Pil Anti Haid, Amankah?

JULI 2012

Bagi sebagian pria muslim, berpuasa merupakan ibadah yang mudah dan kebanyakan bisa melakukan ibadah puasa sebulan penuh tanpa hambatan. Akan tetapi berbeda halnya dengan wanita. Jarang sekali wanita yang berhasil menamatkan puasa hingga sebulan penuh. Lalu, bolehkah wanita menggunakan pil anti haid agar bisa puasa Ramadhan sebulan penuh?

Ramadhan selalu memberikan aura kesenangan tersendiri bagi muslim kebanyakan. Bagaimana tidak, di bulan yang penuh rahmat itu kaum muslimin diberikan kesempatan beribadah sebanyak-banyaknya dengan pahala besar tiada tara. Di antara ibadah yang jadi hal utama di bulan Ramadhan adalah berpuasa.

Puasa artinya menahan diri dari makan dan minum serta menahan hawa nafsu dari segala hal yang bisa membatalkan puasa, sejak terbit matahari hingga terbenam matahari. Puasa di bulan Ramadhan hukumnya adalah wajib bagi umat Islam yang sudah baligh, karena puasa merupakan salah satu rukun Islam.

 

 

Sudah menjadi kebiasaan wanita normal untuk kedatangan tamu setiap bulannya. Kita biasa menyebutnya sebagai “darah haid”, yaitu suatu darah yang keluar dari dalam rongga rahim secara rutin akibat tidak terbuahinya sel telur, sehingga lapisan endometrium yang terdapat pada dinding rahim itu mengelupas dan menjadi darah haid.

Siklus darah haid bagi wanita normal sekitar 28 hari setiap bulannya, dimulai dari hari pertama keluarnya darah tersebut. Darah haid adalah darah kotor yang merupakan darah penyakit, yang jika tidak keluar niscaya akan timbul berbagai penyakit.

Dalam beberapa kesempatan, wanita tidak menginginkan darah tersebut keluar dikarenakan tidak mau tertinggal dalam beberapa ibadah, misalnya dalam bulan puasa agar bisa melaksanakan puasa secara penuh selama sebulan. Untuk mengatasi masalah tersebut, para wanita mengambil solusi dengan meminum pil anti haid. Bolehkah dilakukan?

Pil Anti Haid Menurut Agama dan Kedokteran

Sebagian ulama berpendapat, para wanita tak perlu melakukan hal ini, tetaplah pada ketetapan yang ditentukan Allah kepada kaum wanita, karena di balik darah haid itu ada hikmah tersendiri. Jadi jika hal yang biasanya terjadi secara alami itu dicegah, maka akan timbul efek sampingan.

Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Prof Dr Hj Qomariyah RS, MS, PKK, AIFM, penggunaan pil anti haid tak memiliki efek samping pada wanita. Pil anti haid sebetulnya merupakan hormon yang ada pada wanita, sehingga kalau diminum tak akan ada masalah. Kalau mau puasa penuh di bulan Ramadhan, sebaiknya tak usah mengonsumsi pil anti haid. Hal itu disebabkan karena wanita boleh mengganti puasanya yang batal (atau tak puasa sama sekali) di hari lain. Itu adalah suatu keistimewaan bagi wanita agar tak usah puasa saat haid di bulan Ramadhan. Tapi kalau seorang wanita hendak pergi haji atau umroh, penggunaan pil anti haid disarankan sekali. Saran itu diberikan karena kita pergi ke sana (Tanah Suci Mekkah) sudah mengeluarkan uang banyak. Selain itu, waktu untuk beribadah pun ‘tertentu’, kapan lagi kita ke sana. Jadi kita memang mau full menjalankan ibadah dengan baik.

 

“Jadi sebetulnya yang dianjurkan untuk mengonsumsi pil anti haid itu ketika akan menjalankan ibadah haji atau umroh, sedangkan pemakaian di bulan Ramadhan agar tak mendapat haid, itu tak perlu, dengan alasan puasanya bisa diganti di bulan lain,” tutur Dokter Qomariyah.

Pil anti haid ternyata masih belum diperbolehkan jika penggunaannya untuk mencegah datang haid di bulan Ramadhan agar seorang wanita bisa melaksanakan puasa sebulan penuh. Alasannya adalah bahwa Allah memberikan keringanan bagi wanita yang mendapatkan haid saat di bulan Ramadhan dengan menggantinya di bulan-bulan lain.

Di balik semua alasan penggunaan pil anti haid itu, patut dilihat manfaat dan mudharatnya. Penggunaan pil anti haid haruslah memerhatikan dampaknya bagi kesehatan. Penggunaan pil anti haid yang di luar pengawasan dokter bisa jadi membahayakan penggunanya. Dan lebih dari itu, bagi wanita yang sudah menikah, pemakaian pil anti haid wajib mendapatkan izin terlebih dahulu dari suaminya. Apabila kedua izin dari dua pihak itu (dokter dan suami) telah terpenuuhi, maka dipersilakan menggunakan pil anti haid sesuai kebutuhan. Akan tetapi bila pada penggunaannya ternyata malah mengganggu kesehatan tubuh, maka disarankan untuk berhenti mengonsumsi pil anti haid, karena apabila dipaksakan meneruskan meminumnya, maka akan berdampak tak baik bagi tubuh dan juga psikis. Jika tubuh dan psikis sudah terganggu, maka bukan boleh atau mubah lagi pemakaian pil anti haid itu, melainkan jadi HARAM.

Menurut Majelis Ulama Indonesia, setelah melakukan sidang pada 12 Januari 1979, ternyata penggunaan pil atau obat anti haid memiliki beberapa hukum, sehingga keputusannya adalah: (1) Penggunaan pil anti haid untuk kesempatan ibadah haji hukumnya MUBAH. (2) Penggunaan pil anti haid dengan maksud agar dapat mencukupi puasa Ramadhan, hukumnya MAKRUH. Akan tetapi, bagi wanita yang sukar meng-qada puasanya pada hari lain, hukumnya MUBAH. (3) Penggunaan pil anti haid selain dari dua hal tersebut di atas, hukumnya tergantung pada niatnya. Bila untuk perbuatan yang menjurus kepada pelanggaran hukum agama, maka hukumnya HARAM.

Solusi Terbaik Untuk Para Wanita

Dalam kaidah fikih ditegaskan, “Laa dharara wala dhirar” yang artinya: tidak boleh merugiakan diri sendiri dan tidak boleh merugikan orang lain. Dengan demikian, bila dalam penggunaan pil anti haid itu ada pihak yang dirugikan, baik diri sendiri maupun orang lain, maka sebaiknya pil anti haid tak usah dikonsumsi lagi. Selain itu, menjaga kesehatan tubuh adalah salah satu tujuan utama syariat Islam. Meskipun demikian, penyerahan diri dan ketundukan seorang muslimah kepada kehendak dan takdir Allah yang memberikan kondisi haid padanya dan mewajibkannya tidak melaksanakan ibadah puasa, adalah lebih baik dan lebih berpahala, dibandingkan memaksakan diri untuk berpuasa penuh dengan menggunakan jalan pengonsumsian pil anti haid yang belum tentu baik bagi tubuhnya. Wallahu ‘alam bishshawab.  (ric)

AddThis Social Bookmark Button