Keluarga Mandiri

Citra Rasa Gudeg Roda, Dari Keraton Sampai Manca Negara

FEBRUARI 2012


Yogyakarta selalu identik dengan gudeg. Masakan gudeg memiliki citarasa yang hampir sama, tetapi Gudeg Roda hadir dengan rasa gurih bacemnya yang menggoda. Gudeg Roda sudah dikenal masyarakat Jogja dengan paket kateringnya. Dimulai dari 1995, usaha keluarga ini lebih mengarah pasar katering dengan sistem pesanan untuk aneka pesta, acara hotel, Rumah Sakit dan lainnya.

Gudeg Roda Bu Citra mempunyai citra rasa yang berbeda dari gudeg lainnya. Setelah sekian lama bergelut di dunia catering, dan banyak pelanggan yang menyarankan pada ibu Untari selaku pemilik usaha ini untuk membuat gudeg Jogja yang khas, maka ia mulai membuat gudeg yang khas dan berbeda dari semua gudeg yang ada. Masakan tradisional khas kerabat dalem Keraton Mataram-Ngayogyakarta Hadiningrat ini pun akhirnya diakui masyarakat setelah go public. Hal ini dilakukan sebagai upaya melestarikan kebudayaan leluhur.

“Untuk meluaskan jangkauan pasar, dan meramaikan sentra gudeg di daerah Wijilan, dibukalah warung Gudeg Roda,” tutur bu Untari, pemilik warung makan ini.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Jamad Keramik :: Gerabah Kasongan, Menawan Wisatawan

JANUARI 2012


Jamad Keramik

Gerabah Kasongan, Menawan Wisatawan

 

Ketenaran Gerabah Kasongan tidak diragukan lagi. Siapa yang tidak kenal berbagai macam keramik yang dihasilkan di daerah ini. Kerajinan yang sudah bisa menembus pasar ekspor ke negara ASEAN, bahkan Eropa. Salah satu pengusaha keramik di daerah ini adalah Fendi Prabowo, seorang anak muda yang lebih memilih meneruskan usaha ayahnya daripada menjadi pekerja kantoran.

Fendi, seorang pengusaha kerajinan gerabah “Jamad Keramik”. Gerabah produksinya meruapkan satu dari sekian kerajinan gerabah yang ada di daerah Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Usaha kerajinan gerabaih ini sudah terkenal  sampai ke luar negeri. berbagai bentuk dan ukuran gerabah dibuat untuk menarik pembeli baik wisatawan lokal maupun asing dengan kualitas bermutu.

Usaha kerajinan gerabah ini  dimulai sejak tahun 1977, dan Fendi meneruskan usaha dari ayahnya ini sampai sekarang.  Awalnya, gerabah yang dihasilkan hanya terbatas untuk peralatan keperluan rumah tangga, seperti kendi (wadah air mium), gentong, anglo (sejenis kompor dengan bahan bakar arang, untuk memasak), kendil untuk memasak, dan lain-lain. Sekarang, seiring perkembangan jaman, kerajinan gerabah yang dijual semakin bervariasi, mulai dari pernak-pernik kecil untuk souvenir (biasanya untuk souvenir pengantin), hiasan, pot untuk tanaman, penunjang interior (lampu hias, patung, furniture, dan sebagainya). Bahkan dalam perkembangannya, produk yang dihasilkan kini bisa meliputi bunga tiruan, topeng-topengan, celengan, dan masih banyak yang lainnya.

 

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Roti Ulil , Roti Mini Keuntungan Maksi

DESEMBER 2011

 

Menikmati roti satu ini, seseorang perlu mencobanya. Selain pilihan rasanya banyak, mengenai harga pembeli tidak perlu merogok kocek terlalu dalam. Dengan harga Rp. 500 per-roti, pembeli sudah dapat merasakan kelembutan roti ukuran mini ini.

Adalah Kholilurrahman (23), pemilik usaha roti mini itu. Berlabel ‘Roti Ulil’ dengan mengambil panggilan nama dirinya, Ulil, Roti Ulil mencoba menawarkan bentuk roti berukuran mini dengan harga yang murah namun tetap kualitas tinggi.

Ide pembuatan roti mini ini, sebenarnya sudah dirintis sejak 2008 silam. Dengan sebelumnya bergerak di jenis yang sama yakni roti bakpia sejak 2002, namun pada 2010 keluarga Ulil berganti haluan membuat roti mini dengan pilihan beragam rasa seperti coklat, blueberry, dan pisang.

“Sekitar 8 tahun terakhir, keluarga sudah menjalani usaha roti bakpia. Waktu itu berbarengan menjalani usaha roti bakpia dengan Roti Ulil,” kata Ulil yang baru memegang usaha roti mini ini pada Juli lalu.

Keluarga Ulil tergolong keluarga pengusaha. Bagaimana tidak, ibunya seorang penjual lauk makan, sang ayah pengusaha kerupuk membuatnya merasa kalau darah pengusaha mengalir pada dirinya. “Usaha roti bakpia waktu itu dijalani sama abang saya. Hingga suatu hari Roti Ulil saya yang pegang, meski sempat Roti Ulil juga pernah dijalani sama abang saya,” ujar Ulil anak ke-2 dari empat bersaudara ini.

Menurut Ulil, usaha roti mini gampang-gampang susah untuk dijalani. Untuk pemasaran sendiri, Ulil mengaku memasarkannya baru di sejumlah toko dekat rumahnya. Untuk pilihan rasa, Roti Ulil menyediakan enam rasa yakni stroberi, blueberry, pisang, pisang coklat, abon, dan coklat.

Namun siapa sangka, proses perjalanan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Kini, Roti Ulil mulai merasakan angin segar. Keuntungannya pun mulai meningkat, sementara dari segi produksi yang dulu hanya sehari membuat 100 roti, kini mencapai 500 roti perhari.

Sementara itu, untuk modal usaha Roti Ulil bagi lulusan Sastra Arab di sebuah perguruan tinggi Islam negeri di Jakarta, tidaklah terlalu dipermasalahkan. Ia menceritakan, modal awal pembuatan Roti Ulil dirinya bermodal Rp. 100 ribu.

“Modal sebenarnya tidak terlalu mahal. Tapi seyogyanya, modal besar berpengaruh untuk mendapatkan keuntungan besar pula. Juga sebaliknya,” jelas Ulil.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Menghidupkan Usaha Turun-temurun

NOVEMBER 2011

 

Telur Asin Khas Tegal-Brebes

Di pertengahan tahun 2009, Nani mulai menghidupkan kembali usaha telor asin yang sejak tahun 2004 telah dirintis oleh  orang tuanya. Pada awalnya sangat  tidak mudah  untuk memulai kembali usaha turun-temurun tersebut karena sulitnya mendapatkan modal, namun berkat keuletan dan kegigihannya Ibu muda ini akhirnya  mampu memproduksi 4.500 butir telor asin perhari  tergantung dari ketersediaan telur asin para peternak bebek di kampungnya, Tegal. Untuk mengembangkan usaha hingga ke mancanegara, Ia mencoba menginovasikan  telur asin produksinya dengan menambahkan  berbagai varian rasa.

Awal Berwirausaha

Kandungan kalsium telur asin meningkat 2,5 kali setelah pengasinan. Tingginya nilai gizi dan rasa yang khas menyebabkan telur asin banyak diminati masyarakat. Peluang yang cukup besar tersebut tidak disia-siakan oleh  Ibu muda lulusan D3 Ekonomi akuntansi UNDIP ini. Ditemui di kediamannya di desa Pesurungan Lor  RT 01/03, Tegal, Jawa tengah, Nani Kusrini memaparkan awal upayanya merintis kembali usaha telur asin.

Bakat wirausaha yang diwarisi dari orang tuanya  memberikannya keberanian untuk masuk dalam dunia usaha meski usianya baru beranjak 25 tahun. Pekerjaannya sebagai staf pengajar sekolah lanjutan ekonomi di Tegal  ditinggalkannya demi melanjutkan usaha telur asin yang dirintis orang tuanya itu. Tekad utamanya ingin memajukan usaha keluarga.

Upayanya merintis kembali usaha  yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya itu, antara lain juga karena orang tuanya telah meninggal dunia. Produksi awalnya hanya 300 hingga 600 butir telur saja per hari. orangtuanya membangun usaha telor asin di pelataran rumah mereka. Telur-telur tersebut kemudian dikirimkan ke Jakarta setiap 10 hari sekali. Kemudian setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, usaha telur asin keluarga menjadi terbengkalai saat itulah ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar dan mengambil alih usaha almarhum orang tuanya itu. Dengan kegigihan dan semangat muda yang ia miliki usaha telur asin kembali menggeliat. Jumlah permintaan baik dari pasar lokal maupun dari Jakarta setiap harinya semakin meningkat, produksi terus ditingkatkan hingga akhirnya kini  Nani mampu  memproduksi telur asin mencapai 3.000 hingga 4.500 butir per harinya.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Yogurt Segar dan Bermanfaat


Siapa yang tidak tahu minuman Yoghurt. Minuman yang terbuat dari hasil fermentasi susu ini terbilang sangat di gemari oleh anak-anak dan dewasa karena manfaatnya yang begitu banyak bagi kesehatan tubuh. Heri Ruspian dengan keahliannya dia mampu menyulap susu menjadi minuman yoghurt yang menyehatkan.

Sejak tahun 2009 Heri Ruspian Bersama anak dan istrinya mulai membangun usaha home industri dengan memproduksi yoghurt. Usaha yang di tekuninya selama dua tahun telah mampu mengangkat perekonomian keluarga. Sebelumnya Heri Ruspian adalah seorang karyawan swasta yang sudah bekerja selama hampir 25 tahun sejak 1982 di Bandung namun di tahun 2009 perusahaan yang dia tempati mengalami kemerosotan produksi sehingga, perusahaan terpaksa memutuskan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya termasuk Heri Ruspian.

Membiayai Sekolah dan Kuliah Anak Dengan Membuat Yoghurt

Kenyataan pahit harus diterima oleh Heri Ruspian dan keluarga, namun pasca PHK beliau tidak putus asa. Selang beberapa bulan di PHK beliau segera bangkit dari keterpurukan itu. Heri Ruspian pun berinisiatif mendirikan usaha kecil-kecilan yakni membuat yoghurt. Membuat yoghurt dinilai mudah dalam pembuatannya karena sebelumnya Heri Ruspian telah terbiasa mengolah susu menjadi yoghurt, keahlian ini dia dapati ketika Heri Ruspian masih bekerja dulu. “Saya memilih membuat yoghurt karena terbilang mudah dan sebelumnya saya bekerja di bagian laboratorium penelitian susu ditempat saya bekerja”, papar pria kelahiran 1962 Bandung, Jawa Barat. Kini usaha yang dijalani Heri Ruspian bersama keluarga mulai merangsek pesat. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya itu, sekarang Heri Ruspian mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang strata satu di universitas negeri di daerah Bandung, jawa Barat. “Alhamdulilah berkat usaha ini anak saya bisa kuliah dan saat ini dia tengah menyusun skripsi”, tutur suami dari Tatih Komala.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...