Public Figur dan pendakwah, yang tetap menjaga perannya sebagai Ibu

DESEMBER 2011

Astri Ivo


Siapa yang tak kenal artis multi talent satu ini, yang kini aktif bergelut dalam bidang dakwah. Astrie Feizatie Ivo wanita kelahiran tahun 1964. Belakangan ini aktif di berbagai majelis taklim yang membawanya untuk terus menyampaikan dakwah kepada umat. Astri ivo yang dulu memulai karier keartisannya sejak usia 4 tahun dan banyak memainkan berbagai film layar lebar maupun sinetron di layar kaca tanah air. Tampak ada yang berbeda dari penampilannya sejak beliau menikah dengan Ir. Dariola. Sejak tahun 2004 beliau sudah memutuskan untuk menutup auratnya (berjilbab) dan membatasi tawaran bermain film atau sinetron dengan tidak  memilih peran yang mengharuskan ia membuka jilbabnya.

Putri dari penyanyi Ivo Nilareksa ini meneruskan kuliah di Berlin, Jerman, dan aktif di persatuan pemuda muslim Eropa. Dari pengalamannya di sana beliau kemudian mendalami pengetahuan ilmu agamanya dengan aktif di (PMA) Pembelajaran Mubaligh Al-Azhar hingga saat ini. Lalu, bagaimana cara Astri Ivo menjalani hidup sebagai public figur dan ibu rumah tangga? Berikut petikan wawancara Jauhari, reporter dari Majalah Muzakki dengan Astri Ivo

di kediamannya, Bintaro, Tangerang.

 

 

Mbak Astri lahir dari keluarga seniman dan itu menjadikan Mbak Astri seorang publik figur seperti saat ini, pendidikan seperti apa yang ditekankan orangtua saat itu?

Dulu  meskipun jadwal saya padat namun ibu saya tetap memprioritaskan saya pada pendidikan agama karena hal itu sangat penting untuk hidup saya. Terutama dalam mengenal Allah sebagai Tuhan dan pencipta alam, selain itu ibu saya juga mendidik saya tentang bagaimana shalat, berpuasa, membaca Al-Qur’an dan ajaran Islam lainnya. Dan ibu saya mencontohkan hal itu langsung dalam kehidupan sehari-hari saya.

 

Adakah perbedaan metode pendidikan orangtua dengan sekarang Mbak Astri mendidik anak-anak?

Tentu jelas ada perbedaan namun hanya sedikit karena perbedaan zaman juga. Dulu ibu saya mendidik saya dengan tegas dan penuh disiplin  misal ketika saya enggan mengaji ibu saya datang dengan membawa sapu lidi namun saat ini saya mendidik anak saya tidak seperti itu dan saya tidak mengejar berapa hari anak-anak saya harus khatam Al-Qur’an tapi saya lebih menekankan kepada anak-anak saya sudah sejauh mana mereka menyelami Al-Qur’an tersebut walaupun mereka khatam Al-Qur’annya hanya satu tahun sekali.

 

Pada awal tahun 2000 Mbak Astri memutuskan untuk menutup aurat (berjilbab) apa yang menyebabkan hal tersebut?

Ketika saya masih remaja saya belum memahami apa yang saya baca (Al-Qur’an) dan itu hanya sebatas pengetahuan saja namun, setelah saya baca dan mentadabburi Al-Qur’an. Itu membuat saya tahu dan yakin bahwa ajaran yang di bawa Islam itu sangat benar dan Al-Qur’an itu juga rasional sekali. Ternyata, menutup aurat itu merupakan sebuah kewajiban yang diperintahkan Allah swt kepada hamba-Nya. Begitu pula halnya saya menyampaikan dakwah kepada masyarakat itu juga merupakan kewajiban saya sebagai muslim.

Selepas saya menikah di usia yang relatif muda yang kemudian saya lebih menyelami lagi apa yang saya baca (Al-Qur’an) dan di sana saya mulai paham kalau ternyata kewajiban seorang muslim itu bukan hanya shalat, puasa, zakat, dan berhaji namun diluar itu ada hal lain yakni berdakwah.

 

Hikmah seperti apa saja yang Mbak Astri dapati setelah  memutuskan untuk menutup aurat?

Yang pasti setelah saya memahami dan mengamalkan apa yang saya baca yakni Al-Qur’an kini hidup saya semakin berkah. Banyak kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada saya. Dan, saya menjadi manusia yang visioner yakni menatap kedepan sebuah kehidupan dan hidup itu harus lebih baik dari hari ini.

 

Bagaimana tanggapan ibu Mbak Astri melihat perubahan yang terjadi dalam diri?

Alhamdulilah, ibu saya bersyukur sekali karena saya masih tetap istiqamah bahkan setelah pulang dari Jerman saya merasa jauh lebih baik. Itu tak lepas dari doa ibu sehingga saya mampu melewati tantangan pergaulan di Jerman yang terbilang lebih berat. Jika saya melakukan dosa pasti Allah condongkan hati saya dan itu karena doa ibu juga. Selain itu saya juga dididik dalam lingkungan Islami dengan aktifnya saya di Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME).

 

Kenapa Mbak Astri membatasi diri untuk bermain film yang melepas jilbab, bukankah dengan begitu akan mengurangi pendapatan?

Allah itu Maha kaya dan maha segala-galanya , yang memberi rizki adalah Allah bukan dari produser atau suami,  jadi saya tidak pernah takut akan kekurangan rizki karena saya percaya bahwa Allah sudah mengatur rizki kita dan tidak perlu takut untuk merasa kekurangan.

 

Sejak kapan mulai berdakwah dan apakah Mbak Astri terjun ke dunia dakwah karena awalnya belajar di PMA (Pendidikan Mubaligh Al-Azhar )?

Tidak, saya berdakwah sudah lima belas tahun lalu ketika saya memutuskan untuk berhijrah penampilan dan pemahaman, ketika itu saya memahami al-Qur’an dengan baik. Mungkin di luar sana banyak orang yang bertanya-tanya tentang saya kenapa saya seperti ini dan salah satunya yaitu karena saya  membaca al-Qur’an dan memahami lalu mengamalkannya. Itulah pengalaman rohani saya ketika mulai mendapatkan suatu titik terang dari Allah swt yang kemudian itu menjadi suatu kewajiban saya untuk berdakwah kepada masyarakat.

 

Apa makna dakwah bagi Mbak Astri sendiri dan atas dasar apa Anda berdakwah?

Dakwah itu adalah kewajiban, jika kita tidak mengenal tentang ketuhanan maka sesungguhnya kita dalam kerugian maka dari itu hidupkanlah Al-Qur’an dalam hidup mu. Bagaimana caranya hidup kita selaras dengan Al-Qur’an, dimulai sejak dini kita didik anak-anak dengan Al-Qur’an dengan begitu kita dapat lebih mudah melewati segala ujian. Ketika di beri kesenangan kita pandai bersyukur dan ketika diuji dengan kesusahan kita bisa bersabar dan puncak kebahagiaan itu ketika kita nanti masuk surga itulah makna hidup sesungguhnya, bukan ketenaran dan bukan banyaknya mendapatkan harta. Hidup itu semata-mata mendapati ridho Allah. Berkah dan serba berkecukupan itu sudah menjadi janji Allah.

 

Sampai kapan Mbak Astri akan terus berdakwah?

Wallahu alam. Saya akan terus berdakwah selama Allah meridhoi karena ini merupakan kewajiban dan tugas dari Allah.

 

Apakah Mbak Astri memandang dakwah sebagai profesi?

Saya sebenarnya seorang public speaker, yang artinya saya dituntut untuk dapat berbicara tentang tema-tema keluarga. Karena basic saya belajar Al-Qur‘an dan ilmu agama lainnya, tapi saya tetap memilah hal-hal yang harus saya bicarakan misal dalam seminar saya lebih berbicara pada hal yang ilmiah dan hal yang harus saya bicarakan ketika saya berbicara di dalam pengajian maka saya lebih banyak berbicara tentang makna hakikat.

 

Selepas dari kegiatan syuting, mengisi taklim, dan ibu rumah tangga, apa kegiatan utama Mbak Astri saat ini?

Kegiatan utama saya saat ini adalah mengasuh anak-anak saya karena saya sebagai orangtua dan ibu rumah tangga juga tentunya. Dan waktu luang saya kini saya sibukkan dengan syuting, mengisi taklim dan kadang kalau pagi saya mengajar ataupun diisi dengan membaca.

 

Kegiatan Mbak Astri selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai ustadzah dan publik figure, tentunya jadwal Anda sangat padat, bagaimana membagi waktu dan apa yang menjadi prioritas?

Saya membagi waktu untuk kegiatan saya seperti shalat lima waktu saja dan adil. Hal yang harus diprioritaskan dalam hidup tentu ada, namun dalam hal ini semua menjadi prioritas saya dengan catatan harus adil. Jadi intinya saya  membagi waktu itu untuk Allah, keluarga, pekerjaan, diri sendiri dan umat.

 

Adakah sebuah pengalaman yang Mbak Astri alami ketika menyampaikan ilmu sehingga anda merasa semakin bertambah keimanan?

Setiap hari pasti bertambah ilmu karena ustadzah itu tidak hanya memberikan ilmu tetapi dia juga harus pandai mentadabburi alam. Karena ayat itu bukan hanya qauliah saja tetapi juga qauniah.

 

Ada sebuah ungkapan tentang kasih ibu sepanjang jalan dan kasih anak sepanjang galah, bagaimana menurut Mbak Astri tentang hal ini?

Sudah sesuatu yang hak bahwasanya ibu itu adalah sosok yang dimuliakan Allah swt. Sekalipun kita tidak bisa menjadi ibu yang sempurna karena memang kesempurnaan hanya milik Allah tapi kita bisa menjadi ibu yang hebat. Bagaimana caranya menjadi ibu yang hebat, salah satunya dengan mengajarkan kepada anak bagaimana mencintai Allah, berbakti kepada orangtua, tidak berlaku syirik dan tidak sombong. Orangtua mempunyai tugas yang sangat berat karena amanahnya sampai ke surga karena itu Allah memuliakan seorang ibu.

 

Lalu bagaimana pandangan Mbak Astri sebagai seorang anak terhadap ibu sendiri?

Sejak dulu ibu adalah sosok yang bukan hanya meyenangkan hati saya tetapi juga menjaga saya dari murkanya Allah. Satu contoh ketika saya tidak berpuasa, shalat dan malas mengaji maka saya dimarahi ibu. Tapi di sisi lain ketika saya naik kelas dan ketika saya berulang tahun ibu akan memberikan hadiah kepada saya. Dan ketika saya salah ibu selalu mengingatkan saya. Setelah dewasa saya menjadi paham bahwasanya tugas seorang ibu tidak hanya sebagai penyayang, dan mencintai melainkan juga melindungi, mendidik, mengarahkan, mengayomi dan membina.

 

Seperti apa sosok Mbak Astri dimata anak-anak?

Sebagaimana sabda Rasullullah saw,” Didiklah anak mu sebagaimana zamannya”. Kita tidak bisa lagi seperti zaman saya sewaktu kecil dulu. Misalnya kalau saya tidak mengaji ibu membawa sapu lidi untuk menghukum saya. sementara zaman sekarang seorang ibu harus memiliki Parenting skill. Ibu harus berbesar hati karena tantangan dalam mendidik anak-anak zaman sekarang terlebih di era globalisasi mereka harus dididik untuk lebih mengenal Tuhannya. Namun demikian mereka juga tidaklah cukup dikenalkan pada rukun Islam melainkan juga diperkenalkan dengan rukun ihsan.

 

Bagaimana pandangan Mbak Astri tentang sosok ibu di zaman sekarang seperti apa?

Ibu zaman sekarang adalah ibu yang penuh dengan tantangan, ibu yang harus bekerja keras agar menjadi ibu yang hebat karena ujiannya jauh lebih berat dibandingkan zaman dulu.

 

Bagaimana Mbak Astri mengoptimalisasikan potensi diri dalam masyarakat?

Misalnya saya aktif di PMA (Pendidikan Mubaligh Al-azhar) kemudian setiap hari bertadabbur dan belajar memahami Al-Qur’an serta mengajak masyarakat untuk mengenal Allah dan mengamalkan perintah-Nya.

 

Bagaimana Mbak Astri melihat fenomena seorang ibu yang menelantarkan anaknya?

Manusia itu diberikan ilham oleh Allah fujur dan takwa, kebaikan dan keburukan. Sungguh beruntung orang yang mengembangkan potensi baiknya dan pula sebaliknya. Ibu bukanlah seorang malaikat jadi ada ibu yang memilih neraka dan ada pula yang memilih surga, sementara Allah sudah memberikan pilihan kepada kita dengan tidak memaksa.

 

Apa tips yang dapat Mbak Astri berikan bagi calon ibu dan para ibu lainnya?

Menjadi ibu sudah hampir pasti tapi menjadi seorang ibu yang hebat itu perlu kerja keras. Mencari ilmu untuk menjadi hamba Allah, menjadi istri, menjadi seorang ibu, dan mencari ilmu menjadi anggota masyarakat.

Mentadabburi al-Qur’an, mengamalkan al-Qur’an, bekerja keras dan senantiasa berpegang teguh pada tali agama Allah. Itulah mungkin yang dapat saya sampaikan kepada calon ibu dan ibu terutama bagi para pembaca Muzakki.   (Jh)

AddThis Social Bookmark Button