Dialog 2 hati : Mega di Pantai Kuta

DESEMBER 2011

 

Warna langit  selalu berubah

Seperti hati yang dimiliki manusia

Namun, iman takkan tergoyah

Meski  Mentari  dan Bulan diajukan sebagai penggantinya

Nindhita:

Sudah dua bulan aku menepikan diri dari hiruk pikuk kota Denpasar. Berbagai rasa campur aduk mengusik hatiku. Bunda, maaf ya, aku belum siap menerima semua ini.  Masih kuingat gerimis pagi itu, bunda mengajukan pilihan yang sulit.

“Nin, kamu ikut Bunda saja ya? Nenek kan sekarang sudah nggak ada. Siapa yang nanti mengurusmu?” Aku menunduk sedih. Ada beberapa alasan yang menahanku di sini, Bunda. Masih ada kakek yang harus kutemani setiap waktu, setelah mata kirinya semakin rabun. Aku juga belum siap menerima keluarga kita yang berbeda-beda keyakinan.  Lalu, apa ada yang bisa membuatku menerima uluran tanganmu? Kau sudah menitipkanku sejak kecil di sini, Bunda. Aku terlanjur jatuh cinta dengan acaraku bertiga bersama kakek dan nenek mengaji setiap petang ba’da Magrib. Meski kini nenek pergi, aku masih bisa menikmati saat indah itu bersama kakek. Aku sudah memegang teguh keimanan ini, Bunda.  Aku tak ingin menyakitimu,

tapi aku juga belum siap melihat melihatmu membakar dupa demi dewa yang kau puja itu, Bun. Biarlah aku di sini mengeja hari, meilintasi waktu, dan menyambung hidup dengan usaha jualan cindera mata yang sudah nenek jalankan dari dulu. Terima kasih karena kau masih selalu menginginkanku kembali, Bunda. Aku tidak mau suamimu, ayah tiriku itu memintaku kembali menggadaikan iman yang sudah ditanamkan Ayahku sejak kecil demi duniawi. Aku akan bahagia di sini, meski hidup dalam keterbatasan.

 

Bunda:

Aku Berharap semua kembali seperti semula, Nin. Mengajakmu merenda hari bersama, meski tak satu jalan lagi. Seperti ketika kita berdua menikmati  langit merah di Pantai Kuta sore itu.

“Tak apa nin, aku akan tetap ke pura setiap pagi, dan kau sembahyang 5 waktu. Itu cukup kan?” Namun, aku terkesiap mendengar jawabmu yg memang tak bisa kusanggah kebenarannya.

“”Maaf, bunda. Nindhi ingn mnjaga kakkek, dan meneruskan hidp di sini sampai nanti. Nindhi tidak mau menuntut Bunda lebih.  Biarlah, nanti waktu yang akan menuntun Bunda kembali kepada kami, bersama meniti waktu. Yakinlah, Bunda selalu di hati Nindhi. Dan Nindhi selalu doakan yang terbaik unttk Bunda. Maaf.”

Yah, aku pasrah. Maaf ya, kalau bunda belum bisa mengikuti jalanmu. Bunda masih terikat dengan laki-laki yang menjadi ayah dari anak-anak bunda dengannya.  Suamiku yang punya arogansi memilihkan Hindu sebagai agamaku.  Aku masih mempunyai asa itu, Nin. Asa ketika, aku, kau, dan ayah bersama melewati hari menyusuri pantai dengan riang tawa dan iman yang sama. Suatu saat nanti.

Semanggi, November 6/2011pg

 

(Aisyah Lsety)

AddThis Social Bookmark Button