JANUARI 2012
Infotainment atau tayangan gossip di media penyiaran publik sering kali mengeksploitasi aib, kejelekan, gosip, kekerasan, perselingkuhan, perceraian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi bahkan tidak jarang kita temui tayangan-tayangan tersebut menjurus ke fitnah, namun ironisnya tayangan-tayangan tersebutlah yang kini semakin laris manis ditonton masyarakat Indonesia. Bagaimana hukum Islam memandang fenomena ini?
UU 14 tahun 2008, Indonesia telah membebaskan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memperoleh berbagai informasi, baik dari media cetak maupun elektronik. Isu-isu terhangat mengenai berbagai bidang kehidupan masyarakat dapat dengan mudah diakases siapa saja, terutama melalui media penyiaran, dari televisi kita dapat mengupdate berbagai informasi, Kita bisa melihat tayangan-tayangan TV Indonesia dan majalah-majalah yang ada, gosip saat ini sudah dijadikan lahan komersiel. Sehingga saat ini ngomongin orang sudah menjadi hal yang biasa dan menjadi budaya.
Hukum Ghibah Dalam Islam
Allah berfirman dalam surat Al Israa ayat 36
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Lebih spesifik lagi Allah Berfirman dalam Surat yang lain dalam Al Hujuraat: 12)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Ketika saya di Mi’rajkan saya telah melihat suatu kaum yang berkuku tembaga digunakan untuk mencakar muka dan dada mereka sendiri, maka saya bertanya kepada Jibril: Siapakah mereka itu? Jawabnya: Mereka yang makan daging orang dan mencela kehormatan orang (yakni Ghibah)”
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau (kalau tidak) hendaklah ia diam”
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Nabi SAW berkata: Kelak dihari kiamat, disisi Allah, Engkau akan mendapati orang yang bermuka dua diantara orang-orang yang berbuat keji itu, yang mendatangi satu golongan orang dengan satu wajah dan mendatangi satu golongan yang lainnya dengan wajah yang lain pula”