Ziarah Kubur Menjelang Hari Raya

AGUSTUS 2012

Tak seperti hari-hari biasanya, Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak di Jakarta Pusat dipenuhi para “pengunjung”. Mereka berbondong-bondong membawa sanak keluarga, termasuk anak-anak kecil dalam tuntunan tangan serta dalam gendongan. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda motor. Tak sedikit pula yang membawa mobil berisi penuh calon peziarah.

Ternyata tak hanya di TPU Karet Bivak pemandangan itu bisa kita lihat menjelang Lebaran tiba. TPU-TPU besar dan kecil di setiap pelosok negeri ini ramai dikunjungi para peziarah. Rombongan peziarah itu sebenarnya sudah bisa dilihat semenjak Ramadhan akan tiba. Biasanya seminggu sebelum Ramadhan tiba-lah pekuburan-pekuburan akan dipadati para peziarah, plus para penjual bunga tabur di sekeliling pekuburan itu.

Pemandangan seperti itu memang sudah sering kita saksikan. Tak hanya di desa-desa, di perkotaan pun tradisi mengunjungi pekuburan, atau berziarah kubur, atau ada pula yang menyebutnya “nyekar”, biasa dilakukan menjelang bulan Ramadhan dan mendekati Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha. Dalam melaksanakan prosesi nyekar, para peziarah selalu dilengkapi berbagai hal seperti bunga untuk ditaburkan di atas kuburan orang yang diziarahinya, air (air kembang atau air doa), buku Yaasiin atau Al-Qur’an, serta alat-alat kebersihan seperti sapu lidi dan perkakas pembabat rumput seperti golok, celurit atau sabit, dan gunting rumput.

Tapi, sebetulnya mereka mau berziarah atau mau bersih-bersih kuburan? Adakah aturannya dalam Islam untuk berziarah ke kuburan?

Menurut Ustadz Mukhtar Ibnu, Imam Masjid Agung Al-Azhar, Islam mengajarkan beberapa hal dalam penyelenggaraan pengurusan jenazah, bahwa umat muslim memiliki empat kewajiban terhadap sesama muslim lainnya yang meninggal dunia, yaitu:

  1. Memandikan,
  2. Mengafani,
  3. Menyolati, dan
  4. Menguburkannnya.

Apabila telah dipenuhi keempat hal itu pada seorang jenazah, maka tuntaslah kewajiban orang yang ditinggalkannya.

Adapun sunahnya melakukan ziarah kubur adalah dzikrul maut bagi kita yang masih hidup supaya kita berhati-hati dalam hidup ini serta dalam melangkah. Dengan berziarah, kita diharapkan selalu mengingat mati agar tak melenceng dari kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT, karena kita pasti akan mati dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari malaikat Allah ketika dalam kubur, hingga menunggu sampai hari kiamat tiba.

Setelah kita menyelenggarakan pemrosesan pengurusan jenazah sampai menguburkanya, kita hanya ditntut untuk berdoa. Berdoanya pun sebenarnya dituntut untuk dilakukan masing-masing, berdoa supaya orang yang baru kita kuburkan itu kokoh jiwanya agar bisa menjawab prtanyaan malaikat dengan baik, antara lain dari pertanyaan itu: maroobbuka? Wanabiyuka? Bagi orang beriman dan sholeh, pasti ia bisa menjawab. “Siapa tuhan kamu?” Tuhan saya Allah SWT. “Siapa nabi kamu?” Nabiku Muhammad SAW.

Kemudian bagi orang yang bisa menjawab dengan baik, Allah SWT akan memperlihatkan surga. Tapi ia tak serta-merta langsung masuk surga, jika kiamat sudah berlangsung dan setelah melewati yaumul hisab, barulah ia akan dimasukkan ke dalam surga.

Bagi orang yang yang jahat dan tak sholeh, yang tak bisa menjawab pertanyaan itu, Allah akan memperlihatkan neraka. Dia merasa ketakutan dan berharap agar kiamat itu tak jadi atau ditunda-tunda terus, supaya ia lama di alam kubur. Bagi orang yang sholeh dan beriman yang telah diperlihatkan syurga, ia berharap agar segera kiamat.

Doa kita insyaAllah bisa membuat orang yang kita cintai yang telah mendahului kita bisa tenang dan selamat di alam kubur. Namun, beberapa kepercayaan yang ada di masyarakat sekarang adalah, agar jenazah bisa selamat di alam kubur, ia harus diberikan penyejuk dalam kuburnya. Maka dari itu ada beberapa peziarah yang menyiramkan air (air kembang atau ada yang menyebutnya air doa) dke atas kuburan.

Menyiram air di atas tanaman itu dibolehkan, tapi menyiram air di atas kuburan ketika jenazah dikuburkan atau setelah beberapa lama dikuburkan, itu tak ada sunahnya. Tabur bunga juga tak ada sunah dari awal, tak dicontohkan oleh Rasulullah. Hal seperti itu kita sebut sebagai tasyabbuh. Tasyabbuh adalah meniru perbuatan-perbuatan suatu kaum yang tidak ada mendatangkan manfaat bagi kita. Perbuatan menyiram air bunga dan menaburkan bunga di atas kuburan itu merupakan salah satu contoh perbuatan tasyabbuh karena hanya meniru-niru kaum nasrani yang suka menaburkan bunga di atas kuburan orang yang meninggal dunia. Perbuatan atau kegiatan-kegiatan seperti itu dilarang oleh Islam.

Ziarah kubur, kapan pun diperbolehkan dan disunahkan, tapi tak ada ziarah kubur yang dikhususkan menjelang masuk Ramadhan, misalnya. Atau khusus dilakukan menjelang Lebaran Idul Fitri atau Idul Adha. Untuk pelaksanaan ziarah kubur seperti itu memang tak ada syariat dan sunahnya dari Nabi. Jikalau mau ziarah kubur, ya silakan lakukan kapan saja, dengan tujuan dzikrul maut.

Sebuah kebiasaan yang membudaya di tengah-tengah kita, salah satunya masih terjadi di sebuah daerah di Pulau Jawa, menjadi contoh buruh betapa hidupnya budaya tasyabbuh yang mengikuti kebiasaan lama nenek moyang di zaman jahiliyah. Kegiatan ziarah yang masih diwarnai budaya jahiliyah itu contohnya adalah Kenduren Sabanan atau Munggahan, yang menurut cerita, tujuannya adalah untuk menaikkan para leluhur, dilakukan pada bulan Sya’ban. Siang hari sebelum dilaksanakan upacara ini, biasanya dilakukan ritual nyekar, yaitu mendatangi makan leluhur, untuk mendoakan arwahnya, biasanya yang dibawa adalah kembang dan menyan. Tradisi bakar kemenyan ini diawali dengan jampi-jampi dan membakar kemenyan di depan pintu.

Pengkhususan kegiatan ziarah yang masih terkontaminasi budaya animisme itu sudah sepatutnya tak lagi dilakukan kita karena mengarah pada perbuatan syirik. Adapun waktu bagi kita untuk berdoa bagi yang sudah meninggal bisa dilakukan di mana pun kita berada. Allah akan menerima, tergantung siapa yang berdoa, apa akan dikabulkan atau tidak. Di mana pun di planet ini, Allah akan mengabulkan, karena dengan Allah kita tak ada jarak, waktu atau tempat. Kita tak hanya berdoa di kuburan, tapi di rumah atau di mana saja, doa kita akan sampai.

Ada hal lain yang juga dilarang dilakukan di kuburan, yaitu  itu diharamkan mengaji dan juga sholat di kuburan. Membaca Yaasiin, membaca Al-Qur’an di kuburan itu tidak disunahkan, bahkan diharamkan oleh ulama Islam.

Menurut Ustadz Mukhtar, itu hanya tradisi-tradisi saja, “Apalagi kita membaca Al-Qur’an, mengkhatamkan Al-Qur’an selama tujuh hari atau  membuat panggung di atas kuburan, tahlilan dan lain-lain itu adalah hal bid’ah yang diharamkan oleh Islam.”  (ric)

AddThis Social Bookmark Button