Manajemen Hati Bagi Si Kecil

DESEMBER 2011

Anak terkadang bersikap sangat manis sampai kita meneteskan air mata haru. Namun kita semua tahu, bahwa anak-anak belum matang secara emosional. Seringkali, mereka hanya terpusat pada kebutuhan mereka sendiri. Di sinilah tugas seorang ibu menanamkan karakter positif pada anak dalam perkembangannya.

Setiap anak dilahirkan dengan segala perbedaannya. Ada yang lahir normal, dan ada pula yang lahir cacat. Lalu, yang normal pun ada yang mudah bersosialisasi dan ada pula yang sulit. Namun, mereka semua pasti membutuhkan cinta dari orang tua untuk bisa bertahan menghadapi persoalan hidup kelak.

Kecintaan orang tua, terutama ibu kepada anak, harus dapat diungkap dengan kelembutan hati. Kekerasan atau kekasaran bukanlah cara yang dianjurkan Islam. Menurut seorang ahli, begitu seorang anak balita dibentak dengan keras, putuslah beberapa syaraf rangsang mereka. Mereka akan merekamnya sebagai hal yang menakutkan.

Bahkan Rasulullah SAW diingatkan oleh Allah swt untuk menghadirkan kekerasan dan kekasaran, karena hal itu akan menjauhkan dari dia.

 

Dalam al-Qur’an surat ali-Imran ayat 159 dijelaskan, “Maka disebabkan rahmat dari Allah laj kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam itu. Kemudian jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ayat ini secara tidak langsung juga mengingatkan para orang tua ketika mendidik anak untuk menghindari kekerasan dan kekasaran. Dengan kebesaran hati untuk mengarahkan anak memilih yang terbaik untuk mereka. Hal ini diakui ibu Nur yang mempunyai anak berumur  6 tahun merasakan betapa besar manfaat mendidik anak dengan kebesaran hati.

 

Membudidayakan 5S

Senyum, salam, sapa , sopan, santun (5S). Setiap orang tua bisa menstimulus budaya 5S pada anak, terutama memberi senyuman kepada mereka. Seoranga nak yang disapa saat bangun tidur, diucapkan salam untuknya, dan ia tersenyum, berarti ia telah merasakan kehangatan dan pancaran kasih sayang bdari orang tuanya. Bahkan, saat anak berbuat salah, orang tua harus bisa tetap menunjukkan kehangatan dan kelembutan mereka dengan kata-kata yang membesarkan hati.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh sifat-sifat ini, bagaimana beliau tak marah ketika cucunya, Hasan dan Husein menaiki pundak beliau saat sedang rukuk. Rasuluullah SAW juga senang mencium anak dan menggendong anak kecil. Hal ini diikuti oleh para sahabat.

Berpikir Positif

Berpikir positif atau husnudzan diperlukan bagi seorang anak. Mereka harus dilatih agar kalbunya makin cantik. Jika keinginan anak tidak dipenuhi, anak diajak diskusi dan akhirnya ia pun berpikir positif mengapa orang tuanya tidak mengabulkan keinginannya. Jangan hidupkan rasa curiga dalam hati anak.

Langkah mengajarkannya dengan tetap berprasangka baik pada anak. Jangan biarkan anak dengan berbagai tuduhan yang tidak menyenangkan. Justru sebaliknya, berikan mereka dengan kepercayaan dan pujian.

Layakkah anak dipercaya? Anak layak mendapat kepercayaan, meskipun pada hal-hal yang remeh temeh menurut orang tua. Secara alamiah anak akan menjaga kepercayaan yang diberikan padanya dengan sungguh-sungguh. Kepercayaan tentu tumbuh dari pikiran positif atau prasangka baik orang tuanya meskipun anaknya nakal.

Belajar dan Bermain bersama

Sekarang ini waktu bersama anak adalah hal mahal bagi keluarga-keluarga masa kini. Kondisi diperparah dengan tren ayah dan ibu bekerja. Mereka bertemua nak-anak pada saat sore hari, amalm hari, dan pagi menjelang pergi bekerja. Parahnya, kondisi pertemuan itu terkadang tak maksimal karena orang tua masih dibebani tugas kantor atau pulang ke rumah membawa kondisi jiwa yang stres. Anak tidak lagi punya kesempatan untuk bercengkerama dengan kedua orang tuanya, termasuk ibu yang paling dekat dengannya.

Hati anak sangat sensitif, terutama pada masa pertumbuhan mereka. Kondisi orang tua yang kurang hangat, lelah, stres, tidak mereka pahami. Hal yang mereka tahu adalah keinginan untuk bercanda bercerita dan bercengkerama dengan orang tuanya. Oleh karena itu, jika harapan mereka dipupuskan, mereka akan teluka.

Dengan belajar dan bermain bersama, mereka merasa orang tuanya memberi perhatian dan merasa cinta dan kasih sayang  yang hangat. Keadaan makin baik saat orang tua juga memberi respon serta penghargaan terhadap kreatifitas anak dalam bermain maupun belajar. Boleh jadi kreatifitas anak itu biasa saja atau konyol, tapi penghargaan untuk mereka tidaklah konyol.

Dalam belajar, orang tua harus bisa menjadikan rumah sebagai pusat ilmu. Oleh karena itu aktifitas keluarga perlu didorong pada peningkatan ilmu. Hal yang merusakkan seperti acara-acara TV yang relevan, sebaiknya dihindarkan. Penuhi rumah dengan buku anak, kaset lagu anak islami dan bermuatan ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Dampingi mereka untuk sekedar menjelaskan dan menjawab rasa ingin tau mereka.

Manajemen hidup anak

Saat anak memasuki usia beberapa bulan, ibu bagusnya paham jadwal anaknya. Kapan anak tidur, bangun, mandi, minum susu atau makan. Selanjutnya mengatur waktu anak sehingga benar-benar efektif dan efisien untuk menunjang masa pertumbuhan anak. Orang tua sadar sejak awal harus merencanakan hidup anak dengan memperhatikan hak mereka, seperti bermain, mendapat pendidikan baik, atau kesempatan bersosialisasi. Oleh karena itu, orang tua dapat menyusun kegiatan-kegiatan dalam hidup anak.

Pengembangan diri anak

Beruntung bagi orang tua yang bisa mendeteksi dini potensi buah hatinya. Ingatlah bahwa sesuai fitrahnya, manusia telah diberi potensi oleh Allah. Potensipotensi ini yang akan menjelma menjadi karakter. Potensi yang berkembang baik, bergantung pada sejauh mana orang tua bisa mendeteksi dan membuat perencanaan untuk manajemen diri anak. Pembentukan karakter harus dilakukan secara integral (menyeluruh), yang melibatkan aspek knowing (mengetahui), acting (melarih dan membiasakan diri), serta feeling (merasakan). Orang tua tidak bisa hanya melarang atau memarahi karena anak kadang tidak sepenuhnya paham dengan apa yang mereka perbuat. Biasanya dilakukan anak adalah proses meniru dari hal yang dilihat dan didengarnya.

Dari hal-hal yang telah dipaparkan sebelumnya menuntut orang tua untuk lebih intens berkomunikasi dengan anak demi terjalin hubungan yang harmonis.  (lin/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button