Meneguhkan Tauhid Dalam Rumah Tangga
JANUARI 2012
Islam merupakan agama yang telah disempurnakan oleh Allah swt. Dimana telah jelas semua secara terperinci apa-apa yang ada dan terkandung didalam ajarannya. Islam juga mengajarkan kepada kita semua tentang keesaan Allah swt. Apa pun yang ada di dunia ini yang sudah tercipta oleh-Nya merupakan bagian dari kekuasaan-Nya.
Sebagai hamba yang beriman, tentu kita wajib mengimani Allah tanpa ada satu pun keraguan yang tersisa di dalam hati. Sebagaimana yang telah kita ucapkan ketika masih dalam kandungan (alam rahim) kita meyakini tentang keesaan Allah SWT. Bagi seorang muslim tentu itu merupakan bagian dari rukun iman, yang pertama tentu kita wajib meyakini keesaan Allah swt dan tiada Tuhan selain Dia.
Islam lahir membawa akidah ketauhidan, melepaskan manusia kepada ikatan-ikatan kepada berhala-berhala, serta benda-benda lain yang posisinya hanyalah sebagai makhluk Allah SWT. Ketauhidan yang membawa manusia kepada kebebasan sejati terhadap apapun yang ada, menuju kepada ketundukan kepada Allah SWT. Penanaman tauhid ini dilakukan selama 13 tahun oleh Rasulullah SAW, waktu yang cukup panjang, namun hanya 40 orang saja yang mampu melepaskan budaya nenek moyangnya, berani mengingkari leluhur mereka, dan menuju jalan yang terang “tauhid Islamiyah”. Semua utusan Allah membawa pesan yang sama yakni tauhid bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Irene Subagja (47) kehidupannya banyak diwarnai dengan ujian dan cobaan yang tiada henti menimpanya. Dua bulan menjelang pernikahannya Irene Subagja terkejut ketika mengetahui calon suaminya itu tidaklah seimanan dengannya. Permasalahan pun kian nampak ketika orangtua Irene Subagja tidak setuju, meskipun pada akhirnya calon suaminya itu kemudian memeluk agama Islam.
“Ayah memang tidak setuju dengan pernikahan kami. Namun saya berusaha meyakinkan ayah bahwa calon suami saya itu akan menjadi seorang muslim sebulan sebelum pernikahan kami,” tutur wanita kelahiran Jawa Timur. Kemudian setelah Irene Subagja meyakinkan ayahnya, calon suaminya hadir dan bersiap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Di hadapan keluarga dan jamaah yang hadir, Tomas Subagja calon suami Iren Subagja akhirnya melafadzkan syahadat.
Dua tahun kemudian setelah menjalani kehidupan yang baru bersama sang suami tentu Irene Subagja tidak dengan mudah menjalani kehidupanya itu. Cobaan datang hilir berganti menerpanya. Memang dua tahun setelah menikah itu merupakan ujian terberat bagi kedua pasangan tersebut.
“Dua tahun saya hidup bersama suami saya, hidup ini terasa sulit namun dengan kesabaran dan keteguhan hati saya bersama suami bisa melewatinya dengan baik,” kenangnya. Sang suami yang baru saja pindah keyakinan teryata dia belum bisa meninggalkna kebiasaan lamanya. Dan itu membuat Irene Subagja jengkel tapi dia berusaha merubah pola laku suaminya dengan perlahan dan penuh kesabaran tinggi.
Menanamkan Keyakinan akan Tuhan
Memang berpindah keyakinan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tentu banyak tahapan yang harus dilaluinya terutama tetap berdoa kepada Allah SWT agar keluarga tetap diberikan pertolongan oleh-Nya.
“Sangat sulit untuk merubah tingkah laku suami saya, apalagi mengajarkan dan membiasakan dia untuk shalat lima waktu. Namun dengan keridhaan Allah swt suami saya segera menyadarinya dan meninggalakan semua kebiasaan dia. Dan dia mulai belajar shalat,” tukas Irene.
Islam mengajarkan kepada setiap hamba-Nya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dimana yang paling utama yakni meyakini keesaan Allah. Sangat penting tentunya memberikan arahan kepada anggota keluarga tentang hakikat Keberadaan Allah swt dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Begitu juga halnya Irene Subagja yang terus mengajarkan Tauhid kepada suaminya.
Kualitas Tauhid Tonggak Kepribadian Islami
Kepribadian muslim dibentuk sejak dini, orang tua sebagai seorang muslim haruslah memiliki keyakinan akidah tauhid yang berkualitas. Namun alangkah baiknya jika orang tua juga mengerti materi-materi ketauhidan, sehingga orang tua dapat membekali anak-anaknya dengan keilmuan yang didukung dengan ketauladanan tauhid sehingga terbentuk kepribadian seorang muslim sejati.
Semakin kurang tauhid seorang muslim, semakin rendah pula kadar akhlak, watak kepribadian, serta kesiapannya menerima konsep Islam sebagai pedoman dan pegangan hidupnya. Sebaliknya, jika akidah tauhid seseorang telah kokoh dan mapan (established), maka terlihat jelas dalam setiap amaliahnya.
Setiap konsep yang berasal dari Islam, pasti akan diterima secara utuh dan dengan lapang dada, tanpa rasa keberatan dan terkesan mencari-cari alasan hanya untuk menolak. Inilah sikap yang dilahirkan dari seorang muslim sejati. Islam atau Al Quran menghendaki agar pengabdian, pemujaan, atau ketaatan hanya tertuju kepada Tuhan, dan bila berdoa atau berharap kepada-Nya, haruslah bersifat langsung tanpa perantara seperti yang dilakukan kaum musyrikin. Sebagaimana Allah swt berfirman, Katakanlah : “Dialah Allah , Yang Maha Esa, Allah adalah tuhan Yang bergantung kepadanya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
Dampak Positif Ketauhidan Untuk Semua
Keyakinan seorang muslim akan eksistensi Tuhan Yang Maha Esa (Allah) melahirkan keyakinan bahwa sesuatu yang ada di alam ini ciptaan Tuhan; semuanya akan kembali kepada-Nya, dan segala sesuatu berada dalam urusan Yang Maha Esa itu. Dengan demikian segala perbuatan, sikap, tingkah laku, atau perkataan seseorang selalu berpokok dalam modus ini.
Tauhid tidak hanya sekedar memberikan ketentraman batin dan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kemusyrikan,bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, tetapi juga berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku keseharian seseorang. Ia tidak hanya berfungsi sebagai akidah, tetapi berfungsi pula sebagai falsafah hidup.
Dalam rumah tangga, akibat kuatnya penanaman tauhid di kalbu masing-masing anggota keluarga menyebabkan kehidupan keluarga menjadi keluarga yang mampu memaknai apa arti hidup, untuk apa kita hidup, dan akan ke mana kita nantinya setelah tidak hidup atau meninggal. Hal ini akan selalu memberikan keteguhan dan keyakinan yang mendasari setiap perilaku kita. Selalu menjadikan pegangan hidup bagi kita, bahwa Allah akan selalu ada untuk kita, jika kita juga selalu ada untuk-Nya, dan memegang teguh iman kita, sehingga keutuhan keluarga akan selalu terjaga selamanya. (Jh/berbagai sumber)
Tips :
Menjaga Ketauhidan Dalam Keluarga
- Saling mengingatkan antar anggota keluarga ketika ada yang berbuat khilaf, untuk kembali hanya kepada Allah. Karena, sesungguhnya Allah selalu memaafkan hamba-Nya yang benar-benar bertaubat.
- Saling menginstropeksi diri akan kekurangan dan kelebihan iman dalam diri masing-masing anggota keluarga untuk dipadukan dan dijaga bersama.
- Mendoakan satu sama lain agar Allah selalu bersama dalam setiap langkah dan perilaku.
- Mengadakan pengajian harian bersama di rumah selesai shalat
- Memperbaharui keimanan dengan mendatangi kajian-kajian akhir pekan bersama keluarga






