Junot Kambingku
NOVEMBER 2011

Namaku Aji, kakekku adalah peternak kambing. Kambing-kambing peliharaannya banyaaaakk sekali. Aku punya satu kambing yang selalu kugembalakan sendiri. Kambing itu kuberi nama Junot. Setiap pulang sekolah aku selalu mengajak Junot ke lapangan untuk mencari rumput. Junot senang sekali bermain di lapangan yang luas. Junot kambing yang sehat, bulunya yang berwarna putih lebat sekali. Tubuhnya juga gemuk.
Suatu hari kakek memanggilku ketika aku baru pulang menggembalakan Junot. “Aji, ke sini nak,” panggil Kakek. “Iya Kek,” sahutku sambil bergegas menghampirinya. Kakek menyuruhku duduk di beranda rumah. Kakek memang biasa duduk di beranda rumah setiap sore sambil menunggu datangnya azan magrib. “Darimana saja kamu, Ji?” tanya kakek. “Aku habis mengajak Junot ke lapangan kek,” jawabku. “Oh iya. Kakek lihat si Junot sehat sekali. Bersih dan gemuk. Kamu pandai sekali merawatnya,“ puji kakek. Aku pun tersenyum senang mendengarnya. “Nah, sebentar lagi kan Hari Raya Idul Adha, bagaimana kalau si Junot kita qurbankan. Pasti orang-orang yang menerima daging si Junot akan bahagia sekali.“ Ubapan kakek barusan membuatku terdiam. Aku sangat menyayangi Junot. Apa jadinya kalau Junot di qurbankan? Ah, kakek jahat sekali. “Kenapa kamu diam, Ji? Kamu tidak mau mengurbankan Junot?” tanya Kakek padaku. Aku mengangguk. “Kenapa?” tanya kakek lagi. “Aku tidak tega. Kasihan Junot kalau disembelih,” jawabku pelan. “ Hahaha..” Kakek tertawa mendengar ucapanku. “Kenapa kek?” tanyaku bingung. “Ya sudah, ayo kita shalat maghrib dulu. Nanti kita lanjutkan ngobrolnya,” sahut kakek ketika terdengar azan Maghrib berkumandang.
Seusai shalat aku kembali duduk di beranda bersama kakek. “Aji. Kamu tau cerita Nabi Ibrahim yang hendak menyembelih Nabi Ismail anaknya karena diperintahkan oleh Allah?” tanya Kakek. “Ya, Aji tau. Kemudian Allah mengganti Nabi Ismail dengan domba kan?!“ sahutku. “ Ya benar, Nabi Ibrahim sangat patuh pada Allah. Maka ketika Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya, Ia pun mematuhi,” cerita kakek. “ Apakah Allah memerintahkan kita untuk berqurban, Kek?” tanyaku pelan. Kakek mengangguk sambil tersenyum. “Tapi aku tak mau menyembelih Junot. Aku sayang sekali padanya,” ujarku. “Aji, tahukah kamu bahwa ketika kamu dengan ikhlas mengurbankan Junot, maka ia akan menjadi kendaraanmu di akhirat kelak,” ujar Kakek. “ Yang benar? Apakah aku akan bertemu Junot lagi di akhirat?” tanyaku dengan mata berbinar- binar. Kakek mengangguk dan menepuk bahuku.
“Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar.“ Takbir bergema dari masjid di tengah kampung. Aku dan keluargaku berjalan beriringan menuju masjid untuk melaksanakan pemotongan hewan qurban. Aku berjalan di belakang sambil menuntun Junot. Junot akan dikurbankan. Aku bersedih tetapi juga bahagia. Jika junot disembelih dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang yang kurang beruntung, maka mereka akan sangat berbahagia. Allah juga menjanjikan pahala kepada orang-orang yang mau beramal dan berbagi. Bahkan Kakek bilang Junot akan menjadi kendaraan yang membantuku melewati jembatan shiratal mustakim di akhirat nanti. Aku mengelus-elus kepala Junot dan mengikatkannya di depan masjid bersama kambing-kambing lain yang akan dikurbankan.
Panitia qurban telah siap untuk melaksanakan pemotongan, dan hewan pertama yang akan disembelih adalah Junot. Kakek menepuk pundakku dan mengajakku menjauh dari tempat penyembelihan. Aku menyaksikan Junot digiring menuju tempat penyembelihan. Aku takut dan sedih. “Ayo kita bertakbir. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Illa ha Ilallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahilham.” Kakek bertakbir di sampingku. Aku pun ikut bertakbir. Kini Junot telah siap untuk dikurbankan. Aku pun berteriak. “Itu Junot kambingku!!!” Panitia pemyembelihan hewan qurban pun menoleh ke arahku dan mengangkat tangannya yang terkepal sambil berseru “Allahu akbar!!!” Aku pun menyambut seruannya dengan tangan terkepal. “Allahu akbar!!!” Semua orang pun ikut berseru sambil mengangkat tangannya. “Allahu Akbar!!!!” Rasa haru, bahagia dan bangga berkecamuk di dadaku. Semoga Allah meridho’i ibadah qurban yang kulaksanakan hari ini dan membalasnya dengan pahala yang setimpal. (vi)






