| |
| DOA |
Ya, Allah sesungguhnya saya memohon petunjuk, tambahan taqwa, terpeliharanya kehormatan diri, dan kekayaan kepada-Mu
(HR. Muslim) |
|
|
| Muzakki Makassar |
| Perasaan Saya Lega |
 |
Menyandang predikat pensiun, ternyata tidak menjadi halangan bagi Bapak Drs. H. Abd. Rakib untuk menyisihkan sebagian hartanya bagi kaum dhu’afa. Pensiunan yang pernah bekerja di kantor Dinas Koperasi Kabupaten Gowa Sungguminasa ini, dahulu dipercaya sebagai Kepala Seksi Bina Usaha. “Alhamdulillah, ketika dipercaya sebagai Kepala Seksi, saya berhubungan baik dengan masyarakat pengusaha kecil dan koperasi. Menyenangkan”, ceritanya.
Jika banyak orang benar-benar mempersiapkan diri untuk memasuki masa pensiun, maka tidak halnya dengan H. Rakib. “Tidak ada persiapan khusus. Saya menyandarkan hidup saya dan keluarga semata-mata dari gaji pensiun.”, ucapnya bijak. “Yang saya rasakan ketika itu malah perasaan lega, karena telah melaksanakan tugas dengan baik tanpa beban”, tambahnya sambil menginformasikan bahwa ia pensiun tanggal 1 November 1999.
Meski hanya mengandalkan hidup dari gaji pensiun, ia maupun sang istri tercinta Hj. St. Rohani Miru, BA., tak pernah berkeluh. Yang penting baginya adalah ia telah bekerja dengan jujur. Dengan begitu, ia yakin bahwa rezeki Allah akan datang dari mana saja, disamping ia telah memberikan nafkah halal untuk anak dan istrinya sebagai kekayaan yang tak ternilai baginya dalam menjalani hidup selama enam puluh lima tahun ini. • @n
|
|
| Muzakki Malang |
| Lebih Dekat pada Allah |
 |
Ibu Indah Jati namanya. Akrab disapa Ibu In. Selama mengabdi di Pemerintah Kota Malang sejak tahun 1973, khususnya bagian Dinas Kebersihan, banyak kontribusi yang telah diberikannya. “Memberikan sosialisasi tentang kebersihan, penyuluhan tentang sadar hidup bersih dan menjaga kebersihan rumah serta lingkungan adalah tugas-tugas saya”, jelas Ibu In yang diamanahi sebagai Kepala Bidang. “Harus sering-sering berkoordinasi dengan semua Kepala Seksi”, tambahnya.
Hobbinya berolahraga mungkin menjadi penyebab awetnya paras di usianya yang telah lebih dari separuh abad. “Saya juga senang nyanyi lho”, ujar ibu dari lima anak ini, yang lahir di Malang 16 Juli 1950 silam. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang selalu terlihat segar. “InsyaAllah ini karena kedekatan saya yang lebih intens pada Allah setelah pensiun. Rasanya, beribadah itu lebih terasa khusyuk, tidak tergesa-gesa lagi seperti waktu di Dinas dulu”, jelasnya dengan anggukan mantap.
Menghadapi pensiun Agustus 2006 kemaren, ia mengaku tak punya persiapan khusus. “Saya kan bukan bisniswomen, jadi tak perlu mempersiapkan apa-apa”, alasannya. Pensiun baginya adalah moment khusus untuk lebih dekat dengan keluarga. “Keluarga bagi saya adalah segalanya. Ujian terbesar saya kemaren adalah dipanggilnya anak bungsu saya secara tiba-tiba. Saya sempat shock, tapi akhirnya sadar bahwa Allah hendak menunjukkan sesuatu, dan itulah yang terbaik buat saya dan keluarga”, kenang istri dari Bapak Arifin Ahmad ini mantap. • @n
|
| Muzakki Pekanbaru |
| Menembak Jatuh Pesawat Musuh |
 |
Muzakki kita yang satu ini sangat istimewa. Beliau adalah veteran dari TNI AD. Mantan pejuang yang gagah berani mempertaruhkan jiwa dan raga demi tercapainya kemerdekaan Indonesia Raya. Bapak Soegirinoto namanya. Usianya telah sepuh, delapan puluh tahun. “Saya pernah berperang melawan tentara Kompeni Belanda di Pringgondani dan Surabaya. Pengalaman paling menarik adalah ketika berhasil menembak jatuh pesawat musuh. Ini pengalaman yang luar biasa”, cerita beliau semangat.
Sebagai anggota TNI, ia harus selalu siap ketika ditugaskan di seluruh wilayah RI. Termasuk ketika ia dan keluarga harus berangkat ke Pekanbaru Riau. “Tahun 1977, saya ditugaskan di Kantor Administrasi Veteran Prov. Riau sebagai Kepala. “, ungkapnya. Sehari-hari, ia mengurusi nasib para pejuang yang belum menjadi anggota veteran untuk mendapatkan tunjangan. Disamping itu, ia juga ditugasi untuk mendata cadangan nasional tentang siapa saja yang siap diturunkan kelak bila terjadi peperangan.
Memasuki masa pensiun pada tahun 1983, Pak Giri sempat stress. Ini disebabkan masih banyaknya harapan yang belum terselesaikan. Namun, sang istri, Srijatun, terus memberikan motivasi sehingga ia menemukan semangatnya kembali. Selanjutnya, hari-hari pensiunnya diisi dengan mengikuti paguyuban masyarakat Jawa di Riau yang tergabung dalam Persatuan Perdalangan Riau. “Darah Jawa yang mengalir dalam tubuh, membuat saya sangat mencintai seni, khususnya kesenian wayang kulit dan ketoprak”, ujarnya sambil tersenyum mantap. • @n
|
| Muzakki Pekanbaru |
| Harus Siap 24 Jam |
 |
Menjadi penegak hukum, pelayan dan pengayom masyarakat menjadi tugas utama dari bapak Bapoh Santoso. Ini mulai dilakoninya sejak tahun 1987 hingga 1992 sebagai Kapolsek di Polres Siman Ponorogo. “Sebagai penegak hukum, pelayan dan pengayom masyarakat, kami dituntut untuk mampu menangani kasus-kasus kriminal. Dan semua harus selalu berpedoman pada KUHAP dan KUHP”, jelas suami dari Ibu Santoen ini.
Sejak pensiun Februari, enam belas tahun silam, ia selalu terkenang dengan tugas-tugasnya selama menjadi Polisi. “Sebagai anggota POLRI, tugasnya 24 jam. Sewaktu-waktu ada kejadian, harus selalu siap. Misalnya mendatangi TKP (Tempat Kejadian Perkara). Nah, ini membutuhkan kecermatan dalam mengolah data. Dalam mengolah data inilah yang selalu menjadi pengalaman menarik bagi saya”, ceritanya sambil tersenyum. Memasuki masa pensiun, hanya perasaan puas yang terasa di dada. “Saya bersyukur bisa melaksanakan tugas-tugas tanpa hambatan yang berarti. Kelegaan saya yang lain adalah tiga orang putra saya sudah mandiri semua dan telah berkeluarga. Alhamdulillah, ini anugerah luar biasa dari Allah”, pungkasnya menutup bincang. • @n |
|
|
|