Haji Mabrur untuk Semua
NOVEMBER 2011
Haji Mabrur, Memberi Manfaat Menebar Rahmat
Bulan haji adalah bulan yang menjadi momentum bagi semua umat Muslim, khususnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah yang dilakukan sekali seumur hidup. Haji sendiri merupakan salah satu rukun di antara rukun-rukun islam yang lima. Haji di wajibkan bagi setiap muslim yang mampu Ibadah yang satu ini mempunyai keutamaan yang sangat berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Apalagi jika hajinya termasuk kategori haji mabrur yang tidak ada balasannya kecuali surga. Oleh karena itu banyak kaum muslimin yang mendambakannya dan bercita-cita untuk menggapai haji mabrur.
Kenapa harus menjadi haji yang mabrur? Ya, impian terbesar seluruh jamaah haji adalah ibadahnya diterima oleh Allah dan hajinya menjadi haji yang mabrur. Meraih haji mabrur harus kita perjuangkan., karena balasan haji mabrur adalah surga dambaan setiap umat Islam. Namun seseorang harus memperhatikan berbagai kriteria yang diajukan Allah. Hal ini berkaitan dengan niat sebelum keberangkatan haji.
Haji mabrur yang dimaksud di sini adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji. Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Jika telah dipahami apa yang dimaksudkan dengan haji mabrur, maka orang yang berhasil menggapai predikat tersebut akan mendapatkan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi SAW.
Tidak Semua Orang Menjadi Haji Mabrur
Setiap orang yang pergi berhaji pasti mencita-citakan haji yang mabrur. Haji mabrur bukanlah sekedar haji yang sah. Mabrur berarti diterima oleh Allah, dan sah berarti menggugurkan kewajiban. Bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya diterima oleh Allah. Meski yang mengetahui haji kita sah atau tidak adalah Allah semata, ada beberapa tanda-tanda yang diberikan para ulama dan bisa kita jadikan acuan apakah haji kita mabrur atau belum.
Seseorang yang akan berangkat haji harus mempunyai niat yang ikhlas karena Allah subhana wa ta’ala, bukan karena ingin dipuji orang dan berbangga-bangga dengan gelar haji.nya nanti. Seorang yang tidak ikhlas dalam beramal apapun termasuk haji, Allah akan menolak amal tersebut sekalipun di mata manusia ia nampak begitu agung. Ketika melakukan haji pun menempuh jalan yang benar, bukan dengan berbuat curang atau menggunakan harta yang haram, dan ketika melakukan manasik haji pun harus menjauhi maksiat, dan menjalankan rukun, syarat dan sunnah seperti yang dilakukan Nabi. Selain itu, sebaiknya kita juga menjauhi segala larangan selama ihram.
Setelah semua selesai dilaksanakan, maka timbul satu pertanyaan? Mabrurkah haji saya? Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi sangat berat untuk menjawabnya. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan barometer untuk mengetahui hajinya seseorang apakah tergolong mabrur atau tidak, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam berbagai kitabnya. Diantaranya apa yang dijelaskan oleh Imam an Nawawi bahwa tanda mabrurnya haji seseorang adalah keadaannya sekembali dari tanah suci semakin lebih baik bila dibandingkan sebelum berangkatnya haji.
Haji Mabrur, Jihad Paling Afdhol
Ibadah haji akan semakin terasa sempurna saat kita mendapat predikat haji mabrur. Haji yang dengannya akan beroleh pahala surga. Semua kebaikan, amalan, perbuatan dan akhlak yang selalu tercermin dalam kehidupan sehari-hari setelah berhaji akan semakin memperteguh keyakinan dan keimanan kita. Berbuat baik kepada saudara, keluarga, teman, tetangga dan kerabat baik jauh ataupun dekat.
Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa haji mabrur sendiri merupakan jihad yang paling afdhol dalam kehidupan kita. Jihad untuk melakukan kebaikan dan menghentikan segala aktifitas yang tidak diperkenankan dalam ajaran agama Islam. Dalam sebuah hadits yang dirieayatkan imam Bukhari pernah dikatakan oleh Abu Hurairah ra: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dalam hadits riwayat imam Bukhari lainnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Haji dalam pandangan Islam adalah jihad, karena terdapat mujahadah terhadap jiwa. Dalam amalan ini, terlihat bahwa kita berjihad dengan harta, jiwa dan badan kita. Seperti di dalam shalat, kita melakukan jihad dengan badan. Seperti halnya dengan puasa, kita jihad dengan menahan lapar dan haus, menahan hawa nafsu dan sebagainya. Juga terdapat jihad dalam bentuk harta dengan cara memberikan zakat fitrah kepada kaum lemah yang membutuhkan.
Haji Bermanfaat, Menebar Rahmat Untuk Umat
Dalam setiap sendi kehidupan, perlu adanya kesinambungan dan keseimbangan. Kebaikan yang harus terus dilakukan oleh semua, apalagi bagi kita yang sudah berhaji. Menjaga hubungan baik dengan saudara, membantu tetangga, kerabat, dan handai taulan yang kesusahan sebagai bentuk kepedulian dan tumbuhnya rasa empati dalam diri. Selalu memberikan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, tak pilih kasih dalam hidup bermasyarakat. Dan selalu mendekatkan diri kepada Allah secara lebih intens.
Selalu bersabar, bijaksana dalam memberi bantuan baik secara moril maupun materiil dengan niat ikhlas tanpa mengharap pujian atau imbalan. Tak pernah letih untuk mengajak umat kembali ke jalan kebaikan dan menjadikan masyarakat lebih taat dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Selalu berharap agar tenaganya bisa selalu terpakai untuk kebaikan, dan tawadhu untuk terus memperbaiki diri dan orang lain demi kesejahteraan batin individunya sendiri dan masyarakat sekitarnya. Memberikan manfaat tanpa menyebar mudharat, serta selalu hikmat mengingat bahwa semua adalah anugerah dari-Nya. Karena dengan berkah-Nya pula, mampu kita isi hidup dan mengisi hidup orang lain dengan amar ma’ruf nahi munkar sesuai koridor yang telah disyariatkan. Semoga Allah selalu mendekatkan kita pada kebaikan dan orang-orang yang berbuat baik serta bermanfaat untuk umat. Amin ya Rabbal alamin. (Lin)






