Kembang di Hati Naya

NOVEMBER 2011

Aisyah Lsety

 

Pucuk pinus di kaki bukit melambai indah

Luruhkan gerah jiwa yang mengembun dalam duka dan resah

Menunduk diam hati mencari kompensasi jati diri

Merangkai  getas asa di batas janji

“Nay, masih betah di sini?” Naya segera menutup buku hariannya mendapati Neina sudah duduk manis di sebelahnya. “Kenapa? Kalau kau sudah bosan, pulang saja dulu. Aku masih ingin menikmati senja.” Naya menatap lurus ke depan. Neina mendesah lirih. “Ya sudah, aku duluan. Jangan terlalu sore ya pulangnya.” Neina beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Naya yang masih terpaku menatap senja. “Neina, andai saja kau tahu. Aku sakit sekali rasanya melihat Yoan meninggalkanku begitu saja kemarin setelah kami berpisah lima tahun lalu.” Naya bergumam dalam resahnya, meratapi pertemuannya dengan Yoan tempo hari.

Siang masih terik, saat Naya dan Neina, sepasang sahabat yang sudah seperti saudara kembar itu pulang sekolah. Dan bukan salahnya, kalau mobil Naya mogok. Mereka terpaksa turun dan menunggu mobil selesai diperbaiki. Tak ada yang membuat skenario, kenapa pegawai yang memperbaiki mobil Naya adalah Yoan, teman di masa lalunya. Untuk sejenak, Yoan tertegun menatap Naya, melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan belum sempat Naya menyapa, Yoan berlalu tanpa mengatakan ‘Hai, apa kabar? Lama tidak bertemu?’ atau ‘Oh, Naya. Akhirnya kita bertemu di sini ya’. Begitu berubahnyakah ia sampai menyapanya pun enggan? Naya terpaku, tak mengerti dengan sikap Yoan. Begitu pula Neina yang memandang tajam kea rah Yoan. Ataukah, karena keadaanku sekarang membuatnya tak mau berteman denganku lagi. Usik hati Naya pelan. Ada desah kecewa keluar dari bibir Naya.

***

“Nay, ada tamu untukmu.” Neina berujar kaku dan langsung masuk ke dalam rumah. Akhir pekan begini, memang Naya dan Neina sering menghabiskan waktu di rumah. Naya sempat mengerutkan kening melihat perubahan wajah Neina. Tapi begitu dilihatnya siapa yang datang, Naya maklum dengan sikap Neina barusan. “Nay, aku mau bicara denganmu.” Aku diam tak menanggapi ucapan Yoan yang duduk di depanku. “Ada apa? Bukannya kamu nggak mau menemuiku lagi,” sahut Naya ketus. “Maafkan aku Nay. Aku nggak tahu kalau akhirnya begini. Coba kamu bilang dari awal. Pasti tidak akan seperti ini.” Naya membuang muka ke bunga-bunga yang disirami Neina tadi pagi. “Aku minta maaf. Karena aku, kau harus menderita sekarang. Maafkan sikapku yang membuatmu salah pengertian. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Kemarin aku kaget melihatmu. Aku syok. Akulah penyebab kau begini.” Naya menunduk. “Entahlah. Kadang aku marah sekali padamu. Salahku mengejarmu waktu itu, dan kau tak menyadarinya. Aku tahu, aku yang salah menilai persahabatan kita. Aku belum mau memaafkanmu, kalau kau belum memenuhi janjimu padaku lima tahun lalu.” Naya bersedekap, meski dalam hati sudah lama memaafkan Yoan, tapi ia tak bisa menahan tawa melihat kebingungan di wajah itu. Perlahan, kembang di hati Naya mulai merekah lagi. Meski air yang menyiraminya kini berbeda. “Kamu pernah janji mengajakku ke sana untuk melihat senja,” ujar Naya menunjuk bukit pinus di lereng gunung. Yoan tersenyum. “Baiklah. Aku akan mengajakmu sore ini. Tidak ada kegiatan, kan? Dan kau harus janji akan selalu menjadi sahabatku.” Naya mengangguk senang. “Neina diajak, ya?” Yoan tersenyum mengiyakan. Ia mengucap syukur dalam hati, karena Tuhan mempertemukannya kembali dengan Naya. Sementara itu, Neina mempersiapkan segala sesuatu sebelum pergi. Bertiga, Naya, Neina, dan Yoan menuju bukit pinus menikmati senja. Yoan mendorong kursi roda Naya. Ah, kalau saja dulu ia tak pergi, tak akan seperti ini jadinya. Yoan terus mendorong kursi roda Naya sambil bercerita pengalamannya selama berpisah dengan Naya meski ada perih di hatinya. Seorang Naya yang periang, aktif dan pintar harus duduk manis di kursi roda setelah sebuah mobil menabraknya saat mengejar Yoan. Semoga saja, masa lalu kelam tak terulang lagi. Itulah harapan di hati ketiga insan yang tak terucap oleh lisan. Naya sendiri juga mulai bisa menerima kehadiran Yoan di hari-harinya, sebagai sahabat. Memekarkan kembali kembang di hati dengan pupuk persahabatan yang lebih abadi. Naya tak mau menyesali lagi kondisinya kini, karena hidup harus tetap berlanjut.

Pondok Aren, September 14/ 2011sg

AddThis Social Bookmark Button