Menumbuh Kembangkan Kreativitas Anak
FEBRUARI 2012
Siapa tidak ingin anaknya kreatif? Setiap orang tua pasti menginginkan agar putra atau putrinya menjadi anak kreatif dan menjadi orang sukses di masa depan. Untuk itu, biasanya orang tua mengajari berbagai hal kepada anak-anaknya dengan tujuan anaknya nanti menjadi lebih kreatif dibandingkan dengan anak-anak lain, padahal sebenarnya hal tersebut salah besar.
Kreativitas merupakan faktor penting yang mendukung seseorang untuk mencapai kesuksesan. Bila kita mengamati orang-orang yang sukses, kita mendapati bahwa kesuksesan mereka bukan semata-mata karena inteligensi mereka yang tinggi, namun lebih merupakan hasil keberanian mereka untuk membuat lompatan yang tidak biasa. Mereka berani membuat sesuatu yang baru, berpikir lain daripada kebiasaan orang, atau dengan kata lain, memanfaatkan kreativitas mereka untuk membuat sesuatu terobosan yang unik.
Proses pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas seorang anak. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan di sekolah, melainkan juga pendidikan di rumah oleh orangtua. Orangtua, sebagai pendidik pertama dan utama bagi seorang anak, mempunyai kesempatan istimewa untuk membangkitkan kreativitas anak, sebab dari figur orangtua lah seorang anak pertama kali mengembangkan cara berpikir dan membentuk sikap belajarnya. Hal inilah yang selalu membuat ibu Na, menyempatkan diri untuk berkumpul bersama di hari libur demi memberikan keistimewaan anak berkreativitas sesuai keinginan mereka, akan dimanfaatkan untuk apa hari libur bersama itu.
Aktifnya Anak Kreatif
Seperti apa anak yang disebut kreatif? Anak yang kreatif biasanya menunjukkan karakteristik sebagai anak punya rasa ingin tahu tinggi, intuitif, berani ambil resiko, keteguhan/ketekunan, suka dengan sesuatu yang rumit dan punya rasa humor. Beberapa penelitian menemukan bahwa anak yang kreatif sering melakukan permainan imajinasi dan lebih dimotivasi oleh faktor internal daripada faktor eksternal seperti adanya insentif. Namun tidak selamanya anak yang kreatif tampil sebagai anak yang menyenangkan. Paul Torrance (1962) juga menemukan bahwa anak yang kreatif juga bisa tampil sebagai anak yang keras kepala, senang mengkoreksi, dan berpuas diri/sombong.
Karakter yang menjurus negatif seperti di atas sering disalahartikan dan kemudian mendapatkan perlakuan kurang tepat dari orang-orang di sekitarnya. Bagaimanapun karakter yang ditunjukkan anak, yang terpenting adalah penerimaan dari orang-orang di sekitarnya sehingga anak merasa nyaman untuk terus mengembangkan diri dan mengarah ke pembentukan kreativitasnya.
Kreativitas & perkembangan kognitif
Sebagai orang tua, seperti yang dialami ibu Na, Ia selalu memantau perkembangan buah hatinya, Ufi (6th). Menurutnya, ketika kita ingin memahami kreativitas anak , kita harus bisa membedakan antara kreativitas dan intelegensi buah hati.
Menurut Wallach (1970), inteligensi dan kreativitas berdiri sendiri-sendiri. Artinya anak sangat kreatif belum tentu berinteligensi tinggi. Lain halnya jika kita bicara soal anak berbakat (gifted). Anak-anak ini memiliki inteligensi dan kreativitas yang tinggi. Terlepas dari ini semua, perkembangan kreativitas tidak lepas pengaruhnya dari perkembangan kemampuan kognitif atau berpikir. Kreativitas tergantung pada kemampuan berpikir simbolik atau berimajinasi dimana pada anak baru dominan terlihat ketika ia memasuki usia dua tahun.
Perkembangan kreativitas anak sendiri lebih mudah diamati lewat hasil karya anak yang dapat dianggap sebagai jendela dari pikiran anak. Sebelum anak mahir menulis atau pun bicara, umumnya mereka berekpresi lewat gambar. Dari gambar-gambar inilah kita dapat mengamati perkembangan kreativitas anak. Dan dari sinilah, kita bisa mengetahui bakat anak kita di mana untuk mengarahkannya menuju kreativitas sesuai pilihan hatinya.
Memahami Proses Kreatif Anak
Kreatif itu sebuah proses, perwujudannya tidak selalu menggembirakan orang tua. Terutama bila proses tadi dipahami tidak dengan empati, tetapi dengan visi orang tua. Dalam kasus ini, sepatutnya orang tua memahami proses kreatif anak. Dengan kepahaman itu, orang tua akan menjaid lapang dada. Segala keunikan pun dapat diterima sebagaimana adanya, sehingga anak kemudian optimis untuk melakukan sesuatu. Anak juga akan mendapat legitimasi bahwa dirinya boleh berproses dengan sebaik-baiknya.
“Tak perlu khawatir bila kita sudha bersungguh-sungguh berusaha dan memohon pada Allah. Tinggal kesiapan kita sebagai orang tua menyediakan fasilitas. Karena dengan persiapan memadai, baik persiapan ilmu pengetahuan dan persiapan mental emosional, kita dapat melihat aktivitas batin mereka. Insya Allah, dengan empati mendalam, proses kreatif anak akan menemukan jalannya yang baik. Sehingga, akhirnya menghasilkan kreativitas yang kelak berguna untuk kemaslahatan umat manusia,” ucap Ibu Na.
Biarkan Mereka Menentukan
Orang tua mempunyai peran penting untuk membiarkan anaknya memilih sendiri kreatifitas yang akan ditekuninya, tanpa campur tangan orang tua. “Jangan sampai kita ikut terlibat dalam proses kreatif mereka, karena akibatnya justru tidak bagus untuk anak kita,” ujar Ibu Na.
Dalam sebuah penelitian di Amerika, baru-baru ini ternyata mengungkapkan bahwa anak-anak yang orangtuanya banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka justru kalah kreatif dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya membiarkan mereka sendirian tanpa banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa anak-anak yang diajari berbagai macam hal oleh orangtuanya justru nantinya akan menjadi kurang kreatif. Hal tersebut diperparah lagi dengan keterlibatan orangtua yang terlalu berlebihan dalam proses kreativitas anak.
Oleh karena itu, orangtua harus menahan diri agar tidak terlalu terlibat dalam proses kreativitas anak. Biasanya orangtua yang terlibat dalam proses kreativitas sang anak justru akan berkembang menjadi sebuah sikap memaksa dengan tidak memberikan banyak pilihan pada sang anak. Biarkan anak berkembang secara alamiah dengan sendirinya. Orangtua haruslah menghargai serta memberikan dukungan terhadap kreativitas sang anak tanpa harus terlalu mengarahkan dan terlibat langsung. Namun, ada hal penting yang dapat dilakukan oleh orangtua agar anaknya menjadi kreatif, yaitu dalam memberikan mainan kepada sang anak. Agar anak menjadi kreatif, orangtua sebaiknya memberikan mainan yang bentuknya dapat diubah-ubah seperti lilin mainan ataupun Lego. Mainan tersebut dapat merangsang sang anak untuk menjadi lebih kreatif dibandingkan dengan mainan berupa balok-balok yang hanya dapat membuat bentuk persegi yang terbatas.
Selain itu, kita sebagai orangtua juga sebaiknya menghindari alat-alat permainan yang dapat membatasi kreativitas anak seperti buku mewarnai dengan gambar-gambar yang sudah disediakan. Lebih baik kita memberikan kertas atau buku gambar yang polos dan biarkan sang anak menggambar sendiri apa yang ada di pikirannya, untuk kemudian diwarnai bila perlu. Berikan pujian meskipun apa yang anak kita gambar tampak bodoh atau aneh di mata kita. Hal tersebut dilakukan sebagai penghargaan kita terhadap usaha sang anak untuk mencoba suatu hal yang baru sehingga akan memicu kreativitasnya untuk lebih berkembang lagi. Hindari melarang anak berbuat sesuai keinginannya, karena hal itu bisa memperlambat perkembangan otak anak melakukan sesuatu yang kreatif. Perhatikan dan jaga anak, agar tidak melakukan sesuatu yang kurang baik. Jika itu terjadi, kita bisa menasihatinya dengan lembut. Kita pun sebagai orang tua harus kreatif mencari cara mendidik anak. Biasanya orang tua kreatif akan mempunyai anak kreatif pula. (lin/ berbagai sumber)






