Pengalaman Rohani

More Articles...

Peggy Melati Sukma, Tak Pusing Lagi Setelah Berhijrah

AGUSTUS 2013

Menjadi pribadi yang memiliki segudang aktivtitas, bisa jadi akan membuat lupa pada Yang Memberikan Aktivitas, Allah SWT. Namun, bagi hamba-Nya yang sholeh, segudang aktivitas akan dijadikan sebagai lading amal dan membuatnya selalu ingat pada kebesaran Allah SWT.

Peggy Melati Sukma, sudah kita kenal sejak beberapa tahun yang lalu lewat acara televisi. Sejumlah sinetron dibintanginya. Ada satu jargon yang pernah dipopulerkan olehnya, yaitu “Pussssiiiiing…!!!” sambil menempelkan kedua telapak tangan di kepala.

Kini Peggy tak pusing lagi, pasalnya dia suda berhijrah dan memasrahkan diri pada Sang Pencipta.

Menurut pemain sinetron Gerhana ini, berhijrah bisa secara fisik, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti halnya Rasulullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Tapi ada hijrah dalam dimensi yang lain, itu dimensi ilmu. “Rasulullah bersabda bahwa wajib hukumnya bagi setiap mukmin untuk mencari ilmu. Dan bagi siapa saja yang keluar rumah digunakan untuk mencari ilmu, maka akan dimudahkan jalannya ke surga,” begitu kata Peggy.

Dirinya mengaku sedang dalam kuantitas untuk belajar lebih dalam lagi tentang agama Islam. Selain berhijrah dalam penampilan yang lebih islami, Peggy pun kini lebih berhati-hati dalam memilik makanan. Itu merupakan sebuah bentuk hijrah yang lain lagi.

“Kalau soal food atau fashion saat ini saya merasa di kehidupan kita di Indonesia yang paling bisa kita lakukan adalah bersandar pada sertifikasi halal MUI, itu saya rasa menjadi satu-satunya jalan, ketika kita bicara soal teknis. Tapi kalau kita kembali ke soal keimanan dan keilmuan, maka wajib hukumnya bagi kita masing-masing untuk mencari tahu lebih dahulu tentang halal dan haram, dan saya masih ada dalam perjalanan itu untuk belajar dan memahami lebih tahu lagi tentang halal-haram berhubungan, mencari ilmu tentang mencari ilmu, halal-haram mencari nafkah, halal-haram fashion,” ucap Peggy.

Tak hanya mengenai apa yang kita makan, tapi ternyata apa yang kita pakai, bagaimana sikap kita dalam berkata, dalam berhubungan sosial, itu semuanya ada koridor halal-haramnya. Begitulah menurut Peggy.

Ada pengelaman menarik seputar itu. “Ketika di Singapura, ada sahabat saya yang berjilbab, ketika masuk mal dan mencoba sepatu, penjaga tokonya langsung bilang ‘Jangaaan! Sepatu itu bahannya ada campuran kulit babinya.’ Pusat perbelanjaan di luar negeri ada yang mengedukasi dengan sangat baik tentang halal-haram bagi muslim.”

Kejelasan halal-haram jadi semacam pakem dalam berkegiatan ekonomi di beberapa negara. “Nah, itu juga yang harus kita dorong di Indonesia bagaimana mengedukasi pedangang, pemilik toko, ya tentu tantangannya luar biasa karena kita memiliki jumlah muslim terbanyak di dunia, sehingga pola edukasinya harus sangat terkonstruksi. Tak mungkin kita menggantungkan diri pada pemerintah. Makanya fungsi komunitas, fungsi kita sendiri harus peduli, jadi sangat penting, Berangkatnya dari pemahaman diri sendiri. Maka jangan ada putus-putusnya belajar akan hal ini,” tutur Peggy bersemangat.

Hijrah Diri

Setelah berhijrah menuju lebih baik, Peggy mengaku bahwa hijrah ini tidak menjadi beban. “Saya tidak menempatkan hijrah ini sebagai beban yang luar biasa sehingga kita menjadi ragu-ragu, ketakutan, serta khawatir apakah kita mampu atau tidak melakukannya. Saya menjadikannya sebagai semangat, adab, kebiasaan hidup, sesuai dengan dimensi yang saya pahami. Tapi memang ada tingkat dan fasenya. Keimanan yang paling penting,” ujarnya.

Peggy merasa sekarang dalam hidup penuh dengan ketenangan. “Saya tak bisa mengungkapkan dengan persis dengan kata atau kalimat, tapi dalam hidup saya saat ini, tidak ada lagi yang lebih tinggi, yang lebih saya ingin dan luar biasa bagi saya selain menjadikan Allah dan Rasulullah sebagai dasar dan tujuan. Kemudian berhijrah secara keimanan, di mana saya juga terus-menerus mencoba belajar dan memahami serta mendalami membuat saya semakin mampu mengimplementasikan hal-hal beragama ini dalam sikap.”

Setelah dirinya berhijrah, Peggy merasa mantap dalam menjalani hidup. Ketika ia tahu arah tujuannya mau ke mana, maka dirinya terdorong untuk terus mengajak dirinya ke arah itu. “Pasti godaannya luar biasa, tantangannya. Kalau kata Peggy yang dulu itu, ‘Pusssiiiiiiiiing…!!!’. Hahaha…”

Tantangan Hidup

Kehidupan Peggy memang dipenuhi kesibukan di berbagai bidang. Dalam 20 tahun ini dia punya banyak diberi kesibukan oleh Allah SWT. “Lima tahun pertama saya konsentrasi di bidang pendidikan. Lima tahun kedua saya menangani bidang bencana. Lima tahun ketiga saya fokus pada budaya. Lima tahun terakhir ini saya pada lingkungan hidup, konsentrasi pada konservasi hutan dan laut, berbasis menyelamatkan satwa langka. Saya terjun ke hutan, ke pelosok, saya berpikir bagaimana menyelamatkan makhluk Allah yang lain, bukan hanya bicara tentang manusia, tapi tentang pohon dan satwa.”

Dalam perjuangan menyelamatkan lingkungan hidup ini, Peggy berpikir bagaimana berusaha menghadirkan Allah dalam setiap langkah, sehingga kita punya keinginan untuk berjuang menyelamatkan makhlukNya yang lain, karena mereka (pohon dan hewan) juga sesama makhluk Allah.

Peggy banyak menjadi duta negara, Duta Pendidikan, Duta Teknologi, Duta Perempuan, dan Duta Pemuda. Di dunia internasional pun Peggy mendapatkan kepercayaan berbicara di PBB, di ASEAN, bekerja hampir dengan 39 negara dari seluruh dunia. Dari semua kesempatan tersebut, Peggy meyakini bahwa Allah tengan mengonstruksinya menjadi manusia yang begitu penuh dengan macam ragam peristiwa keadaan kejadian. Dia menghadapi berbagai macam kesusahan dan kesulitan serta tantangan yang membuat dia tumbuh dan berkembang lebih kuat serta lebih paham dan mengerti tentang banyak hal.

Dari semua pemberian Allah yang all out itu, Peggy menyimpan pertanyaan yang perlu kita pertanyakan pada setiap diri masing-masing individu seorang muslim, “Apakah sudah sebegitu all out-nya kita dalam berkeimanan pada Allah SWT dan Rasulullah SAW?”

“Pada kurun 2010-2011, saya belum pernah mengalami tantangan-tantangan hidup yang luar biasa. Saya merasa Allah itu seperti ada di hadapan saya dan bilang, ‘Hei Peggy, tidak mungkin kamu bisa melakukan segalanya di dalam hidup, setelah semua yang Saya berikan padamu.’ Allah seperti bertanya pada saya, sudahkah saya memberikan yang sebaik itu padaNya. Akhirnya saya memutuskan, berbicara pada bunda bahwa saya harus berhijrah secara keimanan, tidak hanya secara keilmuan dan fisik, sehingga saya mencoba mengonstruksi secara utuh hijrah saya tersebut,” ucap Peggy. (Ric)

Biodata:

Nama : Raden Peggy Melati Purnamadewi Sukma

Lahir : Cirebon, 13 Juni 1976

Sinetron : Si Kabayan, Gerhana, Sajadah Keikhlasan, Melangkah di Atas Awan

Film : Sebuah Pertanyaan untuk Cinta

Presenter : Angin Malam, Rejeki Nomplok, Spontan, Obrolan Pagi

Album : Aku Kangen Padamu (1998) dan My Wish (2000)

Buku : My Wish (2000)

AddThis Social Bookmark Button

Risty Tagor, Bangga Jadi Ibu

JULI 2013

Menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui, adalah empat hal yang hanya bisa dilakukan oleh kaum Hawa. Kaum Adam tak ada yang bisa menggantikan posisi ibu dengan keempat “keistimewaan” tersebut.

Merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi artis Risty Tagor yang sudah lengkap hidupnya dengan kehadiran sang buah hati, Arsene Rafa Balwel. Hidupnya kini dipenuhi dengan kesibukan sebagai seorang istri dan bunda.

Dibesarkan oleh dunia entertainment, tak serta-merta mengurangi jadwal pekerjaannya di dunia hiburan pasca melahirkan putranya dari Rifky Balwel yang juga seorang pemain sinetron. “Saya kini sedang persiapan syuting sinetron Ramadhan bersama suami,” katanya saat ditemui Muzakki.

Baginya, sebuah pengalaman luar biasa ketika ia menjadi seorang ibu. “Tak ada yang lebih membahagiakan daripada menjadi seorang ibu. Perjalanan anak ini luar biasa sekali. Kita dititipi oleh Allah. Bagaimanapun anak adalah sosok yang ditiupkan ruh oleh Allah, kita dihadapkan untuk mengetahui bagaimana caranya membimbing dia, menjadikan dia anak yang sholeh nanti. Aku meyakini sekali bahwa di Al-Qur’an pun dijelaskan bahwa anak itu ujian, jadi ujian itu memang luar biasa sekali. Mampukah kita menghadapi ujian-ujian itu dengan sabar, dengan tetap taat kepada Allah, tak marah pada anak, itulah yang luar biasa,” ucapnya bersemangat.

Risty bertekad untuk benar-benar belajar dan selalu ingin belajar bagaimana bisa mengajari anaknya dengan cara yang Qur’ani.

Lingkungan yang Menantang

Membesarkan sang buah hati memang harus sepenuh hati dan ekstrahati-hati. Salah dalam memilih lingkungan, bisa membuat anak salah pergaulan. Untuk itu Risty sengaja memasukkan anaknya ke sekolah toddler, semacam taman pendidikan usia dini.

“Walaupun anakku kini masih usia dua tahun, tapi dia sekarang sekolah toddler yang selama seminggu dalam dua atau tiga hari itu dia sekolah selama dua atau tiga jam. Ternyata lingkungannya memang memengaruhi dia di rumah. Dia tidak pernah memukul, dia tidak pernah marah, dia belajar untuk berbagi. Peran ayah dan ibu itu pun tak kalah luar biasa. Harus tau bagaimana caranya aku bisa membuat anakku tetap bisa konsisten seperti itu. Bagaimanapun lingkungan luar memang ada pengaruhnya. Dan untuk bisa membentuk anak hidup jadi manusia yang Qur’ani itu cukup sulit,” ujar istri Rifky Balwel ini.

Pantang menyerah dalam membesarkan sang anak, menjadi penguat bagi Risty agar kesempatan untuk menjadi ibu bisa dirasakan secara penuh. Keseluruhan perjalanan membesarkan sang anak menjadi pengalaman menarik tersendiri baginya dalam seluruh episode hidupnya.

Ada banyak pengalaman menarik dalam keseharian Risty ketika membesarkan Arsene. Salah satunya adalah menjadi saksi perkembangan anaknya sedikit demi sedikit.

“Pengalamannya banyak sekali, apalagi kalau sama anak. Sekarang sudah dua tahun, jadi aku mengikuti semua perkembangannya dari nol sampai sekarang, aku rekam dia dalam video dan foto. Ada kejadian yang paling aku sesali adalah ada saat dia baru bisa berdiri, aku foto semua, dan kameraku itu hilang. Aduh, menyesal banget. Andai saja waktu itu aku cepat memindahkannya ke laptop atau dicetak, ya tak bakal menyesal. Tapi itu adalah pelajaran, next tak usah menunggu lama-lama, langsung cetak atau pindahkan ke komputer,” ungkap Risty.

Berhijab, Jadi Alarm

Belum lama dikenal di dunia hiburan, membuat keputusan berhijab berisiko tersingkir dari persaingan. Tapi tidak dengan Risty. Baginya, berhijab menjadikan dirinya lebih siap dalam menjalani kehidupan.

Banyak tantangan saat memutuskan untuk memakai hijab. Tak hanya datang dari diri sendiri, tantangan pun datang dari pihak luar.
“Kalau menurutku, halangan atau tantangan dalam berhijab itu datang waktu pertama-tama aku memakai hijab. Meyakinkan hati yang lama,” tutur Risty jujur.

Dalam perjalanannya, memakai hijab menjadi tantangan tersendiri. “Aku pakai jilbab ini seperti memakai alarm, jadi bagaimana pertanggungjawabanku dengan hijabku. Masa iya sih aku pakai hijab tapi tak sholat… Masa iya tidak bisa baca Al-Qur’an… Masa iya tutur kataku belum baik, belum taat. Itu benar-benar harus terus aku pertahankan, dan memang lingkungan luar kan tidak sama dengan lingkungan dalam,” kata Risty.

Dalam dunia hiburan memang ada beberapa yang memakai jilbab hanya di kesempatan tertentu saja. “Banyak yang bilang, ‘Ah Risty jilbabnya edisi Ramadhan,’ karena memang banyak artis yang pakai jilbab hanya pas Ramadhan. Aku bilang, ‘Ya jangan dong, doakan supaya aku bisa terus menggunakan hijab ini.’ Karena menurutku bukan hijab ini yang membawa kita ke surga, melainkan akhlak kita yang membawa kita ke surga. Tapi dengan menutup ini, aku menjadikan hijab sebagai alarm, Aku ingin sekali dibantu untuk dituntun menjadi manusia yang ada di akhirat yang tempatnya di surga,” ucap Risty.

Salah satu tips dari Risty agar ia tak goyah dalam menjadi Muslimah yang taat adalah dengan memilih lingkungan yang baik.

“Kalau kita mau ada di lingkungan yang baik, insyaAllah kita harus pertahankan berada dengan orang-orang yang baik pula. Bukan pilih-pilih teman, tapi setidaknya ada yang memantapkan, misalnya seminggu sekali aku ikut tafakur, seminggu sekali ada dalam komunitas (baik) yang seperti itu. Seperti kemarin, aku dan teman-teman taklimku dari Bintaro, membuat liburan ke Singapura dengan cara Islam. Biarpun belanja dan senang-senang, kalau sudah masuk waktu sholat ya sholat. Kami tetap tidak lupa mencari makanan halal, itu yang penting,” ujar Risty bercerita.

Terus Belajar

Dalam mengurus rumah tangganya, khususnya dalam membesarkan Arsene, Risty terus-menerus mencari ilmunya. Begitu pula dengan ilmu agama yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Alhamdulillah di keluargaku, aku punya adik, aku mengurus adikku sewaktu dia kecil. Lalu, sebelum aku menikah, kedua kakakku sudah menikah dan sewaktu mereka punya anak, aku belajar banyak. Saat hamil, aku banyak baca buku, banyak browsing. Juga ada kegiatan kumpul ibu-ibu,” ungkap Risty.

Dari keaktifannya belajar terus-menerus, ia berharap jadi yang terbaik untuk suami dan anaknya, sehingga kelak anaknya jadi manusia berguna.

“Aku ingin anakku jadi apa saja yang dia inginkan, yang penting di jalur Qur’ani,” tutur Risty mantap.

Dengan begitu, Risty tak gentar untuk terus menjalani kariernya. “Aku merasa justru sebenarnya setelah aku menutup aurat, pintu rezeki jadi terbuka. Sekarang aku jadi menyanyi, jadi punya usaha, punya komunitas, syuting sinetron tetap jalan, aku yang tinggi badan hanya segini bisa fashion show, jadi malah tambah banyak, bisa talkshow ke luar kota. Meski tak muncul di tivi tapi alhamdulillah rezekiku ada saja. Rezeki takkan tertukar, aku yakin Allah sudah tentukan porsi rezeki kita masing-masing. Dan kita tak usah khawatir. (Ric)

AddThis Social Bookmark Button

Micky Octapatika, Ditampar Sepohon Kayu

JUNI 2013

Sepohon kayu daunnya rimbun,

Lebat bunganya serta buahnya,

Walaupun hidup seribu tahun,

Kalau tak sembahyang apa gunanya?

Sebagai manusia, kita tak tahu jalur hidayah yang akan menghampiri kita. Hanya Allah SWT yang tahu kapan kita akan mendapatkan hidayah, dengan jalan apa, terserah Allah.

Bagi Micky Octapatika, penyanyi pria kelahiran 2 Februari 1979 ini hidayah datang, salah satunya melalui lagu. Ya, lagu religi merupakan salah satu gerbang bagi seniman jebolan Akademi Fantasi Indosiar (AFI) ini untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.

Saat ini, kegiatan yang dijalani Micky masih seputar bernyanyi, namun ia pun tengah terikat kontrak dengan satu perusahaan televisi yang bergerak di bidang home shopping. “Jadi aku bekerja di situ sebagai karyawan. Sehari-hari ngantor, dan kalau ada acara off air, ya nyanyi.”

Jenis musik yang diusung Micky memang masih seputar musik pop, namun ia sangat senang bila didaulat untuk menyanyikan genre musik religi.

“Saya belum pernah keluarkan single religi, tapi kalau nyanyi off air lagu religi sering. Kemarin saya sempat membuat single religi tapi karena saya belum mengeluarkan yang sekundernya, yang pop biasa, dikhawatirkan orang mengklasifikasikan saya sebagai penyanyi lagu religi. Bukannya tidak mau, namun menurut saya untuk menjadi penyanyi lagu religi itu tanggung jawabnya berat dan besar sekali.”

Micky merasa belum siap untuk diklasifikasikan sebagai penyanyi lagu religi, tapi mungkin kalau dia telah mengeluarkan single pop atau bertepatan dengan momennya, insyaAllah pria yang di keluarganya biasa disapa dengan nama Mike ini siap keluarkan single religi.

Pemuda kelahiran  Pekanbaru ini mengaku bahwa rasanya berbeda sekali saat menyanyi lagu religi. Menurutnya, di setiap lagu religi pasti ada pesan-pesan untuk kita. “Di lagu-lagu pop itu mungkin ada pelajaran tersembunyi, tapi lebh pada tontonan bagaimana hidup kita. Sedangkan pada lagu religi banyak pesan-pesan yang mungkin kita sendiri jarang sekali mendengarnya, tapi dengan lagu religi itu kita bisa tahu ternyata ada ilmu begini, ternyata ada yang seperti itu. Pokoknya banyak pesan lah,” kata Micky antusias.

Lagu yang “Menampar”

Tidak banyak lagu yang bisa menginspirasi orang, atau bahkan membuat kita ingat pada Allah. Namun bagi Micky ada sebuah lagu yang menurutnya sangat luar biasa. “Ada satu lagu religi yang bisa bikin saya menangis. Lagunya yang, Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya…

Lagu berjudul Sepohon Kayu itu bagi salah satu peserta program Asia Bagus di tahun 1996 ini seperti tamparan. “Untuk apa capek-capek bekerja, untuk apa Allah berikan kesehatan pada kita, tapi kalau tak sembahyang ya ngapain? Kita diberi waktu yang panjang agar Allah melihat kalau kita bisa bersyukur dan melakukan semua perintahnya. Buat saya, jarang sekali ada lagu yang bisa sampai begitu. Walau lagu sedih sekalipun, ya kalau sedih, sedih saja, setelah itu selesai. Tapi kalau lagu ini setiap kita terngiang, tak usah dinyanyikan, ingat kata-katanya saja sudah seperti tertampar dan menusuk hati.”

Pengalaman “indah” pun pernah Micky alami kala ia berjuang dengan rekan-rekannya sesama finalis AFI di asrama karantina.  “Sewaktu di asrama kami terisolasi. Tak bisa interaksi dengan orang lain selain rekan-rekan seperjuangan (di AFI, Red) apalagi waktu tiga besar itu saya merasa itu puncak hubungan dengan Allah.”

“Saat saya berdoa, saya curhat. Karena mau curhat pada siapa lagi, ya sama Allah saja. Dan di situ saya merasa Allah  itu dekat banget. Rasanya seperti mengobrol dengan orang yang ada di depan kita. Senang sekali kan kalau kita punya teman yang mau mendengarkan. Saat itu saya tak minta apa-apa, hanya curhat.  Saya selalu menangis kalau kami sedang ‘mengobrol’ itu.  Kalau nangis sama teman itu kadang suka gengsi. Tapi kalau yang ini seperti tak ada batasan lagi, saya sebagai hambaNya, di situ saya baru merasakan pengalaman mengobrol dengan Allah, biasanya kan hanya dengar teorinya saja: ‘kalau berkeluh kesah, sama Allah saja’,” ungkap artis yang ingin lepas dari embel-embel AFI ini antusias.

Kado untuk Orang Tua

Hingga kini, Micky masih menyimpan keinginannya untuk segera diwujudkan. Hal mulia yang belum kesampaian baginya adalah ingin menghajikan orang tua. “Kalaupun tidak menghajikan, ya umroh terlebih dahulu. Mudah-mudahan tahun depan bisa terlaksana. Semoga bisa diberi rezeki banyak dan umur panjang,” tutur Micky.

Baginya, memberangkatkan kedua orang tua ke Tanah Suci bagai kado terindah untuk orang tua. “Ibu saya belum menginjakkan kakinya di kampung halamannya, tapi kalau aku ada rezeki, yang pertama saya lakukan itu bukan mengirim beliau ke kampung halaman, tapi saya ingin menjadikan dia sebagai tamu Allah terlebih dahulu. Setidaknya membuat ibu saya tahu bagaimana rasanya menginjakkan kaki di Tanah Suci.”

Micky sendiri alhamdulillah pernah menginjakkan kaki di Mekkah untuk berumroh. “Pengalaman saya pas ke sana itu rasanya ngangenin banget. Pada saat sudah pulang, dan setiap kita beribadah di sini, selalu yang teringat adalah kenapa tiap kita ibadah di sana itu rasanya ibadah kita itu sampai padaNya. Di sana benar-benar bisa sangat khusyuk. Di sana tak ada aktivitas lain. Semua aktivitas dihentikan, dan dikhususkan hanya benar-benar untuk beribadah. Saya ingin kedua orang tua saya, ayah dan ibu, ingin saya sampaikan ke sana untuk merasakan sensasinya.”

Keluarga bagi Micky

Itulah bentuk cinta Micky pada orang tua. Selain memiliki keinginan menghajikan kedua orang tua, Micky pun ternyata bercita-cita ingin jadi orang kantoran sebagai pekerjaannya.

“Cita-cita saya sebetulnya dulu adalah jadi orang kantoran. Pakai dasi, pergi pagi, pulang sore. Sekarang jadi orang kantoran juga sih tapi tanpa dasi. Dan pulangnya lebih berantakan lagi, hehehe…” ucap Micky terkekeh.

Beruntung, keluarganya tak menganggap pekerjaan Micky sekarang sebagai pekerjaan yang buruk. Micky memang dilahirkan dari keluarga yang menyukai musik. “Tanggapan keluarga pada pekerjaan saya adalah sangat mendukung, karena saya lahir dari keluarga musisi. Pada dasarnya mereka mendukung, tapi pasti orang tua ada perhatiannya, bilang jangan terlalu capek, dan lainnya.”

Perhatian orang tuanya pun ditunjukkan dengan lebih mempersiapkan Micky bagaimana menghadapi hal-hal yang mungkin tidak mengenakkan di dunia seni ataupun di bidang pekerjaan lain, serta dalam hidup itu sendiri.

Dalam hal jodoh, Micky berharap agar Allah memberi jodoh secepatnya agar bisa menikah. “Harusnya sih tahun ini, tapi Allah berkata lain. Insya Allah tahun depan,” katanya mantap.

Micky kini cukup bahagia dengan keluarga yang sudah ada, “Hehehe, sudah punya keluarga, ada ayah, ibu, dan saudara-saudara,” ujarnya mengakhiri pertemuan dengan Muzakki sore itu. (ric)


Biodata:

Nama                           : Micky Octapatika

Nama Beken                : Micky AFI, Mike

Tempat, Tanggal lahir : Pekanbaru, 2 Oktober 1979

Anak Keempat dari Lima Bersaudara

Orang Tua                   : Poppy Kaligis dan Indra Karma

AddThis Social Bookmark Button

Yana Julio: Ibu, Perwakilan Allah

MEI 2013

“Surga itu ada di telapak kaki ibu.”

Begitulah pepatah menyatakan, betapa penting dan mulianya posisi ibu dalam hidup kita. Sampai-sampai menurut pepatah itu surga ada di telapak kaki ibu, yang artinya kita harus patuh dan tunduk pada perintah ibu. Jika kita menurut pada ibu, maka balasan yang setimpal bagi kita adalah surganya Allah SWT.

Banyak dari kita yang begitu mengagungkan sosok, mencintai ibu kala ia masih kuat mengurus kita. Namun tatkala kita sudah beranjak dewasa lalu menikah, tak jarang yang melupakan adanya ibu, terlalu fokus pada keluarga baru kita. Mudah-mudahan tak ada di antara kita yang berbuat seperti itu. Ada dan tiada ibu di hadapan kita, sosok ibu harus kita hormati, kita sayangi, dan didoakan kebahagiaannya dunia-akhirat.

Kisah kecintaan dan kepatuhan terhadap ibu, ada pada seniman Indonesia yang satu ini. Yana Julio yang kini telah memiliki tiga orang anak, masih mencintai ibunya walaupun telah berpulang ke Rahmatullah.

Ketika ditemui di salah satu studio televisi nasional di Jakarta, artis kelahiran Bogor ini menuturkan bahwa segala kesuksesannya merupakan buah dari kepatuhannya pada sang ibu.

“Saya dari kecil terbiasa menurut pada orang tua, terutama pada ibu. Saya tak tahu asalnya dari mana, apakah dari pengajian atau di sekolah. Pokonya saya begitu saja,” kata Kang Yana, sapaannya.

Ia ingat sekali waktu kelas empat SD, saat ikut lomba nyanyi dan menang juara satu tingkat lokal wilayah Bogor. “Nah, pemenangnya harus ikut lomba tingkat Jawa Barat di Sukabumi atau Bandung (waktu itu). Ibu saya khawatir. ‘Jangan ikut lah’. Just like that, saya tak ikut, tak pergi ke Bandung. Saya pun tak protes. Nanya sih nanya, tapi kata beliau hanya karena khawatir,” ucapnya sambil menerawang.

Selain penurut, sedari kecil Kang Yana memang terbilang anak yang menonjol dalam prestasi. Pernah ia tinggal kelas ketika naik ke kelas empat SD. “Waktu itu saya belum mengetahui untuk apa sekolah itu. Saya sekolah ya pergi sekolah, belajar ya belajar, hanya itu saja. Tapi ketika harus turun kelas dari kelas empat ke kelas tiga lagi, saya jadi tahu bahwa itu memalukan. Akhirnya saya minta diajari oleh sopir, oleh kakak, dan lainnya. Hasilnya, saya selalu menjadi bintang kelas,” ujar pria kelahiran 8 April 1960 ini.

Dalam menentukan masa depan, terutama dalam masalah pendidikan, Kang Yana pun tak pelak mengikuti “perintah” sang ibu. Ketika ia hendak memilih tempat kuliah, ibunya bertanya, “Mau kuliah di mana? Temani ibu deh di Bogor. Di Bogor saja ya biar deket sama ibu.” Tanpa banyak protes, dengan sendirinya Kang Yana berhasil masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) lewat jalur SPMB. Tampaknya kata-kata sang ibu begitu kuat bagaikan doa, sehingga apa yang ia pinta menjadi kenyataan.

Lagi-lagi Kang Yana berhasil membuktikan bahwa menuruti permintaan ibu adalah cara terbaik dalam hidupnya. Biasanya anak bungsu yang biasa melakukan itu, namun Kang Yana yang anak keenam dari delapan bersaudara ini pun melakukannya karena kakak-kakaknya berkuliah di mana-mana, menyebar.

Passion Menyanyi

Kang Yana semasa kecil memang menggemaskan, ia suka “ditanggap” untuk menyanyi oleh tetangganya. Memang bakat menyanyinya sudah terlihat sejak usianya lima tahun. Dalam usia sebelia itu, Kang Yana sudah bisa menyanyi di acara pernikahan tetangganya.

Terlebih ketika ia sudah masuk sekolah, guru-gurunya yang sudah tahu akan bakat Yana kecil diikutkan di berbagai lomba. “Passion saya memang menyanyi. Saya suka ikut lomba. Dari kecil sudah ada keinginan jadi biduan seperti di TV.”

Perjalanannya dalam bidang bernyanyi terus berkembang hingga ia duduk di perguruan tinggi. “Waktu kuliah di IPB tingkat empat, saya sebagai seorang mahasiswa dan bukan siapa-siapa yang hobinya menyanyi dan lumayan bagus kata orang-orang, ditawari rekaman oleh label besar di Jakarta. Karena saya menang lomba nyanyi dengan sponsor label tersebut, maka saya ditawari kontrak rekaman. It’s supposed to be sesuatu yang sangat besar bagi saya. Saya datang ke Jakarta ke label tersebut. Ngobrol, tes suara, ketemu artis lain. Sebelum teken kontrak, ada waktu jeda seminggu. Saya pulang dulu ke Bogor untuk cerita pada ibu. Ibu saya tanya, ‘Skripsinya sudah selesai?’ Saya jawab, ‘Baru bab satu.’ Dengan ringan, dia bilang, ‘Jangan dulu rekaman lah, selesaikan dulu skripsinya’.”

Kang Yana lagi-lagi tak protes, walau ada pertanyaan dalam hatinya “Kenapa Bu? Ini kan kesempatan besar.” Toh ia tetap menurut. Lalu selama seminggu waktu jeda itu Kang Yana kerjakan skripsi lagi, kesempatan besar itu pun hilang.

Ternyata pepatah yang menyatakan bahwa peluang itu hanya datang satu kali itu salah. “Terjadi pada saya. Setelah lulus kuliah tepat waktu, kemudian cari pekerjaan. Waktu itu ibu pindah ke bandung, saya juga mau cari kerjaan di Bandung supaya dekat dengan ibu. Mungkin saya terlalu ‘anak mama’ kali yah. Selain melamar kerja, saya juga ikut lomba nyanyi. Di situ ketemu Elfa. Pokonya dalam waktu singkat setelah saya lulus kuliah itu saya direkrut jadi Elfa’s Singer. Itu kan seperti keliatan seperti: saya mau jadi penyanyi tapi saya tolak, tapi akhirnya saya jadi penyanyi juga,” ungkap suami dari  Kania Rusyana ini.

“Dalam menjalani hidup sebagai penyanyi di Elfa, itu lumayan lancar. Dalam waktu beberapa bulan, saya sudah direkrut sebagai Elfa’s Singer. Belum setahun saya di Elfa’s, saya ditawari untuk rekaman solo lagi. Lalu saya kontrak nyanyi solo. Saya di Elfa’s Snger, juga kontrak solo, keluarlah album Emosi Jiwa dan beberapa album lain. Alhamdulillah kalau untuk ukuran saya, itu sukses besar. Saya mensyukuri banget,” tutur Kang Yana.

“20 tahun kemudian di dunia entertainment, saya lihat kondisi musik Indonesia seperti apa. Suatu saat ketahuan bahwa keputusan saya dulu untuk tak rekaman di label yang dulu itu adalah keputusan yang tepat sekali. Diketahui bahwa beberapa artis dari label tersebut luar biasa dzolim cara kontraknya, itu secara ekonomi dan secara karier digencet. Terbukti lah, sampai saya sadar bahwa benar keputusan saya itu, dan itu berkat ibu saya. Saya yakin bahwa ibu itu sosok perwakilan Allah yang harus kita sikapi dengan sangat bak,” kata ayah tiga anak ini.

Menurutnya, Allah itu mewakilkan titipan-titipan rel yang tepat untuk seorang anak melalui perkataan ibunya. “Tujuannya apa, supaya tak keluar dari rel, supaya nyambung dengan rel yang sudah direncanakan.”

Nasyid Buat Menangis

Jika di Elfa’s Singer Kang Yana bernyanyi bersama Lita Zein, Agus Wisman, dan Uci Nurul dengan menyanyikan lagu-lagu romantis, maka Kang Yana bisa dibilang sangat menghayati kala bernyanyi lagu nasyid atau lagu religi seorang diri.

“Kata orang, saya dikenal sebagai penyanyi yang romantis, penuh perasaan, saya baru tau kalau itu salah setelah saya mencoba lagu nasyid. Saya memang kalau menyanyi lagu pop pasti pakai perasaan, dan itu orang sudah bilang “romantis dan penuh perasaan”. Tapi saya nyanyi hanya begitu saja. Pas nyanyi lagu nasyid, saya pernah tidak bisa menyelesaikannya di panggung. Nangis sesenggukan di panggung. Lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata, lagunya Chrisye waktu itu. Kalau saya nyanyi lagu itu, saya suka minta disimpan di belakang. Soalnya kalau di tengah itu tersedak pengen nangis. Lama-lama sih enggak. Tapi saya selalu berpikir bahwa ‘Oh ini yang namanya nyanyi penuh perasaan’,” ucap Kang Yana menggebu-gebu.

Memang belum terlalu banyak karyanya di ranah musik religi, singel religinya ada di album pop. “Khusus album religi saya belum buat.  Ingin sekali tapi blm sempat,” ujar ayah dari Diaz Ilyasa dan Aisyah Raihan Fadhilah ini.

Salah satu single religi yang Kang Yana produksi adalah Tegar. “Sudah lama lagu itu dibuat oleh Elfa. Lagu Tahajud pun ketika saya nyanyikan suka sampai tak habis, karena saya suka tercekat di tengah-tengah bernyanyi.”

Kebanyakan lagu nasyid yang dinyanyikannya sering kali membuatnya menangis karena Kang Yana ingat dosa. “Kalaupun tak ingat dosa, ya ingat liriknya, jadi ingat sama Allah. Jadi nusik ke hati lagu nasyid itu.” (ric)

 

Biodata

Nama: Rusyana

Nama Beken: Yana Julio

Aktivitas: Penyanyi, bersama Elfa’s Singer

Tempat dan Tanggal Lahir: Bogor, 8 April 1960

Pendidikan: IPB jurusan Sosial Ekonomi Pertanian

Album Musik: Emosi Jiwa, Jumpa Lagi, Kucinta, Selamanya Cinta, Hasrat Cinta

AddThis Social Bookmark Button

Delia Septianti, Tenang di Depan Ka’bah

APRIL 2013

Ada cerita di zaman purba,

Datangnya dari negri khayangan…

Kisah seorang raja dan permaisuri,

Yang mengharapkan lahir seorang putri…

Akhirnya lahirlah juga apa yang diharapkannya…

Tapi sungguh sedih, tapi sungguh malang,

Yang dilahirkannya, seekor ular putih…

Masih ingatkah Anda dengan lirik lagu di atas? Ya, bagi pencinta lagu anak-anak di kurun 1990-an pasti hafal dengan lagu berjudul Ular Putih tersebut. Lagu anak-anak dengan musik ceria itu dibawakan dengan apik oleh Trio Laris.

Salah satu pentolan dari Trio Laris yang hingga kini masih melintang di dunia musik tanah air adalah Delia Septianti. Di antara kita mungkin kini lebih mengenalnya dengan Delia Ecoutez.

Dara manis kelahiran Jakarta 27 tahun silam ini tampak manis menggunakan hijab pink saat ditemui Muzakki di sebuah stasiun televisi di Jakarta. Ia menuturkan bahwa sebenarnya ia belum seratus persen bisa menggunakan hijab atau penutup tubuh (jilbab) sebagai bagian dari kewajiban seorang muslimah.

“Saya inginnya segera berjilbab, apalagi sepulang umroh tahun lalu itu saya sempat tak melepas jilbab sampai beberapa minggu. Papa juga menyarankan agar saya pakai jilbab seterusnya. Tapi mungkin saya belum siap sepenuhnya untuk benar-benar memakainya. Belum 100 persen banget lah. Karena saya tak boleh main-main lagi, sebentar pakai, sebentar dibuka. Mungkin suatu saat nanti akan pakai. Sudah niat sih, tapi untuk waktu sekarang belum siap. Alasan kedua, karena saya masih nyanyi sana-sini, khawatir belum sesuai antara hati dan pekerjaan,” kata Delia.

Ya, kegiatan Delia dalam dunia entertainment memang masih berlangsung hingga kini. Jika beberapa waktu lalu ia terkenal dengan embel-embel “Ecoutez” di belakang namanya, kini masyarakat  sudah harus menanggalkan nama itu di belakang nama Delia. Pasalnya, sudah sejak pertengahan tahun lalu, Delia resmi mengundurkan diri dari grup band yang turut melanggengkan namanya di dunia hiburan.

Dalam waktu dekat, gadis kelahiran 1 September 1985 ini akan merilis single baru, Berharap Tak Berpisah, dan hari-harinya kini disibukkan dengan jadwal promo dan acara off air.

Senang Lagu Religi

Selain piawai menyanyikan lagu anak-anak di masa kecilnya, dan kini makin pandai membawakan lagu beraliran jazz, Delia juga senang membawakan lagu-lagu religi.

“Pernah punya lagu religi, dulu sama Ecoutez pernah menyanyikan lagu religi pada Ramadhan yang lalu. Kami sempat mengeluarkan single Ramadhan, judulnya Terima Kasih,” ucap gadis berlesung pipi ini.

Delia sangat antusias menyanyikan lagu-lagu religi di acara-acara yang bernuansa islami, dan dia pun berniat memasukkan lagu religi tersebut ke dalam albumnya. “Dahulu rencananya (lagu Terima Kasih) mau dimasukkan pada album ketiga, tapi saya keburu keluar, jadi gatau deh mereka (Ecoutez) memasukkannya atau tidak,” ujar pemain di sinetron Gerhana ini.

Prihatin Lagu Anak

Berhubung Delia dahulu dikenal sebagai penyanyi cilik, kecintaannya pada lagu anak-anak pun tak serta-merta memudar.

“Saya cukup prihatin melihat perkembangan musik anak-anak sekarang dibandingkan zaman saya dahulu. Dahulu wadahnya lebih banyak, tempat untuk menyalurkan bakat juga lebih banyak. Dulu wadahnya banyak di acara TV, jadi bagi para penyanyi cilik ini punya tempat tersendiri untuk tampil, tapi sekarang kan wadahnya juga tak ada. Sangat disayangkan sekali anak-anak kecil sekarang sering menyanyikan lagu-lagu band dewasa,” tutur Delia.

Delia berpendapat bahwa lagu-lagu orang dewasa tidak cocok dengan usia mereka, usia anak-anak. Tapi Delia mengakui bahwa semakin ke sini sudah mulai ada bibit baru yang lumayan. “Saya berharap musik anak-anak lebih berkembang lagi, program-program televisi lebih mendukung anak-anak supaya mereka tidak menonton tontonan orang dewasa terus. Orang tua juga harus memberikan bimbingan supaya mereka tak nonton band terus,” ungkap Delia berharap.

Darah seni memang mengalir di tubuh Delia. Ia ternyata adalah putri dari pencipta lagu Abang Tukang Bakso yang dahulu dinyanyikan oleh Melissa.

“Papaku juga menciptakan lagu-lagu yang saya bawakan. Sekarang papa sudah off sama sekali, karena memang tak ada sama sekali wadah untuk itu (lagu anak-anak dinyanyikan oleh anak-anak),” kata Delia.

Delia menyatakan bahwa ia ingin sekali agar papanya mencoba membuat lagu anak-anak lagi. Namun papanya pun bingung juga, karena ia tak tahu siapa yang akan membawakannya. “Kalau dahulu banyak orang tua yang semangat menyalurkan anak-anaknya yang memiliki bakat, namun sekarang sanggar masih ada, tapi orang tuanya tak terlalu bersemangat. Dahulu sanggar-sanggar banyak diisi oleh anak-anak yang ingin jadi penyanyi. Sekarang karena wadahnya tak ada, jualannya juga bagaimana? CD sudah tak ada, RBT anjlok,” ucap presenter Kuis Moto GP ini.

Umrah, Recharge Pikiran

Banyak kesibukan yang membuat Delia jauh dari Allah SWT, namun dengan menjalankan ibadah umrah, ia bisa me-recharge pikirannya. Apalagi kesempatan untuknya berumrah itu bertepatan dengan kondisi hatinya yang sedang kacau.

“Tahun lalu alhamdulillah saya berangkat umrah bersama keluarga. Waktu itu saat berangkat kebetulan banget saat lagi down karena baru putus dari pasangan yang sudah cukup lama pacaran. Kami bahkan sampai mau nikah, ternyata tak jadi,” ujar Delia mengenang ceritanya.

Delia mengatakan bahawa momen untuk umrah kala itu sangat pas. “Kalau umrah kan dijadwalkannya sudah dari beberapa bulan sebelumnya. Sudah dapat tanggal, tanggal sekian. Jadi memang kebetulan sudah jalan dari Allah. Saya cari ketenangan dan petunjuk di sana.”

Di Tanah Suci, Delia merasa tenang sekali , apalagi kala ia melihat Ka’bah, menyentuh Ka’bah, berdoa di depan Ka’bah. “Tadinya simple banget, kenapa ini terjadi? Pokoknya emosi. Tapi saat saya melihat Ka’bah, saya melihat ketenangan, seolah-olah diberitahu oleh Allah bahwa ini adalah jalan terbaik buat saya. Dan alhamdulillah setelah pulang ke Tanah Air jadi semakin tenang dan malah ingin kembali lagi ke sana,” tuturnya.

Di depan Ka’bah, gadis pemilik butik fashion di daerah Ambasador Jakarta ini memohon banyak kepada Allah SWT, “Banyak yang diminta, kesehatan, keluarga, bisa menyenangkan orang tua, bisa punya karier bagus, jodoh juga diminta,” kata Delia jujur.

Meski kariernya di dunia hiburan tergolong mulus dibandingkan rekan-rekannya sesama penyanyi cilik seusianyam, tapi pencapaian yang belum ia capai masih banyak. “Yah manusia tak pernah ada puasnya, sejauh apa pun itu, berapa lama pun saya berkarier, saya masih harus terus belajar. Dan untuk memenuhi kebuthan akhirat nanti, saya coba cari ilmu terus-menerus dengan mengikuti pengajian-pengajian,” kata Delia penuh senyuman. (ric)

AddThis Social Bookmark Button