bagi sebagian orang mengenal Sulis yang berduet dengan Haddad Alwi di bawah bendera Cinta Rasul. Itu benar dan memang tidak salah. Tapi, kini Sulis sudah jauh lebih sukses dan mandiri dengan bersolo karir. Gadis yang memiliki nama lengkap Sulistyowati terus belajar agar bermanfaat untuk orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki.
Sulis, demikian ia akrab disapa, memang tidak bisa dipisahkan dari shalawat. Kecintaannya kepada Rasulullah SAW, membawanya lebih bermakna untuk orang lain. Menurut Sulis, hidup yang hanya sesaat sedapat mungkin seseorang berharga untuk sesama apalagi seorang muslim sudah seharusnya mencintai orang yang dimuliakan oleh makhluk di bumi dan di langit yakni Rasulullah SAW. “Sulis cinta Rasulullah, karena dengan bershalawat untuk Rasulullah yang menghidupi Sulis dan keluarga. Rasulullah yang menyertai perjalanan Sulis, denga bershalawat untuk Rasulullah , Sulis dan keluarga terangkat dari ‘kehinaan’ menjadi terhormat. Sulis akan tetap bershalawat sampai mati,” kata Sulis seraya bersyukur dengan perubahan ekonomi pada diri dan keluarganya.
Ekonomi keluarga Sulis, waktu itu memang terbilang susah. Jangankan memiliki rumah yang layak seperti sekarang ini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terkadang orang tua Sulis harus meminjam uang ke tetangga. Namun meski demikian, bagi anak ketiga dari tiga bersaudara ini tetap yakin hidup hanyalah seperti roda yang berputar ada kalanya seseorang di atas dan di bawah.
Untuk soal agama, Sulis kecil di sekolahkan di Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) al-Ihya tak jauh dari rumahnya. Tak hanya itu, orang tua Sulis memang menitik beratkan agar anak-anaknya juga dapat menimba ilmu agama. Tak ayal, pemahaman agama bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta itu boleh dikatakan meningkat. “Orang tua selalu mengajarkan ke anak-anaknya tentang agama. Bagaimana pun, seorang muslim agama sebagai pondasi dalam beraktifitas sehari-hari,” jelas Sulis anak dari pasangan Sumadi dan Siti Satinem.
Sampai suatu hari keberuntungan akhirnya menghampirinya. Sulis yang sebelumnya hidup dalam keluarga sangat sederhana, mulai merasakan angin segar untuk duet bersama Haddad Alwi melantunkan lagu shalawat. Diakuinya, banyak tantangan yang harus dihadapi dengan sebelumnya mengalahkan 100 orang temannya di al-Ihya, sebelum akhirnya Sulis yang terpilih untuk duet bersama Haddad Alwi.
“Waktu itu sekitar 1999 di TPA al-Ihya, sedang mengadakan audisi untuk nyanyi bareng kak Haddad Alwi. Dari 100 anak dipilih tiga orang untuk baking vokal, Sulis salah satu dari tiga anak yang terpilih. Nah dari tiga orang itu, diseleksi lagi untuk duet bareng kak Haddad Alwi al-Hamdulillah Sulis akhirnya lolos,” kenang Sulis perjalanan karirnya di Cinta Rasul.
Banyak pelajaran yang Sulis ambil dari perjalanan hidup, yang ia dan keluarganya hingga sampai sekarang ini. Sulis memang sudah beda dari sebelumnya, dari ia yang dulu anak-anak atau kebutuhan ekonomi keluarganya yang jauh dari cukup kini Sulis sudah remaja dan merasakan buah dari kerja kerasnya sebagai penyanyi shalawat.
Namun meski demikian, Sulis tetaplah orang yang tak mau membanggakan diri. Kecantikannya khas jawa, sorot matanya yang tajam serta kesehariannya terlihat sekedarnya justru membuatnya sulit dilupakan. Kini mahasiswa yang mengambil Fakultas Psikologi itu juga turut andil di lembaga sosial. Baginya, seseorang sebenarnya dapat berubah untuk lebih baik dari sebelumnya. Tugas dan tanggung jawab orang-orang yang mampulah, setidaknya dapat turut andil membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Islam tidak pernah memberatkan umatnya dan tidak akan pernah memberatkan dalam melakukan kebaikan.
“Sulis juga berterima kasih kepada semua orang yang telah mendoakan Sulis, hingga seperti sekarang ini. Buat orang tua, kak Haydar Yahya dan kak Haddad Alwi kebaikannya semoga selalu mendapat balasan terbaik di sisi Allah SWT,” ucap Sulis yang memiliki sebuah lembaga pendidikan sekolah alam di Sawangan Depok-Jawa Barat. (ihq)







