Muzakki

More Articles...

Zainab Binti Rasulullah, Mencintai Islam Lebih Dari Apapun

AGUSTUS 2013

Zainab adalah putri tertua Rasulullah SAW, Rasulullah SAW menikahkan Zainab dengan sepupu beliau yatu Abul ‘Ash bin Rabi’ sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, atau ketika Islam belum tersebar di tengah-tengah mereka. Ibu Abul ‘Ash adalah Halah binti Khuwailid, bibi zainab dari pihak ibu. Dari pernikahannya dengan Abul ‘Ash mereka mempunyai dua orang anak, Ali dan Umamah.

Setelah berumah tangga, zainab tinggal bersama suaminya. Hingga suatu ketika, pada saat suaminya pergi bekerja, zainab mengunjungi ibunya. Dan ia dapatkan keluarganya telah mendapatkan suatu karunia dengan diangkatnya, ayahnya, Muhammad SAW menjadi Nabi akhir zaman. Zainab mendengar keterangan tentang islam dari ibunya, dan ia dapatkan keluarganya telah mendapat suatu karunia, keterangan ini membuat hatinya lembut dan menerima hidayah islam. Dan keislamannya ini ia pegang dengan teguh, walaupun ia belum menerangkan keislamannya kepada suaminya.

Abul ‘Ash bin Rabi’ adalah termasuk orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Pekerjaan sehari-harinya adalah pedagang. Ia sudah mendengar tentangpengakuan Muhammad sebagai Nabi SAW, namun ia tidak mengetahui bahwa istrinya zainab sudah memeluk islam.

Abul ‘Ash bin Rabi’ pergi ke Syiria beserta kalifah-kalifah Quraisy untuk berdagang. Ketika Rasulullah SAW mendengar bahwa ada kalifah Quraisy kembali dari syiria beliau mengirim Zaid bin Haritsah bersama 313 pasukan muslimin untuk menyerang kalifah Quraisy. Mereka menangkap khalifah itu dan barang-barang yang dbawanya serta menahan beberapa orang dari kafilah itu termasul Abul ‘Ash.

Ketika penduduk Mekkah datang untuk menebus para tawanan, zainab mendengar berita tersebut dan mengirimkan kalungnya yang terbuat dari onyx Zafar hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwalid, kalung itu diberikan sebagai hadiah pernikahannya dan Zainab mengirimkan kalung itu sebagai tebusan atas suaminya.

Kalung itu sampai ditangan Rasulullah SAW, melihat kalung itu beliau langsung mengenalinya, kalung itu mengingatkannya kepada istrinya, beliau berkata,

“Seorang mukmin adalah penolong bagi mukmin lainnya. Setidaknya mereka memberikan perlindungan. Kita lindungin orang yang dilindungi zainab. Jika kalian bisa mencari jalan untuk membebaskan Abul ‘Ash kepada Zainab dan kembalikan kalungnya maka lakukanlah,” mereka menjawab.

“Baik ya Rasulullah.” Maka mereka segera membebaskan Abul ‘Ash dan mengembalikan kalung Zainab.

Kemudian Rasulullah menyuruh Abul ‘Ash berjanji untuk membiarkan Zainab bergabung bersama Rasulullah, dia pun berjanji dan memenuhi janjinya itu. Ketika Rasulullah pulang ke rumahnya, Zainab datang menemuinya dan meminta untuk mengembalikan kepada Abul ‘Ash apa yang pernah diambil darinya. Beliau mengabulkannya. Pada kesempatan itu, beliaupun telah melarang Zainab agar tidak mendatangi Abul ‘Ash, karena dia tidak halal bagi Zainab selama dia masih kafir, lalu Abul ‘Ash kembali ke Mekkah dan menyelesaikan semua kewajibannya. Kemudian dia masuk Islam dan kembali kepada Rasulullah. Dia berhijrah pada bulan Muharram, 7 Hijriyah, maka Rasulullah SAW mengembalikan Zainab kepadanya, berdasarkan pernikahannya yang pertama. (Eby/Berbagai Sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Siti Khadijah, Wanita Setia Pendamping Muhammad SAW

JULI 2013

Merupakan isteri pertama Nabi Muhammad SAW, wanita terbaik dari golongan Islam yang merupakan isteri paling dicintai oleh Rasulullah. Khadijah memiliki peran besar dalam perkembangan Islam, karena jasanya yang turut membantu membangun Islam pada masa itu. Khadijah termasuk ke dalam golongan pertama yang mempercayai kenabian Muhammad dan masuk Islam sehingga ia dijuluki Assabiquunal Awwaaluun.

Khadijah juga merupakan teladan atas aqidahnya yang baik. Seorang wanita yang penyabar, budi pekerti yang baik dan perilaku yang luhur.

Khadijah mempunyai nama lengkap Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za'idah, berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy. Lahir di Mekah tahun 68 sebelum Hijrah, 15 tahun sebelum tahun gajah atau 15 tahun sebelum kelahiran Muhammad SAW. Ia memiliki nasab yang suci, luhur dan mulia laksana untaian mutiara yang berkilauan.

Khadijah biasa dipanggil dengan nama Ummu Hindun dan mendapat gelaran ath-thhirah (wanita suci) atau ummul mukminin ( ibu orang-orang mukmin). Gelaran ath-thahirah diperolehi sebelum kedatangan Islam kerana kesucian budi pekertinya, kedudukannya yang mulia di tengah-tengah kaumnya, dan kesucian dirinya dari noda-noda paganisme (kepercayan spiritual) pada zaman jahiliyah. Khadijah juga diberi gelar ummul mukminin (ibu orang-orang mukmin) kerana ia adalah sebaik-baik isteri yang dan mempunyai suri teladan yang baik bagi insan yang mau mengikutinya. Ia telah menyediakan rumah yang nyaman dan tenteram untuk Nabi Muhammad SAW sebelum baginda diutus sebagai seorang Rasul.

Menikah dengan Muhammad

Pada mulanya, Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu menghasilkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suamianya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan yang berjalan dengan begitu singkat, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.

Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.

Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan, melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.

Wafatnya Khadijah

Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 60 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid.

Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketika itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun. Peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Betapa pedihnya Nabi Muhammad SAW pada masa itu, karena dua orang yang dicintainya Khadijah dan Abu Thalib telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah. (mar/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Hindun binti ‘Utbah, Hidayah Tak Pernah Memilih

JUNI 2013

Seorang wanita jahiliyah yang hidupnya selalu dipenuhi oleh kebencian terhadap Islam. Dirinya selalu memposisikan untuk berada dibarisan terdepan untuk memerangi Islam. Ia adalah istri dari Abu Sufyan dan juga ibu dari Kholifah Umawiyah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Hindun binti ‘Utbah adalah sosok yang paling membenci Islam pada zaman itu. Berbagai cara ia lakukan untuk menghancurkan Islam. Kebenciannya terhadap Islam mulai tumbuh sejak Rasulullah SAW melakukan dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam. Setelah terjadinya Perang Badar, kebenciannya semakin menjadi terhadap agama Allah.

Dendam Hindun berkobar  di dalam hatinya pasca Perang Badar yang telah menyebabkan ayah, paman dan saudara laki-lakinya terbunuh dalam peperangan tersebut. Kemarahan telah menjadikan Hindun berenang dalam kemuakan serta dendam terhadap pembunuh keluarganya. Oleh sebab itu, ia membuat rencana untuk melampiaskan dendamnya itu. Bahkan Hindun telah berjanji untuk memakan jantung pembunuh keluarga-keluarganya.

Hindun menyerahkan tugas kepada Wahsyi, seorang budak untuk membalaskan dendamnya tersebut. wanita itu menjanjikan kebebasan bila ia berhasil membunuh musuhnya yang tak lain adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW.

Sebelumnya, pada perang itu Hindun mendampingi suaminya yang memimpin barisan kaum musyrikin  untuk menghadapi kaum muslimin. Ia memegang peran penting yaitu memimpin para wanita  untuk memberikan dukungan kepada suami dan kerabat mereka yang berperang menghadapi kaum muslimin dengan menabuh gendang dan melantunkan benerapa syair penyemangat. Selain itu, peran mereka para wanita yang dipimpin oleh Hindun itu juga mendorong kembali para pasukan perang yang kabur atau mundur untuk ikut bertempur kembali.

Namun, semangat yang Hindun torehkan menjadi pudar dan harus tergantikan oleh airmata ketika semua keluarganya mati dalam pertempuran melawan kaum muslimin. Dari situlah, dendamnya kembali membara untuk membalaskan sakit hatinya kepada Hamzah, paman nabi yang telah membunuh keluarganya.

Ketika Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, datanglah Hindun mendekati mayat Hamzah. Dengan amarahnya ia langsung merobek perut Hamzah yang sudah tak bernyawa itu kemudian mengambil jantungnya lalu mengunyahnya, kemudian memuntahkannya. Aksi Hindun yang bertindak diluar kenalaran itulah yang menyebabkan ia dijuluki sebagai aakilatul akbaad atau pemakan jantung. Tak cukup disitu, ia juga mengambil hidung dan telinga Hamzah dan menjadikannya sebagai kalung.

Hindun masuk Islam

Ketika penaklukan Mekah, Allah membuka mata hati Hindun. Disinilah Hindun mulai mendapat hidayah dari Allah. Hati Hindun mulai tertarik dengan Islam dan mulai ingin mempelajari Islam lebih dalam. Suatu ketika ia meminta ditemani Abu Sufyan yang telah masuk Islam terlebih dulu untuk menemui Rasulullah SAW.

Dengan diantar suaminya, Hindun akhirnya pergi menemui Rasulullah untuk berbaiat. Hindun merasa bersalah atas perbuatannya di masa lalu. Kemudian wanita itu meminta maaf kepada Rasulullah atas perbuatannya di masa lalu. Rasulullah SAW telah memaafkannya dan sejak saat itu, Hindun menjadi seorang muslimah.

Masuknya Hindun kedalam golongan kaum muslimin, menjadikannya sebagai wanita yang baik dan tangguh, tak hanya itu, Hindun pun menjadi penguat perkembangan Islam dimasa itu. Hindun menjadi seorang wanita yang santun dan beriman hingga akhir hayatnya.

Hidayah yang telah Allah berikan kepada Hindun telah menjadikannya seorang wanita muslimah yang saleha. Dosa-dosanya masa lalu, sebelum memeluk Islam, membuatnya merasa menyesal atas tindakannya waktu itu. Untuk memperbaiki kesalahannya, ia mulai belajar menjadi seorang muslimah yang taat terhadap perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Subhanallah.    (Mar/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

KHALID BIN WALID, Pedang Allah yang Tak Terkalahkan

MEI 2013

“Orang seperti dia tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dia harus dipromosikan sebagai calon pemimpin islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya sebagai pemimpin.” Demikian ucapa Rasulullah ketika berbicara tentang Khalid bin walid, sebelum pahlawan ini masuk islam.

Khalid dilahirkan sekitar 17 tahun sebelum masa pembangunan islam. Dia anggota Bani Makhzum, salah satu puak Quraisy. Ayahnya berna Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid adalah istri Nabi. Dengan Umar sendiripun Khalid memiliki hubungan kelurga, yakni saudara sepupunya.

Dahulu sebelum masuk islam nama Khalid bin walid sangat termashur sebagai panglima perang tentara kau kafir Quraisy yang tak terkalahkan, begitu gagah dan perkasanya Khalid di medan perang, ia juga ahli dalam menyusun strategi perang. Pada waktu perang uhud melawan tentara muslimin pimpinan Nabi Muhammad, banyak syuhada yang syahid terbunuh ditangan Khalid bin walid.

Nabi mengharap dengan sepenuh hati, agar Khalid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Khalid seorang ksatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.

Khalid menceburkan diri ke dalam seni peperangan dan seni bela diri. Bahkan mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Talenta yang asli, ditambah dengan latihan keras telah membina Khalid menjadi sosok yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.

Suatu ketika Khalid mengirimkan intel untuk memata-matai Nabi, utusan Khalid melaporkan hasil pengamatan tersebut, kata utusan tersebut.

“Aku mendengar semangat juang yang dikemukakan Muhammad kepada para pasukannya, Muhammad mengatakan aku heran kepada seorang panglima Khalid bin walid yang gagah perkasa dan cerdas, tapi kenapa dia tidak paham dengan agama Allah yang aku bawa, sekiranya Khalid bin Walid tahu dan paham, dia akan berjuang bersamaku (Muhammad), Khalid akan aku jadikan juru rundingku yang duduk bersanding di sampingku.” Mendengar laporan itu membuat risau Khalid hingga akhirnya Khalid bin walid memutuskan untuk bertemu dengan Muhammad dengan menyamar menggunakan topeng, diam-diam Khalid mendengarkan dan menyimak saat Bilal membaca Al-Quran, sampai akhirnya gerak-gerik Khalid terbaca oleh Ali bin Abi Thalib, Khalid berkata:

“Aku kesini dengan niat baik ingin bertemu dengan Muhammad dan menyatakan diriku masuk Islam.” Khalid bersyahadat di hadapan Rasulullah, dan Rasulullah member gelar kepadanya ‘Syaifullah’ yang artinya Pedang Allah yang Terhunus.

Ketika Khalid masuk islam, Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah denga perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukkan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematiannya di atas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid, harapan untuk mati syahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasan Allah. Manusia berasal dari Allah dan kembali kepadaNya. (eby/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, Paman Nabi yang Bergelar Singa Allah

APRIL 2013

Adalah seorang paman dari Rasulullah, dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian, Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da'wah islam. Karena itu tidaklah mengherankan jika Rasulullah menjulukinya dengan sebutan "Asadullah" yang berarti singa Allah.

Ia Ikut Hijrah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan ikut dalam perang Badar. Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Beliau merupakan pemimpin dari pasukan kaum muslimin yang pertama kali dikirim oleh Rasulullah dalam perang Badar, dipimpin langsung oleh Sayyidina Hamzah, Si Singa Allah, dan Ali bin Abu Thalib menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama islam, hingga akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang.

Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya. Kaum kafir Quraisy membuat strategi untuk menghancurkan kekuatan kaum muslim.

Hingga tibalah ketika perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap kaum muslim, terutama kepeda Hamzah, paman Rasulullah.

Dalam perang Uhud, para kafir Quraisy menyuruh seorang budak untuk membunuh Hamzah. Budak itu bernama Washyi bin Harb, ia diberikan tugas berat yaitu membunuh Hamzah dan akan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan. Washyi Bin Harb merupakan budak dari Hindun, seorang istri dari salah satu pasukan Quraisy yang menaruh dendam terhadap Hamzah.

Dendam Hindun kepada Hamzah akhirnya terbalaskan ketika Washyi berhasil membunuh Hamzah. Budak tersebut ahli dalam menombak. Sebelum berhasil membunuh Hamzah, Wahsyi terus mengintai gerak gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba' bin Abdul Uzza dengan cepat. Maka pada saat itu pula, Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.

Hamzah akhirnya gugur, saat itu juga Hindun yang sudah lama memendam dendam terhadap Hamzah langsung merobek dada Hamzah dan memakan jantung dari paman nabi tersebut. Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya ,” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs; an Nahl 126).

Begitu besar perjuangan Hamzah dalam membela kaum muslim, beliau rela membela Islam sampai titik darah penghabisan. Keberaniannya yang besar telah mengantarkannya sebagai muslim sejati yang syuhada. (Mar/berbagai sumber)

Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim

Paman Nabi yang Bergelar Singa Allah

AddThis Social Bookmark Button