Pengolah Sampah, dari Mojang Bandung

DESEMBER 2011

 

Peran wanita dalam berkarya, rasanya harus tetap diperhatikan. Wanita tidak saja berkarya untuk keluarganya, lebih dari biasanya wanita mungkin sedang berperan untuk perubahan bangsanya agar jauh lebih maju.

Perjalanan Khilda Baiti Rohmah, (23) sebagai aktivis lingkungan hidup kini sudah tidak diragukan lagi. Berbagai penghargaan skala nasional maupun internasional pernah disabetnya. Lebih dari itu, pengabdiannya kepada masyarakat ia buktikan saat dikampusnya pada 2009 mengadakan praktek kerja di Sukabumi.

Khilda, demikian ia disapa, sebenarnya mulai aktif di lembaga lingkungan hidup pada 5 Juni 2006 atau tepatnya disaat hari lingkungan hidup sedunia. Sedangkan waktu itu di Taman Ganesha Bandung sedang mengadakan sebuah acara dan ada stan, yaitu Yayasan Pengembangan Biosains Bioteknologi (YPBB) bergerak dibidang penyadaran lingkungan menjadi salah satu stan di antara stan lainnya.

“Dua tahun menawarkan diri menjadi relawan di YPBB, banyak ilmu yang saya dapat. Semakin saya membaca buku tentang pengolahan sampah, saya tertarik. Padahal waktu itu saya masih kelas dua SMA,” kata Khilda yang kini sedang mengakhiri pendidikan di Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Pasundan Bandung.

Puncaknya, Khilda tertarik dengan pengolahan sampah saat dirinya mengetahui dekat rumah neneknya di Bandung seorang kakek pengangkut sampah sejak 35 tahun lamanya tapi penghasilannya tidak kurang Rp 250.000/bulan. Bagi Khilda, meski sampah asal mengetahui cara pengolahannya bisa tak mungkin memiliki keuntungan.

“Saya berfikir bagaimana pengangkut sampah bisa mandiri, paling tidak memiliki penghasilan lebih dari cukup,” ujar anak pertama dari enam bersaudara itu.

 

 

Dari situ berbagai aktivitas pendukung, seperti aktif diberbagai LSM lingkungan hidup mulai diikutinya. Setelah melakukan penyadaran lingkungan di Kelurahan Baros dan Cikundul Sukabumi Jawa Barat, Khilda mulai dikenal dan dipercaya kalau dirinya seorang pemerhati lingkungan.

“Waktu itu, pertama kali memperkenalkan manfaat pengolahan sampah masih terbilang sulit. Apalagi masyarakat belum percaya, kalau sampah bisa diubah menjadi barang yang bernilai,” kenang Khilda saat pertama kali memperkenalkan manfaat pengolahan kompos dan kerajinan dari sampah di Kelurahan Baros.

Khilda akhirnya memang berhasil memperkenalkan manfaat pengolahan sampah kepada masyarakat Sukabumi. Berkat prestasi pengolahan sampah terpadu, Khilda bersama Pemda setempat, Sukabumi memperoleh kota terbersih kategori pengolahan sampah menjadi biotanol atau minyak sampah pada 2009 dari Kementrian Dalam Negeri RI.

Kini, siapa sangka proses perjalanannya yang panjang, lambat laun sejumlah daerah seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Maluku Utara menginginkan dirinya membuat pengolahan sampah terpadu. Tak jarang sejumlah investor kerap meminta dirinya, untuk membuat pengolahan dengan jenis yang sama.

“Sampai Desember besok, setidaknya proposal dan persiapan untuk pengolahan sampah seperti di Manado Sulut, harus selesai,” jelas Khilda yang pernah menerima penghargaan dari asoka young change maker 2009 dan Sampoerna Pejuang 9 Bintang.

Tak sampai disitu, penghargaan pun kembali menghampirinya pada 4 Desember lalu. Khilda terpilih menjadi pemenang favorit dalam anugerah Danamon Award 2011. Dalam ajang ini, PT Bank Danamon Tbk memilih lima pejuang kesejahteraan Indonesia. (ihq)

AddThis Social Bookmark Button