Kue Ajaib

JANUARI 2012

Ada seorang nenek dan kakek tua yang hidup di sebuah rumah tua. Suatu hari si nenek menemukan buku resep ku kuno yang aneh. Dari resep buku itu si nenek ingin membuat kue jahe yang berbentuk boneka atau orang-orangan. Demikianlah setelah adonan selesai, ia memasukkannya ke ruang oven. Tapi baru sebentar oven dipanaskan, tiba-tiba terdengar suara lirih. “Keluarkan Aku! Keluarkan Aku!” Si nenek mendekat, kemudian dibukanya pintu oven. Ia kaget mendapati si kue jahe langsung melompat dari oven dan berlari ke luar rumah. Kakek dan nenek tua mengejarnya. “Berhenti! Kami akan memakanmu!” Namun suara mereka tidak dihiraukan. Si kue jahe terus berlari sambil bernyani.

“Akulah si kue jahe/ Lariku secepat angin/ Mengejarkau tidaklah mungkin.”

Di dekat perkebunan, si kue jahe bertemu seekor sapi. “Berhenti kau orang kecil! Kelihatannya kau enak sekali. Aku ingin memakanmu!” Si kue jahe hanya menoleh dan menersukan lari dengan nyanyian yang sama. Sapi coba mengejar sampai nafasnya ngos-ngosan, namun ia tak mampu menandingi si kue jahe. Begitu pula ketika si kue jahe bertemu kuda, ia terus berlari dan tak terkejar hewan-hewan yang ingin memakannya. Lama-lama si kue jahe menjadi sombong.

Suatu hari kue jahe bertemu seekor rubah. “Hei orang kecil! Berhentilah sebentar,” sapa rubah. “Ada apa, Rubah?” tanya si kue jahe. “Ada yang ingin kukatakan padamu,” jawab rubah sambil menjilati bibir karena sangat ingin memakan kue itu. Tapi si kue jahe terus berlari dan bernyanyi.

“Akulah si kue jahe / Lariku secepat angin/ Mengejarkau tidaklah mungkin.”

Rubah mengejar dengan sabar. Ia membuntuti kue dari hutan sampai di tepi sungai. Kue jahe tidak bisa berenang, ia berdiri terpaku di atas batu.

“Aku akan menolongmu menyeberang sungai. Melompatlah ke ekorku,” ujar rubah dan mendekati kue jahe. Maka si kue jahe melompat ke ekor rubah, dan rubahpun mulai berenang. Tapi rubah berkata lagi, “Aduh! Kamu terlalu berat untuk ekorku. Melompatlah ke punggungku.” Si kue jahe pun menurut. Tak lama kemudian, rubah berkata lagi, “Aduh! Kue jahe. Kamu terlalu berat untuk punggungku. Melompatlah ke atas moncongku.” Si kue jahe pun melompat dengan gesit ke atas monocng rubah. Ia masih belum mengetahui rencana si rubah.

Dan akhirnya, keduanya tiba di seberang sungai. Rubah menengadahkan kepala dengan gerakan sangat cepat. Si kue jahe yang tidak menduga langusng terlempar, kemudian meluncur ke bawah. Saat itu mulut rubah yang menganga lebar sudah menunggunya. “Glek!” kue jahe pun langsung masuk ke mulut rubah. Tamatlah riwayat si kue jahe yang berlari secepat angin.  (lin)

AddThis Social Bookmark Button