Cerpen Remaja
Pasti BisaMEI 2013
“Sudah berapa kali ibu bilang, berhentilah bermain sepak bola! Besok kamu harus mengikuti kejuaraan lomba lari antar sekolah. Gimana kamu bisa menang, jika kakimu terkilir!” celoteh ibunya. “Cuma terkilir doang kok! Bentar lagi sembuh,” ucap Wawan sambil memegangi kakinya yang terkilir. Ibunya terus berkicau, Wawan hanya terdiam mendengarnya. “Kamu kenapa, Wan!” tutur Abah yang baru pulang dari kantor. “Terkilir, Bah pas main sepak bola tadi,” jawab anak itu sambil mengusap-usap kakinya yang cidera. Abah segera memarkirkan motornya di teras rumah. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah anaknya. Seragam dinas masih melekat di tubuh sang ayah, dari kejauhan sang kakak datang dan segera memeluk ayahnya. “Wan, kamu harus menang dalam kejuaraan lomba lari besok. Kamu tau, hadiahnya dapet sepeda gunung,” ucap tetehnya yang baru pulang sekolah. “Gimana mau menang, kaki Wawan terkilir tuh! Gara-gara ga denger ucapan ibu. Pulang sekolah bukannya istirahat, malah main bola. Pulang-pulang, udah cidera. Gimana besok mau menang kalo sekarang aja kakinya terkilir,” cerocos sang ibu yang datang sambil memegang sepiring pisang goreng hangat. “Jagoan abah pasti menang besok! Jangan fikirkan, kalau udah yakin dan berusaha pasti besok bisa menang,” ucap abah sambil mengunyah pisang goreng yang di bawa oleh sang ibu. “Man jadda wajadda,” tambah tetehnya. Mereka terus memberikan semangat pada Wawan. “Ya udah, kita ke tukang urut saja, biar sembuh, ayo berangkat sekarang! Ibu siap-siap dulu,” kata ibunya. Setelah di urut, kaki Wawan berangsur membaik, tapi mak urut berpesan, jika Wawan harus istirahat di rumah dulu. “Tapi besok Wawan mau ikut lomba lari,” ucap Wawan bersikeras. “Sudah, kamu istirahat saja demi kesembuhan kakimu, mengenai lomba lari, kamu kan bisa ikut lagi di lain kesempatan,” tutur ibunya. “ Pokoknya aku harus tetapikut tanding, besok. Insha Allah pasti bisa!” ucap anak itu terus menggebu-gebu. Namun, sehabis di urut tadi sore, kakinya malah terasa amat sakit. Hal ini membuat semangatnya mulai mengendur dan pasrah dengan keadaan kakinya. Keragu-raguan mulai menghinggapi dirinya, apakah besok ia bisa menjadi pemenang dalam lomba lari atau lebih baik ia tidak usah ikut tanding saja? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. “Dulu abah pernah menjadi juara Pencak Silat. Kau tahu, seharisebelum bertanding, abah juga pernah sakit sepertimu. Bahkan abah tidak diperboilehkan oleh nenekmu untuk ikut tanding, tapi abah yakin, abah pasti bisa. Dari situ abah berdo’a pada Allah dan berusaha untuk lekas sembuh,” cerita abahnya. “Kemudian bah?” sambung Wawan penasaran. Abah segera pergi ke maja kerjanya dan datang lagi dengan membawa sebuah medali emas. “Abah tak akan mendapatkan medali ini jika abah hanya pasrah dengan keadaan. Ingat nak, kita harus yakin pada kemampuan diri kita, dan terus berdo’a pada Allah, memohon kesembuhan kepadanya. Hanya terkilir mah Cuma masalah kecil, hal itu. Pasti bisa kok!” ujar abah. Wawan tertegun mendengar cerita abahnya dulu. Pokoknya besok harus ikut pertandingan dan memenangkan lomba tersebut, semangatnya kembali berkobar. Keesokan harinya, Wawan mengikuti pertandingan, sebelum bertanding ia berdo’a kepada Allah agar kakinya bisa diajak berlari kencang. Ia berfokus dan mengonsentrasikan untuk menang dan tak lupa menyerahkan hasilnya nanti kepada Allah. “Menang atau tidak menang, bukan masalah. Yang penting tekad. Dan ingat, lakukan semuanya karena Allah. Semangat Nak!” bisik Abah sesaat sebelum Wawan tanding. Semangat Wawan berkobar-kobar, tak dihiraukannya sakit kaki yang terkilir, yang terpenting fokus untuk menang. Karena Allah selalu bersama orang-orang yang mau berusaha. Benar saja, ia berhasil menyabet piala dan memenangkan perlombaan tersebut, tentu saja ia mendapatkan sepeda gunung. Dengan bangga Wawan mempersembahkan piala untuk sekolahnya. Senyum bangga terpancar dari wajah ibu, teteh, abah serta teman dan guru-guru lainnya. “Alhamdulilah, semua ini berkat Allah,” ucapnya tersenyum lebar. (Mar) |
|
|



Wawan merintih kesakitan, kakinya terkilir selepas bermain sepak bola kemarin sore di taman dekat rumahnya. Melihat rekan mereka cidera, beberapa teman yang lain datang menolong dan membawanya ke rumah.
Sudah seminggu ini Ari terbaring sakit. Tak ada satupun dari teman kelas yang menjenguknya.
Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa... (lagu Kasih Ibu)



