Cerpen Remaja

More Articles...

Sekotak Ta’jil

AGUSTUS 2013

Mimi berjalan terburu-buru menuju masjid yang terletak di ujung jalan gang rumahnya. “Ayo kak, cepetan! Nanti Ta’jil yang dibagikan panitia keburu habis,” ucapnya sambil menarik tangan Kak Nung. “Sabar, Mi. Ini masih jam 5 sore, masih lama waktu berbukanya,” jawab Kak Nung sambil berjalan pelan mengkuti langkah Mimi.

Mimi hanya memonyongkan mulutnya mendengar ucapan Kak Nung. “Jangan cemberut sayang, orang yang berpuasa itu harus sabar. Jangan takut kehabisan ta’jil, karena niat kita menuju masjid itu untuk ibadah, bukan untuk mengharapkan makanan,” kata Kak Nung.

Sepanjang jalan, mata Mimi tak henti-hentinya menatap sekeliling para pedagang di sekitar masjid yang menjual makanan khas buka puasa yang tentunya menggugah selera. Namun, pandangannya terhenti melihat seorang ibu pengemis bersama ketiga anaknya yang masih kecil duduk di pinggir pagar masjid.

“Ih, dasar pengemis! Pasti mau minta bagian ta’jil juga tuh! Ayo, Kak, buruan masuk ke masjid, nanti ta’jil jatah kita diambil pengemis itu,” tutur Mimi. “Hush! Mimi ga boleh ngomong kayak gitu. Lagi puasa kan? Jadi harus dijaga lisannya,” tutur Kak Nung. Akhirnya mereka pun memasuki.

Adzan Magrib mulai terdengar berkumandang dengan merdu, para panitia remaja masjid pun sibuk membagikan ta’jil untuk para jemaah. “Alhamdulillah, terimakasih kakak panitia,” ucap Mimi girang saat menerima ta’jil.

“Udah makannya? Yuk berdiri, ambil wudhu dan Solat Magrib berjamaah,” ucap Kak Nung. Mimi segera bangkit dan berjalan menuju tempat wudhu perempuan. Dari kejauhan ia melihat ibu pengemis bersama tiga anaknya masih di pinggir pagar masjid. ‘Kok ga ikut masuk ke masjid sih! Kalo di luar mana dikasih jatah ta’jil,’ ucap Mimi dalam hati.

Seusai Solat Magrib, Mimi bersama kakaknya masih berada di dalam masjid, menunggu Isya dilanjutkan Tarawih. Mimi pun melihat ibu pengemis itu sedang solat di sampingnya. “Dih! Pengemis kok masuk masjid. Pasti mau minta jatah ta’jil,” celetuk Mimi. “Mimi! Jaga ucapannya!” bentak Kak Nung sambil melotot.

“Ibu masuk masjid ini untuk beribadah, nak! Bukan mengharapkan sekotak ta’jil. Ibu hanya ingin mendekatkan diri kepada Allah,” ucap ibu pengemis itu tiba-tiba. “Maafkan ucapan adik saya ya bu,” tutur Kak Nung sambil tersenyum hambar.

Setelah menjalankan Solat Tarawih, Mimi bersama Kak Nung pulang menuju rumahnya. Dari kejauhan mereka melihat ibu pengemis itu datang sambil menghampiri ketiga anaknya yang tengah tertidur pulas beralaskan koran di pinggir pagar Masjid.

“Ibu bawa makanan, sayang!” ucap ibu pengemis itu. Ketiga anaknya segera menyerbu sekotak makanan yang dibawa ibu mereka. Kemudian Kak Nung berjalan mendekat ke arah pengemis itu. “Ibu tidak ikut makan bersama anak-anak ibu?” tanya Kak Nung. “Oh, tidak, Dek! Ibu tadi sudah makan tadi, biarlah anak-anak ibu saja yang makan. Kalau mereka kenyang, ibu juga ikut kenyang,” ucap ibu pengemis itu sambil mengelus salah satu kepala anaknya.

“Ibu bohong! Ibu belum makan sejak tadi. Aku lihat sejak tadi ibu masuk masjid, solat, membaca Al-Qur’an dan solat lagi. Aku ga liat ibu makan kok,” ucap Mimi. “Ibu sudah minum air putih tadi, itu saja sudah cukup Alhamdulillah,” tutur wanita tua itu.

Mimi pun tertegun mendengar ucapan ibu itu, kemudian ia membuka tasnya dan mengeluarkan sekotak ta’jil yang ia ambil dari masjid tadi. “Ini untuk ibu saja, maafkan Mimi ya bu , telah su’udzon pada ibu,” isak Mimi. “Alhamdulillah. Terimakasih banyak, dengan makanan ini ibu bisa makan sahur nanti bersama anak-anak ibu,” tutur ibu itu.

Hati Kak Nung pun tak tega melihat ibu itu kelaparan bersama anak-anaknya. Ia pun berjalan menuju rumah makan dan membelikan empat bungkus nasi untuk ibu pengemis dan anak-anaknya. “Tidak usah nak! Ibu sudah biasa seperti ini,” ucap ibu itu menolak pemberian Kak Nung.

“Tak apa ibu ambil saja,” ucap Mimi. Ibu itu pun meneteskan airmata terharu sambil menerima makanan yang diberikan Kak Nung (Mar)

AddThis Social Bookmark Button

Puasa, Gak boleh bohong!

JULI 2013

Puasa Ramadhan sudah masuk dihari ketiga, Putri dan adiknya Reyhan menjalani puasa sampai magrib, hebat sekali apalagi Reyhan yang masih berusia 6 tahun. Tapi sayangnya, sepulang sekolah Reyhan merengek minta makan dan minum.

“Bunda, Reyhan mau makan, Bun,” rengek Reyhan sambil menarik gamis bundanya perlahan.

“Loh, anak soleh masa gitu aja kalah. Tuh lihat sudah jam berapa? Tinggal empat jam lagi.”

“Tapi, empat jam lama bunda.”

“Yaudah, sekarang Reyhan tidur siang aja. Nanti laparnya hilang.”

“Reyhan nggak ngantuk, Bun, Reyhan maunya makan sekarang.”

“Reyhan kan janji nggak mau mengeluh, Reyhan ingat nggak? Kalau Reyhan mau disayang Allah, Reyhan harus bersabar. Bunda ke pasar dulu mau beli makanan kesukaaan Reyhan untuk berbuka, sementara Reyhan bobo siang ya?”

Reyhan tidak menjawab, hanya terlihat manyun merasa kalah, bunda tersenyum geli melihat wajah lucu Reyhan. Wajah Reyhan memang terlihat sangat polos apalagi kalau sedang ngambek minta sesuatu. Tak lama kemudian Bunda pergi ke pasar untuk membeli keperluan berbuka puasa.

Reyhan masih bimbang sambil memegangi perutnya, Reyhan juga merasa jarum jam lama sekali berputarnya. Aha, tiba-tiba Reyhan teringat sesuatu, kemarin ibu guru pernah memberinya cokelat karena puasanya sampai magrib tapi cokelatnya belum sempat Reyhan makan soalnya lupa. Reyhan berpikir akan memakan cokelat itu siang ini, Reyhan udah tidak tahan, lapar sekali.

Reyhan berlari ke kamar dan membongkar tas ranselnya. Ia melihat cokelatnya masih utuh, tanpa pikir panjang Reyhan langsung memakannya, mumpung tidak terlihat bunda, pikirnya. Tapi karena Reyhan makannya buru-buru cokelat tersebut belepotan di wajahnya yang lugu, Reyhan senang, setelah makan Reyhan malah mengantuk.

Sepulang dari pasar bunda melihat Reyhan tertidur di kamarnya, tapi kok wajahnya belepotan cokelat? Bunda tidak marah, bunda hanya tersenyum, kembali ke dapur dan melanjutkan memasak. Tidak lama kemudian Putri pulang dari sekolah juga langsung membantu bunda memasak.

Menjelang Magrib…

Ayah, Bunda, Putri, dan Reyhan sudah siap di meja makan sambil menunggu bedug magrib yang tinggal beberapa menit lagi. Sambil menunggu keluarga kecil itu berbincang-bincang. Ayah mengajukan pertanyaan.

“Siapa anak ayah yang hari ini puasanya sampai magrib?”

“Akuuuuu…” Jawab Putri dan Reyhan serentak. Bunda hanya tersenyum kecil.

“Benar? Kemarin kan ayah sudah janji akan memberikan hadiah untuk anak ayah yang puasanya sampai magrib. Masih ingat, kan?”

“Masih dong yah…”

“Reyhan benar kamu puasanya sampai magrib?” Tanya ayah. Reyhan tertegun dan bingung menjawab. Dengan terbata Reyhan menjawab.

“Bener yah.”

“Coba kamu ngaca deh,” pinta ayah. Sebenarnya Reyhan bingung dengan maksud ayah, tapi Reyhan segera berlari dan melihat ke kaca. Ow ow… Muka Reyhan belepotan cokelat. Reyhan menyesal dengan perbuatannya tadi siang.

“Maafkan Reyhan, Yah, Bunda, tadi Reyhan makan . Abis Reyhan nggak kuat lagi udah gitu bedug magribnya masih lama, yaudah Reyhan makan tapi Reyhan lupa bersihin muka, jadi ketahuan deh. Nggak apa-apa deh kalau Reyhan nggak dikasih hadiah. Reyhan menyesal.”

Keluarga kecil itu tertawa bersama mendengar penjelasan lugu Reyhan. Tidak lama kemudian azan magrib berkumandang. Mereka berbuka bersama. Lain kali jangan diulangi lagi ya, Reyhan. (Eby)

AddThis Social Bookmark Button

Doa Untuk Bunda

JUNI 2013

Nabila bergeges menuju sekolah, ia sebal sekali dengan Bunda, habis pagi-pagi sudah marah-marah. Memang Nabila yang salah gara-gara susah bangun pagi akibatnya telat deh ke sekolah.

“Nabila sarapan dulu nanti kamu sakit.”

“Gak usah, Bun. Nabila udah telat nih,” Nabila mengambil tasnya dan menuju Bundanya untuk member salam.

“Makanya kalau bangun itu subuh-subuh, kamu susah sekali sih dibangunin.”

“Udah ah, Bunda mah cerewet,” Bunda hanya menggeleng-geleng kepala, sambil memberikan Nabila bekal makanan untuk di makan di sekolah.

“Yaudah, ini jangan lupa dibawa bekalnya,” Nabila mengambil bekal makanan dari tangan bunda dan langsung berlari menghampiri ayah yang sudah siap dengan sepeda motornya.

Sepulang sekolah Nabila juga kesal, karena tidak ada Bunda yang datang menjemputnya, padahal sekolah sudah mulai sepi, akhirnya Nabila terpaksa naik angkutan umum sendiri.

Sesampainya di rumah Nabila bingung karena pintu rumah terkunci, Bunda juga tidak ada di dalam.

“Duh, Bunda pergi kemana sih? Kok tega nggak jemput Nabila, trus ninggalin Nabila sendirian di rumah,” Nabila masih di teras rumah ia tidak tahu harus melakukan apa selama menunggu Bunda yang tidak kunjung datang.

Hampir satu jam Nabila menunggu belum ada tanda-tanda Bunda akan datang, Nabila semakin gelisah karena tidak biasanya Bunda menghilang seperti ini, perut Nabila juga sudah lapar sekali. Tidak lama kemudian Ayah Nabila datang dengan motor bebeknya, kok Ayah sudah pulang padahal kan belum jam pulang kerja.

“Assalamu’alaikum… Syukurlah, Nak. Kamu sudah pulang, tadi Ayah cari kamu di sekolah.”

“Wa’alaikumsalam… Iya, habis Bunda nggak datang-datang. Bunda kemana sih, Yah?” di tengah rasa penasaran Nabila, Ayah Nabila malah tidak menjawab pertanyaanya.

“Sudah, nanti ayah ceritakan. Sekarang kamu ganti baju dan ikut dengan Ayah,” tanpa berkata-kata Nabila membuka pintu rumah, lalu bergegas mengikuti perintah Ayahnya, ada apa sih dengan Bunda?

Ayah memacu motor bebeknya dengan kecepatan normal, setengah jam kemudian Nabila dan Ayahnya telah sampai di rumah sakit patria ikka, Nabila mengikuti langkah ayahnya melewati lorong-lorong rumah sakit dan sampailah di sebuah ruangan, Nabila melihat Bunda terbaring lemah dan tidak sadar diri. Nabila menggenggam tangan Ayah menuju tempat tidur Bunda.

“Ayah, Bunda kenapa?” Tanya Nabila, akhirnya Nabila tahu alasan Bunda tidak datang menjemputnya.

“Bunda tertabrak motor ketika akan menjemput kamu sekolah, Ayah juga dapat kabar dari Rumah sakit,” Nabila meneteskan airmata, ia menyesal telah berkata kasar dengan Bunda, ia menyesal karena marah-marah karena Bunda tidak menjemput.

“Tapi, kok Bunda belum sadar, Yah?”

“Iya, kata dokter Bunda lagi dikasih obat tidur, soalnya luka Bunda cukup parah, supaya Bunda tidak terlalu sakit. Nanti Bunda juga bangun kok,” tegas Ayah. Nabila mengangguk mengerti. Nabila menggenggam erat tangan Bunda yang hangat, ditangan Bunda ada infusan.

“Bunda, maafkan Nabila ya, Bun,” Nabila menangis di pelukan Ayah. Di dalam hatinya Nabila berdoa untuk Bunda.

Ya Allah… Sembuhkanlah Bunda Nabila, Nabila ingin minta maaf kepada Bunda, Nabila sudah marah-marah pada Bunda, Nabila susah bangun pagi, Nabila suka melawan Bunda, Nabila mohon sembuhkan Bunda ya Allah karena Engkaulah Maha Penyembuh, hilangkan kesakitan di tubuh Bunda. Nabila janji akan jadi anak baik untuk Bunda. Aamiin.  (eby)

AddThis Social Bookmark Button

Pasti Bisa

MEI 2013

Wawan merintih kesakitan, kakinya terkilir selepas bermain sepak bola kemarin sore di taman dekat rumahnya. Melihat rekan mereka cidera, beberapa teman yang lain datang menolong dan membawanya ke rumah.

“Sudah berapa kali ibu bilang, berhentilah bermain sepak bola! Besok kamu harus mengikuti kejuaraan lomba lari antar sekolah. Gimana kamu bisa menang, jika kakimu terkilir!” celoteh ibunya.

“Cuma terkilir doang kok! Bentar lagi sembuh,” ucap Wawan sambil memegangi kakinya yang terkilir. Ibunya terus berkicau, Wawan hanya terdiam mendengarnya.

“Kamu kenapa, Wan!” tutur Abah yang baru pulang dari kantor.

“Terkilir, Bah pas main sepak bola tadi,” jawab anak itu sambil mengusap-usap kakinya yang cidera.

Abah segera memarkirkan motornya di teras rumah. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah anaknya. Seragam dinas masih melekat di tubuh sang ayah, dari kejauhan sang kakak datang dan segera memeluk ayahnya.

“Wan, kamu harus menang dalam kejuaraan lomba lari besok. Kamu tau, hadiahnya dapet sepeda gunung,” ucap tetehnya yang baru pulang sekolah.

“Gimana mau menang, kaki Wawan terkilir tuh! Gara-gara ga denger ucapan ibu. Pulang sekolah bukannya istirahat, malah main bola. Pulang-pulang, udah cidera. Gimana besok mau menang kalo sekarang aja kakinya terkilir,” cerocos sang ibu yang datang sambil memegang sepiring pisang goreng hangat.

“Jagoan abah pasti menang besok! Jangan fikirkan, kalau udah yakin dan berusaha pasti besok bisa menang,” ucap abah sambil mengunyah pisang goreng yang di bawa oleh sang ibu.

“Man jadda wajadda,” tambah tetehnya. Mereka terus memberikan semangat pada Wawan.

“Ya udah, kita ke tukang urut saja, biar sembuh, ayo berangkat sekarang! Ibu siap-siap dulu,” kata ibunya.

Setelah di urut, kaki Wawan berangsur membaik, tapi mak urut berpesan, jika Wawan harus istirahat di rumah dulu. “Tapi besok Wawan mau ikut lomba lari,” ucap Wawan bersikeras.

“Sudah, kamu istirahat saja demi kesembuhan kakimu, mengenai lomba lari, kamu kan bisa ikut lagi di lain kesempatan,” tutur ibunya.

“ Pokoknya aku harus tetapikut tanding, besok. Insha Allah pasti bisa!” ucap anak itu terus menggebu-gebu. Namun, sehabis di urut tadi sore, kakinya malah terasa amat sakit. Hal ini membuat semangatnya mulai mengendur dan pasrah dengan keadaan kakinya. Keragu-raguan mulai menghinggapi dirinya, apakah besok ia bisa menjadi pemenang dalam lomba lari atau lebih baik ia tidak usah ikut tanding saja? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.

“Dulu abah pernah menjadi juara Pencak Silat. Kau tahu, seharisebelum bertanding, abah juga pernah sakit sepertimu. Bahkan abah tidak diperboilehkan oleh nenekmu untuk ikut tanding, tapi abah yakin, abah pasti bisa. Dari situ abah berdo’a pada Allah dan berusaha untuk lekas sembuh,” cerita abahnya.

“Kemudian bah?” sambung Wawan penasaran. Abah segera  pergi ke maja kerjanya dan datang lagi dengan membawa sebuah medali emas.

“Abah tak akan mendapatkan medali ini jika abah hanya pasrah dengan keadaan. Ingat nak, kita harus yakin pada kemampuan diri kita, dan terus berdo’a pada Allah, memohon kesembuhan kepadanya. Hanya terkilir mah Cuma masalah kecil, hal itu. Pasti bisa kok!” ujar abah. Wawan tertegun mendengar cerita abahnya dulu. Pokoknya besok harus ikut pertandingan dan memenangkan lomba tersebut, semangatnya kembali berkobar.

Keesokan harinya, Wawan mengikuti pertandingan, sebelum bertanding ia berdo’a kepada Allah agar kakinya bisa diajak berlari kencang. Ia berfokus dan mengonsentrasikan untuk menang dan tak lupa menyerahkan hasilnya nanti kepada Allah. “Menang atau tidak menang, bukan masalah. Yang penting tekad. Dan ingat, lakukan semuanya karena Allah. Semangat Nak!” bisik Abah sesaat sebelum Wawan tanding.

Semangat Wawan berkobar-kobar, tak dihiraukannya sakit kaki yang terkilir, yang terpenting fokus untuk menang. Karena Allah selalu bersama orang-orang yang mau berusaha. Benar saja, ia berhasil menyabet piala dan memenangkan perlombaan tersebut, tentu saja ia mendapatkan sepeda gunung. Dengan bangga Wawan mempersembahkan piala untuk sekolahnya. Senyum bangga terpancar dari wajah ibu, teteh, abah serta teman dan guru-guru lainnya. “Alhamdulilah, semua ini berkat Allah,” ucapnya tersenyum lebar.   (Mar)

AddThis Social Bookmark Button

Sahabat Sejati

APRIL 2013

Sudah seminggu ini Ari terbaring sakit. Tak ada satupun dari teman kelas yang menjenguknya.

Di sekolah, Vino, teman Ari berjalan mendekat ke arah sekerumunan siswa. “Kita jenguk Ari, yuk!” ajak Vino kepada teman kelas lainnya. “Enggak ah! Ngapain jenguk dia. Dia kan sombong. Buat apa orang sombong di jenguk, biarin aja,” celoteh Ojan.

Vino segera memutar badan. Ia berjalan lesu menelusuri jalanan sekolah yang sepi. Di hadapannya sudah berdiri Irfan, teman satu kelas lainnya, “Irfan, jenguk Ari, yuk! Kasian udah seminggu ini ga masuk,” ajak Vino lagi. “Ga mau! Aku sibuk! Ngapain jenguk Ari?” jawab Irfan.

Lelaki kecil itu menghela napas, kemudian ia masuk ke dalam kelas dan berjalan mendekat ke arah bangku Rian, salah satu teman akrab Ari “Rian, jenguk Ari yuk! Pulang sekolah ini ya,” ucap Vino bersemangat. “Ngapain dijenguk, tar juga masuk sendiri,” kata Rian dengan santainya.

Setiap kali Ari mengajak teman-teman lainnya, tak ada satu pun yang mau menjenguk Vino. Mungkin karena Ari merupakan anak yang sombong dan jahil, sehingga tak ada satu pun yang mau menjenguknya.  Vino memang tidak begitu akrab dengan Ari, bahkan Ari sering mengejek Vino, namun ia tidak pernah menyimpan dendam terhadap Ari. Dan ia adalah satu-satunya teman yang peduli terhadap Ari. “Pengen nengokin Ari yang sedang sakit. Tapi aku ga tau alamatnya di mana,” gumam Vino dalam hati.

Sepulang sekolah ia segera meminta alamat Ari kepada Ojan, Irfan dan Rian. Mereka segera memberikan alamat rumah Ari kepada Vino. “Baik banget sih mau nengokin. Kita ingetin aja nih. Ari itu anak orang kaya. Kalau kamu mau menjenguknya, kamu harus membawakannya sesuatu,” ucap Ojan. “Bikin repot aja jengukin dia. Udah, biarin aja, ga usah sok perhatian gitu,” tambah Irfan.  Setelah puas berkicau, mereka akhirnya memberikan alamat rumah Ari dan segera bergegas meninggalkan Vino. Vino segera bergegas mencari alamat rumah Ari.

“Assalamualaikum,” ucap Vino dengan malu-malu, di hadapan sebuah rumah megah nan mewah. “Wa’alaikumsalam,” jawab suara dari dalam rumah. Terlihat seorang ibu cantik dengan lembut dan ramah. “Adek temennya  Ari?” tanya perempuan itu. Vino mengangguk, wanita itu segera mempersilakan Vino untuk masuk. Diantarnya anak itu menuju kamar Ari.

“Ari, ada temenmu datang membesuk,” ucap ibu itu. “Pasti Ojan, irfan dan Rian kan, bu?” jawab Ari senang. “Bukan, Ri. Ini aku, Vino,” jawab Vino seraya masuk ke dalam kamar Ari. Ari begitu kaget  karena yang datang menjenguknya adalah Vino. Orang yang sering ia hina selama ini justru mempedulikannya.

“Vino, makasih banyak kamu udah membesuk aku. Maafin aku ya, aku sering jahat sama kamu, tapi kamu malah baik gini sama aku.  Ternyata mereka yang semula ku anggap sahabat, malah tidak peduli sama aku,” ucap Ari sedih.

Vino tersenyum dan menghibur Ari. Akhirnya, Ari pun menyadari arti dari persahabatan yang sesungguhnya. Sahabat itu harus ada di saat suka dan duka. “Vino. Kamu mau kan jadi sahabat sejatiku?” tanya Ari. Vino pun mengangguk setuju. Indahnya persahabatan sejati.   (Mar)

AddThis Social Bookmark Button