Menghidupkan Usaha Turun-temurun
NOVEMBER 2011
Telur Asin Khas Tegal-Brebes
Di pertengahan tahun 2009, Nani mulai menghidupkan kembali usaha telor asin yang sejak tahun 2004 telah dirintis oleh orang tuanya. Pada awalnya sangat tidak mudah untuk memulai kembali usaha turun-temurun tersebut karena sulitnya mendapatkan modal, namun berkat keuletan dan kegigihannya Ibu muda ini akhirnya mampu memproduksi 4.500 butir telor asin perhari tergantung dari ketersediaan telur asin para peternak bebek di kampungnya, Tegal. Untuk mengembangkan usaha hingga ke mancanegara, Ia mencoba menginovasikan telur asin produksinya dengan menambahkan berbagai varian rasa.
Awal Berwirausaha
Kandungan kalsium telur asin meningkat 2,5 kali setelah pengasinan. Tingginya nilai gizi dan rasa yang khas menyebabkan telur asin banyak diminati masyarakat. Peluang yang cukup besar tersebut tidak disia-siakan oleh Ibu muda lulusan D3 Ekonomi akuntansi UNDIP ini. Ditemui di kediamannya di desa Pesurungan Lor RT 01/03, Tegal, Jawa tengah, Nani Kusrini memaparkan awal upayanya merintis kembali usaha telur asin.
Bakat wirausaha yang diwarisi dari orang tuanya memberikannya keberanian untuk masuk dalam dunia usaha meski usianya baru beranjak 25 tahun. Pekerjaannya sebagai staf pengajar sekolah lanjutan ekonomi di Tegal ditinggalkannya demi melanjutkan usaha telur asin yang dirintis orang tuanya itu. Tekad utamanya ingin memajukan usaha keluarga.
Upayanya merintis kembali usaha yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya itu, antara lain juga karena orang tuanya telah meninggal dunia. Produksi awalnya hanya 300 hingga 600 butir telur saja per hari. orangtuanya membangun usaha telor asin di pelataran rumah mereka. Telur-telur tersebut kemudian dikirimkan ke Jakarta setiap 10 hari sekali. Kemudian setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, usaha telur asin keluarga menjadi terbengkalai saat itulah ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar dan mengambil alih usaha almarhum orang tuanya itu. Dengan kegigihan dan semangat muda yang ia miliki usaha telur asin kembali menggeliat. Jumlah permintaan baik dari pasar lokal maupun dari Jakarta setiap harinya semakin meningkat, produksi terus ditingkatkan hingga akhirnya kini Nani mampu memproduksi telur asin mencapai 3.000 hingga 4.500 butir per harinya.
Perjalanan menghidupkan kembali usaha telur asin milik Nani ini tidak selalu mulus, pasang surut permintaan dan persediaan bahan baku sering kali ditemuinya. Permintaan akan meningkat terutama saat musim lebaran tiba, selain untuk buah tangan ketika mudik lebaran telur asin juga diburu orang untuk hajatan di kampung-kampung. Saat itulah produksi telur asin akan meningkat, peningkatan permintaan telur asin mengharuskan Nani memutar otak untuk mendapatkan persediaan telur asin yang lebih banyak, hal ini mudah saja mengingat telur asin merupakan komoditas utama kampungnya di desa pesurungan lor, kesulitan mendapatkan telur bebek ditemui jika harga pakan ternak melambung dan cuaca tidak bagus untuk peternakan sehingga produksi telur bebek dari peternakan menjadi berkurang. Untuk mengantisipasinya Nani membeli telur bebek kepada pengepul yang didatangkan dari luar Tegal, meski kualitasnya tidak sebagus telur bebek lokal namun hal ini menjadi alternatif yang menguntungkan.
Telur asin yang diproduksinya kini untuk memenuhi permintaan dari pasar-pasar besar di Kota Jakarta dan sekitarnya, serta beberapa pasar yang ada di kotanya. Apalagi saat musim mudik datang, para pedagang telur asin di kota Brebes pun rutin membawa telur asin produksinya, sebab selain pulen karena berminyak di bagian kuningnya, juga tidak terlalu asin. Telur asin yang diproduksinya bisa bertahan hingga 15 hari. Hal ini karena cara pengelolahan telor asin yang terutama dikirimkan ke pasar Ciputat ini haruslah apik.
“Telur asin kami bisa bertahan lama hingga 15 hari, karena kami mencari kualitas telur bebek yang bagus dari para peternak yang selalu mencari tempat di mana ada sawah yang sedang dipanen, di situlah bebek-bebek mereka disebar. Selain itu, kualitas garam dan abu juga harus baik, agar hasilnya menjadi telur asin yang super,” kata Nani.
Nani kini telah mampu mempekerjakan enam karyawan, yang berasal dari lingkungan keluarganya serta dua tenaga lepas yang diambil dari tetangga terdekatnya. Sedangkan label yang ditempelkan di telur asin produksinya adalah nama pemberian dari almarhumah ibunya yaitu “Telor Asin Rasa Sari”.
Dari hasil wirausaha yang digeluti keluarganya selama 8 tahun ini, selain telah mampu membeli tanah dan bangunan yang cukup luas dan sekarang ini dia juga telah memiliki sebanyak 200 ekor bebek yang pemeliharaannya dipercayakan kepada pengangon bebek. “Saya beli bebek agar sewaktu-waktu bila telor dari pengangon sulit didapat, masih ada cadangan telor bebek peliharaan saya,” cetusnya.
Proses Pembuatan Telur Asin yang Berkualitas
Tiap hari, Nani menunggu para peternak bebek untuk menjual telur bebek meraka kepadanya. Ada sekitar 20 orang peternak langganannya akan datang sendiri ke tempat usaha Nani, di belakang rumah. Rata-rata seorang peternak bebek membawa 200 sampai 400 butir telor asin setiap harinya. Telur yang pecah/retak dan telur yang ukurannya kecil akan dipisahkan, telur-telur yang pecah tersebut biasanya akan dibawa ke pabrik krupuk atau penjual martabak. Setelah proses penyortiran telur-telur tersebut akan masuk ke bagian produksi pengasinan telur asin. Untuk membuat telur asin sebanyak 1.500 butir dibutuhkan bahan dasarnya 30 kg, 10 kg garam kasar serta sedikit abu hasil pembakaran kulit padi. Abu dan garam ditambah air diaduk hingga menjadi seperti adonan tanah liat. Setelah itu satu per satu telur dibungkus adonan, kemudian di simpan atau diperam selama 7 hingga 10 hari. Kemudian dicuci hingga bersih, dan direbus hingga empat jam.
Proses pembuatan tersebut rata-rata sekitar 10 persen hasilnya tidak sempurna karena mengalami pecah dan retak-retak. Tapi, telur asin yang retak masih saja bisa dijual dengan harga yang mutah atau ditukar dengan telur bebek yang mentah atau barter dengan bahan dasar pembuatan telur asin seperti garam di pasar.
Tekad Terus Mengembangkan Usaha
Kini yang dibutuhkan oleh Nani agar usahanya tetap berjalan adalah suntikan dana, baik dari pemerintah maupun dari perbankan. Sebab, jika tidak ada suntikan modal maka usahanya berjalan apa adanya. Modal yang dimiliknya terkadang tidak berputar karena mengendap di para peternak. Jika bebek-bebeknya tidak bertelur karena tidak ada sawah yang panen atau harga pakan yang melonjak tinggi, maka setoran telur bebek dari petani akan berkurang sedangkan Nani sudah meminjamkan uang kepada mereka untuk modal membeli bebek. Namun seiring berjalanannya waktu Ibu muda ini semakin belajar mengelola usahanya tersebut. Dengan opsesi untuk mengembangkan usahanya hingga ke mancanegara, ia berusaha mencari inovasi antara lain dengan membuat telur asin beraroma bawang, cabe dan lain sebagainya. Ia semakin termotivasi untuk terus berkembang dan terus bereksperimen agar hasil produksinya tetap menjadi konsumsi yang digandrungi berbagai kalangan, baik orang tua, remaja maupun anak-anak. Hingga akhirnya timbul ide baru untuk menjadikan telur asin sebagai camilan dengan bebagai rasa lainnya. Nani masih harus berusaha agar impian kedua orang tuanya dapat terwujud.






