Beruang Kecil dan burung Gagak
DESEMBER 2011

“Hiks...hiks...hiks” Terdengar jelas suara tangisan seekor Beruang kecil. Namun, tidak lama kemudian datang temannya seekor burung Gagak yang hinggap di sebelahnya. “Beruang kecil, kamu kenapa menangis?” Tapi, beruang kecil it uterus saja menangis tanpa henti. Burung gagak sudah mencoba berbagai cara agar beruang kecil itu berhenti menangis, tapi tak berhasil. Justru, burung gagak yang akhirnya jatuh karena terlalu sibuk menghibur beruang kecil itu dan jatuh. “Aduh.” Beruang kecil langsung berhenti menangis dan tertawa melihat adegan itu. “Hei. Akhirnya aku berhasil membuatmu tertawa,” sahut burung Gagak dengan senyum lebar. “Kamu kenapa mengais?” tanyanya keheranan. “Tadi waktu ibu tidur, aku keluar bermain. Dan ternyata aku sudah jauh sekali meinggalkan rumahku. Aku tersesat. Padahal ibu menyuruhku tidur.” “Apa kau ingat jalan ke rumah?” tanya burung gagak, disambut gelengan kepala beruang kecil. “Wah bisa runyam urusannya.” Burung gagak menggaruh kepalanya yang tidak gatal.
Berdua mereka menyusuri jalan yang tadi dilewati beruang kecil, berharap akan menemukan rumah beruang itu. “Waduh. Aku capek sekali. Aku mau istirahat dulu.” Burung gagak menjatuhkan badan di bawah pohon. Beruang kecil hanya menurut saja dan duduk di sampingnya. “Kau lapar?” tanya burung Gagak. Beruang kecil mengangguk, membuat burung Gagak kemudian terbang ke atas pohon dan mengambil beberapa buah yang masak, lalu menyerahkannya pada beruang kecil. Setelah kenyang, mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, di kejauhan mereka mendengar suara memanggil-manggil beruang kecil. Beruang kecil terlonjak, ia katakana itu adalah suara ibunya. Bergegas segera dicarinya sumber suara itu. Di ujung jalan dilihatnya sang induk Beruang menatapnya cemas. “Ibu. Maafkan aku yang sudah menyusahkanmu,” sahut beruang kecil seraya memeluk ibunya. Induk Beruang tersenyum arif dan memeluk anaknya. Tak lupa, beruang kecil dan induknya berterima kasih karena burung Gagak sudah mau menemaninya mencari jalan pulang. Ia berjanji, jika nanti burung Gagak butuh pertolongan, ia siap membantu.
“ Ibu, apa kau marah padaku?” tanya beruang kecil. “Tidak, Nak. Tapi lain kali kamu harus bersama ibu kalau mau pergi. Hutan ini sangat luas dan buas. Kau mengerti, Nak?” Beruang kecil mengangguk dan menggenggam tangan ibunya menuju rumahnya yang hangat. Ia berjanji dalam hati takkan mengulangi kesalahan hari ini. (Jh)






