Islam Kamboja, Bertahan Meski Menjadi Minoritas
FEBRUARI 2012
Siapa yang tidak mengenal Kamboja?bukan nama sebuah bunga yang biasa kita jumpa di pemakaman. Kamboja yang dimaksud adalah sebuah Negara yang terletak di semenanjung Indochina.Negara ini terkenal dengan budaya agama Buddha Theravada.Diantaranya dengan dibangunnya Angkor Watt yang tersohor di dunia. Kamboja juga memiliki atraksi budaya yang lain, seperti, Festival Bonn OmTeuk, yaitu festival balap perahu nasional yang diadakan setiap November.
Kamboja memiliki budaya yang terkesan dengan agama Budha, namun perkembangan Islam di Kamboja dapat kita acungi jempol. Pasalnya, Kaum muslim tetap teguh menjaga pola hidup mereka yang khas, walaupun secara agama dan peradaban mereka berbeda dengan orang-orang Khmeryang beragama Budha. Mereka memiliki adat istiadat, bahasa, makanan dan identitas sendiri.
Nenek moyang Kaum Muslim Kamboja merupakan penduduk kerajaan Campa di Vietnam yang menguasai semenanjung Indochina. Ketika kerajaan Campa hancur pada abad 15 M, banyak penduduknya hijrah ke negara tetangga termasuk Kamboja, kemudian mereka membuat komunitas dan beranak pinak di Kamboja hingga saat ini.
Masa Pahit Nan Kelam
Saat dekade 1970-an kaum muslim di Kamboja berjumlah 700 ribu jiwa, mereka memiliki masjid, mushalla dan madrasah, serta sebuah aula sebagai tempat penghafalan Al-Qur’annul karim. Perang saudara dan kekacauan politik yang terjadi di negara itu, memaksa sebagaian besar kaum muslimin hijrah ke negara tetangga yang lebih aman.
Bagi mereka yang bertahan di Kamboja penganiayaan, pembunuhan, dan pengusiran merupakan makanan sehari-hari yang mereka rasakan, saat pemerintahan Khmer Merah berkuasa. Pemerintah Khmer Merah juga menghancurkan masjid, madrasah, mushaf serta melarang kegiatan-kegaiatan keagamaan. Termasuk pelarangan menggunakan bahasa Campa, bahasa kaum muslimin di Kamboja.
Pemerintah Khmer merah melakukan aksi brutalnya, karena paham yang mereka anut berkiblat pada paham komunis garis keras. Paham yang sangat membenci dan tidak mengakui keberadaan agama. Mereka menyiksa siapa saja yang mengadkan kegiatan keagamaan termasuk Islam.
Buah Manis Setelah Kegetiran
Setelah runtuhnya pemerintahan Khmer merah. Secara umum keadaan penduduk di Kamboja membaik, termasuk kaum muslim. Mereka kembali menata kehidupan dan melaksanakan pembangunan, setelah porak poranda menghadapi kebrutalan pemerintah Khmer merah. Saat ini telah terbangun 268 masjid, 200 mushalla, 300 madrasah Islamiyyah dan sebuah aula sebagai tempat penghafalanAl-Qur’an al-Karim.
Selain itu mulai bermunculan organisasi-organisasi keislaman, seperti Ikatan Kaum Muslimin Kamboja, Ikatan Pemuda Islam Kamboja, Yayasan Pengembangan Kaum Muslimin Kamboja dan Lembaga Islam Kamboja untuk Pengembangan. Di antara mereka juga ada yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan.
Gentingnya perjuangan kaum muslim di Kamboja, hendaknya mengajarkan kita agar senantiasa berjuang di jalan Allah. Terlebih negara kita merupakan Negara dengan jumlah kaum muslimin terbanyak dunia. Selalu ada jalan dan pertolongan Allah jika kita berniat membela agamanya. (cha)






