Pengalaman Rohani

More Articles...

Yana Julio: Ibu, Perwakilan Allah

MEI 2013

“Surga itu ada di telapak kaki ibu.”

Begitulah pepatah menyatakan, betapa penting dan mulianya posisi ibu dalam hidup kita. Sampai-sampai menurut pepatah itu surga ada di telapak kaki ibu, yang artinya kita harus patuh dan tunduk pada perintah ibu. Jika kita menurut pada ibu, maka balasan yang setimpal bagi kita adalah surganya Allah SWT.

Banyak dari kita yang begitu mengagungkan sosok, mencintai ibu kala ia masih kuat mengurus kita. Namun tatkala kita sudah beranjak dewasa lalu menikah, tak jarang yang melupakan adanya ibu, terlalu fokus pada keluarga baru kita. Mudah-mudahan tak ada di antara kita yang berbuat seperti itu. Ada dan tiada ibu di hadapan kita, sosok ibu harus kita hormati, kita sayangi, dan didoakan kebahagiaannya dunia-akhirat.

Kisah kecintaan dan kepatuhan terhadap ibu, ada pada seniman Indonesia yang satu ini. Yana Julio yang kini telah memiliki tiga orang anak, masih mencintai ibunya walaupun telah berpulang ke Rahmatullah.

Ketika ditemui di salah satu studio televisi nasional di Jakarta, artis kelahiran Bogor ini menuturkan bahwa segala kesuksesannya merupakan buah dari kepatuhannya pada sang ibu.

“Saya dari kecil terbiasa menurut pada orang tua, terutama pada ibu. Saya tak tahu asalnya dari mana, apakah dari pengajian atau di sekolah. Pokonya saya begitu saja,” kata Kang Yana, sapaannya.

Ia ingat sekali waktu kelas empat SD, saat ikut lomba nyanyi dan menang juara satu tingkat lokal wilayah Bogor. “Nah, pemenangnya harus ikut lomba tingkat Jawa Barat di Sukabumi atau Bandung (waktu itu). Ibu saya khawatir. ‘Jangan ikut lah’. Just like that, saya tak ikut, tak pergi ke Bandung. Saya pun tak protes. Nanya sih nanya, tapi kata beliau hanya karena khawatir,” ucapnya sambil menerawang.

Selain penurut, sedari kecil Kang Yana memang terbilang anak yang menonjol dalam prestasi. Pernah ia tinggal kelas ketika naik ke kelas empat SD. “Waktu itu saya belum mengetahui untuk apa sekolah itu. Saya sekolah ya pergi sekolah, belajar ya belajar, hanya itu saja. Tapi ketika harus turun kelas dari kelas empat ke kelas tiga lagi, saya jadi tahu bahwa itu memalukan. Akhirnya saya minta diajari oleh sopir, oleh kakak, dan lainnya. Hasilnya, saya selalu menjadi bintang kelas,” ujar pria kelahiran 8 April 1960 ini.

Dalam menentukan masa depan, terutama dalam masalah pendidikan, Kang Yana pun tak pelak mengikuti “perintah” sang ibu. Ketika ia hendak memilih tempat kuliah, ibunya bertanya, “Mau kuliah di mana? Temani ibu deh di Bogor. Di Bogor saja ya biar deket sama ibu.” Tanpa banyak protes, dengan sendirinya Kang Yana berhasil masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) lewat jalur SPMB. Tampaknya kata-kata sang ibu begitu kuat bagaikan doa, sehingga apa yang ia pinta menjadi kenyataan.

Lagi-lagi Kang Yana berhasil membuktikan bahwa menuruti permintaan ibu adalah cara terbaik dalam hidupnya. Biasanya anak bungsu yang biasa melakukan itu, namun Kang Yana yang anak keenam dari delapan bersaudara ini pun melakukannya karena kakak-kakaknya berkuliah di mana-mana, menyebar.

Passion Menyanyi

Kang Yana semasa kecil memang menggemaskan, ia suka “ditanggap” untuk menyanyi oleh tetangganya. Memang bakat menyanyinya sudah terlihat sejak usianya lima tahun. Dalam usia sebelia itu, Kang Yana sudah bisa menyanyi di acara pernikahan tetangganya.

Terlebih ketika ia sudah masuk sekolah, guru-gurunya yang sudah tahu akan bakat Yana kecil diikutkan di berbagai lomba. “Passion saya memang menyanyi. Saya suka ikut lomba. Dari kecil sudah ada keinginan jadi biduan seperti di TV.”

Perjalanannya dalam bidang bernyanyi terus berkembang hingga ia duduk di perguruan tinggi. “Waktu kuliah di IPB tingkat empat, saya sebagai seorang mahasiswa dan bukan siapa-siapa yang hobinya menyanyi dan lumayan bagus kata orang-orang, ditawari rekaman oleh label besar di Jakarta. Karena saya menang lomba nyanyi dengan sponsor label tersebut, maka saya ditawari kontrak rekaman. It’s supposed to be sesuatu yang sangat besar bagi saya. Saya datang ke Jakarta ke label tersebut. Ngobrol, tes suara, ketemu artis lain. Sebelum teken kontrak, ada waktu jeda seminggu. Saya pulang dulu ke Bogor untuk cerita pada ibu. Ibu saya tanya, ‘Skripsinya sudah selesai?’ Saya jawab, ‘Baru bab satu.’ Dengan ringan, dia bilang, ‘Jangan dulu rekaman lah, selesaikan dulu skripsinya’.”

Kang Yana lagi-lagi tak protes, walau ada pertanyaan dalam hatinya “Kenapa Bu? Ini kan kesempatan besar.” Toh ia tetap menurut. Lalu selama seminggu waktu jeda itu Kang Yana kerjakan skripsi lagi, kesempatan besar itu pun hilang.

Ternyata pepatah yang menyatakan bahwa peluang itu hanya datang satu kali itu salah. “Terjadi pada saya. Setelah lulus kuliah tepat waktu, kemudian cari pekerjaan. Waktu itu ibu pindah ke bandung, saya juga mau cari kerjaan di Bandung supaya dekat dengan ibu. Mungkin saya terlalu ‘anak mama’ kali yah. Selain melamar kerja, saya juga ikut lomba nyanyi. Di situ ketemu Elfa. Pokonya dalam waktu singkat setelah saya lulus kuliah itu saya direkrut jadi Elfa’s Singer. Itu kan seperti keliatan seperti: saya mau jadi penyanyi tapi saya tolak, tapi akhirnya saya jadi penyanyi juga,” ungkap suami dari  Kania Rusyana ini.

“Dalam menjalani hidup sebagai penyanyi di Elfa, itu lumayan lancar. Dalam waktu beberapa bulan, saya sudah direkrut sebagai Elfa’s Singer. Belum setahun saya di Elfa’s, saya ditawari untuk rekaman solo lagi. Lalu saya kontrak nyanyi solo. Saya di Elfa’s Snger, juga kontrak solo, keluarlah album Emosi Jiwa dan beberapa album lain. Alhamdulillah kalau untuk ukuran saya, itu sukses besar. Saya mensyukuri banget,” tutur Kang Yana.

“20 tahun kemudian di dunia entertainment, saya lihat kondisi musik Indonesia seperti apa. Suatu saat ketahuan bahwa keputusan saya dulu untuk tak rekaman di label yang dulu itu adalah keputusan yang tepat sekali. Diketahui bahwa beberapa artis dari label tersebut luar biasa dzolim cara kontraknya, itu secara ekonomi dan secara karier digencet. Terbukti lah, sampai saya sadar bahwa benar keputusan saya itu, dan itu berkat ibu saya. Saya yakin bahwa ibu itu sosok perwakilan Allah yang harus kita sikapi dengan sangat bak,” kata ayah tiga anak ini.

Menurutnya, Allah itu mewakilkan titipan-titipan rel yang tepat untuk seorang anak melalui perkataan ibunya. “Tujuannya apa, supaya tak keluar dari rel, supaya nyambung dengan rel yang sudah direncanakan.”

Nasyid Buat Menangis

Jika di Elfa’s Singer Kang Yana bernyanyi bersama Lita Zein, Agus Wisman, dan Uci Nurul dengan menyanyikan lagu-lagu romantis, maka Kang Yana bisa dibilang sangat menghayati kala bernyanyi lagu nasyid atau lagu religi seorang diri.

“Kata orang, saya dikenal sebagai penyanyi yang romantis, penuh perasaan, saya baru tau kalau itu salah setelah saya mencoba lagu nasyid. Saya memang kalau menyanyi lagu pop pasti pakai perasaan, dan itu orang sudah bilang “romantis dan penuh perasaan”. Tapi saya nyanyi hanya begitu saja. Pas nyanyi lagu nasyid, saya pernah tidak bisa menyelesaikannya di panggung. Nangis sesenggukan di panggung. Lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata, lagunya Chrisye waktu itu. Kalau saya nyanyi lagu itu, saya suka minta disimpan di belakang. Soalnya kalau di tengah itu tersedak pengen nangis. Lama-lama sih enggak. Tapi saya selalu berpikir bahwa ‘Oh ini yang namanya nyanyi penuh perasaan’,” ucap Kang Yana menggebu-gebu.

Memang belum terlalu banyak karyanya di ranah musik religi, singel religinya ada di album pop. “Khusus album religi saya belum buat.  Ingin sekali tapi blm sempat,” ujar ayah dari Diaz Ilyasa dan Aisyah Raihan Fadhilah ini.

Salah satu single religi yang Kang Yana produksi adalah Tegar. “Sudah lama lagu itu dibuat oleh Elfa. Lagu Tahajud pun ketika saya nyanyikan suka sampai tak habis, karena saya suka tercekat di tengah-tengah bernyanyi.”

Kebanyakan lagu nasyid yang dinyanyikannya sering kali membuatnya menangis karena Kang Yana ingat dosa. “Kalaupun tak ingat dosa, ya ingat liriknya, jadi ingat sama Allah. Jadi nusik ke hati lagu nasyid itu.” (ric)

 

Biodata

Nama: Rusyana

Nama Beken: Yana Julio

Aktivitas: Penyanyi, bersama Elfa’s Singer

Tempat dan Tanggal Lahir: Bogor, 8 April 1960

Pendidikan: IPB jurusan Sosial Ekonomi Pertanian

Album Musik: Emosi Jiwa, Jumpa Lagi, Kucinta, Selamanya Cinta, Hasrat Cinta

AddThis Social Bookmark Button

Delia Septianti, Tenang di Depan Ka’bah

APRIL 2013

Ada cerita di zaman purba,

Datangnya dari negri khayangan…

Kisah seorang raja dan permaisuri,

Yang mengharapkan lahir seorang putri…

Akhirnya lahirlah juga apa yang diharapkannya…

Tapi sungguh sedih, tapi sungguh malang,

Yang dilahirkannya, seekor ular putih…

Masih ingatkah Anda dengan lirik lagu di atas? Ya, bagi pencinta lagu anak-anak di kurun 1990-an pasti hafal dengan lagu berjudul Ular Putih tersebut. Lagu anak-anak dengan musik ceria itu dibawakan dengan apik oleh Trio Laris.

Salah satu pentolan dari Trio Laris yang hingga kini masih melintang di dunia musik tanah air adalah Delia Septianti. Di antara kita mungkin kini lebih mengenalnya dengan Delia Ecoutez.

Dara manis kelahiran Jakarta 27 tahun silam ini tampak manis menggunakan hijab pink saat ditemui Muzakki di sebuah stasiun televisi di Jakarta. Ia menuturkan bahwa sebenarnya ia belum seratus persen bisa menggunakan hijab atau penutup tubuh (jilbab) sebagai bagian dari kewajiban seorang muslimah.

“Saya inginnya segera berjilbab, apalagi sepulang umroh tahun lalu itu saya sempat tak melepas jilbab sampai beberapa minggu. Papa juga menyarankan agar saya pakai jilbab seterusnya. Tapi mungkin saya belum siap sepenuhnya untuk benar-benar memakainya. Belum 100 persen banget lah. Karena saya tak boleh main-main lagi, sebentar pakai, sebentar dibuka. Mungkin suatu saat nanti akan pakai. Sudah niat sih, tapi untuk waktu sekarang belum siap. Alasan kedua, karena saya masih nyanyi sana-sini, khawatir belum sesuai antara hati dan pekerjaan,” kata Delia.

Ya, kegiatan Delia dalam dunia entertainment memang masih berlangsung hingga kini. Jika beberapa waktu lalu ia terkenal dengan embel-embel “Ecoutez” di belakang namanya, kini masyarakat  sudah harus menanggalkan nama itu di belakang nama Delia. Pasalnya, sudah sejak pertengahan tahun lalu, Delia resmi mengundurkan diri dari grup band yang turut melanggengkan namanya di dunia hiburan.

Dalam waktu dekat, gadis kelahiran 1 September 1985 ini akan merilis single baru, Berharap Tak Berpisah, dan hari-harinya kini disibukkan dengan jadwal promo dan acara off air.

Senang Lagu Religi

Selain piawai menyanyikan lagu anak-anak di masa kecilnya, dan kini makin pandai membawakan lagu beraliran jazz, Delia juga senang membawakan lagu-lagu religi.

“Pernah punya lagu religi, dulu sama Ecoutez pernah menyanyikan lagu religi pada Ramadhan yang lalu. Kami sempat mengeluarkan single Ramadhan, judulnya Terima Kasih,” ucap gadis berlesung pipi ini.

Delia sangat antusias menyanyikan lagu-lagu religi di acara-acara yang bernuansa islami, dan dia pun berniat memasukkan lagu religi tersebut ke dalam albumnya. “Dahulu rencananya (lagu Terima Kasih) mau dimasukkan pada album ketiga, tapi saya keburu keluar, jadi gatau deh mereka (Ecoutez) memasukkannya atau tidak,” ujar pemain di sinetron Gerhana ini.

Prihatin Lagu Anak

Berhubung Delia dahulu dikenal sebagai penyanyi cilik, kecintaannya pada lagu anak-anak pun tak serta-merta memudar.

“Saya cukup prihatin melihat perkembangan musik anak-anak sekarang dibandingkan zaman saya dahulu. Dahulu wadahnya lebih banyak, tempat untuk menyalurkan bakat juga lebih banyak. Dulu wadahnya banyak di acara TV, jadi bagi para penyanyi cilik ini punya tempat tersendiri untuk tampil, tapi sekarang kan wadahnya juga tak ada. Sangat disayangkan sekali anak-anak kecil sekarang sering menyanyikan lagu-lagu band dewasa,” tutur Delia.

Delia berpendapat bahwa lagu-lagu orang dewasa tidak cocok dengan usia mereka, usia anak-anak. Tapi Delia mengakui bahwa semakin ke sini sudah mulai ada bibit baru yang lumayan. “Saya berharap musik anak-anak lebih berkembang lagi, program-program televisi lebih mendukung anak-anak supaya mereka tidak menonton tontonan orang dewasa terus. Orang tua juga harus memberikan bimbingan supaya mereka tak nonton band terus,” ungkap Delia berharap.

Darah seni memang mengalir di tubuh Delia. Ia ternyata adalah putri dari pencipta lagu Abang Tukang Bakso yang dahulu dinyanyikan oleh Melissa.

“Papaku juga menciptakan lagu-lagu yang saya bawakan. Sekarang papa sudah off sama sekali, karena memang tak ada sama sekali wadah untuk itu (lagu anak-anak dinyanyikan oleh anak-anak),” kata Delia.

Delia menyatakan bahwa ia ingin sekali agar papanya mencoba membuat lagu anak-anak lagi. Namun papanya pun bingung juga, karena ia tak tahu siapa yang akan membawakannya. “Kalau dahulu banyak orang tua yang semangat menyalurkan anak-anaknya yang memiliki bakat, namun sekarang sanggar masih ada, tapi orang tuanya tak terlalu bersemangat. Dahulu sanggar-sanggar banyak diisi oleh anak-anak yang ingin jadi penyanyi. Sekarang karena wadahnya tak ada, jualannya juga bagaimana? CD sudah tak ada, RBT anjlok,” ucap presenter Kuis Moto GP ini.

Umrah, Recharge Pikiran

Banyak kesibukan yang membuat Delia jauh dari Allah SWT, namun dengan menjalankan ibadah umrah, ia bisa me-recharge pikirannya. Apalagi kesempatan untuknya berumrah itu bertepatan dengan kondisi hatinya yang sedang kacau.

“Tahun lalu alhamdulillah saya berangkat umrah bersama keluarga. Waktu itu saat berangkat kebetulan banget saat lagi down karena baru putus dari pasangan yang sudah cukup lama pacaran. Kami bahkan sampai mau nikah, ternyata tak jadi,” ujar Delia mengenang ceritanya.

Delia mengatakan bahawa momen untuk umrah kala itu sangat pas. “Kalau umrah kan dijadwalkannya sudah dari beberapa bulan sebelumnya. Sudah dapat tanggal, tanggal sekian. Jadi memang kebetulan sudah jalan dari Allah. Saya cari ketenangan dan petunjuk di sana.”

Di Tanah Suci, Delia merasa tenang sekali , apalagi kala ia melihat Ka’bah, menyentuh Ka’bah, berdoa di depan Ka’bah. “Tadinya simple banget, kenapa ini terjadi? Pokoknya emosi. Tapi saat saya melihat Ka’bah, saya melihat ketenangan, seolah-olah diberitahu oleh Allah bahwa ini adalah jalan terbaik buat saya. Dan alhamdulillah setelah pulang ke Tanah Air jadi semakin tenang dan malah ingin kembali lagi ke sana,” tuturnya.

Di depan Ka’bah, gadis pemilik butik fashion di daerah Ambasador Jakarta ini memohon banyak kepada Allah SWT, “Banyak yang diminta, kesehatan, keluarga, bisa menyenangkan orang tua, bisa punya karier bagus, jodoh juga diminta,” kata Delia jujur.

Meski kariernya di dunia hiburan tergolong mulus dibandingkan rekan-rekannya sesama penyanyi cilik seusianyam, tapi pencapaian yang belum ia capai masih banyak. “Yah manusia tak pernah ada puasnya, sejauh apa pun itu, berapa lama pun saya berkarier, saya masih harus terus belajar. Dan untuk memenuhi kebuthan akhirat nanti, saya coba cari ilmu terus-menerus dengan mengikuti pengajian-pengajian,” kata Delia penuh senyuman. (ric)

AddThis Social Bookmark Button

Sahrul Gunawan, Cintai Jamaah, Sayangi Anak Asuh

MARET 2013

“Dan mereka bertanya kepadamu mengenai anak-anak yatim. Katakanlah, ‘Memperbaiki keadaan anak-anak yatim itu amat baik bagimu’.” (QS Al Baqoroh,2:220)

Tak banyak manusia yang mendapatkan kesempatan untuk berbuat baik pada sesama, khususnya kepada kaum duafa. Jikapun ada, mereka pastilah seseorang yang punya harta berlebih. Sejatinya, tak usah menunggu untuk menjadi orang kaya untuk bisa menyantuni anak yatim atau orang miskin, sedekah yang kita berikan boleh saja berupa tenaga atau pemikiran-pemikiran.

Senada dengan hal itu, selebriti Tanah Air seperti Sahrul Gunawan menggunakan segala yang ia miliki untuk ”menyejahterakan” kaum tak berpunya, khususnya dalam bidang pendidikan.

Pendidikan adalah hal utama yang patut didapatkan kaum miskin, karena dengan pendidikanlah mereka bisa terlepas dari jerat kemiskinan. Dengan pendidikan pula mereka bisa menyejahterakan dirinya dan keluarga, tanpa harus menjadi seorang peminta-minta.

Awal kisah Kang Alul (sapaan akrab Sahrul Gunawan) berkenalan dengan dunia pendidikan untuk anak-anak duafa yang menjadi anak-anak asuhnya adalah ketika ia rutin menyantuni anak yatim  yang masih duduk di bangku SD dan SMP dengan memberikan biaya sekolah kepada mereka.

Awalnya, hanya beberapa orang tetapi kemudian semakin banyak orang yang dibantu sesuai dengan rezeki yang diterima Sahrul. Jadi, semakin banyak orang tidak mampu di Ciawi, Bogor yang terbantu Sahrul.

Kebiasaan menyantuni anak tidak mampu di Ciawi, Bogor menjadi alasan didirikannya Yayasan Al-Hikmah tahun 2003, termasuk dibangunnya SMA dan SMK Sagamulia di Kawasan Ciawi, Bogor. Maka pada  23 Mei 2005, bersamaan dengan ulang tahunnya, sekolah tersebut resmi dibuka untuk umum. Sekolah ini dikhususkan untuk masyarakat kurang mampu.

Segala hal yang dilakukan pria  kelahiran Bogor, 23 Mei 1976 ini didasari oleh rasa terima kasihnya pada Allah SWT. Kang Alul bersyukur diberikan rezeki lebih sehingga bisa berbagi terhadap sesama, apalagi bagi kaum yang tidak mampu.

Diawali Kekecewaan

Bagi Kang Alul, rezeki memang Allah yang mengatur, namun sebagai makhluk ciptaanNya, ia berusaha untuk menjalankan perintahNya. Seruan untuk menyantuni anak yatim dan orang miskin ada pada Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 83:

”Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak dan kaum kerabat serta anak-anak yatim dan orang-orang miskin.”

Rezeki yang dibelanjakan di jalan Allah takkan pernah ada habisnya. Dan bagi hambaNya yang dermawan pasti diberikan balasan yang berlipat. Bagi penyanyi sekaligus pemain sinetron ini, semua usaha yang dijalankannya pun merupakan anugerah dari Allah SWT. Ia dan keluarganya mendirikan travel agent atau agen perjalanan bagi yang hendak menjalankan ibadah umrah ke Tanah Suci, Mekkah.

”Jujur saja, semua ini diawali atas rasa kecewa saya pada sebuah agen perjalanan (travel agent) yang akan memberangkatkan saya ke Tanah Suci,” ucap pemeran Jun dalam sinetron Jin dan Jun.

Bukannya merasakan kecewa yang mendalam, Kang Alul membalasnya dengan berbuat lebih baik lagi. ”Dari situlah saya jadi ingin ’balas dendam’… ingin membuat travel agent yang membuat hati para klien itu senang, nyaman, dan puas.”

Ya, atas kejadian tak mengenakkan itulah, akhirnya suami dari Indriani Hadi ini pun membuat travel agent yang dimaksudkan agar kepuasan jamaah saat melaksanakan ibadah pun jadi terakomodasi.

“Walau saya merasa kecewa, tapi saya berdoa, ’Ya Allah, maafkanlah travel yang memberangkatkan saya.’ Begitulah doa saya pada Allah SWT,” ungkap ayah dari Ezzar Raditya Gunawan dan Raihana Zemma Gunawan.

Sebuah bisnis, apalagi yang dikelola oleh orang yang belum berpengalaman di bidangnya, bisa saja diawali dengan terseok-seok. Kang Alul tak memungkiri hal itu. Saat mendirikan travel agent-nya yang bernama Sakinah Group/ SG Travel, ia menghadapi kendala. ”Ada kendalanya saat akan mendirikannya, yaitu berupa bisikan dari teman-teman. Entah itu berupa bisikan syetan atau tidak, yang jelas itu sangat mengganggu dan sempat membuat saya down.”

”Saya dicemooh oleh teman-teman. Kata mereka, ‘Kamu ngapain bikin usaha kaya gitu. Itu kapasitasnya ustadz lah’,” kata Kang Arul menirukan ucapan temannya.

Memang kala itu travel agent belum populer seperti sekarang. Jadi masih sangat jarang orang yang menggunakan jasa travel agent, apalagi travel agent yang dikelola oleh seorang artis.

Ciptakan Lingkungan yang Baik

Selain karena ingin memberikan kenyamanan pada para jamaah haji dan umrah, pemilik album religi Daun pun Berdzikir (2011) ini ingin menciptakan lingkungan yang kondusif dengannya. ”Saya ingin memiliki lingkungan yang baik, yang selalu mengingatkan akan kebaikan. Alhamdulillah, dengan sendirinya teman-teman yang mengarah ke negatif pun jadi berguguran. Saya jadi dikelilingi oleh orang-orang sholeh.”

Tidak hanya ingin memiliki lingkungan yang baik, seniman yang mengawali kariernya di dunia modeling ini berniat agar segala hal yang dilakukannya bernilai ibadah.

Cobaan dan rintangan bagi umatNya memang takkan berhenti, namun tetap sesuai kadar kekuatan umat yang menanggungnya. Begitu pula dengan Kang Alul yang masih memiliki hambatan lain, yaitu ketika dia mendampingi jamaah umrah ke Tanah Suci. ”Saya ingin menyampingkan perasaan bahwa saya hanya sedang berkunjung ke Mekkah. Inginnya, berkunjung ke sana itu jadi sebuah momen yang spesial. Mungkin ini karena seringnya saya ke sana. Nah, saya ingin menghadirkan suasana spesial itu lagi.”

InsyaAllah, bagi umat yang terus berniat untuk menjadi yang terbaik di hadapanNya, Allah akan selalu menolongnya.  (ric/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Sogi Indradhuaja, Muliakan Istri dengan Jadi Ayah ASI

FEBRUARI 2013

Apa jadinya kalau seorang ayah memberi Air Susu Ibu (ASI) pada bayinya? Hmmm, mungkin awalnya terdengar lucu, namun hal itu memang benar terjadi.  Lihat saja tokoh kita yang satu ini, Sogi Indradhuaja.

Komedian yang terkenal lewat acara Extravaganza di Trans TV itu didaulat menjadi Duta Ayah ASI. Bersama tujuh Ayah ASI lainnya, Sogi berusaha mengedukasi maasyarakat dengan memopulerkan ASI eksklusif bagi bayi-bayi yang baru lahir. ASI eksklusuf merupakan pemberian ASI sepenuhnya pada bayi yang baru lahir selama enam bulan penuh. Selama rentang waktu enam bulan pertama itu pula, bayi tidak diberikan asupan apa pun, termasuk air putih.

Ayah dua anak ini memang tengah sibuk menjalani perannya di televisi sebagai Profesor Sogi yang siap memberikan soal-soal praktikum kepada para peserta program Ranking 1 di Trans TV. Kesibukannya sebagai seorang ayah, diakuinya menjadi rutinitas yang menyenangkan dan seru.

Sogi bukanlah soerang ayah yang sangat expert tentang per-ASI-an, namun kala istrinya mengandung, mau tak mau ia harus mencari tahu tentang segala hal yang berhubungan dengan kehamilan dan ASI.

“Dulu saya tak tahu apa-apa tentang ASI. Sewaktu istri mengandung anak pertama, dia bilang, ‘Nanti aku mau  eksklusif ah buat anak kita.’ Saya pun bertanya-tanya, ASI eksklusif itu apa ya?”

Ketika anak pertamanya lahir, ternyata ASI istri keluarnya hanya sedikit. Hal itu membuat Sogi waswas karena bisa mengancam ASI eksklusif untuk bayinya jadi tak eksklusif lagi karena mungkin bisa tercampur dengan susu formula.

Karena mendapat ASI eksklusif, kedua anaknya kini tumbuh makin sehat. Sam, putra Sogi yang ber usia tiga tahun enam bulan, terlihat sangat ceria dibanding anak lain seusianya. Begitu pula putri kedua, Mindy yang berusia satu tahun 8 bulan, tak kalah sehat dibanding kakaknya.

“Mereka sehat, tumbuh sesuai usianya. Tapi memang anak pertama mengalami speech delay atau terlambat bicara karena tontonan televisi. Sam menonton televisi berbahasa asing, sedangkan di rumah diajak komunikasi dengan bahasa Indonesia. Tapi kini anak itu sudah bisa mengejar ketertinggalannya dengan terapi okupasi dan terapi wicara,” ujar Sogi.

Pria berciri khas tahi lalat di hidung itu menuturkan bahwa pada praktiknya ayah ASI itu membantu mengurus anak dari segi apa pun. “Intinya kita harus mengerti bahwa ASI lebih utama dibandingkan yang lainnya untuk bayi usia enam bulan pertama. Sisanya ya banyak lah, mengurus anak itu kompleks, banyak sekali.”

Ada banyak kesulitan dalam berperan menjadi seorang ayah, “yang paling sulit adalah cara menenangkan istri pada saat dia merasa down, mentalnya turun karena dia merasa stres akibat ASInya yang keluar hanya sedikit, padahal dengan kondisi istri yang makin sedih, hormon-hormon yang ada di dalam tubuh jadi tidak menunjang untuk memproduksi ASI.”

“Nah, tugas paling berat itu bagaimana cara menenangkannya.”

Ayah asi juga bertugas selama istri hamil, misalnya mendukung segala keperluan istri, supaya kehamilannya berjalan baik. Dan kita tahu persiapannya serta tau risiko yang bisa terjadi saat kelahiran.

Semua hal yang berhubungan dengan persiapan saat kehamilan pasca kelahiran, ada dalam kisah2 yang dituturkan Sogi dan ketujuh kawannya dalam buku Catatan Ayah ASI. “Buku ini keuntungannya bukan untuk kami. Kami menulis sebagai guidance saja untuk ayah baru, ayah lama, dan yang masih single yang berencana menikah. Hasilnya untuk program sosialisasi ASI. Yang kita tahu memang ada program sosialisasi dari pemerintah tentang ASI, krn ASI ini sudah dilindungi Undang-undang No 36/2010 yang menyatakan bahwa ‘Setiap bayi berhak mendapatkan ASI eksklusif dari nol sampai enam bulan.’ Dan ada dananya dari pemerintah, tapi kita juga tahu perusahaan-perusahaan susu formula yang lebih besar bujet promosinya lebih besar lagi. Hehehe, dan mereka juga gerilya. Kami jadinya mau tak mau harus ikut gerilya dan harus mengumpulkan dana juga. Beruntung kami punya macan-macan, yaitu ibu-ibu di AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Mereka lebih galak-galak. Mereka saja yang advokasi, lebih menempuh jalur hukum, dekati pemerintah, kami bapak-bapak asyik-asyik saja berbagi cerita,” tutur Sogi bersemangat.

Upaya Sogi dalam membantu sang istri mengurus anak-anaknya adalah demi memuliakan sosok perempuan. Ia terilhami dari sang ibu yang memang harus ia hormati keberadaannya, atas jasa-jasanya membersarkan anak-anaknya selama ini. Sogi berkata, “Dulu sewaktu masih single ya biasa saja. Kalau sama ibu beda, ibu kan yang melahirkan, yang mengurus kita. Kalau sama istri, dulu saya menganggapnya partner saja, tapi perubahannya banyak terjadi setelah punya anak. Setelah punya anak itu baru sadar, ternyata jadi perempuan itu ribet, kompleks, bukan hanya fisik tapi secara mental juga. Jadi tekad saya adalah untuk membalas jasa orang tua itu kita harus menjadi orang tua yang lebih baik lagi dibandingkan dengan orang tua kita.”

Untuk memuliakan sososk perempuan, yang bisa Sogi lakukan selain menjadi ayah ASI adalah dengan memerhatikan etiket dalam kehidupan sehari-hari, misalnya “Lady’s First”. “Kalau kita masuk atau keluar lift, dahulukan wanita untuk masuk atau keluar.” Pendidikan semacam itu tak pernah didapatkan Sogi dari sesi khusus dari pendidikan orang tua. Sejak remaja, ibu dan ayahnya Sogi tak pernah memberikan wejangan khusus tentang relationship. “Entah karena mereka cuek atau mereka percaya saja pada saya. Kalau saya belajarnya pakai nalar saja, sudah bisa dijalani bahwa wanita itu bukan lebih lemah, akan tetapi mereka lebih halus. Jadi bagaimana kita sebagai laki-laki yang lebih bisa jadi pelindung, mengutamakan mereka yang lebih halus ini.”

Sogi merasa apa yang diajarkan ibunya yang merupakan orang perhotelan, adalah etiket hotel. Apa yang diajarkan ya memang berbuat baik, kemudian kalau mampu menolong walaupun hal kecil, itu sangat berharga, seperti mengucapkan “terima kasih” atau “maaf”. “Misalnya kalau nyenggol sedikit, bilang saja maaf, tak ada ruginya,” tutur Sogi.

Pendidikan agama yang Sogi dapatkan pun hanya standar sekolah. Dari kurikulum tak banyak mengangkat isu perempuan kecuali istri nabi/ istri rasul yang dijadikan contoh. “Tapi sewaktu zaman sekolah, saya tidak berpikir sampai situ, menjadi sosok yang dicontoh.”

“Awalnya saya tak suka anak kecil. Benar-benar sebel pada anak kecil, gandeng, ribut banget, nyusahin pokonya anak kecil itu. Akan tetapi banyak orang yang bilang, ‘Nanti kalau sudah punya anak, beda lah.”

Pada saat kandungan istri makin besar dan istri ingin lahirannya secara normal, banyak yang bilang dan semua orang tau bahwa proses melahirkan itu ambang batas antara hidup dan mati serta pertaruhannya adalah nyawa. Sesaat akan melahirkan, saat kontraksi dan mau ke rumah sakit, sepertinya saya baru sadar itu benar-benar di ujung sekali.,yang pilihannya adalah nyawa bisa jadi taruhan. Momen itulah saya manfaatkan untuk berkumpul sama keluarga, berdoa meminta ke Gusti Allah untuk diselamatkan dan dilancarkan proses lahiran istri saya. Saat sudah lahir, doanya beda lagi, terima kasih, alhamdulullah semua lancar, mudah-mudahan kami bisa dijadikan orang tua yang baik bagi anak-anak, karena bagimana anak mau baik kalau orang tuanya tak baik,” ungkap Sogi bersemangat.

Jadi di situ ada perubahan, sekarang dirinya harus menjadi contoh. “Kalau buat anak orang lain mah ga peduli mau jadi contoh atau ngga. Tapi kalau buat anak sendiri mah harus jadi contoh. Di situlah perubahannya. Dan mamah bilang saya jadi lebih dewasa.”

Ada pesan dari Sogi untuk para pembaca Muzakki, yaitu bagikan ilmu seluas-luasnya, sedari yang paling mudah di-share, “Karena saya pun dapat ilmu tentang ASI ini juga dari hasil mengobrol, mudah-mudahan bermanfaat bagi orang lain. Kalau ada yang bilang, ‘Gila… bayi sampai usia enam bulan ga dikasih apa-apa, dikasih air pun ngga. Kasian bayinya, nangis, kasih susu (formula).” Yah, contoh saja di zaman nabi, adakah susu formula? Kan ga ada,,, mereka selamat-selamat saja dengan ASI, itu sesuatu yang sangat alami. Tolong cari tau asupan yang terbaik bagi putra-putri kita, mudah-mudahan mereka bisa jadi penerus yang sehat dan sholeh serta berguna bagi keluarga, bangsa, dan agamanya. (Ric)

Biodata

Nama                     : Sogi Indradhuaja

Lahir                       : Bandung, Jawa Barat, 7 September 1978

Pekerjaan              : Aktor, Presenter, Penulis Buku

Pendidikan            :

SMAN 5 Bandung

Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Padjadjaran

Pengalaman          : Presenter Kuis Ranking 1 (Trans TV), Komedian di Extravaganza (Trans TV), Asisten Program MTV, Penyiar Radio Oz.

Film                        : Takut: Faces of Fear (2008)

Paku Kuntilanak (2009)

AddThis Social Bookmark Button

Jarwo Kwat, Makin Mencintai Allah Setelah Umrah

JANUARI 2013

Sosoknya tidak asing lagi, wajahnya sering terlihat melanglang buana di layar televisi. Memang tidak dipungkiri lelaki kelahiran Duri Bengkalis 45 tahun silam lalu memiliki sifat humor yang tinggi, karirnya semakin melonjak tatkala memainkan tokoh parodi di program ‘Republik Mimpi’.

Awalnya Jarwo Kwat mengawali karirnya saat mengikuti Grup Lawak Diamor bersama Komeng, Rudi Sipit dan Mamo. Namun kini ia juga mengembangkan sayapnya dengan bermain sinerton religi ‘Para pencari Tuhan’ yang tayang setiap bulan Ramadhan.

Profesinya sebagai pelawak memang sudah menjadi impiannya sejak kecil. Dahulu ia menjadi penyiar radio SK sejak 1993. Ia hijrah ke Jakarta sejak tahun 1983 untuk melanjutkan pendidikan SMA. Setelah lulus ia sempat melanjutkan studi ke Universitas Gunadarma, tapi sayangnya tidak selesai karena kesibukannya mengembangkan bakat melawaknya. Selain sebagai penyiar radio Jawro juga menjabat sebagai ketua bidang usaha dan organisasi PAKSI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia) periode 2006-2011

Di tengah kesibukannya di dunia entertaintment, Jarwo bersyukur memiliki seorang istri yang mengerti dan memahami pekerjaannya. Meskipun jarang ada di rumah, namun lelaki yang memiliki dua orang anak ini selalu meluangkan waktunya untuk keluarga, ia mengaku memberi kepercayaan kepada kedua anak-anaknya yang masih remaja.

“Saya memasukkan anak-anak saya ke TPA, supaya bisa mengaji, alhamdulillah semuanya sudah bisa membaca Al-Quran.”

Sejak kecil Jarwo juga mengaku sudah belajar agama dengan mengikuti TPA di dekat rumah, bahkan ia pernah mengikuti lomba MTQ  dan masuk sebagai juara tiga. Itu pula yang menjadi alasan mengapa ia memasukkan anak-anaknya ke TPA.

Semakin Mencintai Allah

Jarwo Kwat memiliki pengalaman yang sempat diceritakan kepada Reporter Muzakki.  Ketika ia diberi kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah empat tahun lalu, ia merasa  semakin mencintai Allah. Sadar atau tidak, Jarwo melakukan ibadah semakin khusyuk dan berkualitas.

“Sejak pulang dari Mekkah saya semakin rajin sholat, mulai menjalankan sunah-sunah. Apalagi ketika di sana dan melihat langsung Ka’bah saya merasa lebih takjub sehingga tidak bisa saya deskripsikan dengan kata-kata,” kata Jarwo sambil mengenang masa-masa itu.

Aktor yang banyak tampil di acara serial komedi ini kembali menunjukkan kemampuan beraktingnya di sinetron religi Para Pencari Tuhan. Siapa yang tidak mengenal sosok Pak Jalal yang biasa memerankan orang kaya yang sedikit sombong namun baik. Jarwo mendapatkan hikmah yang besar saat bergabung dengan sinetron ini. Meski ada beberapa orang yang geregetan dengan Pak Jalal dan seringkali bertanya langsung dengan Jarwo. Toh itu kan hanya sebuah sinetron yang sudah ditulis skenarionya , tentu saja dalam dunia nyata ia tetap menjadi dirinya sendiri yang sederhana dan tidak sombong.

Dalam sinetron Para Pencari Tuhan, bukan hanya mengangkat realitas sosial yang ada. Namun juga dikemas dengan unsur komedi. Sedangkan ceritanya sarat dengan petuah-petuah moral keagamaan.

“Alhamdulillah sejak bermain sinetron Para Pencari Tuhan, selain saya mendapat rezeki yang cukup saya juga banyak mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Terlebih dialog-dialog yang dibuat oleh Deddy Mizwar itu keren dan berisi semua,” ujarnya kepada reporter muzakki beberapa waktu lalu.

Di penghujung perbincangan Jarwo memberikan pesan untuk pembaca setia Muzakki. Jadilah diri sendiri, jangan berpura-pura di depan orang lain kecuali di depan televisi.  (Eby)

 

BIODATA:

Nama                    : Sujarwo bin Ranum

Nama Beken         : Jarwo Kwat

TTL                       : Duri Bengkalis (Riau) , 23 Agustus 1967

Kegiatan saat ini   : Mulai dengan kesibukan serial komedi berjudul 11-12 yang akan tayang seminggu sekali di trans TV, juga sinetron Para Pencari Tuhan jilid 7

FILM                      :

-Sumpah, (Ini) Pocong (2009)

-Suka Ma Suka (2009)

- Oh Tidak...! (2011)

SINETRON              :

- Para Pencari Tuhan (SCTV)

-Mariam Mikrolet (Trans 7)

-Dia atau Diriku (SCTV)

AddThis Social Bookmark Button