Menjaga Keharmonisan Keluarga Ala Rasulullah

SEPTEMBER 2012

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” Dengan lafaz berbeda, hadits lain mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)-ku.”

Hadist di atas menjelaskan kepada kita bahwa kebaikan dalam keluarga bermula dari perilaku antar suami istri. Perilaku jugalah yang menentukan keharmonisan sebuah keluarga. Rasulullah mengajarkan bahwa bersikap baik kepada pasangan mempengaruhi hubungan pasangan tersebut.

Komunikasi dengan prasangka baik

Berkaitan dengan sikap antar pasangan, komunikasi adalah hal yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan dalam menjalin hubungan. Kelancaran komunikasi dalam keluarga, dapat menimbulkan sikap saling percaya antar anggota keluarga, terutama antara suami dan istri. Dalam hal ini Islam mengajarkan kepa kita untuk selalu berkhusnuzon.

“Jaga komunikasi, saling husnuzan, dan percaya bahwa Allah akan menjaganya (red. suaminya), itulah caranya supaya keharmonisan keluarga tetap utuh.” begitulah Ibu Choiriyah, seorang ibu muda yang suaminya sering bepergian keluar kota mengemukakan pendapatnya ketika ditanya tentang keharmonisan keluarga.

Berkhusnuzon atau berbaik sangka antar anggota keluarga sejatinya menanamkan sikap saling memercayai dan menjadikan anggota keluarga saling menghargai pilihan masing-masing. Dalam sebuah riwayat Rasulullah mengajarkan bahwanya jika dalam suatu urusan, terutama dalam urusan keluarga, timbul rasa su’uzan atau prasangka buruk, maka yakinlah bahwa prasangka buruk tersebut tidak benar. Dengan demikian, prasangka-prasangka yang dapat memicu keretakan keluarga dapat dihindari.

Saling Memenuhi Hak dan Kewajiban

Selain khusnuzan, hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah kesadaran dalam menjalankan hak dan kewajiban masing-masing. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa salah seorang sahabat Rasul yang saleh menikah dengan wanita keturunan keluarga yang mulia. Sahabat yang saleh ini tidak pernah melayani istrinya karena setiap hari dia puasa dan selalu menghabiskan malam-malamnya dengan shalat. Setelah sang istri melaporkan sikapnya kepada Rasulullah, beliau memanggilnya. Sahabat yang saleh itu lalu mendapat nasehat dari Rasulullah untuk membatalkan puasanya dan memendekkan shalat malamnya karena kini ia telah mempunyai istri yang berhak untuk di dekatnya. Mendengar nasihat ini, sahabat yang saleh tersebut mematuhi perintah Rasulullah. Sejak itu, sang istri tidak pernah mengeluhkan apa-apa lagi kepada Rasulullah.

Dari cerita di atas, dapat kita pahami bahwa Islam sangat memrhatika hak dan kewajiban suami-istri. Istri yang berkewajiban merawat dan menghibur suami juga memiliki hak atas kebersamaan dengan suaminya. Demikian juga dengan suami yang memiliki hak atas istrinya juga memiliki kewajiban menemani malam-malam istrinya selain mencari nafkah.

Menyenangkan Anggota Keluarga Seperti Rasulullah

Selain itu, untuk membangun keharmonisan keluarga, kita juga dapat mencontoh Rasulullah yang selalu menyenangkan keluarganya. Caranya bisa dengan memberikan hadiah kepada suami/istri dan anak-anak kita, memanggil anggota keluarga dengan panggilan yang disenanginya, atau sesekali bergurau dengan anggota keluarga.

Sebagai contoh, Rasulullah kerap kali memanggil Aisyah ra. dengan panggilan Humaira (pipi yang kemerah-merahan) sebagai bentuk sayang dan untuk menyenangi istrinya. Maka, untuk menunmbuhkan keharmonisan dalam keluarga, mulailah memanggil suami/istri dan anak-anak kita dengan panggilan yang disukainya. Selain membuat anggota keluarga senang, panggilan kesayangan bisa menumbuhkan keakraban antar anggota keluarga.

Setelah berkhusnuzon, memenuhi hak dan kewajiban maisng-masing, dan saling menyenangkan anggota keluarga, saling menutup aib keluarga juga menjadi kunci keharmonisan keluarga. Seperti salah satu sabda Rasulullah yang berbunyi, “Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.”

Dalam hadist di atas, Rasulullah menegaskan bahwa saling menutup aib muslim adalah kunci kebahagiaan hingga ke akhirat, bahkan Allah juga akan menutup aib seseorang yang menutup aib saudaranya. Dalam urusan keluarga, Rasulullah lebih menekankan untuk tidak menceritakan kekurangan atau aib pasangan kita kepada orang lain,apalagi kepada orang yang tidak memiliki ikatan keluarga. Untuk hal ini, Rasulullah mengatakan bahwa menceritakan kekurangan atau aib keluarga adalah perbuatan yang sangat tercela.

Canda Menghangatkan Keluarga

Untuk semakin menambah keharmonisan keluarga, ada satu hal lagi yang dapat kita tiru dari kehidupan Rasulullah. Yaitu sikap Rasulullah yang kadang bergurau atau bercanda dengan istrinya dan sahabatnya.  Sebagai contoh, dalam sebuah majelis bersama para sahabat, Rasulullah dan sahabat disuguhi banyak kurma. Salah seorang sahabat yang duduk di sekan Rasulullah meletakkan menggabungkan biji kurma bekasnya dengan biji kurma sisa Rasulullah tepat di meja Rasulullah. Lalu, sahabat itu berkata, “Lihatlah, Rasulullah sangat lapar dan sangat menyukai kurma ini. Betapa banyak kurma yang dimakannya.” Seluruh sahabat tertawa. Kemudian Rasulullah membalas gurauan sahabat, “Siapa yang lebih lapar? Lihatlah dia memakan kurma dengan biji-bijinya.” Mendengar gurauan Rasulullah, seluruh sahabat yang ada di majelis semakin tertawa.

Di banyak hadits shahih lainnya juga sering diceritakan bagaimana sikap Rasulullah saat bercanda dengan Aisyah ra. Salah satu bentuk candaan Rasulullah terekam dalam hadist di bawah ini.

Pada suatu ketika Aisyah ikut bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Aisyah berkata: “Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah ! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan ternyata aku dapat mengungguli beliau. Rasulullah hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga dalam kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah perjalanan lainnya. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan kali ini beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!”

Masih banyak lagi cara yang dapat kita contoh dari Rasulullah untuk menjaga keharmonisan keluarga. Tapi, paling tidak beberapa hal di atas dapat menjadi pemicu dan menjaga kehangatan keluarga. Selain menerapkan contoh-contoh di atas, saling menasihati sesuai kaidah Islam juga bisa menjadi sumber keharmonisan keluarga. Dengan demikian, lengkaplah sudah keutuhan keluarga yang harmonis sesuai dengan ajaran Rasulullah. Wallahu a’lam. (lis/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button