Menengok Islam di MALADEWA

DESEMBER 2011

Maladewa merupakan Negara yang berada di selatan barat daya India, atau sekitar 700 kilometer bersebelahan dengan Negara Srilangka. Maladewa merupakan sebuah Negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol di samudera Hindia. Atol yang dimiliki  Negara kecil ini berjumlah 26 atol serta terbagi menjadi, 20 atol administartif dan 1 kota. Luas Negara inipun hanya sekitar dua kali lebih besar dari kota Washington yang berada di Amerika Serikat, serta populasinya yang juga terbilang sedikit, yakni hanya sekitar 400.000 jiwa. Selain memiliki luas yang  tak seberapa, yakni hanya sekitar 820 Km yang terbentang dari utara ke selatan, dan 120 Km dari timur ke barat, ternyata Negara ini juga merupakan negara yang datarannya paling rendah di dunia, diperkirakan hanya 2,3 meter dari permukaan laut.

Namun, negara kecil yang tak banyak orang mengenal ini memiliki eksotika alam yang sangat luar biasa, sehingga selebrita dan wisatawan dunia pun banyak memuji dan mengunjunginya. Selain memiliki panorama alam yang  indah memukau  mata,  yang juga merupakan aset untuk pemasukan negara, Maladewa juga memiliki hasil alam lain seperti ikan tuna yang sudah disediakan laut untuk penduduknya, oleh sebab itulah rata-rata penduduk maladewa bermata pencaharian sebagai nelayan, bertanam kelapa serta meng impor beras.

Dan yang lebih menakjubkan lagi adalah,  meski Maladewa merupakan Negara yang bersebelahan dengan  Negara India dan Srilangka yang mana kedua Negara tersebut mayoritas  penduduknya menganut agama Hindu dan Budha, tetapi mayoritas penduduk Negara Maladewa  adalah Islam. Menurut Minivan News, sebuah

laman berita di Maladewa, jumlah pemeluk Islam di negara itu mencapai 99,41 persen dari total jumlah penduduknya. Konstitusi Maladewa bahkan mengklaim bahwa penduduk di negaranya 100 persen beragama islam. Namun menurut data pada pew research center mengatakan bahwa, populasi muslim di Maladewa mencapai 98,4 persen dari sekitar 309 ribu total penduduk negara tersebut pada tahun 2009. Penduduk Maladewa sendiri  sebenarnya didominasi oleh  imigran  asal Srilangka. Awalnya, mereka lebih banyak menganut agama Hindu, akan tetapi penguasa Maladewa dari waktu ke waktu mengharuskan siapapun yang ingin tinggal di Maladewa untuk terlebih dahulu beragama Islam.

 

Ghirah ke-Islaman Di Maladewa

Islam telah hadir di negara Maladewa sejak berabad lampau, penyebarannya pun sama dengan berbagai kawasan lainnya, agama Islam di negara Maladewa pun pertama kali diperkenalkan oleh para pedagang asal Timur tengah dan Gujarat untuk kemudian diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Hingga kini, gurat cahaya ke-Islaman  pun tak lantas pudar dan luntur, namun semakin terus mengalami perkembangan yang baik di tingkat pemerintahan mau pun sosial kemasyarakatannya. Ini misalnya terjadi saat presiden Mamun Abdul-Rashid berpidato pada  bulan juli 1984 yang dengan tegas menyerukan  “Islam agamaku”. Menurutnya, Islam merupakan pandangan hidup yang ideal. Islam juga sangat dinamis dan mampu mengikuti perkembangan zaman,  hingga membawa kemanfaatan bagi siapapun, dimanapun dan kapanpun. Selain itu sebagai tindak lanjut  untuk  menambah ghirah keislaman pada segenap komponen masyarakat, maka pada bulan November 1984, presiden mencanangkan proyek pembangunan komplek Masjid Jami dengan Biaya sekitar 7 juta dolar AS. Dan pada tahun 1997, lahir undang-undang  negara  yang menyatakan Islam  sebagai  agama  resmi negara. Ditetapkan pula bahwa setiap warga negara harus beragama Islam dan pengamalan agama selain Islam dilarang berdasarkan undang-undang. Akan tetapi tetap ada pengecualian bagi orang asing yang non-Muslim, mereka tetap bisa menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya namun harus dilakukan secara privasi serta tidak diperbolehkan mengajak penduduk untuk berpartisipasi. Dalam hal ini, Presiden merupakan “penguasa tertinggi penegak syariat Islam”. Presiden Maumoon Abdul Gayoom juga menggariskan kembali pendirian negara ini, yaitu tak ada agama selain Islam di negaranya. Untuk itu, presiden kemudian menginstruksikan Menteri Dalam Negeri untuk menyusun langkah-langkah dalam mempertahankan dan menjaga kesatuan agama. Maka terbentuklah Mahkamah Tinggi Agama Islam yang dapat memberikan arahan-arahan di bidang agama. Selain itu, disiapkan pula pedoman dan standar pelaksanaan ibadah sehingga amal ibadah umat dapat diterima di sisi Allah SWT. Selain itu di negara yang beribu kota di Male’ini , masjid atau yang disebut miski, merupakan simbol penting sebagai pusat  keIslaman, sehingga hampir diseluruh pelosok Maladewa terdapat masjid yang berdiri, yakni  terdapat  sekitar 725 masjid dan 266 masjid yang berbeda untuk perempuan.

Islam Agama Resmi Maladewa

Islam merupakan agama paling resmi sejak 800 tahun lalu, dan satu-satunya yang  diakui oleh  negara yang juga dikenal dengan sebutan Maladives ini, sehingga peredaran barang atau material apapun yang bercirikan non-Islam dilarang oleh pemerintah, begitu pula dengan penjualan pernak-pernik agama non-Islam, seperti kartu dan pohon natal, kecuali hanya untuk orang asing dan turis yang tengah bertandang kesana, dan apa bila ingin  menyimpan literature-literatur agama, seperti Injil yang digunakan untuk kepentingan pribadi masih bisa dimaklumi dan diperbolehkan. Langkah lainnya, untuk tetap menjaga  keIslaman  di negara ini adalah dengan pelarangan tegas terhadap berbagai aktivitas penyiaran agama selain Islam serta misionaris. Peralihan agama dari Islam ke agama lain sangat bertentangan dengan hukum syariat , dan dapat berdampak pada hilangnya hak kewarganegaraan.

Hari Jumat, Hari Penting di Negara Maladewa

Di Maladewa, hari jumat merupakan hari yang istimewa dan  hari yang terpenting bagi para warga muslim Maladewa untuk mengunjungi masjid. Untuk itu, pertokoan dan perkantoran di seluruh penjuru negara mengakhiri aktifitas mereka pada pukul 11.00 siang. Khotbah jumat  pun dilaksanakan 1,5 jam setelahnya atau sekitar pukul 12.30 . Begitu pula saat bulan ramadhan tiba, seluruh kafe dan restoran tutup,  pemerintah pun membatasi jam untuk bekerja, dan setiap harinya ketika azan berkumandang  lima kali sehari, kafe, restoran, serta  pertokoan menghentikan aktivitas perniagaan mereka selama 15 menit untuk melaksanakan ibadah  sholat. (HTA)

 

AddThis Social Bookmark Button