Ustadz Felix Siauw, Jati Diri yang Benar Hanyalah Islam

JANUARI 2013

Menjadi muslim sejati, merupakan cita-cita kita semua sebagai pribadi yang menghendaki ridho Allah SWT agar kita menjadi umat terbaik di mata Allah SWT. Namun, tak mudah jalan menuju pencapaian sebagai muslim sejati. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi dalam mencari jati diri sebagai pribadi muslim yang sesungguhnya.

Hal ini pula yang dialami oleh seorang Ustadz Felix Siauw. Ayah dari tiga anak ini mendapakan pengalaman hidup yang tak bisa dibilang mulus, namun semua itu membantu menguatkan dirinya dalam menjadi seorang muslim sejati.

Berikut adalah petikan wawancara Muzakki dengan Ustadz Felix Y. Siauw

Ustadz, bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Islam?

Awal mulanya ketika saya masih kelas 3 SMP, ketika saya beragama Katolik. Ketika itu saya banyak mendapatkan banyak hal yang tidak bersesuaian dengan akal, dan tak memuaskan akal. Sehingga singkat cerita saya keluar dari agama Katolik. Lalu saya mencari, agama mana yang benar, agama mana yang bagus. Setelah saya mencari selama lima tahun (sampai kuliah semester ketiga), alhamdulillah saya dapat Islam. Saya dapati Islam karena apa pun dalam Islam itu sesuai dengan akal manusia, sesuai dengan fitrah manusia, tidak ada yang bertentangan dengan akal manusia. Yang saya rasakan seperti itu.

Perubahannya jelas jauh. Karena akidah itu ibaratnya sebuah core dalam komputer, maka ketika seseorang berganti akidah, segalanya juga berubah. Yang paling nyata misalnya saya merasakan ketenangan luar biasa ketika saya memeluk agama Islam. Kita mendapatkan jawaban atas hidup, kita mendapatkan jabawan sebelum dan sesudah hidup. Dengan sendirinya kita bisa mantap menjalani hidup. Mau apa dalam hidup ini, kita sudah jelas.

Contoh konkretnya Islam memerintahan untuk tak boleh menguatkan suara lebih daripada suara orang tua. Ini kan perkara yang sangat luar biasa, yang kalau kita praktikkan pada orang tua, mereka akan menyadari perubahan yang bersifat konkret. Itu yang kelihatan, yang tidak kelihatan jauh lebih banyak lagi.

Apakah setelah mendapatkan jati diri baru ada tantangan dari luar?

Kalau bicara tentang tantangan, orang muslim atau orang bukan muslim punya tantangan. Tapi ketika kita kemudian menjadi Islam, kita jadi paham bahwa tantangan yang kita dapat ini tiada lain dan tiada bukan karena kita dimuliakan oleh Allah. Analoginya: pada prinsipnya, kapal itu dibuat untuk mengarungi lautan, ya kalau dia dibuat di dermaga lalu si kapal hanya diam di dermaga ya wajar dan aman, tapi kalau dia mengarungi lautan, dia jadi banyak tantangan, tapi justru tujuannya dia dibuat adalah untuk seperti itu.

Nah, sama seperti kita, kalau kita masuk Islam atau tak masuk Islam (agama apa pun) punya tantangan. Tapi ketika kita dalam Islam, tantangannya terarah, tantangannya memang untuk tujuan hidup kita. Jadi tak ada masalah.

Untuk proses belajarnya sendiri ketika awal mula mencari agama, arahannya dari mana?

Untuk mendapatkan Islam itu tak perlu belajar agama. Untuk mendapatkan Islam, cukup dengan berpikir. Kalau kita berpikir, kita pasti dapat Islam. Nah, setelah kita menjadi seorang muslim, bagaimana kita belajarnya? Harus seperti belajarnya orang-orang zaman dahulu. Kalau saya menyebutnya: sebuah kajian tersistematis, yang dilakukan secara berkala untuk memperdalam ilmu-ilmu Islam. Mulai dari tauhid, akidah, dakwah, dan syariah, dan sebagainya, itulah yang harus dipelajari.

Kesulitan yang pernah Ustadz alami?

Kalau tantangan mencari Islam, yang pertama adalah informasi. Saya tumbuh dan berkembang di komunitas yang bukan muslim, sehingga mencari informasi itu agak sulit. Maka salah satu hal yang membuat saya lebih mudah bisa mendapatkan Islam adalah ketika berkomunitas Islam, hidup dalam komunitas Islam.

Waktu itu di mana?

Di IPB saya mendapatkan Islam. SMA-nya di SMA Xaverius 1 Palembang. Waktu itu lingkungan saya 95 persen adalah bukan Islam.

Apakah setelah mendapatkan jatidiri sebagai seorang muslim, ada kesulitan dalam menyempurnakan separuh agama, dalam hal ini mendapatkan jodoh?

Saya masuk Islam pada tahun 2002, menikah tahun 2006. Jadi menikah empat tahun setelah masuk Islam. Awalnya memang susah, apalagi berbicara dengan orang tua yang memang bukan muslim, tapi alhamdulillah bapak saya juga menikah muda, jadi saya juga ada alasan untuk menikah muda. Jadi alhamdulillah itu sudah dilewati.

Ketika proses mencari “seseorang” itu apakah ada kesulitan?

Awalnya selalu ada yang mempertanyakan. Kenapa harus yang berkerudung? Kenapa harus yang muslim? Sementara saya adalah yang etnis Chinese, dan bapak-ibu saya tidak terbiasa melihat orang yang memakai jilbab. Nah, itu pertanyaan ada, dan kami jawab memang seperti itulah agama memerintahkan. Tatkala kita ingin menikah, maka menikah bukan hanya peraduan fisik, bukan hanya kepuasan badan, tapi menikah itu tujuannya lebih mulia daripada itu. Itulah proses pembentukan sebuah keluarga yang bisa menggenapkan ibadah. Dan kedua, bisa melanjutkan keturunan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa untuk melanjutkan keturunan itu perlu juga melihat tanah yang ditanami, peribaratan wanita yang ditanami: bila tanahnya baik, tanamannya baik. Itu artinya kita harus mencari istri yang baik. Dan tidak mungkin istri itu baik kalau ia tidak taat pada Allah.

Bertemu di mana dengan calon istri waktu itu?

Kami bertemu di IPB (Institut Pertanian Bogor), hahaha, kami cinta lokasi.

Pernah ada kesulitan mengenai pembuatan akta kelahiran?

Ya, ada cerita ketika anak kedua saya lahir, saya mau mengurus pembuatan akta kelahiran. Ketika saya datangi pihak rumah sakit, ada biaya pembuatan akta kelahiran. Untuk warga negara Indonesia itu Rp 70.000, tapi kalau katurunan itu Rp 200.000. Saya mempertanyakan, kenapa berbeda sekali antara WNI keturunan dan WNI? Sekarang kan sudah tidak ada lagi pembedaan keturunan dan bukan keturunan (Chinese). Petugasnya bilang ‘memang seperti itu’. Dia mau mengurus pembuatan akta kelahiran kalau saya mau memberikan harga yang lebih. Itu sudah sebuah diskriminasi, padahal petugas itu memakai kerudung, muslim, dan sebagainya.

Maka ini menjadi sebuah pertanyaan. Yang saya katakan bahwa Indonesia tidak puas untuk dijajah. Bahwa pembedaan antara etnis, pembedaan antaragama, pembedaan antara orang yang keturunan atau yang bukan keturunan,  itu kan berlaku di zaman Belanda melalui hal yang namanya statsblaad (STBLD) maka setiap orang yang lahir dengan keadaan tertentu dia punya statsblaad sendiri. Ya dengan kata lain Indonesia masih ikut kepada orang-orang Belanda dalam pengurusan itu, maka pengurusan akta kelahiran saya agak dipersulit. Karena saya selalu ditanya: “Bapak keturunan ya?” Saya katakan, “Bukan, saya orang Indonesia!”

Dia tetap menyatakan, “Oh, bapak itu keturunan, jadi STBLD-nya berbeda.” Nah, ini jadi membuat saya mengatakan bahwa ini adalah hasil daripada asshobiyah, tidak mengakibatkan kecuali perpecahan di antara manusia, tidak bisa menyatukan apa pun kecuali menyatukan etnis, kaum, ataupun bangsa, tapi tak bisa menyatukan dalam bentuk yang lebih besar. Nah, penyatuan yang lebih besar ini hanya bisa dilakukan dalam Islam, bukan selain itu.

Upaya Anda sendiri untuk mendapatkan akta?

Yang saya garisbawahi dalam menulis itu adalah bahwa nasionalisme itu kemudian membedakan antara satu etnis dengan satu etnis yang lain. Tidak peduli apakah mereka muslim atau tidak, harusnya kan yang dilihat itu muslimnya, bukan etnisnya.

Firman Allah: “Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” Bukan yang paling kaya atau yang paling miskin, atau yang paling pribumi dan lain sebagainya. Itu yang perlu digarisbawahi dalam Islam, dan itu yang saya tujukan dalam menulis artikel tersebut.

Apa upaya Anda sebagai seorang ustaz dalam mengedukasi masyarakat untuk mendapatkan jati diri sorang muslim?

Ini merupakan tugas panjang, yang saya katakan mungkin tugas ini lebih besar daripada usia yang saya punya. Maka yang saya lakukan itu banyak, lewat Twitter, lewat Facebook, lewat media-media yang saya punya (termasuk dalam acara teleisi) untuk menyampaikan bahwa ini bukan ikatan yang benar, nasionalisme bukan ikatan yang benar, etnis itu juga bukan ikatan yang benar, kekauman juga bukan ikatan yang benar, tapi semua itu harus dibingkai dengan ukhuwah. Nah itulah yang saya lakukan, entah kapan berhasilnya, kita lihat saja nanti.

Kalau untuk acara di televisi yang akan Anda buat ini?

Acara ini merupakan yang kami gunakan untuk mengenalkan Islam, walaupun kita tahu masih banyak kekurangan. Saya juga berdiskusi dengan tim, mereka berbuat apa yang mereka mampu, semaksimal yang mereka bisa, untuk membuat acara ini syar’i. Walaupun tentu saja pasti akan ada banyak kritikan-kritikan, tapi kami harap bahwa ini menjadi sebuah pintu untuk mengubah acara, yang kita inginkan sebagai sebuah idealisme adalah mebuat suatu acara yang siap dikonsumsi oleh setiap warga dari umur yang tinggi sampai umur yang paling rendah.

Karena itulah kami harap acara ini bisa menjadi sebuah penyadaran. Di mana kami tidak dbatasi oleh ide-ide yang biasa muncul dari produser-produser yang lain seperti di televisi-televisi yang lain, kami berusaha untuk menampilkan Islam apa adanya. Mungkin kalau ke depan acara ini ditentang, ya wajar. Mungkin ada banyak pihak yang tidak setuju kalau Islam disampaikan secara total, disampaikan secara apa adanya.

Untuk segmen acara yang Anda pandu ini bagaimana?

Segmennya adalah umum. Makanya kami buat acara ini variety show yang kami gabung dengan musik, supaya segmen anak muda juga masuk. Segmen orang yang sudah pernah belajar Islam juga masuk, dan kami juga menggarap segmen terluar dari Islam, yang mungkin tidak pernah pergi ke masjid, yang tidak pernah pergi ke pengajian, itu kami ajak, kami sentuh untuk mendapatkan inspirasi dari acara ini. Selanjutnya kami harapkan mereka bisa mengkaji lebih lanjut.

Yang membedakan acara ini dengan talkshow yang lain?

Saya berharap bahwa tidak ada satu pun isu-isu yang tidak kami angkat sesuai dengan Islam. Kalau ada restriksi di beberapa stasiun televisi yang lain, kami berharap di sini tidak ada restriksi. Ya kalau ada restriksi, ya itulah risikonya. Apa pun yang terjadi ke depan, mudah-mudahan kita jadi orang yang tak takut menyampaikan Islam. Itulah yang kami harapkan dari acara ini.

Dalam keluarga, bagaimana kegiatan istri?

Istri saya seorang ibu rumah tangga penuh. Mengurus keluarga di rumah. Anak saya ada tiga. Istri full mengurus rumah tangga. Kalau dia keluar, itu atas izin saya. Dan memang diusahakan tidak mengganggu fungsi utama beliau yaitu ummu warobbatul bait.

Ada motivasi tersendiri dari istri?

Fungsi istri luar biasa. Kalau saya pulang, saya ketemu istri. Saya capek, saya ketemu istri. Istri jadi tempat curhat. Kalau yang seperti itu saja istri tidak memahami, saya tak tahu harus pergi ke mana lagi. Entah mencari siapa. Karena istri itu adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti kita.

Makanya Allah mengatakan bahwa kita tak boleh telanjang pada siapa pun, kecuali pada istri. Itu adalah bukti bahwa istri menjadi satu dengan kita. Dia menjadi bagian dari kita. Kalau kemudian kita ambil sesuatu yang salah, atau ambil istri yang salah, berarti kita juga pasti salah. Makanya, di balik seorang laki-laki yang hebat, pasti ada wanita yang hebat juga.

Pendidikan seperti apa yang diterapkan pada anak-anak terkait pencarian jati diri?

Pendidikan saya sederhana, bahwa aturan Allah itu adalah mutlak. Dan kemudian saya ingin mereka memahami bahwa ketika Allah sudah berkehendak, ketika Allah telah memerintahkan sesuatu, maka tugas manusia bukan lagi mencari pembenaran atas aturan yang lain. Tapi itu sederhana saja, kita tinggal melaksanakan aturan itu. Itulah yang saya bentuk pada anak-anak, sebuah jiwa herois yang menyadarkan mereka apa tujuan mereka, yaitu berdakwah. Saya coba bentuk mereka dari awal agar poros hidupnya adalah berdakwah, sebagaimana bapaknya.

Apa pesan/ harapan pada masyarakat?

Sederhana, kita itu hancur dan terpuruk. Kita itu tidak menjadi muslim yang hebat yang sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an karena kita membuang Al-Qur’an. Atau kita cuma mengambil sebagian dari Al-Qur’an, kemudia membuang sebagian yang lain.

Allah SWT berfirman, Apakah kalian hendak mengambil sebagian dari kitab ini, lalu mencampakkan sebagian yang lain? Mengingkari yang lain? Membangkang terhadap sesuatu hal yang lain?

Nah, kemudian ketika melakukan hal yang seperti ini, melaksanakan secara parsial dan parsial, maka Allah tak akan memberikan bantuan yang bersifat total pada kita. Oleh karena itu masyarakat harus sadar bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi yang kita lihat itu adalah hasil tidak diterapkannya Islam. Maka solusi satu-satunya adalah “diterapkannya Islam”, tidak ada yang lain.  (ric)

 

Biodata

Nama                     : Felix Yanwar Siauw

Usia                         : 31 Januari 1984

Tempat Lahir         : Palembang

Aktivitas                 : Dakwah, Penulis Buku, Presenter Acara “Inspirasi Iman” di TVRI

Buku                       : Muhammad Al-Fatih 1453; Beyond the Inspiration; How to Master Your Habits

Facebook               : www.facebook.com/UstadzFelixSiauw

Website                 : www.felixsiauw.com

AddThis Social Bookmark Button