Hari Ini, Esok dan Selamanya
FEBRUARI 2012
Hari demi hari menguntai sejalan dengan waktu
Cerita demi cerita terjalin seiring putaran masa
Canda tawa serta tangis airmata menghias tanpa kata
Takkan hilang meski perpisahan akhirnya datang jua...
Tiga tahun sudah Mutia, Sabrina dan Neva menjalani hari-hari mereka di bangku SMP bersama-sama. Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Masa-masa orientasi siswa, pemilihan ketua OSIS hingga Ujian Akhir Nasional telah mereka lewati bersama. Tak lama lagi hasil ujian mereka akan diumumkan, dan selesailah masa-masa Sekolah Menengah Pertama mereka.
“Aku akan melanjutkan sekolah di Bandung.” Neva membuka percakapan siang itu. Mutia dan Sabrina menoleh bersamaan. “Aku berniat melanjutkan kuliah di ITB, makanya aku juga akan sekolah SMA di sana. Kalian tau kan, impianku selama ini?” Neva melanjutkan. Jari lentiknya menggores-gores meja di hadapannya. Sabrina menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Semilir angin menerobos masuk dari jendela kelas dan memainkan jilbab ketiga gadis itu. “Aku juga nggak akan melanjutkan SMA di Jakarta,” Sabrina berkata pelan. Kontan Neva dan Mutia tersentak kaget. “Serius, kamu Sa? Katanya kamu mau melanjutkan ke SMA idaman kamu di daerah Bulungan itu?!” Mutia menatap Sabrina dengan keheranan. “Ya, mauku begitu, tapi kata orangtuaku siswa di sekolah itu nggak baik, suka tawuran, jadi aku akan ikut Mbak Sazkia di Jogja. Siapa tau aku bisa melanjutkan ke UGM seperti Mbak Sazki, begitu kata ayahku,” sahut Sabrina tanpa semangat. Kini giliran Mutia yang menghela nafas. “Berarti aku akan melanjutkan SMA di Jakarta tanpa kalian,”ujarnya sedih. Tanpa dikomando ketiga gadis itu saling menggenggam tangan satu sama lain, seakan berbagi kekuatan dan berusaha agar tak terpisahkan.
***
Papan pengumuman kelulusan dipenuhi siswa-siswi kelas Sembilan. Tetapi di sudut taman ada tiga orang siswi yang nampak tak bersemangat berkerumun di depan papan pengumuman. Neva, Mutia dan Sabrina memilih duduk di sudut taman. Lucunya, mereka tak saling berbincang, hanya duduk memandang ke arah yang berlawanan dan membiarkan pikiran mereka kebas. Gundah, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan perasaan mereka saat ini.
“Hei! Ini keadaan yang sangat aneh ya?!” Mutia memecah kebisuan di antara mereka. Neva menoleh ke arah Mutia dan manyahut. “Entahlah, perasaanku saat ini begitu membingungkan. Rasanya sulit diungkapkan.” Sabrina memilih tetap diam, memandang kedua sahabatnya bergantian, lalu kembali menatap langit luas dengan tatapan kosong. “Mungkin ini situasi yang memang tidak menyenangkan bagi kita semua, Sabrina harus pindah ke Jogja, Neva juga harus mengejar mimpi dan pindah ke Bandung. Dan aku,akan menjalani hari-hariku di sini tanpa kalian, entah sampai kapan.” Mutia mencoba kembali membuka percakapan. “Tapi, kupikir tidak seharusnya kita berdiam diri begini. Apalagi, kita tak memiliki banyak waktu lagi untuk bisa menghabiskan waktu bersama. Lalu kenapa kita tak mencoba memanfaatkan kebersamaan kita ini dengan lebih bahagia?!” lanjutnya lagi. Neva menatap Mutia tanpa berkedip, lalu bibirnya mengembangkan senyum. “Mutia benar, Sa. Berhentilah bersedih. Ini saatnya kita bersenang-senang sebelum kita benar-benar berpisah.” Neva mengelus bahu Sabrina pelan. Sabrina menggenggam tangan kedua sahabatnya dan berucap pelan. “Berjanjilah, sebelum kita benar-benar berpisah, bahwa persahabatan kita takkan berakhir sampai di sini.” Neva dan Mutia saling pandang sebelum mereka akhirnya serentak memeluk Sabrina.Terucap sudah kegelisahan hati Sabrina, dan kini mereka bisa saling memahami. “Aku janji, Sa. Kita akan tetap menjadi sahabat sekalipun kita tak lagi selalu menghabiskan waktu bersama-sama,” ujar Neva. “Ya. Kita akan tetap menjadi sahabat, hari ini, esok, dan selamanya,” sambung Mutia. Sabrina mempererat pelukannya. Air mata mereka turun mengiringi janji yang baru saja terucap. Janji untuk tetap menjadi sahabat meski jarak memisahkan mereka. Janji untuk tetap menjadi sahabat. Hari ini, esok, dan selamanya.
Vy Iskandar






