Sistem Irigasi Subak

MEI 2013

Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.-Q.S. an-Nahl/16: 10-11-

Mengingat kebesaran Allah, tak terbilang kita menyebutkannya satu persatu. Seperti di Indonesia, negeri yang berikilim tropis ini menjadi salah satu bukti kebesaran Allah dengan limpahan tanahnya yang subur. Hal ini semakin lengkap dengan baiknya sistem perairan yang dikelola dengan baik sehingga tanaman yang dihasilkan pun berkualitas bagus. Salah satu sistem perairan di Indonesia yang terkenal adalah Subak, di daerah Bali.

Mengenal Sistem Subak

Subak adalah sistem pengelolaan pendistribusian aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Sistem ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat Bali. Melalui sistem subak, para petani mendapatkan jatah air sesuai ketentuan yang diputuskan dalam musyawarah warga. 

Secara filosofis, keberadaan subak merupakan implementasi dari konsep “tri hita karana”, yang bila diartikan adalah tiga penyebab kebahagiaan (Tuhan, manusia dan alam). Tri hita karana merupakan konsep mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan, manusia dengan alam, dan antar manusia. Jadi dengan kata lain, kegiatan di dalam subak tidak selalu mengenai pertanian, tapi juga mencakup interaksi sosial antar warga dan ritual keagamaan untuk kesuksesan dalam bertani.

Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali. Subak terutama digunakan dalam sistem pengairan.

Dalam sistem ini setiap warga desa bertugas mengatur pembagian air, memelihara dan memperbaiki sarana irigasi, melakukan kegiatan pemberantasan hama, melakukan inovasi pertanian, dan mengaktifkan kegiatan upacara keagamaan

Keistimewaan Subak

Subak sebagai sistem irigasi bukan hanya mencakup bagaimana sistem irigasi yang tepat untuk diaplikasikan baik dalam pertanian, perikanan, maupun dalam memanfaatkan air sebagai sumberdaya alam. Yang membuat Subak itu menjadi lebih spesial adalah asas kerjanya berdasarkan asas keadilan. 

Di Bali, Subak memiliki organisasi dengan ketuanya yang disebut Pekaseh. Pekaseh bersama para petani, peternak, juga pengelola kegiatan yang terkait dengan air selalu melakukan perencanaan dan melaksanakan pengairan baik untuk sawah, kolam ikan, termasuk air bersih dengan sangat adil melalui musyawarah di Bali disebut Sangkep (Angkep = berdekatan/mendekat).

Perencanaan matang disiapkan bagaimana nantinya sebuah lahan akan diberi air, seberapa banyak, seberapa lama, dan bagaimana mereka bekerja semua terencana dengan baik. 

Sebelum dinobatkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO sudah banyak Mahasiswa juga peneliti termasuk pengamat pengairan dari berbagai negara datang ke Indonesia khususnya Bali untuk melakukan study tentang Subak.

Subak tidak hanya berlandaskan asas keadilan tapi juga bagaimana menjaga kualitas dan kuantitas air dan memanfaatkannya secara optimal, bagaimana mengelola air agar tidak lewat begitu saja dari gunung menuju laut. 
Kata subak dinilai sebagai bentuk modern dari kata suwak. Suwak ditemukan dalam Prasasti Pandak Badung (1071) dan Klungkung (1072). Suwak berasal dari dua kata, “su” yang berarti baik dan “wak” untuk pengairan. Dengan demikian, suwak dapat diartikan sebagai sistem pengairan yang baik. Suwak itu telah berjalan di wilayah Klungkung. Wilayah yang mendapat pengairan yang baik disebut Kasuwakan Rawas. Penamaan itu tergantung pada nama desa terdekat, sumber air, atau bangunan keagamaan setempat.

Pembentukan kasuwakan tak lepas dari pengaruh agama Hindu yang dianut masyarakat setempat. Agama Hindu di Bali kala itu mengenal konsep Tri Hita Karana yang merumuskan kebahagiaan manusia. Pencapaian kebahagiaan hanya bisatercapai melalui harmonisasi tiga unsur: parahyangan(ketuhanan), pawongan (manusia), dan palemahan (alam). Masyarakat percaya bahwa mereka harus bekerja mengolah tanah dan air, tapi kepemilikan dua unsur tersebut sejatinya berada di tangan dewa-dewi.

Karena itu masyarakat harus menjaga tanah dan air agar tetap berlimpah. Penguasaan dan keserakahan atas tanah dan air tak dapat dibenarkan. Jika melanggarnya, sanksi pengucilan bisa menimpanya. Konsep ini mewujud dalam kasuwakan. Sebagai ungkapan rasa syukur atas keberlimpahan tanah dan air, masyarakat mendirikan beberapa bangunan keagamaan seperti pura dan candi di dekat sawah. Beberapa pura bertitimangsa abad ke-9 ditemukan di beberapa sawah. Pura itu dipersembahkan kepada Dewi Sri (dewi pertanian dan kesuburan).

Keberhasilan Sistem Subak

Pada abad ke-20, pemerintah kolonial ikut mendorong perkembangan subak. Mereka membangun bendungan-bendungan seperti Dam Pejeng (1914), Dam Mambal (1924), Dam Oongan (1925), dan Dam Sidem buntut (1926). Mereka ingin hasil sawah meningkat. Mereka tak mencampuri aturan-aturan internal subak.

Keberhasilan subak dalam panen terbukti melalui statistik hasil pertanian 1934-1981 yang dikeluarkan IPB. Bali selalu menempati posisi di atas Jawa dan Madura untuk hasil panen nasional. Keberhasilan itu mendorong pemerintah daerah membangun museum subak pada 1981. Juris di Bali pun mulai tertarik mengenal subak. Sayangnya, campurtangan pemerintah terhadap subak sejak 1981 sempat menurunkan hasil panen. Meski demikian, subak tetap terbukti mampu memberikan andil pada hasil panen dan kunjungan wisatawan di Bali. Lebih dari itu, subak tak sekadar praktik ekonomi, tapi juga sosial, hukum, dan agama.

Hanya Kepada Allah Kita Bersyukur

Dari banyak pembahasan di atas jika kita telaah lebih dalam, semua berpulang pada diri kita. Bagaimana sistem irigasi subak ini bisa berhasil? Itu karena pemikiran manusia. Dan mereka semua dianugerahi akal untuk berbuat baik dan menyukseskan pertaniannya sebenarnya, karena Allah. Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta segala isinya agar manusia bersyukur dan menyembah-Nya, serta tidak menyekutukan dengan selain-Nya.

Seperti dalam firman Allah Surat Yunus ayat 55:

“Ketahuliah sesungguhnya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Bukankah janji Allah itu benar? Tetapi kebany akan mereka tidak mengetahui.”

Semoga dengan suksesnya sistem irigasi subak ini menyadarkan kita betapa besar kuasa Allah akan ciptaan-Nya. Dia berhak menghidupkan, mematikan, menyuburkan, atau menanduskan apa-apa yang dikehendaki-Nya. Seiring kesyukuran pertanian yang sukses, diiringi kesyukuran hanya kepada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah SWT. Dengan bersyukur, insya Allah nikmat-Nya akan terus berlimpah untuk kita. Wallahu ‘alam bi shawwab(lin/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button