Pengalaman Rohani

“Semuanya Harus Dimulai dari Diri Kita”

FEBRUARI 2012

Ada pelajaran berharga setiap seseorang mengajarkan ilmu untuk orang lain. Selain pemahaman yang akan disampaikan terlebih dahulu mengerti, lebih dari itu penerapan apa yang telah disampaikan rasanya juga tak kalah penting. Karena itu, semuanya akan kembali kepada masing-masing individu agar memulai dari diri sendiri.

Aktifitasnya sebagai penceramah, sudah ia lakukan sebelum menjadi satu di antara empat pemenang lainnya pada ajang pemilihan Dai dan Daiah pada 2005 disebuah stasiun swasta.  Ada pelajaran berharga yang akan terus ia belajar, bahwa sebagai penceramah, seyogyanya agar terus memberikan manfaat untuk orang banyak.

Nama lengkapnya Noor Albar, (31). Aktifitasnya kini disibukkan menghadiri pengajian dari satu tempat ke tempat lainnya. Memberikan pengajaran kepada jamaah, seakan menuntutnya agar mengamalkan ilmu yang telah disampaikan.

“Sebelum menyampaikan materi, baiknya memang dimulai dari diri sendiri. Karena kita sedang memberi contoh untuk orang lain,” kata Ustadz Albar yang juga lulusan 2009 Jurusan Tafsir Hadist UIN Jakarta.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Pendakwah Bukan Tabu

JANUARI 2012

Berdakwah bukanlah profesi yang banyak di inginkan bagi anak muda zaman sekarang.  Namun Lulu Susanti justru menganggap pendakwah adalah profesi yang prestisius di masa depan.

Islam memberikan hak kebebasan untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki setiap orang. Memiliki hak untuk menjalankan kemampuan sesuai bidangnya, bukan suatu kelemahan ketika seseorang ahli di bidang tertentu namun orang lain tidak. Karena di antara kita saling memberikan manfaat sesuai bidangnya.

Daiah TPI (MNC TV, red) Lulu Susanti (25), mengawali karir sebagai penceramah bukan hal baru dijalaninya. Ia sudah menjalaninya saat mengeyam pendidikan disebuah pesantren yang biasanya diadakan saat muhadarah.  Muhadarah kegiatan di mana setiap santri (sebutan orang yang pesantren) secara bergiliran biasanya diadakan satu pekan sekali, menampilkan kemampuan atau kreasi yang dimiliki masing-masing santri.

“Di pesantren saya belajar ilmu retorika. Meski sempat waktu kecil, ibu selalu mengajak saya untuk ikut pengajian agar anaknya mengenal dan mengetahui di lapangan pembelajaran di majelis taklim,” kata Lulu lulusan sebuah pesantren di Bogor.

Orang tua Lulu khususnya sang ibu terbilang menginginkan dirinya menjadi seorang ahli agama. Berbeda dengan sang ayah, agar Lulu menjadi seorang yang jago karate. Diakui Lulu, sangat berat jika mengikuti keinginan orang tua yang sebenarnya Lulu ingin menjadi seorang film maker. “Sangat berat mengikuti orang tua, bagaimana pun kita juga kan punya keinginan. Tapi disini saya mengambil berkah dari orang tua yaitu ibu,” ujar Lulu anak dari seorang ayah militer ibu guru agama.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Kecil-kecil Jadi Da’i

DESEMBER 2011

Hakim mengawali ceramahnya sejak usia empat tahun, bakat menjadi da’i cilik asal kota kembang memang sudah terlihat semenjak ia gemar mendengarkan cerita agama dari ibunya

 

Dalam proses menyampaikan materi tausiah, Hakim terlebih dahulu belajar dengan bantuan ibunya. Ia mendengarkan buku yang dibaca oleh ibunya, kemudian ia mencerna isi materi dan mengolahnya untuk menjadi bahan materi yang akan ia sampaikan.

“Hakim paling suka materi yang berkaitan dengan rasa berbakti anak kepada kedua orang tua, terlebih kepada ibu” tutur aktor sinetron religi Bukan Islam KTP ini. Sebenarnya ia menyukai seluruh materi yang ia sampaikan, namun ketika menyampaikan tausiah mengenai ibu. Hatinya bergetar ketika mengingat sosok ibu yang telah mengajarkan dan membinanya sampai saat ini, terlebih surga berada di telapak kaki ibu.

Kedekatan Hakim dengan ibunya selalu terlihat dimana pun ia berada, saat berada di lokasi syuting ataupun saat ia menyampaikan ceramah. Bagi Hakim sosok ibu adalah sosok yang luar biasa karena ia telah memberikan kehidupan, kasih sayangnya telah membuat hidupnya penuh warna dan lebih bermakna.

Dukungan serta peran serta Ai Zubaedah, ibunda Hakim telah membuat Hakim menorehkan prestasi baik tingkat provinsi maupun nasional. Dalam lemari kaca rumahnya terpampang lebih 40 piala yang  telah ia dapatkan dari beberapa perlombaan, seperti lomba adzan dan fashion show busana muslim.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Meraih Sukses Lewat Album Religi

NOVEMBER 2011

 

 

“Saya bisa jadi seperti ini bukan kerena hasil kerja saya semata , tapi karena ada campur tangan Allah .Saya hanyalah seseorang yang tidak memiliki kemampuan apa-apa, tetapi Allah memutuskan lain. Allah lah yang menghendaki saya bisa jadi seperti sekarang ini dan saya sangat bersyukur atas segala anugerah yang Allah berikan kepada saya.”  Tutur kata yang tenang dan penuh dengan kerendahan hati.  Begitulah Opick, penyanyi yang telah memiliki tujuh album religi ini begitu bersyukur atas segala karunia yang telah Allah berikan padanya.

Mengawali karir dengan hijrah ke Jakarta dari Jember pada tahun 1993, Opick langsung mendatangi Bengkel Theater tempat dimana penyair idolanya, Alm. W.S. Rendra berada. Keinginannya untuk menjadi seniman sudah mengakar dalam hati.  Gayung pun bersambut, beberapa musisi silih berganti bekerja sama dengannya untuk merilis album.  Namun sayang album-album yang dihasilkannya mengalami berbagai kendala hingga tak bisa beredar. Tetapi semangat untuk terus berkarya tak pernah padam, hingga suatu hari Agus Idzwar menawari Opick untuk menyanyikan lagu Tombo Ati. “Ketika itu saya bimbang untuk menerima tawarannya, namun entah mengapa saya tak bisa menolak, hingga jadilah saya menyanyikan lagu Tombo Ati. “ cerita Opick. Tanpa disangka-sangka lagu Tombo Ati yang dinyanyikannya mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat.  Opick yang dahulu tak dikenal orang kini menjadi musisi yang turut mewarnai industri musik tanah air dengan tembang-tembang religinya. Berawal dari lagu Tombo Ati, Opick memantapkan dirinya untuk berkiprah di jalur musik religi.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Shalawat Membawaku Untuk Lebih Bermanfaat

OKTOBER 2011

Hidup selalu berubah. Berubah untuk lebih baik dari sebelumnya, agar jauh lebih bermanfaat. Karena itu selagi ada kesempatan untuk dapat berubah, sudah seyogyanya seseorang memanfaatkan kesempatan. Sehingga ada ungkapan ‘hidup ini seperti roda berputar’ benar-benar dimanfaatkan agar dapat merasakan indahnya dunia dari perjalanan hidup yang sesaat.

Nama Sulis, rasanya sudah tidak asing lagi ditelinga pencinta shalawat. Yah, mungkin bagi sebagian orang mengenal Sulis yang berduet dengan Haddad Alwi di bawah bendera Cinta Rasul. Itu benar dan memang tidak salah. Tapi, kini Sulis sudah jauh lebih sukses dan mandiri dengan bersolo karir. Gadis yang memiliki nama lengkap Sulistyowati terus belajar agar bermanfaat untuk orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki.

Sulis, demikian ia akrab disapa, memang tidak bisa dipisahkan dari shalawat. Kecintaannya kepada Rasulullah SAW, membawanya lebih bermakna untuk orang lain. Menurut  Sulis, hidup yang hanya sesaat sedapat mungkin seseorang berharga untuk sesama apalagi seorang muslim sudah seharusnya mencintai orang yang dimuliakan oleh makhluk di bumi dan di langit yakni Rasulullah SAW. “Sulis cinta Rasulullah, karena dengan bershalawat untuk Rasulullah yang menghidupi Sulis dan keluarga. Rasulullah yang menyertai perjalanan Sulis, denga  bershalawat untuk Rasulullah , Sulis dan keluarga terangkat dari ‘kehinaan’ menjadi terhormat. Sulis akan tetap bershalawat sampai mati,” kata Sulis seraya bersyukur dengan perubahan ekonomi pada diri dan keluarganya.

Ekonomi keluarga Sulis, waktu itu memang terbilang susah. Jangankan memiliki rumah yang layak seperti sekarang ini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terkadang orang tua Sulis harus meminjam uang ke tetangga. Namun meski demikian, bagi anak ketiga dari tiga bersaudara ini tetap yakin hidup hanyalah seperti roda yang berputar ada kalanya seseorang di atas dan di bawah.

Untuk soal agama, Sulis kecil di sekolahkan di Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) al-Ihya tak jauh dari rumahnya. Tak hanya itu, orang tua Sulis memang menitik beratkan agar anak-anaknya juga dapat menimba ilmu agama. Tak ayal, pemahaman agama bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta itu boleh dikatakan meningkat. “Orang tua selalu mengajarkan ke anak-anaknya tentang agama. Bagaimana pun, seorang muslim agama sebagai pondasi dalam beraktifitas sehari-hari,” jelas Sulis anak dari pasangan Sumadi dan Siti Satinem.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...