Info Halal

More Articles...

Tape Ketan, Penganan “Beralkohol” nan Menggiurkan

AGUSTUS 2013

Idul Fitri telah datang, saat bahagia penuh sukacita pun tiba. Momen indah berkumpul bersama keluarga pun jadi kenangan tak terlupakan. Hanya setahun sekali acara kumpul keluarga dengan lengkap bisa dilakukan.

Kebahagiaan berkumpul bersama keluarga akan bertambah hangat tatkala terhidang sajian nikmat penggugah selera seperti kue-kue ala Lebaran yang terhidang di meja tamu. Ada kue ala kota besar seperti kue putri salju, kue kastangel, kue nastar, kue lidah kucing, kue semprit, dan lain sebagainya. Ada pula kue tradisional seperti rengginang, opak, semprong, tape ketan serta uli, dan masih banyak lagi macamnya.

Kue-kue enak tersebut bisa kita dapatkan dengan membelinya di toko-toko kue bagi kaum wanita yang sibuk menyiapkan hal lain di hari nan fitri. Namun bagi kaum wanita yang memiliki waktu luang, membuat kue semacam itu menjadi hal yang sangan menyenangkan.

Berbagai bahan pembuat kue pun dibeli dari pasar atau supermarket, dikerjakan dengan penuh sukacita. Namun jangan sampai lengah, pemilihan bahan yang berkualitas baik dan halal merupakan dua syarat utama yang harus diperhatikan.

Ada beberapa bahan pembuat kue yang diindikasikan belum halal, misalnya terbuat dari binatang yang dilarang dalam agama Islam. Ada pula bahan yang berasal dari alkohol atau khamar yang jelas-jelas haram dalam agama kita. Semua bahan-bahan tersebut patut diperhatikan sehingga tidak kita gunakan dalam pembuatan kue.

Alkohol dan Turunannya

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’.” (QS An-Nisa, 43)

Alkohol saat ini banyak digunakan sebagai bahan baku, bahan tambahan, ataupun bahan penolong dalam pembuatan makanan, minuman, obat-obatan, dan kosmetika, serta kepentingan lainnya. Termasuk ke dalamnya yang patut kita waspadai adalah menjadi bahan tambahan pembuat kue Lebaran.

Sebagai muslim yang aktif berkreasi dalam membuat makanan, sudah seharusnya memerhatikan atau setidaknya memiliki ilmu dalam hal ini. Berdasarkan penjelasan dari LP POM MUI dalam rapat Tim Gabungan Komisi Fatwa dan LP POM (Himpunan Fatwa MUI sejak 1975) bahwa secara kimiawi, alkohol tidak hanya terdiri dari etanol, melainkan juga mencakup senyawa lain, seperti methanol, propanol, butanol, dan sebagainya. Hanya saja etanol (dengan rumus kimia C2 H5 OH) banyak digunakan untuk produksi produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika. Namun etanol (atau etil alkohol) di dunia perdagangan dikenal dengan nama dagang alkohol.

Dilihat dari proses pembuatannya, etanol dapat dibedakan menjadi etanol hasil samping industri khamar dan etanol hasil industri non-khamar (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non-khamar).

Atas pengetahuan tersebut di atas, maka Majelis Ulama Indonesia dalam fatwanya memutuskan bahwa: “Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non-khamar (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non-khamar) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya: MUBAH, apabila secara medis tidak membahayakan.”

Hal ini berdampak baik bagi kita yang hendak menggunakan bahan yang diindikasikan bersinggungan dengan bahan kimia hasil fermentasi non-khamar. Salah satu jenis penganan yang banyak orang yang meributkan kehalalan atau tidaknya adalah tape ketan.

Tape Ketan Lebaran

Makanan yang bercita rasa manis ini memang sering dijumpai di beberapa daerah sebagai makanan khas Lebaran. Di Jawa Barat, tape ketan biasa dijumpai kala Lebaran dalam toples besar. Para sanak keluarga atau tetangga yang datang bersilaturahim biasanya menyendok tape ketan ke dalam piring kecil dan menikmatinya dengan teh tawar agar rasa manis yang ada pada tape ketan tidak terlalu membuat gigi ngilu. Ada pula yang menghidangkannya dengan dibungkus kecil-kecil dengan daun jambu.

Tape ketan yang biasa dihidangkan adalah tape ketan hitam dan tape ketan putih. Namun di daerah lain biasanya tape ketan putih diberi pewarna lain (misalnya hijau) dengan menggunakan bahan alami seperti daun suji dan pandan atau daun katuk.

Masyarakat Betawi pun tak kalah kreatif dalam menyajikan tape ketan. Biasanya kala Lebaran disajikan tape uli sebagai pendamping tape ketan. Perpaduan cita rasa gurih dari ketan uli membuat rasa manis dari tape ketan menjadi sedikit melunak, sehingga kedua penganan ini sangat cocok dipadukan.

Masih banyak daerah lain di Nusantara yang juga menyediakan hidangan tape ketan sebagai menu Lebaran. Dan di setiap daerah, tape ketan memiliki nama berbeda. Di Jawa Barat namanya peuyeum. DI Jawa Timur namanya tape puhung. Di Aceh, namanya tapai pulut.

Kontroversi

Tape ketan memiliki baanyak kandungan gizi, seperti vitamin B1 yang berguna untuk sistem saraf, sel otot, dan organ pencernaan. Tape ketan pun memiliki kandungan zat yang bisa mengeluarkan toksin atau racun dalam tubuh. Walaupun begitu, mengonsumsi tape ketan dalam jumlah yang banyak ternyata dapat menyebabkan infeksi pada darah dan gangguan pencernaan. Beberapa kelompok masyarakat memiliki pandangan berbeda tentang tape ketan. Ada yang menyatakan bahwa tape ketan disangsikan kehalalannya karena ragi atau bahan fermentasinya bisa membuat beras ketan menghasilkan alkohol. Namun ada pula yang mengungkapkan pendapatnya bahwa tape ketan tidaklah haram walau terkandung etanol di dalamnya.

Menurut Ustadz Irfan Helmi dari MUI, tape ketan tidak haram dan boleh dimakan karena tidak memabukkan dan tidak pula najis. Hal ini pun diatur dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Nomor 11 Tahun 2009 tentang Hukum Alkohol, bahwa makanan yang alkoholnya berasal dari bukan khamar adalah tidak najis.

Namun begitu, apabila ada orang yang menggunakan cairan dari tape ketan dikumpulkan dan dibuat sebagai minuman yang mengandung alkohol tinggi itu tidak dibenarkan.

Bagi yang melakukan praktik ini akan dilaknat oleh Allah SWT. Hal ini seperti yang terdapat pada hadis: “Allah melaknat (mengutuk) khamar, peminumnya, penyajinya, pedagangnya, pembelinya, pemeras bahannya, penahan atau penyimpannya, pembawanya, dan penerimanya.” (HR Ahmad dan Thabrani dari Ibnu Umar).

Innama ‘amalu binniat, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Bila niatnya membuat minuman beralkohol dari tape ketan ya itu jelas haram,” ucap ustadz Irfan Helmi. (Ric)

Tips Seputar Tape Ketan

  1. Buatlah tape ketan sesuai keperluan, jangan berlebihan.
  2. Proses pembuatan tape ketan harus dengan alat yang steril agar proses fermentasi berhasil.
  3. Pastikan menggunakan ragi yang baik dan tidak berasal dari khamar.
  4. Jangan terlalu lama memeram tape agar berhasil difermentasi.
  5. Bila perlu, pasteurisasilah (panaskan hingga 70-80 derajat) tape yang sudah jadi, agar proses fermentasi terhenti.
  6. Konsumsilah tape ketan seperlunya, jangan terlalu banyak karena akan membuat pencernaan terganggu.
AddThis Social Bookmark Button

Parcel Hadiah Kepada Orang Penting, Halalkah?

JULI 2013

Lebaran tinggal menghitung hari. Banyak toko maupun perusahaan perbelanjaan yang sibuk membuat banyak parcel untuk dikirim ke berbagai penjuru negeri, entah untuk perorangan, maupun sebuah instansi. Apakah parcel lebaran dalam hal ini diharamkan?

Bagi sebagian orang, parcel sudah menjadi hal yang biasa ketika dari kita ada yang memperoleh parcel dari saudara muslim lainnya saat Idul Fitri atau lebaran. Ini merupakan bentuk saling memberi hadiah yang semakin memupuk rasa kasih dan sayang terhadap sesama. Namun, ada satu catatan penting yang wajib diperhatikan dan menjadi problem jika parcel tersebut diberikan kepada orang penting (pejabat).

Mempererat Ukhuwah

Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai”. (H.R. Al-Baihaqi dalam Sunnah al-Kubro)

Saling memberi hadiah dalam hal ini menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum muslimin.

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta mencintai, sayang menyayangi, dan bantu membantu di antara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur malam hari, dan menggigil demam.” (H.R. Muslim, dari an-Nu’man ibn Basyir)

Begitulah beliau menggambarkan betapa erat ikatan ukhuwah antar sesama muslim. Apalagi dengan pemberian hadiah karena saling menyayangi, karena Allah.

Hadiah Berubah Bencana

Hadiah yang diberikan seseorang tidak selamanya halal dan baik seperti di atas. Hadiah bisa menjadi haram karena ada maksud tertentu. Itulah hadiah yang diserahkan pada pejabat atau para hakim. Mereka mendapat hadiah karena jabatannya. Kalau saja mereka rakyat biasa, mereka pasti tidak mendapat hadiah itu.

Hadiah atau parcel saat ini umumnya sudah dilandasi motivasi tertentu. Kebanyakan parcel ditujukan kepada relasi kerja baik untuk menjaga hubungan kerjasama yang sudah ada, menjalin hubungan kerja baru, atau melicinkan proses kerja sama.

Parcel tidak lagi dipandang sebagai ungkapan kasih sayang atau ucapan terima kasih, namun lebih sebagai kewajiban mengirim untuk memberikan pelayanan. Sehingga bisa dimenegerti jika kini pemberian parcel dilarang.

Hadiah semacam ini pernah terjadi pada masa Rasulullah, seorang pekerja mengurus zakat menerima hadiah. Nabi saw mencelanya.

Hadits dari Abu Humaid As-Sa’idi, Rasulullah saw bersabda, Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat)." (HR. Ahmad)

Mungkin karena motifnya negatif, dari Komisi Tindak Pidana Korupsi melarang para penyelenggara negara mulai dari pejabat pemerintah pusat, anggota dewan perwakilan, para gubernur, bupati, walikota, dan pejabat daerah menerima parcel dalam menghadapi hari raya Idul Fitri.

Pendapat Ulama tentang Hadiah/Parcel

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan, “Para ulama tidak berselisih pendapat mengenai terlarangnya hadiah bagi pejabat." Ibnu Habib menjelaskan, “Para ulama tidaklah berselisih pendapat tentang terlarangnya hadiah yang diberikan kepada penguasa, hakim, pekerja (bawahan) dan penarik pajak.” Demikianlah pendapat Imam Malik dan ulama Ahlus Sunnah sebelumnya.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits Abu Humaid terdapat penjelasan bahwa hadayal ‘ummal (hadiah untuk pekerja) adalah haram dan ghulul (khianat). Karena uang seperti ini termasuk pengkhianatan dalam pekerjaan dan amanah. Oleh karena itu, dalam hadits di atas disebutkan mengenai hukuman yaitu pekerja seperti ini akan memikul hadiah yang dia peroleh pada hari kiamat nanti, sebagaimana hal ini juga disebutkan pada masalah khianat. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menjelaskan dalam hadits tadi mengenai sebab diharamkannya hadiah seperti ini, yaitu karena hadiah semacam ini sebenarnya masih karena sebab pekerjaan, berbeda halnya dengan hadiah yang bukan sebab pekerjaan. Hadiah yang kedua ini adalah hadiah yang dianjurkan (mustahab). Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan mengenai hukum pekerja yang diberi semacam ini dengan disebut hadiah. Pekerja tersebut harus mengembalikan hadiah tadi kepada orang yang memberi. Jika tidak mungkin, maka diserahkan ke Baitul Mal (kas negara).”

Dari Majelis Ulama Indonesia sendiri memutuskan bahwa hadiah atau pemberian kepada orang lain (pejabat) adalah suatu pemberian dari seseorang dan/ atau masyarakat yang diberikan kepada pejabat, karena kedudukannya, baik pejabat pemerintahan maupun lainnya. Hukumnya ada dua:

  1. Jika pemberian hadiah itu pernah dilakukan sebelum pejabat tersebut memegang jabatan, maka pemberian seperti itu hukumnya halal, demikian juga menerimanya
  2. Jika pemberian hadiah itu tidak pernah dilakukan sebelum pejabat tersebut memegang jabatan, maka dalam hal ini ada tiga kemungkinan. Pertama, jika antara pemberi hadiah dan pejabat tidak ada atau tidak akan ada urusan apa-apa, maka memberikan dan menerima hadiah tersebut tidak haram. Kedua, jika antara pemberi hadiah dan pejabat terdapat urusan, maka bagi pejabat haram menerima hadiah tersebut, sedang bagi pemberi haram memberikannya apabila pemberian itu bertujuan meluluskan sesuatu yang batil. Ketiga, jika antara pemberi hadiah dan pejabat ada sesuatu urusan, baik sebelum maupun sesudah pemberian hadiah dan pemberiannya itu tidak bertujuan untuk sesuatu yang batil, maka halal bagi pemberi memberikan hadiah itu, tetapi bagi pejabat haram menerimanya.

Parcel yang Baik dan Halal untuk Orang Penting

Ketika parcel kepada orang penting dalam hal ini pejabat mempunyai hukumnya sendiri, ada hadiah atau parcel yang baik dan halal baik bagi pemberi dan penerima. Dari ustadzah Nur mengatakan, hadiah yang baik dan halal itu hadiah yang diberikan bukan untuk hakim dan pejabat. Misalnya hadiah seorang teman untuk temannya, untuk sahabat, saudara, dan keluarga dekat maupun jauh. Hadiah yang diberikan pun berdasarkan atas kasih dan sayang sesama muslim, bukan karena motivasi tertentu.

Semoga kita dijauhkan dari segala hal yang tidak disukai Allah, termasuk memberikan hadiah bagi orang penting (pejabat) demi meluluskan suatu perbuatan, atau melicinkan suatu proyek kerja sama. Wallahu ‘alam bishawwab. (lin/ berbagai sumber)

Tips Memberikan Hadiah Parcel

  1. Pastikan tujuan awal karena kasih sayang, bukan motivasi tertentu yang batil
  2. Kirim parcel dengan memperhatikan isinya. Tidak dianjurkan mengirimkan parcel (misalnya makanan) yang sudah kadaluwarsa
  3. Berikan parcel secara sederhana. Tidak berlebihan
  4. Berikan parcel saat pertengahan puasa. Jadi saat lebaran, parcel sudah tiba di tempat tujuan
AddThis Social Bookmark Button

Marus, Halalkah?

JUNI 2013

Banyak kuliner yang menjamur, tak hanya di Indonesia bahkan dinegara-negara lain pun memiliki macam-macam panganan yang bisa menggoyang lidah, namun apakah makanan yang disajikan semua itu halal? Bagaimana dengan bahan baku pembuatan makanan tersebut?

Marus merupakan salah satu bentuk olahan dari darah yang dibekukan. Sampai sekarang marus masih sering disantap, tak hanya di Indonesia bahkan diluar negeri juga banyak memproduksi sekaligus mengonsumsi marus.

Marus berasal dari darah hewan yang mengalir, kemudian darah diberi garam dan dibiarkan membeku hingga kental, setelah mengental, marus siap direbus atau digoreng. Namun, apakah  bahan hasil olahan darah halal dimakan? Ternyata tidak! Darah sudah pasti haram, karena mengonsumsi darah sama saja dengan memasukkan jutaan bakteri kedalam tubuh.

Di Jerman, marus disajikan dalam bentuk sosis. Ya, sosis darah, seperti sosis thueringer, sosis lidah, dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, darah hewan yang mengalir juga dapat dikeringkan dan bisa diolah menjadi tepung darah yang biasa dibuat untuk pakan ternak. Darah yang dikeringkan dapat digunakan sebagai pewarna merah dalam makanan, dan masih banyak lagi yang bisa diolah dari darah.

Di samping langsung diolah menjadi marus dan sosis darah, darah juga dapat dikeringkan langsung dan diolah menjadi tepung darah yang berfungsi baik sebagai bahan pakan ternak ataupun ditambahkan kedalam pangan olahan tertentu dengan maksud untuk mempertinggi nilai gizinya, misalnya untuk meningkatkan kadar besinya, karena didalam darah banyak mengandung zat besi.

Selain itu, darah juga digunakan untuk meningkatkan kadar proteinnya. Di samping itu, tepung darah dapat berfungsi sebagai bahan pengikat atau bahan pengisi yang dapat memperbaiki flavor ataupun mutu pangan olahan, misalnya darah kering sering ditambahkan ke dalam sosis agar warna sosis dan daya ikat air sosis menjadi lebih baik.

Darah juga diproses lebih lanjut, misalnya dipisahkan plasma darah dan serum darahnya, lalu dikeringkan menjadi plasma darah kering yang siap digunakan sebagai bahan pangan pembantu dalam proses pengolahan pangan selanjutnya. Hasil olahan darah ini juga digunakan untuk menggantikan sebagian tepung gandum pada pembuatan roti, juga dapat digunakan sebagai bahan pengganti sebagian putih telur pada pembuatan kue.

Dari darah juga dapat dihasilkan konsentrat globin yang dapat digunakan sebagai pengganti sebagian daging tanpa lemak pada produk patty (meat pie). Produk lain yang dapat dihasilkan dari darah yaitu yang disebut gel fibrin yang ditambahkan pada daging mentah sehingga membentuk reformed meat products. Daging yang dibuat dengan menambahkan gel fibrin disebut super glue steaks dan telah dipasarkan di Inggris. Darah, terutama darah kering juga dapat digunakan sebagai pewarna merah dalam makanan.

Namun, apapun hasil olahan dari darah, tetap saja darah haram untuk dikonsumsi. Ustadz Herlizon menyatakan keharaman atas darah telah tertuang dalam firman Allah yang berfirman dalam al-quran surah Al-Baqarah: 173 yang artinya, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah. Tetapi, barang siapa dalam keadaan terpaksa memakannya sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat di atas, telah Allah tegaskan melarang mengonsumsi darah. Banyak alasan kenapa darah tidak diperbolehkan untuk dimakan, salah satu alasannya karena darah mengandung banyak bakteri yang bersifat patogen yang tentu saja berakibat buruk bagi tubuh, misalnya dapat menyebabkan seseorang terkena diare atau mual setelah mengonsumsi marus. Allah melarang sesuatu yang buruk bagi manusia yang alasannya bisa dirasionalkan. Begitu pula dengan keharaman menyantap marus yang jelas berasal dari darah. (Mar/berbagai sumber)

Tips Membeli Sosis

  1. Pastikan mengecek bahan dasar membuat sosis bukan dari darah
  2. Temukan label halal daam kemasan
  3. Pastikan sosis belum kadaluwarsa
  4. Beli sesuai keperluan. Hindari penyimpanan sosis terlalu lama di kulkas
AddThis Social Bookmark Button

Burger Halal dan Sehat, Adakah?

MEI 2013

“Empat sehat lima sempurna”, pasti masih menjadi pegangan kita agar hidup sehat.

Ya, dengan mengonsumsi makanan sehat dengan kombinasi sempurna dari nasi, lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, serta ditambah susu, akan menjadikan badan kita dipenuhi energi yang seimbang, tentu saja bila mengonsumsinya dengan porsi yang tepat.

Namun zaman yang makin bergeser ke arah globalisasi membuat manusia harus mobile secepat kilat. Dengan begitu maka kebutuhan makanan pun diusahakan mengikuti zaman.

Akan sangat susah bagi kita juka harus mengonsumsi empat jenis makanan dalam satu waktu. Bayangkan saja dalam satu kali waktu makan harus tersedia nasi, lauk, sayur, dan buah dalam satu meja. Idealnya memang harus begitu, keragaman bahan makanan menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan gizi yang tepat, namun penemuan-penemuan di bidang makanan membuat pola hidup sehat ini malah bergeser. Niatnya sih ingin memperingkas jenis makanan yang banyak itu menjadi hanya satu jenis makanan saja, namun tetap terdiri dari bahan penunjang selengkap seharusnya.

Pasti kita sudah mengenal makanan yang satu ini, hamburger, atau kini lebih populer dengan sebutan burger saja.

Sejarah Singkat

Berdasarkan cerita, burger yang terdiri dari setangkup roti, selembar daging, beberapa sayur, keju, dibubuhi saus tomat dan saus cabai, serta saus mayones ini dibuat untuk memperingkas beberapa bahan makanan tersebut di atas. “Inovasi” ini berhasil disebarluaskan lewat para pedagang penganan asal Eropa.

Jauh sebelum burger yang kita kenal ini memiliki bentuk setangkup roti bulat lengkap dengan segala isiannya, ternyata burger awalnya hanyalah sepotong daging yang biasa dimakan mentah dengan air perasan jeruk oleh bangsa Tartar. Berabad-abad berlalu, makanan ini berubah sesuai dengan daerah yang dilalui oleh kaum nomaden itu.

Nama hamburger sendiri berasal dari kata Hamburg, sebuah kota di Jerman, yang merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh pelaut Eropa ketika membawa (memperkenalkan) hamburger (dulu makanan ini belum memiliki nama).

Kandungan Halal/Haram Burger

Bagi masyarakat Indonesia, burger suadah dikenal lama. Ia masuk bersama beberapa junk food yang ditawarkan restoran cepat saji asal luar negeri. Nah, bila makanan itu berasal dari negeri yang mayoritas bukan muslim, maka status kehalalannya patut dipertanyakan. Ada beberapa bahan dari burger ini yang bisa kita telusuri kehalalannya, misalnya saja rotinya, dagingnya, sayurannya, kejunya, serta sausnya.

a. Roti yang digunakan pada burger memiliki beberapa titik kritis halal, yaitu tepung yang digunakan apakan sudah bersertifikasi halal? Kebanyakan tepung terigu diproduksi menggunakan bahan tambahan seperti untuk memperbaiki sifat tepung terigu itu sendiri. Dan bahan tambahan itu banyak yang terbuat dari rambut manusia, atau bulu hewan lain seperti bebek. Bila memang bahan tambahan pada terigu berasal dari rambut manusia, maka otomatis tepung itu menjadi haram adanya. Bila terbuat dari bulu binatang, apakah binatang itu sudah disembelih atas nama Allah?

Dalam roti itu sendiri terdapat bahan lain seperti mentega dan pengembang. Sudahkah sang roti menggunakan mentega dan pengembang yang halal?

b. Daging (patty) pada burger pun tak kalah menarik untuk ditelisik. Hal pertama yang menjadi sorotan utama: daging hewan apakah itu? Kalau pasti dagingnya berasal dari hewan yang diharamkan seperti babi, tak usah ragu, itu sudah jelas haram. Namun bila dagingnya terbuat dari daging sapi atau ayam, kita perlu waspada tingkat tinggi. Apakah hewan tersebut disembelih atas nama Allah?

Patty yang disisipkan pada burger itu sudah pasti tak 100 persen daging, melainkan telah melalui proses pengolahan. Silakan cek juga bumbu tambahan patty, apakah minyak, kaldu, mentega, dan lainnya sudah bersertifikat halal?

c. Keju merupakan optional dalam burger, bisa ada atau tiada, sesuai keinginan kita. Walau keju berasal dari susu, halal atau haramnya keju berasal dari bahan penggumpalnya. Enzim penggumpal susu menjadi keju bisa saja berasal dari babi. Maka pastikanlah keju yang dipakai telah mengantongi sertifikat halal juga.

d. Mayones dan saus-saus penunjang burger pada dasarnya biasanya tidak punya masalah kehalalan, namun dalam rangka meningkatkan cita rasa, bisa jadi ditambahkan bahan lain seperti minyak yang tetap harus diperhatikan kehalalannya.

Gizi dalam Burger

Bila sudah memenuhi syarat kehalalan, burger pun aman dikonsumsi. Namun tetap tugas kita adalah memerhatikan gizi yang terkadnung di dalamnya. Walau di awal tulisan ini disebutkan bahwa burger mengandung karbohidrat (dari roti), vitamin dan mineral (dari sayur), serta protein dari keju dan daging, jangan sampai kita terlalu banyak mengonsumsinya hanya karena burger adalah makanan praktis, bisa dimakan di mana saja.

Menurut seorang ahli gizi dari Akademi Gizi, Universitas Sahid Jakarta, Eka Syafitri, burger tak boleh terlalu sering dikonsumsi. ”Roti yang paling baik sebagai bahan burger adalah roti gandum. Lebih baik lagi bila tak ada bahan pengawet pada rotinya,” kata Eka. Daging yang digunakan untuk burger di gerai makanan cepat saji biasanya sudah dibekukan, lalu dimasak ketika pesanan datang. ”Daging yang sudah melalui proses dikukus lalu dibekukan yang kemudian dipanggang, kemungkinan besar gizinya akan hancur.”

”Mayones pun merupakan sumber lemak jenuh karena mengandung telur mentah dan minyak. Keju pun merupakan makanan awetan. Akan lebih buruk jika sayuran yang digunakan adalah sayur yang sudah diasinkan. Asinan sayur seperti itu sungguh tak baik dikonsumsi karena proses pengawetannya menggunakan natrium yang tak bersahabat,” ucap Eka.

Kandungan kalori yang ada pada burger adalah sebesar 1.000 kalori. Laki-laki dewasa dalam satu hari hanya membutuhkan 2.000 sampai 2.500 kalori, bila satu burger telah dimakannya, maka bisa dipastikan asupan makanan yang lain akan membuat jumlah kebutuhan kalori pun jadi berlebih. Bisa jadi dalam sehari kita mengonsumsi dua atau tiga kali lipat kalori lebih banyak dari yang kita butuhkan.

So, pandai-pandailah dalam mengonsumsi burger, jangan sampai syarat halal dan bergizi terabaikan oleh syarat enak dan praktis. (ric)

Tips Mengonsumsi Burger

  1. Pilih restoran yang memiliki sertifikat halal dari MUI.
  2. Membuat burger sendiri itu lebih baik.
  3. Pastikan menggunakan daging yang halal dengan kualitas baik.
  4. Daging ayam atau sapi bisa diganti dengan ikan.
  5. Roti gandum lebih direkomendasikan.
  6. Sayuran segar sangat baik dibandingkan sayur yang diasinkan.
  7. Bila tak perlu keju, tak usah memakai keju sebagai pelengkap.
  8. Minimalisasi penggunaan mayones dan minyak atau mentega karena itu sumber lemak.

AddThis Social Bookmark Button

Mengonsumsi cacing untuk pengobatan, halalkah?

APRIL 2013

Cacing tanah, hewan yang sering di indentikkan dengan hewan yang menjijikan ini sering kita jumpai di permukaan tanah. Bentuknya yang lunak dan menggeliat sering kali membuat orang geli melihatnya.

Lumbricus Rubellus, adalah nama ilmiah dari cacing tanah. Hewan bertubuh lunak ini seringkali dianggap sebagai hewan yang tidak memiliki banyak manfaat. Namun, kini hewan melata ini menjadi salah satu jenis hewan yang mulai dicari orang, tak hanya sekedar di cari ternyata banyak juga orang yang membudidayakan cacing tanah.

Manfaat yang terkandung dalam seekor cacing ternyata mampu memberikan dampak kesehatan bagi manusia, diantaranya mampu menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol, menambah nafsu makan, mampu memperkuat daya tahan tubuh, mengobati kencing manis, tipus, rematik, disentri, diare dan berbagai macam jenis penyakit kronis lainnya.

Banyaknya khasiat yang terkandung dalam cacing tanah inilah yang membuat orang tertarik untuk mengonsumsinya, tentu saja di konsumsi dalam bentuk kapsul. Dan hasil - hasil penelitian telah membuktikan multi manfaat cacing tanah. Hewan ini mengandung berbagai enzim penghasil antibiotik dan asam arhidonat yang berkhasiat menurunkan demam. Sejak tahun 1990 di Amerika Serikat cacing ini dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhdan kanker. Di Jepang dan Australia, cacing tanah dijadikan sebagai bahan baku kosmetika. Penelitian laboratorium mikrobiologi fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Unpad Bandung tahun 1996 menunjukkan bahwa ekstra cacing mampu menghambat pertumbuhan bakteri pathogen penyakit tipus dan diare.

Pendapat tentang Kehalalan Cacing

Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an jika mengonsumsi Khobits adalah haram. Khobits sendiri bermakna segala sesuatu yang menjijikan atau yang buruk. Cacing termasuk dalam kategori hewan yang menjijikan, namun jika dikonsumsi untuk pengobatan apakah cacing termasuk haram?

Fatwa MUI tentang makan dan budidaya cacing.

  1. Cacing adalah salah satu jenis hewan yang masuk dalam kategori al- Hasyarat.
  2. Membenarkan adanya pendapat ulama  (Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan al- Auz’i) yang menghalalkan memakan cacing sepanjang bermanfaat dan tidak membahayakannya; dan pendapat ulama yang mengharamkan memakannya.
  3. Membudidayakan cacing untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimakan, tidak bertentangan dengan hukum islam.
  4. Membudidayaan cacing untuk diambil sendiri manfaatnya, untuk pakan burung misalnya, tidak untuk dimakan atau dijual, hukumnya boleh (mubah).

Munurut Ustadz H. M. Teguh, S.Ag menyatakan jika mengonsumsi cacing, belum tentu haram. Hal ini kembali lagi pada manfaat cacing yang berguna untuk menyembuhkan penyakit. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf: 157 yang artinya,  “Dan menghalalkan bagi mereka segala  yang baik (thoyyib) dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (khobits)” (QS.  Al- A’raf: 157).

Berdasarkan ayat di atas di jelaskan jika Allah menghalalkan segala sesuatu yang baik, yang berarti mempunyai manfaat bagi manusia dan mengharamkan yang buruk yaitu sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Kembali lagi pada manfaat cacing sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit, maka cacing dinilai halal untuk dikonsumsi, asalkan memberikan manfaat bagi tubuh.

Masih banyak orang yang beranggapan jika cacing diidentikan dengan hewan yang menjijikan dan haram untuk dikonsumsi, namun tidak semua orang beranggapan cacing itu hewan yang menjijikan. Salah satunya Wulan, gadis berusia 20tahun ini pernah terbaring tak berdaya karena terserang penyakit Tipus, kemudian ada yang menyarankannya untuk mengonsumsi obat cacing yang berkhasiat untuk menyembuhkan sakit Tipusnya. Setelah rutin mengonsumsi obat yang terbuat dari cacing, sakitnya pun mulai berangsur pulih. “Saya tidak merasa jijik mengonsumsi obat dari cacing ini, karena kemasannya telah dibentuk kapsul, jadi seperti obat pada umumnya,” tuturnya.

Pengolahan cacing tanah menjadi obat memang tidak terlalu sulit. Cacing merah yang telah dikumpulkan dibersihkan kemudian digongseng dalam kuali hingga hancur, kemudian ditumbuk halus dan serbuk cacing inilah yang dimasukan kedalam kapsul.

Jika masih beranggapan cacing termasuk hewan yang menjijikan dan segala sesuatu yang menjijikan itu haram, maka kita harus kembali lagi pada firman Allah yang berbunyi,” Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 173). Jika harus mengonsumsi cacing untuk mengobati sakit maka tidak dipermasalahkan. Dan tidaklah Allah menurunkan penyakit tanpa disertai obat sebagai penyembuhnya.   (Mar/ berbagai sumber)

Tips memilih obat-obatan yang halal

  1. Memilih obat-obatan herbal yang sudah jelas kehalalan-nya.
  2. Teliti logo halal yang tercantum dalam kemasan.
  3. Teliti juga melihat ingredients dari pembuatan obat tersebut.   (Mar)
AddThis Social Bookmark Button