Dongeng

Raja Hutan dan Rakyatnya

FEBRUARI 2012

Sinar matahari yang hangat menyinari hutan belantara yang sangat luas, di sana hiduplah sekawanan satwa liar. Satwa-satwa tersebut hidup damai di bawah titah Sang raja hutan. Sang Raja selalu memperhatikan kehidupan rakyatnya agar ekosistem hutan selalu seimbang. Manusia selalu ingin memburu satwa-satwa tersebut untuk kepentingan manusia sendiri, akan tetapi masalah tersebut akhirnya dapat diselsaikan oleh Sang Raja dan para rakyatnya yang kreatif dalam memecahkan masalah.

Sang Raja ingin mengadakan festival hutan untuk merayakan kebebasan satwa-satwa hutan dari perburuan liar itu, namun Sang Raja menemui kebingungan tentang festifal seperti apakah yang akan diadakan, kemudian Sang Raja pun bertanya kepada para penasihatnya, Si Keong dan si Musang.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Kue Ajaib

JANUARI 2012

Ada seorang nenek dan kakek tua yang hidup di sebuah rumah tua. Suatu hari si nenek menemukan buku resep ku kuno yang aneh. Dari resep buku itu si nenek ingin membuat kue jahe yang berbentuk boneka atau orang-orangan. Demikianlah setelah adonan selesai, ia memasukkannya ke ruang oven. Tapi baru sebentar oven dipanaskan, tiba-tiba terdengar suara lirih. “Keluarkan Aku! Keluarkan Aku!” Si nenek mendekat, kemudian dibukanya pintu oven. Ia kaget mendapati si kue jahe langsung melompat dari oven dan berlari ke luar rumah. Kakek dan nenek tua mengejarnya. “Berhenti! Kami akan memakanmu!” Namun suara mereka tidak dihiraukan. Si kue jahe terus berlari sambil bernyani.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Beruang Kecil dan burung Gagak

DESEMBER 2011

“Hiks...hiks...hiks” Terdengar jelas suara tangisan seekor  Beruang kecil. Namun, tidak lama kemudian datang temannya seekor burung Gagak yang hinggap di sebelahnya. “Beruang kecil, kamu kenapa menangis?” Tapi, beruang kecil it uterus saja menangis tanpa henti. Burung gagak sudah mencoba berbagai cara agar beruang kecil itu berhenti menangis, tapi tak berhasil. Justru, burung gagak yang akhirnya jatuh karena terlalu sibuk menghibur beruang kecil itu dan jatuh. “Aduh.” Beruang kecil langsung berhenti menangis dan tertawa melihat adegan itu. “Hei. Akhirnya aku berhasil membuatmu tertawa,” sahut burung Gagak dengan senyum lebar. “Kamu kenapa mengais?” tanyanya keheranan. “Tadi waktu ibu tidur, aku keluar bermain. Dan ternyata aku sudah jauh sekali meinggalkan rumahku. Aku tersesat. Padahal ibu menyuruhku tidur.” “Apa kau ingat jalan ke rumah?” tanya burung gagak, disambut gelengan kepala beruang kecil. “Wah bisa runyam urusannya.” Burung gagak menggaruh kepalanya yang tidak gatal.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Tikus Tanah dan Tikus Air

NOVEMBER 2011

Tikus tanah telah berkerja keras sepanjang pagi membersihkan seluruh ruangan di rumah kecilnya di bawah tanah. Pertama-tama dengan sapu, lalu kain lap, sesudahnya ia menggunakan kuas serta seember cat kapur. Musim panas telah tiba. Tikus tanah berharap musim panas ini akan menyenangkan, namun tiba-tiba ia merasa sangat lelah dan bosan dengan pekerjaan rumahnya itu, ia merasa memerlukan suasana  lain. Akhirnya ia putuskan untuk bergegas ke luar rumah, melalui terowongan kecil yang curam, sampai akhirnya, tuing.. moncong tikus tanah muncul di atas permukaan padang rumput yang hangat.  “ Ini luar biasa!”  katanya pada diri sendiri.  “Ini lebih seru dari pada mengecat rumah!” Ia bergegas melintasi padang rumput sehingga mencapai pinggir bendungan.

Semua bagitu menyenangkan, ia sibuk mondar-mandir memperhatikan pekerjaan satwa-satwa lain, ada burung-burung  yang sedang membuat sarang, para semut yang sedang mengumpulkan makanan serta satwa-satwa lainnya yang giat bekerja. Kemudian tikus tanah tiba-tiba melihat seekor tikus berada di tepi sungai yang sedang asyik berdendang riang, tikus tanah menghampiri tikus tersebut.

“Hai, tikus air,” sapa tikus tanah dengan ramah. “Hai, tikus tanah. Senang bertemu denganmu,” sahut tikus air. “Maukah kau mampir di rumahku?”tambahnya. “Tentu, di mana rumahmu tikus air?” “ Rumahku di ujung sungai ini. Mari naik perahu denganku.”  Mereka berdua segera menaiki perahu mungil di pinggir sungai. “Asyik...” seru tikus tanah dengan riang.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Kelinci dan Kura-Kura

OKTOBER 2011

Pada suatu hari Kelinci nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat untuk dibuka. “Hoaaamh.”  Kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, Kelinci merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, Kelinci berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cepat larinya. Tidak ada yang dapat menandingi kecepatan lariku” Sambil membusungkan dadanya, Kelinci  mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di tikungan jalan, ia bertemu dengan Kura-kura. “Hai,

AddThis Social Bookmark Button

Read more...