“Berhaji” Ke Somalia
JANUARI 2012

Iqbal Setyarso*
Saat calon haji sedunia menuju Baitullah, H-3 Idhul Adha, bertepatan 3 November 2011, saya ke Somalia sebagai salah seorang delegasi Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS) III. Sepercik kesan dari wilayah duka – akibat krisis pangan dan perang saudara – menjadi dasar tulisan ini. Tentang Islam di Somalia.
“Wajah” Islam di Somalia
Somalia, berpenduduk 100 persen muslim. Itu dikatakan Olow Barouw, Duta Besar Somalia untuk Indonesia. Jauh sebelum itu, Mohamed Diriye Abdullahi, mantan jurnalis Somalia yang kini penerjemah dan mukim di Montreal, Kanada, mengatakan hal yang sama: Somalia itu negeri muslim, berpenduduk 100 persen muslim. Pengaruh sufisme juga tumbuh di Somalia, terutama Qadiriyah sebagaimana diajarkan Sheikh Abdurqadir Al-Jilani.
Rakyat Somalia, muslim sunni, berpedoman pada quran, hadits, menerapkan syariah dan kalender hijriyah, berbahasa pergaulan Arab dan Somali. Rukun Islam diterapkan sepenuhnya, tak peduli ada pemerintah atau tidak. Maklum, sudah berkali-kali konflik, berakibat rakyat tak terurus semestinya, teserpih-serpih mengurus dirinya sendiri.
Sebagai peneguh kemasyarakatan, tokoh agama berperan besar. Pewarisan Islam, terjadi sejak kanak-kanak, lewat sekolah al-quran yang disebut mal’aamad atau dugsi di bawah bimbingan para wadaads (semacam kyai). Santrinya disebut arday. Santri senior disapa dengan her, setelah lulus mondok sebutannya ‘aalin. Para wadaad ini, tak jarang diposisikan sebagai imam dalam shalat dan keseharian, bahkan dalam krisis formalitas, wadaads diposisikan sebagai qadis (hakim) dalam soal perkawinan, perceraian dan warisan.
Agama, di tangan wadaads, “hidup”. Multiperan wadaads, tak jarang karena faham ilmu falak, mereka diperlakukan sebagai astronom untuk menentukan kalender musim dalam perputaran usaha ternak. Yang luar biasa, mereka juga diposisikan sebagai tabib, herbalis ampuh bagi masyarakatnya. Wadaads perempuan mendapat peran sebagai umuliso atau bidan (penolong persalinan).
Tak Mengemis Meski Didera Kesulitan
Somalia sendiri konon dari kata soo maal yang artinya “pergi dan susu”, boleh jadi ini identifikasi terhadap masyarakat nomaden, penggembala ternak dan memproduksi susu (kambing dan unta). Sejak dakwah Islam menyapa jazirah Somalia - bisa dikatakan seumur dakwah Islam pada zaman Nabi Muhammad berdakwah secara terbuka – Somali (orang Somalia) identik dengan muslim.
Kepiluan hati ini, memuncak, melihat kondisi sosial-ekonomi muslimin Somalia: menjadi pengungsi, mengundang peduli dunia. Somalia, negeri tegar yang dipapar berbilang penguasaan: 1499-1518 Portugis menyerang, 1884 lewat Konferensi Berlin, sejumlah negara Eropa “mengkapling” Afrika, termasuk Somalia, di bawah kekuasaannya. Hasilnya, 1880-1900, Somalia terpilah di bawah kuasa Inggris, Italia, Prancis. Sesudahnya, berbagai konflik menerpa Somalia hingga kini. Itu semua menjadikan rakyatnya begitu keras hati, namun dalam persaudaraan Islam, meneladani Rasulullah: hangat dan bersahabat.
Fakta menarik lainnya, semiskin-miskinnya muslim Somalia, mereka tidak mau mengemis. Lebih baik mereka membangun aqal, rumah nomaden berbahan reranting kering seperti sarang burung, dan berbagi hasil menjajakan jasa berdagang, menggembala dan memerah susu, ketimbang meminta-minta. Selain itu, selama saya keliling di komunitas pengungsi Somalia di perbatasan Kenya-Somalia (Provinsi Northeastern), maupun di Mogadishu - ibukota Somalia, tak pernah melihat perempuan tidak berjilbab, berbaju pendek atau memperlihatkan dengkulnya. Semua berbusana rapi mengikuti sunnah. Bahkan anak-anak, sudah menutup aurat sesuai ajaran Islam.
“Berhaji” Ke Somalia
Ke Somalia, bagai “berhaji” dengan cara yang berbeda. Kami memang tidak tawaf dan sa’i seperti di Tanah Haram, tapi “tawaf” dari kamp ke kamp pengungsi, baik di Kenya maupun Somalia, sa’i-nya mengekori kambing-kambing bakal kurban sebelum dikirim ke lokasi pengungsian dengan truk besar. Tepat Idhul Adha, kami shalat Ied di General Mahmoud Mohamed Idd Prayer Ground, sebuah lapangan bertembok seluas sekitar 1 hektar spesial untuk shalat jamaah. Tanpa atap, beralas pasir atau rerumputan.
Perjalanan singkat ke Somalia, menggurat kesan mendalam: bangsa muslim ini terlalu tegar untuk dikoyak kemiskinan dan kelaparan. Juga perang saudara yang dipicu konflik antarklan. Semoga nestapa Somalia, segera berlalu, berganti kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Do’a muslim sedunia, terpanjatkan, mengetuk nurani para pemimpin konflik bersenjata untuk memimpin ishlah dan pembangunan Somalia. Kelapangan hati dan keberanian untuk membangun perdamaian, semoga bisa memulihkan Somalia, yang salah satu ikonnya terjejak pada situs lama bekas masjid Fakhr Ad-Din di Mogadishu yang dibangun tahun 1882, areal bangunan masjid dengan batu-bata putih yang terputus dengan daratan utama karena abrasi.
* Jurnalis Kemanusiaan, kini tengah mendukung KISS
untuk Seni untuk Kemanusiaan dan Perdamaian Somalia






