Cerita Anak

Membuat Layang-layang

FEBRUARI 2012

“Hore, hore, hore, liburan telah datang!  Liburan telah datang!” seru  Fajar sepulang sekolah, sambil melempar tasnya ke atas tempat tidur, lalu menghampiri sang Ibu yang tengah membuat kue roll coklat untuknya di dapur. “Ibu, akan kemana kita liburan kali ini Ibu, Fajar ingin sekali pergi ke Taman Safari,” rengek Fajar kepada Ibunya.

“Sayang, liburan kali ini di rumah saja yah? Paman Tengku Rafi akan datang  besok dari Aceh. Dan lagi, adikmu Syifa kan baru saja sembuh dari sakit cacar, jadi lebih baik Fajar liburannya di rumah saja yah sama Paman?” tutur Sang Ibu sambil membungkuk mengikuti tinggi badan anaknya itu. Fajar melemas, berlalu menuju kamar dengan wajah cemberut. Beberapa hari berselang Fajar kehilangan semangatnya.

Suatu sore Ibu menghampiri Fajar yang tengah bermain bola di halaman depan rumah. “Fajar, coba lihat siapa yang datang,”  tutur Ibu kepada Fajar. Paman Tengku telah berdiri di depannya sambil tersenyum. “Halo Fajar, Apa kabar, Fajar sehat kan?” sapa Paman Tengku dengan senyuman. “Paman Tengku, sehat Paman,” balas Fajar dengan ramah. “Coba tebak paman bawa apa?” “Emm, bawa mainan yah paman?” tebak Fajar. “Hehe, bukan, Fajar. Paman tidak membawa mainan, tapi nanti kita akan bikin mainan sendiri,” tutur Paman Tengku dengan semangat. “Fajar maunya mainan yang sudah jadi,” rengek Fajar. “Emm begitu yah, padahal membuat mainan kita sendiri seru lho, Fajar juga bisa belajar dan menjadi anak yang kreatif. Saat paman kecil dulu, paman suka sekali membuat mainan sendiri dari tanah liat atau apa saja yang bisa dibuat mainan. Apa saja bisa kita buat, tapi kalau tidak mau ya sudah, tidak apa-apa,” ucap paman. “Baiklah, Bagaimana caranya paman?” tanya fajar terlihat sedang berpikir. “Memangnya Fajar mau mainan apa?” Paman Fajar tersenyum memandangi keponakannya. “Hemmm, apa yah paman?” Fajar berusaha berpikir keras. “Bagaimana kalau kita membuat layang-layang saja, Fajar,” ujarnya. “Horee. Kita akan buat layang-layang,” seru Fajar penuh semangat.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Doa Aini untuk Ashanti

JANUARI 2012

“Jika aku berdoa.. Kuangkat tanganku.. Dengan suara lembut..Tidak berteriak..

Berdoa sungguh-sungguh..agar dikabulkan.. Itulah tandanya..anak yang budiman…”

Aini dan Ashanti bernyanyi sambil bergandengan tangan.Mereka berdua baru saja pulang dari sekolah. Aini dan Ashanti bersahabat sejak duduk di taman kanak-kanak. Sekarang mereka berdua sudah duduk di kelas 3 SD.Aini dan Ashanti selalu bermain bersama. Mereka memiliki hobi yang sama yaitu menyanyi. Mereka sering bernyanyi bersama .

***

Sudah dua hari Ashani tidak masuk sekolah. Kata ibunya, Ashanti  terkena penyakit demam berdarah. Badannya panas dan seluruh kulitnya dipenuhi bintik-bintik merah. “Ah..kasihan sekali Ashanti “ ujar Aini dalam hati. Ia sangat kesepian.Biasanya mereka bermain bersama.Aini..kenapa kamu kelihatan sedih?” Tanya Kak Syifa.  “Aini rindu bermain dan  menyanyi bersama Ashanti lagi. “ sahut Aini sedih. Kak Syifa mengelus kepala Aini dengan sayang.  “Apa Aini sudah mendoakan Ashanti agar Allah menyembuhkan penyakitnya?” Tanya Kak Syifa lembut.Aini menggeleng pelan. “Nah,, katanya Aini sayang sama Ashanti, ayo doakan Ashanti agar dia segera diangkat penyakitnya oleh Allah..” kata Kak Syifa.  “ Apa dengan begitu Ashanti bisa sembuh?” Tanya Aini sambil menatap kakaknya itu.  “Insya Allah, kalau Aini berdoa dengan sungguh-sungguh, Allah akan mengabulkan doa kamu.”  Kak Syifa tersenyum menatap adik kecilnya itu.

***

Azan subuh berkumandang dari masjid tak jauh dari rumah Aini.Aini bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan buru-buru menuju kamar mandi untuk berwudhu.Gadis kecil itu melaksanakan shalat subuh dengan khusyuk sekali. Seusai shalat ia mengangkat kedua tangannya sambil mengadahkan kepala. Doa tulus keluar dari bibir mungilnya yang bergetar penuh kesungguhan. “ya Allah, aku meyakini dengan segenap hatiku bahwa engkau adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu di muka bumi ini. Aku juga meyakini bahwa Engkau maha mengetahui atas apa yang terjadi di dunia ini. Aku mohon kepadaMu ya Allah, sembuhkanlah penyakit yang menimpa Ashanti sahabatku. Angkatlah penyakitnya ya Rabb, izinkanlah ia kembali sehat agar kami bisa bermain, belajar dan bernyanyi bersama lagi. Amin. “

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Kami Sayang Ibu

DESEMBER 2011


“Asyiiiiiiiiik, Ina mau ke pasar sama ibu!!” teriak Ina senang saat ibu menyuruh untuk mengganti pakaian seragamnya karena hendak pergi ke pasar.  “Mau ke pasar aja kaya mau ke mall, teriak-teriak! Dasar anak kecil, norak!” sela Kak Ita sambil manyun di balik buku dongeng yang ia baca. Sebenarnya ia juga ingin ikut, tetapi ibu melarangnya, karena di rumah sepi tak ada siapa-siapa. Jadi, Kak Ita ditugaskan untuk menjaga rumah saja. Namun Ina tak henti-hentinya bersenandung riang, membuat hati Kak ita tambah mangkel. “Asyiik-asyyiik. Ina mau ke pasar, Ina mau beli ini, Ina mau beli itu, Ina mau beli banyaaaaaak sekali.” Di kepala Ina saat ini banyak sekali daftar, ia sudah merancang banyak , tentang apa yang ingin ia dapatkan.  Dalam benaknya Pasar itu banyak mainan, banyak makanan, banyak pakaian lucu-lucu, dan ia pun sudah bertekad akan meminta ibu membelikannya, dan ibu pastikan membelikannya, kan ibu yang mengajaknya, pasti ibu juga telah merancang berbagai hal yang akan dibelikan ibu untuk ina. ‘Asyiiik’ batinnya, Ina sudah tak sabar melihat kejutan itu.

****

Ini memang perjalanan ke pasar Ina yang pertama, biasanya yang ke pasar dengan ibu itu Kak Ita, Ina hanya menunggu saja di rumah dengan kakak pertamanya yakni  Kak Dian. Selain menunggu ibu, itu berarti ia juga menunggu Kak Ita mulai meledeknya selepas pulang dari pasar, bahwa di pasar itu banyak makanan, banyak mainan, banyak baju-banju lucu. Dan memang, kalau Kak Ita pulang dari pasar pasti membawa baju-baju lucu, dan mainan yang dibeli dari pasar. Bukan hanya untuk Kak Ita, semua itu juga untuknya. Tapi semua itu pilihan Kak Ita, jadi tak afdhol untuk Ina.  Sebenarnya, Ina selalu merajuk setiap Ibu ingin ke pasar, tapi Ibu melarangnya, karena ibu takut kalau-kalau ada sesuatu hal yang terjadi kepada Ina, karena Ina masih kecil. Namun kali ini kak Dian sedang ada kegiatan di sekolahnya, dan Ina bersikeras merajuk dan merayu ibunya agar dia yang ikut ke pasar. Dan jadilah hari itu Ina pergi ke pasar bersama Ibu.

***

Sesampainya di pasar, Ina terkejut, ternyata perjalanannya menuju pasar itu tak seindah dengan apa yang ia bayangkan, ibu banyak melarang Ina untuk membeli apapun, “Ibu, Ina mau mainan itu,” rengek Ina untuk kesekian kalinya. “Tidak Ina, di rumah sudah banyak!”tegas ibu. Ina kesal sekali dan melepas gandengannya dengan kasar. “Ina benci ibu. Ibu jahat. Ina mau pergi aja, enggak mau lihat ibu,” ucap Ina. “Ina, bukannya ibu tidak mau membelikan apa yang Ina mau, tapi yang kamu minta itu sudah banyak kan di rumah?” Ibu mencoba menenangkan, tapi Ina tak mau mendengar, Ina malah berlari, “Ina mau ke mana? Nanti kamu hilang?” jerit ibu. “Biar saja Ina hilang!!” tukas Ina sambil berlari. Celakanya Ina benar-benar hilang dari pandangan ibu, Ina benar-benar tersesat. Ina yang tadi marah kini berubah menjadi takut. Ina tak pernah sendiri, tanpa ibu di tempat ramai sesak seperti ini. Ina kali ini benar-benar takut, pasar itu ramai, tapi Ia tidak kenal siapapun. Akhirnya, Ina menangis ketakutan.“Ibu, Ina takuuuut,”ujarnya sambil menangis tersedu. Beruntung, ibu akhirnya menemukan Ina yang sedang menangis di tengah pasar. “Alhamdulilllah ya, Allah,” ujar ibu sambil memeluk Ina, dan segera membawanya pulang ke rumah.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Junot Kambingku

NOVEMBER 2011

Namaku Aji, kakekku adalah peternak kambing. Kambing-kambing peliharaannya banyaaaakk sekali.  Aku punya satu kambing yang selalu kugembalakan sendiri. Kambing itu kuberi nama Junot.  Setiap pulang sekolah aku selalu mengajak Junot ke lapangan untuk mencari rumput. Junot senang sekali bermain di lapangan yang luas. Junot kambing yang sehat, bulunya yang berwarna putih lebat sekali. Tubuhnya juga gemuk.

Suatu hari kakek memanggilku ketika aku baru pulang menggembalakan Junot.  “Aji, ke sini nak,” panggil Kakek. “Iya Kek,” sahutku sambil bergegas menghampirinya. Kakek menyuruhku duduk di beranda rumah. Kakek memang biasa duduk di beranda rumah setiap sore sambil menunggu datangnya azan magrib. “Darimana saja kamu, Ji?” tanya kakek.  “Aku habis mengajak Junot ke lapangan kek,” jawabku. “Oh iya. Kakek lihat si Junot sehat sekali. Bersih dan gemuk. Kamu pandai sekali  merawatnya,“ puji kakek. Aku pun tersenyum senang mendengarnya. “Nah, sebentar lagi kan Hari Raya Idul Adha, bagaimana kalau si Junot kita qurbankan. Pasti orang-orang yang menerima daging si Junot akan bahagia sekali.“ Ubapan kakek barusan membuatku terdiam. Aku sangat menyayangi Junot. Apa jadinya kalau Junot di qurbankan? Ah, kakek jahat sekali. “Kenapa kamu diam, Ji? Kamu tidak  mau mengurbankan Junot?” tanya Kakek padaku. Aku mengangguk. “Kenapa?” tanya kakek lagi. “Aku tidak tega.  Kasihan Junot kalau disembelih,” jawabku pelan. “ Hahaha..”  Kakek tertawa mendengar ucapanku. “Kenapa kek?” tanyaku bingung. “Ya sudah, ayo kita shalat maghrib dulu. Nanti kita lanjutkan ngobrolnya,” sahut kakek ketika terdengar azan Maghrib berkumandang.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Bintang dan Keiko

OKTOBER 2011

Hari ini merupakan hari yang sangat menggembirakan buat Bintang, genap sudah 12 tahun umurnya saat ini. Hari ini adalah hari ulang tahun Bintang, banyak kejutan di hari ulang tahunnya. Teman-teman Bintang datang dengan membawa beraneka ragam bungkus kado. Bungkusan kado pun bertebaran di atas meja. Bintang tak sabar ingin segera membuka kado-kado itu. Tiba-tiba datang seorang wanita  menghampiri Bintang dengan membawa bungkusan kado besar.

 

“Happy Birthday, Bintang,” ujar seorang wanita sambil memeluknya dari belakang. Bintang kaget mendapat perlakuan seperti itu. Ternyata yang menyalami Bintang adalah bundanya yang baru saja pulang dari umrah. Di hari yang bahagia ini, Bintang merasa sangat bergembira sekali karena orang-orang yang dia cintai kini hadir dan berkumpul bersama merayakan ulang tahunnya.“Ini, sayang. Bunda ada hadiah buat kamu, ayo cepat dibuka,” tutur bunda sambil menyodorkan bungkusan kado itu pada Bintang.Ternyata, setelah dibuka, bungkusan kado itu berisi seekor kucing persia yang sangat lucu. “Waahh, bagus sekali kucingnya, bunda,” ujar Bintangdan berdecak kagum memandangi hadiah ulang tahunnya. “Itu kucing khusus bunda pesan buat kamu. Tolong kamu rawat dan jaga kucing ini ya, sayang,” pesan bunda pada Bintang. Kucing  berwarna putih dan kecoklatan ini menambah kebahagian Bintang. Bintang begitu bergembira mendapatkan kado dari bunda. “Makasih ya, bunda. Aku pasti akan menjaga dan merawat kucing ini,” tutur Bintang.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...