Kelinci dan Kura-Kura
OKTOBER 2011
Pada suatu hari Kelinci nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat untuk dibuka. “Hoaaamh.” Kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, Kelinci merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, Kelinci berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cepat larinya. Tidak ada yang dapat menandingi kecepatan lariku” Sambil membusungkan dadanya, Kelinci mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di tikungan jalan, ia bertemu dengan Kura-kura. “Hai,
kelinci !” sapa Siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?” tanya Kura-kura. “Tidak. Aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cepat larinya,” jawab Kelincil dengan sombongnya. “Masya Allah.
Sombong sekali. Aku juga bisa kok, lari cepat,” kata Kura-kura. “Hahahaha, mana mungkin?! Mau ke sungia saja kau butuh waktu satu hari,” ledek Kelinci. “Baiklah. Kalau kamu tidak percaya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?” tantang Kura-kura. “Oke, aku terima tantanganmu,” jawab Kelinci. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
***
Hari yang dinanti tiba. Seluruh penghuni hutan berkumpul di tempat yang disiapkan untuk lomba lari antara Kelinci dan Kura-kura. Ada ular, kerbau, gajah, ayam, jerapah, dan lain-lainnya. Tanpa sepengetahuan Kelinci, Kura-kura meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau Kelinci memanggil. Kelinci dan Kura-kura pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap?” tanya Kelinci. “Tentu saja,”ucap Kura-kura. “ Aku pasti menang,” jawab Kelinci dan disambut senyum oleh Kura-kura. Monyet yang menjadi juri segera menyuruh mereka bersiap. “Bismillah, nanti hitungan ketiga, kalian berlari ya? 1…2…3…” Kelinci langsung berlari secepat mungkin, sementara Kura-kura berjalan santai di pinggir jalan. Beberapa saat kemudian, Kelinci menoleh ke belakang dan melihat belum ada bayangan Kura-kura. “Hahaha, apa juga aku bilang? Pasti Kura-kura itu tidak bisa mengalakahkanku,”ujar Kelinci dengan pongah. “Kata siapa? Aku sudah berada di depanmu, Kelinci,”sahut Kura-kura mengejutkannya. Kelinci terkejut melihat Kura-kura sudah ada di depannya. Dengan segera, ia kembali berlari secepat mungkin.
Kelinci tertawa puas melihat Kura-kura tertinggal jauh. Ia melambatkan larinya, sampai benar-benar berhenti sejenak untuk istirahat. “Pasti Kura-kura masih tertinggal jauh. Aku makan dululah.” Belum sampai tiga kali kunyahan, terdengar suara di kejauhan. “Hai, pemalas. Kenapa kau berhenti? Aku sudah mendahuluimu sejak tadi,”ujar Kura-kura yang melenggang santai jauh di depannya. Kelinci terlonjak kaget, dan tidak menyangka Kura-kura mendahuluinya. Ia kembali berlari lebih cepat. Beberapa saat berlalu, Kelinci memanggil Kura-kura. “Hei, Kura-kura! Apakah kau sudah pingsan?”ejek Kelinci. “Tenang, aku masih kuat. Lihat saja di depan.” Dan lagi-lagi Kelinci kaget karena Kura-kura sudah berjalan jauh di depannya. Ia semakin mempercepat larinya. Garis finish sudah terlihat, Kelinci memperlambat larinya dan berkata dengan pongah. “Hahaha, aku sudah bilang, kau pasti kalah, kura-kura.” Tapi Kelinci salah, Kura-kura tersenyum manis selangkah lagi dari garis finish dan melambaikan tangannya memanggil Kelinci. “Hai, Kelinci! Lambat benar kau! Aku sudah sampai di sini dari tadi.” Teriakan Kura-kura disambut tepuk tangan riuh para penghuni hutan. Kelinci benar-benar kaget, ia berusaha mempercepat larinya, tapi Kura-kuralah yang akhirnya memenangkan lomba tersebut dan sampai lebih dulu dari Kelinci. Dengan menahan rasa malu, Kelinci berjalan tertunduk mendekati Kura-kura. Para penghuni hutan tertawa melihat tingkah Kelinci. “Makanya, jangan pernah merasa sombong dengan apa yang dimiliki,”sahut Kura-kura. “Iya, maafkan aku. Memang tidak seharusnya aku begitu,”ucap Kelinci. “Memang sikap sombong itu tidak baik. Jadi, nggak boleh dipelihara, kan?!” ujar Ayam bergaya, dan disambut tawa dan tepuk tangan riuh para penghuni hutan. (nda)






