New Year Without You

JANUARI 2012

Teguhlah pada hatimu

Meski mawar merekah menjadi layu

Karena Tuhan akan selalu memberi pintu

Untuk mu datang mengetuk  dan  meminta sejumput maaf kelu

“Mo ikut ke mana, Bro? Puncak, Bali, atau Monas? Atau loe mau ikut kita naik gunung?” Aku mengerutkan kening. Dion melemparkan pertanyaan tanpa memberi kesempatan aku menjawabnya. “Kamu kan tahu, Di. Aku nggak pernah ikut acara begituan lagi sekarang,” sahutku agak gusar. Dion kan seharusnya mengerti, aku tidak pernah mengikuti aktivitas seperti itu lagi, setelah kejadian setahun lalu. “Oke. Selamat menikmati akhir tahun di masjid kalau begitu. Gue sama temen PA mau ke Semeru besok. Yakin nggak mau ikut?” Dion mencoba kembali menggoyahkan keputusanku. Aku menggeleng yakin, sebelum Dion akhirnya berlalu.

Yah, aku masih mengingatnya. Setahun lalu, sebelum nikmat ini memelukku dalam ketenangan. Aku masih berbaur dengan mereka yang sibuk menyambut akhir tahun dengan acara hura-hura. Nina, kekasihku yang dulu sangat kucintai ikut merayakan moment akhir tahun di Puncak. Setelah semua rombongan lengkap, kami anak-anak muda kelas 2 SMA berangkat dengan penuh suka cita. Tak ada yang menghendaki semua terjadi begitu saja. Malam itu, hujan rintik membuat jalanan licin dan semua mobil bergerak lambat, tapi tidak dengan mobil kami. Karena jiwa muda, tak ada kata lambat. Yang ada, kami harus segera sampai dengan kecepatan maksimal. Anung, yang mengemudikan mobil, melaju dengan kecepatan 100km/jam. Entahlah, bagiku, yang terjadi kemudian adalah bencana. Sampai di tol Cipularang, Anung mencoba menyalip sebuah mobil di depannya. Ah, aku tak tega membayangkan kembali teriakan-teriakan yang keluar ketika ia gagal menyalip, dan mobil kami justru menabrak pembatas jalan. Akulah, satu dari sekian penumpang yang selamat, kecuali Nina. Ia meninggal di tempat. Dan itu membuatku hancur, lebur dalam kedukaan meski semua teman datang menghibur, dan keluarganya ikhlas melepas kepergiannya. Ah, andai saja waktu itu aku tak mengajakmu, Nin.

***

Sore ini, aku masih terpekur di makammu, Nin. Terima kasih, karenamu aku menyadari, betapa hidup kita selama ini jauh dari nilai bersyukur dengan apa yang Tuhan beri. Dan berkat kakakmu, kini aku menjadi aktivis di sekolah kita. Kakakmu, Nino yang juga kakak kelas kita, yang terlebih dahulu menyadari bahwa hidup bukan hanya untuk hura-hura, sebelum kemudian mengajakku mengarungi indahnya kajian rohis di sekolah. Aku minta maaf ya, Nin, jika dahulu menjalin hubungan denganmu karena nafsu. Aku belum mengerti, bagaimana seharusnya menjaga hati. Tapi yakinlah, aku akan selalu mendoakanmu agar kau tenang, dan memaafkan salahku ini. Seperti yang dikatakan kakakmu kemarin, takdir hanya Tuhan yang tahu. Dan selama hidup, jangan pernah sia-siakan kesempatan untuk memperbaiki diri. Nin, kalau kau masih ada, kita pasti bisa memperbaiki semua lagi.

Doaku terpanjat dengan linangan air mata. Semoga Tuhan memaafkan kesalahan kita dulu ya, Nin. Dan semoga juga, tim SAR segera menemukan Dion yang belum ditemukan hingga hari ketiga setelah pergantian tahun. Ia berhasil melalui pergantian tahun di puncak Semeru, tapi kehilangan arah ketika turun gunung. Dion, orang yang selalu menguatkanku bahwa hidup harus terus berlanjut, meski orang yang kita sayangi pergi karena kesalahan kita. Sebuah kesalahan, yang akan selalu dimaafkan Tuhan jika kita mau bersungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya. Begitu juga denganmu, Dion. Sahabat yang ingin kurengkuh untuk menikmati indahnya iman bersamaku di sini, di masjid kecil ini.

Semanggi, Desember 5’11sg

(Aisyah Lsety)

AddThis Social Bookmark Button