Urgensi Tauhid Dalam Rumah Tangga

JANUARI 2012

Semua manusia dibebani kewajiban untuk mengubah dirinya, masyarakat dan lingkungannya agar sesuai dengan pola Ilahi. Manusiapun diyakini mampu melakukan hal itu . sebagaimana tugas seorang manusia adalah wakil daripada tuhan menjadi khalifah fil ardl. Hakikat pengalaman agama dalam Islam tidak lain dari realisasi dan prinsip bahwa hidup dan kehidupan ini tidak lah sia-sia; ia mesti memenuhi tujuan yang hakikatnya tidak dapat disamakan dengan aliran alami selera manusia dalam mengejar kepuasan demi kepuasan.

Tauhid dalam ungkapan sederhana, adalah keyakinan dan kesaksian bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah,” yang bermakna tidak ada yang wajib disembah kecuali Allah, dzat yang tunggal, esa, dan Maha Sempurna dari segala kekurangan, yang tidak pernah bergantung kepada siapapun. Tuhan yang wujud , yang dapat dibuktikan keberadaannya dengan akal manusia yang sehat. Sebagaimana dikatakan Ismail Razi Al-Faruqi dalam kitab Tauhidnya, bahwa segala keragaman kekayaan dan sejarah, kebudayaan dan pengetahuan, kebijaksanaan dan peradaban Islam diringkas dalam kalimat yang singkat ini, “La ilaha illa Allah”.

Dalam kehidupan rumah tangga pun, peneguhan tentang tauhid menjadi sebuah kewajiban yang mutlak dilaksanakan agar mereka mampu mengokohkan pilar-pilar rumah tangganya dengan iman dan Islam. Tidak hanya sekedar meneguhkan komitmen selalu bersama, saling membantu, tetapi tauhidlah yang harus selalu ditekankan dan diutamakan dalam menjalin kehidupan berkeluarga.

Tauhid sebagai fitrah manusia

Manusia dalam kehidupannya tidak terpisahkan dari tiga unsur gharizah ( fitrah atau naluri) yang melekat pada diri manusia. Pertama: Gharizah al-baqa yakni naluri untuk mempertahnkan diri, dengan ini manusia bekerja, makan, minum untuk melanjutkan dan memenuhi kebutuhan hidupannya, Kedua: Gharizah Annau, yakni naluri suka terhadap lawan jenis, bagi manusia yang suka dengan sesame jenis pada hakikatnya Ia menyimpang dari fitrahnya sebagai manusia. Menikah adalah solusi untuk menjaga gharizah nau tersebut dengan itu kesucian, kehormatan dan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Ketiga : Gharizah tadhayyun naluri beragama, adalah fitrah yang dimiliki setiap manusia, seorang Ateispun memiliki tuhan yang bernama kebebasan. Seorang muslim senantiasa menjaga dan meneguhkan ketauhidan dalam menjalani keislamannya dengan senantiasa memelihara kedekatan dengan Rabbnya adalah wujud aplikasi gharizah tadayyun. Ketiga gharizah tersebut tidak bebas nilai, dalam Islam kesemuanya diatur dengan menyeluruh dan dapat memuaskan akal pikiran dan fitrah manusia.

Membangun rumah tangga dengan pondasi Tauhid

Allah SWT telah menjadikan laki-laki dan perempuan sederajat ( QS 3:195 , 9: 71-71 dan 16: 97 ) dalam hak-hak keagamaan , etika dan masyarakat, serta tugas-tugas dan kewajiban mereka. Akan tetapi ada sedikit pengecualian, dan ini berkaitan dengan fungsi-fungsi mereka sebagai seorang ayah dan Ibu. Dalam hal ini laki-laki jelas menempati kedudukan lebih tinggi akan perannya sebagai kepala rumah tangga, ini berlaku sejak manusia pertama kali diciptakan. Diciptakannya laki-laki dan perempuan untuk fungsi-fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Ada beberapa langkah pendidikan tauhid yang menjadi landasan keimanan terhadap anak : pertama; membuka kehidupan anak dengan kalimat la ilaha illa Allah. Kedua :mengenalkkan hukum halal dan haram kepada anak sejak dini. Ketiga : menyuruh anak menjalankan ibadah sejak usia tujuh tahun. Keempat : mendidik anak mencintai Raasulullah, keluarganya dan membaca Al-Qur’an.

Mentauhidkan Allah adalah wujud manifestasi pengakuan keimanan yang diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang wajib ditanamkan dan diteguhkan dalam kehidupan berumah tangga. Hal itu tidak terbatas hanya pada ibadah ritual. Politik, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan seluruh bidang kehidupan berjalan dengan landasan tauhid kepada sang pencipta. Berawal dari keluarga, kuatnya tauhid dalam keluarga akan berpengaruh positif terhadap kehidupan bermasyarakat, selanjutnya berujung kepada negeri yang dicita-citakan, baldatun tayyibun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam. (lin)

AddThis Social Bookmark Button