NOVEMBER 2011
Tikus tanah telah berkerja keras sepanjang pagi membersihkan seluruh ruangan di rumah kecilnya di bawah tanah. Pertama-tama dengan sapu, lalu kain lap, sesudahnya ia menggunakan kuas serta seember cat kapur. Musim panas telah tiba. Tikus tanah berharap musim panas ini akan menyenangkan, namun tiba-tiba ia merasa sangat lelah dan bosan dengan pekerjaan rumahnya itu, ia merasa memerlukan suasana lain. Akhirnya ia putuskan untuk bergegas ke luar rumah, melalui terowongan kecil yang curam, sampai akhirnya, tuing.. moncong tikus tanah muncul di atas permukaan padang rumput yang hangat. “ Ini luar biasa!” katanya pada diri sendiri. “Ini lebih seru dari pada mengecat rumah!” Ia bergegas melintasi padang rumput sehingga mencapai pinggir bendungan.
Semua bagitu menyenangkan, ia sibuk mondar-mandir memperhatikan pekerjaan satwa-satwa lain, ada burung-burung yang sedang membuat sarang, para semut yang sedang mengumpulkan makanan serta satwa-satwa lainnya yang giat bekerja. Kemudian tikus tanah tiba-tiba melihat seekor tikus berada di tepi sungai yang sedang asyik berdendang riang, tikus tanah menghampiri tikus tersebut.
“Hai, tikus air,” sapa tikus tanah dengan ramah. “Hai, tikus tanah. Senang bertemu denganmu,” sahut tikus air. “Maukah kau mampir di rumahku?”tambahnya. “Tentu, di mana rumahmu tikus air?” “ Rumahku di ujung sungai ini. Mari naik perahu denganku.” Mereka berdua segera menaiki perahu mungil di pinggir sungai. “Asyik...” seru tikus tanah dengan riang.