Membina Keluarga

More Articles...

Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini pada Anak

JUNI 2013

Semestinya orang tua selalu memperhatikan kondisi anak dan pekerjaan apa yang sesuai dengan potensinya. Orang tua perlu membiarkan anak memilih dan menggeluti pekerjaan yang cocok dengan kecenderungan dan potensinya, selagi pekerjaan tersebut diperbolehkan oleh agama. Jika orang tua membebani anaknya sesuatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan potensinya, maka dia tidak akan berhasil. Bahkan potensinyang dimiliki akan hilang begitu saja. Jika orang tua melihat anaknya memiliki pemahaman yang bagus, dan hafalan yang  baik, maka ini termasuk tanda-tanda anak siap menerima menjadi ulama, dan sebagainya. Semua ini tentu dilakukan orang tua setelah ia mengajari anak-anaknya kewajiban-kewajiban agama mereka. Yang demikian itu telah dimudahkan atas setiap orang. Dengan adanya pengajaran agama seperti itu, maka tegaklah hujjah Allah atas hamba-Nya. Karena sesungguhnya Dia mempunyai hujjah yang kuat atas hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia mempunyai kenikmata yang sempurna untuk dia berikan kepada mereka.-Ibnul Qayyim al-Jauziyyah-

Saat ini dunia wirausaha sudah tidak asing bagi seluruh lapisan masyarakat, apalagi di dunia anak-anak. Yang perlu di garis bawahi, wirausaha pada anak anak membutuhkan banyak bimbingan dan dukungan dari orang-orang dewasa, orang tua maupun guru.

Anak-anak yang sudah mengenal wirausaha sejak dini mendapatkan manfaat berlimpah untuk masa depannya kelak. Karena, pada masa ini anak-anak yang dari awal belajar menumbuhkan jiwa wirausaha, mereka akan menjadi pribadi yang kreatif.

Melatih Anak Berkepribadian Kreatif

Tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jika jiwa wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa.

Ibu Lia (32th) mengatakan bahwa seorang anak akan menjadi sesuai apa yang ia inginkan ketika kita sebagai orang tua mampu menemukan potensi anak tersebut.

“Kita sebagai orang tua bertugas membimbingnya menjadi pribadi yang kreatif, sesuai dengan potensinya. Anak yang kita paksakan potensi yang ia tak miliki, biasanya tidak akan kreatif dan cenderung menjadi anak yang suka membangkang,” ujarnya.

Anaknya, Thoriq (6th), merupakan anak yang aktif, tidak bisa diam. Dan terkadang selalu membuat sesuatu yang kadang tak terfikir oleh sang ibu. Misalnya suatu hari, tiba-tiba ia menyerahkan pesawat kertas yang ia buat sendiri, hanya dengan melihat contoh pembuatannya di buku. Dari sini ibunya tahu, bahwa anaknya berpotensi menjadi manusia yang cerdas karena mampu menangkap dengan cepat ilmu dari buku yang dilihatnya.

Menurut Kak Seto, setiap anak yang kita hargai berbagai kelebihannya, ia akan percaya diri dan bisa mengembangkan potensinya. Dari sini, anak siap menjadi seorang wirausaha dengan gagasan yang orisinal, serta mampu memecahkan masalah, dan dapat memberikan terobosan yang baru.

Anak yang sudah belajar wirausaha sejak kecil akan melatih dirinya sendiri menjadi manusia yang mandiri, dengan mengandalkan kreativitasnya. Ia pun mulai tumbuh menjadi pribadi yang kreatif.

Untuk menjadi kreatif, anak harus berada dalam kondisi aman, dengan tidak banyak memberikan kritik berlebih dari kita sebagai orang tuanya. Anak juga harus kita berikan kesempatan memberikan ide dan membuat terobosan baru.

Mengajak Anak Menjadi Produktif dan Tidak Konsumtif

Sebuah keluarga harus punya pemahaman bahwa kegiatan wirausaha merupakan syarat bagi anak mandiri ke depan. Keluarga menjadi tolok ukur bagi si anak sebagai pihak yang selalu memotivasinya melakukan hal-hal kreatif sehingga menjadi manusia produktif. Artinya, selalu bisa menghasilkan ide dan penemuan baru yang akan membawanya pada kemandirian diri

Kita sebagai orang tua juga harus menanamkan dalam diri anak agar tidak menjadi pribadi yang konsumtif. Pribadi konsumtif hanya memberikan kerugian bagi si anak tersebut ke depannya. Contohnya saja, si anak sehari menghabiskan uang sebanyak mungkin tanpa berfikir uang itu sebenarnya bisa dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat, seperti membeli peralatan melukis untuk ia menghasilkan lukisan-lukisan yang bagus. Dan hasilnya bahkan ia bisa jual ke orang lain sehingga jerih payah kreativitasnya terbayar, uangpun kembali lebih banyak.

Hal lain yang bisa dilakukan agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi produktif adalah dengan memasukkannya ke ekstrakurikuler di sekolah, sesuai dengan minat dan bakatnya. Dari sini kita nanti akan melihat betapa anak kita mulai tumbuh perlahan menjadi pribadi yang kreatif dan produktif.

Membantu dan Mengajari Anak yang Kurang Produktif

Diriwayatakan dari Abu  Sa’id al-Khudr, ia berkata:”Pada suatu ketika Nabi berjalan melewati seorang anak yang sedang menguliti kambing. Lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Minggirlah kamu! Akan aku tunjukkan kepadamu bagaimana cara menguliti kambing.’ Lalu Rasulullah SAW memasukkan tangannya di antara kulit dan daging lalu memisahkan antara daging dan kulit, hinga sampai pada ketiak kambing tersebut. Dan beliau berkata, ‘Wahai, anak. Demikianlah cara menguliti kambing, teruskanlah.’ Kemudian, beliau terus berjalan dan shalat (mengimami) para sahabat dan tanpa berwudhu (lagi).

Dari contoh di atas jelas bahwa Nabi SAW saja tidak enggan untuk berhenti dan membantu menyelesaikan pekerjaannya, kemudian mengajari sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya, kendati beliau sedang menuju masjid untuk mengimami shalat. Maka, begitu pula orang tua punya kepentingan membantu dan membimbing anaknya ketika mereka menemukan sesuatu yang sulit, dan mereka belum tahu solusinya. Hal ini dilakukan agar ke depan sang anak bisa mengatasi masalah dan menjadi pribadi  produktif dengan pemecahan masalah baru sesuai dengan tingkatan kesulitannya.

Memotivasi Anak agar Mandiri dan Melarang Bermalas malas

Dalam hal ini, orang tua bertanggung jawab pada anak untuk mengajarkan mereka bisa memotivasi diri untuk bekerja keras. Anak juga harus kita beri kesempatan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Di samping itu, peran lingkungan, semisal guru-guru juga punya pengaruh dalam pembentukan pribadi anak. Mereka semua turut berperan membuat anak agar bisa menjadi seorang entrepreneur. Guru di sini harus kreatif dalam mengajar dan membuat soal, sehingga anak diberi kesempatan berpikir banyak.

Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan.

Dalam menumbuhkan sifat wirausaha pada diri anak sendiri memerlukan latihan bertahap. Latihan ini bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Misalnya, mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Dalam mengajarkan anak mengelola uang ini, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan,namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua untuk taat aturan.

Tahap selanjutnya si anak mulai dapat diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat diajarkan jual beli. Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal usaha untuk mendapatkan sesuatu, dengan kata lain bisnis kecil kecilan.


Seperti halnya Rasulullah SAW. Beliau sangat memperhatikan pertumbuhan potensi anak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan ekonomi. Beliau membangun kepercayaan diri dan memotivasinya agar hidup mandiri. Hal itu dimaksudkan agar ia mampu berinteraksi dengan sekian macam unsur masyarakat dan juga berinteraksi dengan individu-individu dari masyarakat itu. Dengan cara seperti itu ia akan memperoleh pengalaman nyata, di samping memperkokoh kepercayaan diri di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian kehidupannya akan menjadi baik.

Diriwayatkan dari Amru bin Harits bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah SAW berjalan melewati Abdulla bin Ja’far yang ketika itu ia sedang berjualan seperti anak-ana kecil yang berjualan, lalu ia berdoa, “Ya Allah, berkahilah dia dalam jual belinya.”

Ini merupakan bukti perhatian Nabi SAW agar anak berlatih makan dari hasil keringat sendiri. Abdullah bin Ja’far adalah cucu dari paman Nabi. Sedang ayahnya adalah komandan kaum muslimin yang syahid dalam perang Mut’ah. Walau demikian, ketika Nabi SAW melihat dia berjualan kulit yang disamak, ia tidak merasa malu dan risih dari yang demikian. Padahal ia dari keturunan manusia yang terhormat, baik di sisi Allah maupun di sisi manusia. Namun demikian, beliau tidak melarang Abdullah dari jual beli itu, justru beliau mendoakan agar ia mendapat barakah dan keuntungan.

Sekarang, tinggal tugas kita sebagai orang tua membimbing anak dan mengajarinya berbagai cara untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dalam dirinya sejak dini. Sehingga suatu saat, ketika mereka siap, mereka akan menjadi bagian entrepreneur-entrepeneur muda yang tangguh dan sukses. Aamiiin ya rabb al-alamiin.  (lin/ berbagai sumber)

 

Tips Menumbuhkan Jiwa Wira Usaha dalam Diri Anak

  1. Latihlah anak memecahkan masalah secara efektif. Bisa dengan bertukar fikiran mencari kemungkinan solusi, menimbang pro kontra, dan memilih pilihan terbaik
  2. Bantu anak belajar dari egagalan. Membimbingnya untuk mencoba, jika gagal, mempelajari lagi, hingga berhasil
  3. Latihlah anak membuat keputusan agar tumbuh kepercayaan diri
  4. Menumbuhkan rasa keahlian dalam mengambil resiko. Bimbing dahulu pertamanya, lalu perlahan biarkan anak mengatasi pilihan sulita, sehingga tumbuh kemandirian dan ahli dalam setiap keputusan yang diambil
  5. Ajarkan anak untuk memberikan pendapat. Dengan catatan, pendapatnya disertai dengan alasan yang jelas.
AddThis Social Bookmark Button

Menciptakan Usaha Keluarga Sendiri

JUNI 2013

Pernahkah Anda membayangkan memiliki penghasilan tambahan yang bisa menciptakan income dalam keluarga?

Banyak permasalahan yang timbul dalam keluarga sering diakibatkan oleh faktor ekonomi. Uang seakan menghegemoni  manusia. Hal ini terkadang membuat seseorang melakukan tindakan apapun demi mendapatkan uang.

Tentu  menjadi dambaan setiap orang memiliki pemasukan  yang bisa membantu keuangan keluarga tanpa harus membebani orang lain. Namun dalam kenyataannya masih banyak pengangguran yang berkeliaran. Tak hanya itu, banyak pula ibu-ibu rumah tangga yang menggantungkan hidup hanya dengan gaji suami.

Mencari Penghasilan Tambahan

Banyak yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus menjadikan usaha yang digeluti tersebut sebagai ladang amal bagi yang berusaha. Salah satu caranya adalah dengan membuat usaha sendiri. Dengan cara inilah, bisa menjadi sumber pencarian uang tanpa harus merepotkan orang lain ataupun suami.

Hal yang menyenangkan bila bisa hidup mandiri, terutama bisa bermanfaat bagi orang banyak. Ya, dengan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, tentu bisa menjadi alternatif mendapatkan income pemasukan dalam keluarga.

Banyak yang bisa dilakukan, seperti halnya Anissah Muflihani (40) ibu dua anak ini telah lama menjadi wanita mandiri. Sebagai ibu rumah tangga, ia tak ingin hanya duduk diam dirumah hanya mengurus keluarga tanpa melakukan aktivitas yang bisa menambah pemasukan dalam keluarganya.

Memasak merupakan kegemarannya sejak kecil. Dari hobi tersebut  membuat ibu dari Putri Nabila ini belajar membuat kue. Berawal ketika ia masih mengontrak dikawasan pasar yang mayoritas banyak etnis cina yang bekerja sebagai penjual kue.  Lingkungan yang mendukung, membuat ibu Ani banyak belajar membuat kue dari teman-temannya.

“Dulu sering buat kue bareng, tapi tiap nanya tentang resep baru atau tips biar kuenya lembut, mereka sering pelit memberi tahunya. Kalau dikasih tahu pun terkadang resepnya suka salah. Nah, dari itu, saya mulai cermat mengamati bagaimana mereka membuat kue. Seringkali saya membantu mereka membuat kue. Dari situ saya belajar secara otodidak dan alhamdulillah bisa mempraktekkannya sampai sekarang,” tutur ibu Ani tersenyum sambil mengenang masa lalunya.

Kini setelah lihai dalam membuat kue, banyak orderan yang berdatangan.  Sebagai seorang ibu rumah tangga, kini kegiatannya tak hanya mengurus keluarga tapi juga sibuk mengurus kue-kuenya.  Hal lain yang bisa menjadi kebanggaan dari bu Ani, tentu tambahan pendapatan dalam keluarganya yang bisa menambah pemasukan ekonominya.

Banyaknya pesanan kue yang datang, acap kali membuat ibu Ani kerepotan jika harus mengerjakan semuanya sendiri. Oleh sebab itu, ia mulai mencari tetangga disekitar rumah untuk membantunya membuat kue. Secara tidak langsung, ia juga membantu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Membuka usaha sendiri merupakan salah satu pilihan untuk menambah pemasukan dalam keluarga. Tentunya diawali dengan kerja keras dan do’a. Tidak mudah memang mengawali karier untuk membuka usaha. Namun, bila sungguh-sungguh, maka hasilnya pun tidakj akan mengecewakan.

Menurut Ustadz H. M. Teguh S.Ag, Bekerja keras juga salah satu alternatif untuk terus mengembangkan kemampuan diri. Disinilah kita sebagai khalifah belajar untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan membuka usaha berdagang, merupakan langkah untuk mendapatkan rezeki  halal yang tentunya diberkahi Allah SAW.

“...........................Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat perintah dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka dan mereka  kekal didalamnya. (Q.S. Al-Baqarah: 275)

Ayat diatas menerangkan jika Allah telah menghalalkan jual beli. Maka, dalam mencari tambahan income yang halal, bisa membuka peluang usaha melalui perdagangan.  Setiap orang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, namun untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan usaha serta kerja keras.

Tantangan dalam meraih kesuksesan

Belajar dari pengalaman, ibu Ani tak pernah melupakan masa sulitnya ketika memulai usaha berbisnis kue.  Masa sulit saat merintis usaha menjadikannya selalu bersyukur kepada Allah, karena berkat kerja keras dan do’a, kegiatannya tersebut bisa berjalan lancar sampai sekarang.

Setiap manusia past i memiliki tantangan dalam mengembangkan kemampuan diri, terlebih untuk mendapatkan rezeki yang halal. Disinilah peran kesabaran menjadi kunci serta usaha dan do’a menjadi pengiring untung membimbing pada keberhasilan. Tak hanya itu, selalu ingat kepada Allah disaat suka maupun duka bisa menjadikan keoptimisan untuk mencapai tujuan yang hakiki.

Allah berfirman dalam Q.S. Az-Zumar [39]: 8 yang artinya:  “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali kepadanya, kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepada nya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo’a kepada Allah untuk menghilangkannya sebelum itu dan dia mengada-adakan sekutu bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalannya. Katakanlah, bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya  kamu termasuk penghuni neraka.”

Allah menjelaskan makna ayat tersebut bahwa dalam keadaan susah, manusia pasti akan ingat kembali kepada Tuhannya, namun jika mereka diberikan kenikmatan oleh Allah, maka mereka akan melupakan tuhannya. Sudah sifat manusiawi terkadang lupa akan Tuhannya.

Tak ayal, Allah menimpakan adzabnya kepada mereka yang tidak mau bersyukur. Disaaat inilah manusia mulai tersadar jika mereka hanya sebutir debu yang tak memiliki kekuatan apapun selain bergantung pada Allah. Selalu ingat, jika Allah akan bersama umatnya yang selalu ingat kepada-Nya. Selain itu Allah juga  bersama orang-orang yang sabar.

Manisnya berkah Allah

Mencari tambahan income dalam keluarga, selain harus bersabar juga harus mensyukuri tiap rezeki yang telah Allah berikan. Jika selalu bersyukur, dapat dirasakan  betapa nikmatnya barakah Allah. Namun, ketika mencari tambahan penghasilan dalam keluarga, jangan pernah lupakan tugas pokok pribadi.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat kepadamu. Tapi, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka adzab-Ku sangat berat,” (Q.S Ibrahim: 7)

Allah telah mengatakan jika Dia akan menambah nikmat  bagi orang-orang yang mau bersyukur. Betapa indahnya rezeki yang telah Allah titipkan jika kita senantiasa bersyukur. Tak lupa do’a dan etos kerja juga berpengaruh untuk menuju keberhasilan.  (Mar)

Tips memilih usaha

  1. Pilihlah usaha yang dibutuhkan oleh masyarakat, misalnya usaha kuliner ataupun sembako
  2. Selalu ramah terhadap konsumen
  3. Jujur dalam berniaga
  4. Jangan lupa menyisihkan sedikit penghasilan untuk zakat atau sedekah.
AddThis Social Bookmark Button

Memilih Mainan Anak yang Mencerdaskan dan Sesuai Syariat

MEI 2013

Apa yang akan kita katakan sebagai orang tua ketika kita tahu, Hasan bin Ali ketika masih kecil, ia mempunyai anjing kecil, Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung, dan ‘Aisyah mempunyai boneka dimana mereka bermain-main dengan apa-apa yang mereka miliki itu? Jawabannya, “Semua itu merupakan pertanda bahwa Nabi SAW memerhatikan kebutuhan anak kecil akan permainan?

Dahulu, kita tahu Nabi SAW saat menyunting ‘Aisyah, ia masih membawa permainan miliknya itu di rumah beliau. Bahkan, ia menyuruh teman-teman perempuan ‘Aisyah masuk ke rumah beliau agar mereka bermain bersama-sama ‘Aisyah. Semua itu adalah penghormatan Nabi SAW terhadap naluri anak kecil yang suka bermain. Karena bermain itu dapat menumbuhkan akalnya, memperluas pengetahuannya, dan memfungsikan panca indera dan emosinya. Bahkan, menyiapkan permainan yang bermanfaat untuk anak kecil dapat menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang. Membantu dia untuk berbakti kepada orang tua, memasukkan rasa senang ke dalam jiwanya, dan merespon kecenderungannya, sekaligus memuaskannya. Dengan demikian ia akan tumbuh menjadi anak yang sempurna.

Memilih Permainan yang Mencerdaskan

Memilih mainan anak gampang-gampang susah. Salah pilih, akibatnya bisa runyam. Bila permainan terlalu rumit anak bisa stres. Ini lambat laun akan berdampak buruk bagi perkembangan emosinya. Sebaliknya, permainan yang terlalu mudah pun tak membawa manfaat bagi mereka. Karena interestnya berkurang dan tak merasa tertantang.

Yang paling penting dalam memilih mainan untuk anak adalah yang dapat merangsang semua panca inderanya. Semakin banyak panca indera digunakan, sel-sel otak anak akan lebih banyak berkembang dari segi kualitas dan jumlahnya.

Ibu Nur (31 tahun) mempunyai seorang anak lelaki berumur tujuh tahun (Ahmad). Sejak kecil, anaknya ia kenalkan dengan mainan yang mendorong si anak untuk mengekslporasi bakat dan kemampuannya. Ia bermain lego. Awalnya susah, namun dengan tekun sang anak akhirnya bisa belajar strategi, berfikir kritis, dan kemapuan motoriknya berkembang.

Anak dalam hal ini seharusnya diberikan hak untuk bermain. BIsa dilakukan saat pulang sekolah setelah istirahat, atau saat bersantai bersama keluarga.

Imam Ghazali  dalam Kitab Ihya Ulumuddin III menasehati orang tua agar memperkenankan anak kecil bermain dengan permainan-permainan ringan setelah selesai belajar untuk menumbuhkan semangat baru, dengan catatan tidak melelahkan dirinya. Ia (Ghazali) berkata,”Seyogyanya setelah habis pulang dari sekolah, anak diizinkan bermain dengan permainan yang bagus yang dapat mengendorkan saraf-saraf yang tegang di sekolahan. Sebab, melarang anak kecil bermain dan memforsir dia untuk selalu belajar akan mematikan hatinya, melumpuhkan kecerdasannya, dan menyengsarakan hidupnya. Akibatnya, ia selalu mencari alasan atau cara melarikan diri agar bebas dari beban tersebut.

Selanjutnya, Imam Ghazali berkata, “Hendaknya anak kecil di siang hari dibiasakan berjalan, bergerak, dan berolah raga sehingga ia tidak dihinggapi penyakit malas.”

Benar. Permainan untuk anak-anak kecil seharusnya menjadi pekerjaan untuk orang-orang dewasa. Anak kecil yang badannya sehat dan normal tidak akan bisa diam barang lima menit saja. Sehingga kita melihat dia mengamati apa saja yang dilihatnya dan membolak-baliknya, serta meletakkannya di mulutnya. Bahkan, kadang-kadang ia berusaha merusak atau mengurainya untuk dicari apa yang ada di dalamnya.

Dalam ilmu jiwa ditegaskan bahwa ada hubungan yang besar antara tubuh dan akal. Sehingga apa yang berpengaruh pada tubuh, otomatis berpengaruh pada akal. Dan apa yang berpengaruh pada akal, juga berpengaruh pada tubuh. Nah, agar manusia dapat melaksanakan tugas-tugas kehidupan dengan baik, maka sebaiknya ia memiliki tubuh yang kekar dan badan yang sehat.

Memilih Permainan Yang Mendidik untuk Anak

Bermain adalah aktifitas yang paling penting dan paling utama bagi seorang anak dalam hidupnya. Melalui bermain, anak juga akan mempelajari banyak hal baru walaupun sebenarnya si anak tidak tahu bahwa mereka sebenarnya sedang belajar. Terlebih lagi, mainan yang bisa digunakan sebagai media bermain bagi sang anak adalah satu dari hal-hal pertama yang berhubungan langsung dengan sang anak. Jadi, sebagai orang tua, kita harus mengetahui hal ini dan sangat disarankan untuk mengoptimalkannya. Merupakan ide yang bagus jika kita bisa mendapatkan mainan yang tidak hanya menyenangkan bagi sang anak akan tetapi juga mendidik.

Permainan yang Mendidik Anak

Ada beberapa cara utnuk mengetahui apakah mainan itu mendidik atau tidak. Meskipun masih ada orang tua yang belum bisa membedakan mana mainan yang menyenangkan dengan mainan yang mencerdaskan. Kita sebagai orang tua bisa mengamatinya dari bagaimana mainan tersebut bisa memberikan efek pada anak kita.

Jika mainan tersebut bisa memberikan pengajaran terhadap beberapa macam skill seperti mengajak mereka untuk lebih kreatif atau berpikir lebih kritis, maka permainan tersebut bisa dianggap sebagai mainan yang mendidik. Paling tidak dengan menjadikan hal tersebut sebagai dasar, kita bisa lebih selektif  dalam memberikan mainan yang berkualitas dan mendidik untuk anak.

Lalu mendidiknya di mana?

Mainan dalam hal ini perlu dijelaskan kembali. Bukan berarti ia harus video game. Permainan seperti Lego dan sejenisnya juga termasuk dalam kategori game. Dan pada setiap permainan tersebut, pastinya ada beberapa aturan yang berlaku. Untuk memenangkan permainan, si anak harus mampu memikirkan strategi seberapapun sederhananya strategi tersebut. Di sinilah peran mendidik yang bisa diberikan oleh permainan tersebut. Secara tidak langsung, anak kita diajari untuk belajar kritis, berpikir cepat, dan juga melihat situasi yang ada.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat memberikan mainan untuk anak.

Pertama, perhatikan peraturan permainan. Satu hal yang cukup penting untuk diperhatikan sebelum mendapatkan permainan untuk anak adalah peraturan permainan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, peraturan permainan dibuat untuk membuat permainan menjadi semakin asyik dan sudah barang tentu anak akan mempelajari sesuatu dari peraturan tersebut. Paling tidak, anak akan belajar mematuhi aturan yang ada dan tidak melanggar batasan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Dengan memperhatikan hal ini, kita juga bisa menentukan apakah permainan tersebut sesuai untuk anak atau tidak. Hal ini dikarenakan ada beberapa permainan yang tampaknya cocok untuk anak-anak, namun ternyata peraturannya cukup kompleks.

Kedua, perhatikan usia yang disarankan untuk permainan tersebut. Biasanya  di bungkus atau kemasan permainan yang ingin kita dapatkan, bisa ditemukan untuk umur berapakah permainan tersebut ditujukan. Hal ini juga sangat penting untuk menghindari hal-hal yang belum sepatutnya diterima oleh anak.

Ketiga, harga permainan. Harga juga harus selalu menjadi salah satu pertimbangan dalam mendapatkan permainan bagi anak. Akan lebih baik bagi untuk mendapatkan permainan dengan harga yang lebih terjangkau sehingga kita bisa membeli beberapa permainan sekaligus ketimbang hanya mendapatkan satu permainan yang mahal saja. Dengan demikian, kita bisa memberikan beberapa alternatif permainan sekaligus bagi anak.

Keempat, perhatikan kualitasnya. Jangan lupa untuk melihat kualitas permainannya. Jika bahan yang digunakan tampaknya tidak terlalu kuat atau gampang rusak, lebih baik melupakannya. Dengan memilih permainan dengan kualitas bagus, kita tidak hanya akan menghemat uang, namun anak juga bisa mendapatkan permainan mendidik untuk jangka waktu yang lama juga. Usahakan permainan tersebut juga sangat dinamis sehingga anak tidak cepat bosan memainkannya.

Permainan Mendidik Sesuai Syariat Islam

Bagi orang tua, sangatlah penting memasukkan nilai Islam dalam setiap permainan yang dilakukan anak. Misalnya, saat akan mulai bermain, dimulai dengan membaca bismillah. Setelah selesai mengucap Alhamdulillah. Hal ini dimaskudkan untuk mengenalkan nilai-nilai Islam pada diri anak.

Ada juga beberapa mainan yang bernuansa Islam, seperti mainan ular tangga dengan gambar surat surat dalam al-Qur’an, Huruf-huruf hijaiyah yang disusun dalam sebuah puzzle unik, dan beberapa video game tentang adab dan tata cara seorang muslim melaksanakan shalat.

Hal ini sangat penting untuk anak memberikan mainan yang menyenangkan, mencerdaskan, dan bisa menambah keimanan. Jika mainannya biasa saja, setidaknya kita tanamkan bahwa mainan itu dibuat Allah dengan perantara manusia. Membuat anak jadi berfikir, betapa Maha Kuasa Allah yang ternyata ciptaan-Nya lebih indah dari siapapun yang bisa menciptakan mainan paling indah di dunia.

Jangan lupa, terapkan selalu pada anak setelah selesai bermain untuk membereskan mainannya sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan belajar mandiri membereskan semuanya. Tak lupa, memberi pujian menyenangkan kalau anak shaleh/shalihah yang disayang Allah itu selalu membereskan mainannya sebelum melakukan aktivitas lain. Insya Allah, anak akan selalu menerapkan ini dalam hidupnya. Dan secara sadar atau tidak, ia telah menanamkan nilai-nilai Islam dalam dirinya sendiri.  (lin/ berbagai sumber)

 

Tips Memilih Mainan Mencerdaskan untuk Anak

  1. Orangtua perlu tahu tahap-tahap perkembangan anak, baik usia, emosi dan fisiknya.
  2. Peduli terhadap mainan yang digunakan. Jangan asal beli yang mahal, sesuaikan dengan kemampuan anak.
  3. Keamanan alat bermain perlu diperhatikan, baik dari bahan (materil dan catnya) dan kinerja alat tersebut (yang menghindari cedera ketika digunakan).
  4. Pilih mainan yang berwarna kontras dan cerah, untuk merangsang indera penglihatan anak.
  5. Pastikan semua mainan dalam jangkauan anak, agar terhindar dari cedera ketika anak berusaha mencapainya.
  6. Anak di usia enam bulan keatas suka mainan yang mengeluarkan bunyi dan benda berwarna seperti genta, bel, lonceng mini, gambar penuh warna maupun benda berteksturlembut.
  7. Beri mainan seperti lego dan sejenisnya yang mempunyai variasi bentuk pada anak usia 9 bulan keatas, atau mainan serupa yang dapat dimainkan sewaktu mandi.
  8. Tak perlu mainan mahal untuk anak Anda. Si kecil butuh stimulus untuk merangsang kreatifitasnya, dan ini bisa anda lakukan dengan membuatnya sendiri. Tentu, kreatifitas Anda yang diperlukan.
AddThis Social Bookmark Button

Menyikapi Mitos dalam Keluarga

MEI 2013

“Anak perempuan kalau makan jangan pernah disisakan. Kalau banyak menyisakan makanan dipiring, nanti kamu punya adik ipar banyak. Kalau ga mau punya adik ipar banyak, makannya harus bersih dong,” ucap seorang ibu pada anak perempuannya.

Kata-kata tersebut sudah tidak asing lagi terdengar oleh telinga yang terlontar dari mulut seorang ibu ketika melihat anak perempuannya menyisakan makanan dipiring. Ucapan yang mengandung makna tersendiri, seperti sudah menjadi tradisi tentang mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat.

Mitos sendiri merupakan kepercayaan masyarakat yang sudah lama ada dan masih tetap menjadi tradisi secara turun menurun. Bahkan mitos sering kali dikait-kaitkan dengan sesuatu yang mistis, bahkan banyak yang mempercayai jika mitos itu nantinya akan menjadi kenyataan.

Percaya kepada hal-hal yang terkadang tidak sesuai rasional memang sulit untuk dihindarkan. Terlebih jika dalam suatu keluarga yang sudah terlanjur meyakini dan memiliki rasa kepercayaan yang cukup tinggi terhadap mitos-mitos tersebut.

Salah satu contoh yang terjadi, khususnya sering dilakukan oleh masyarakat pedesaan adalah dengan menempelkan daun sirih di kedua alis serta mulut si bayi. Jika ditanya alasannya, mereka mengatakan dengan ditempelnya daun sirih pada wajah si bayi, maka setiap orang akan senang melihatnya dan senyumannya akan menarik perhatian banyak orang kelak jika ia sudah besar. Jika dikaitkan dengan rasional, sungguh tidak masuk akal. Namun inilah kenyataannya, seringkali mitos-mitos tersebut menjadi acuan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Mempercayai Mitos, Bolehkah?

Mitos sendiri merupakan hasil pengembangan ide-ide yang ada dalam masyarakat, sebuah gagasan yang muncul dari fikiran tiap-tiap individu yang  diinterpretasikan melalui ucapan yang menjorok ke takhayul. Sekalipun mitos yang dikatakan benar-benar terjadi, itu hanya merupakan kebetulan semata.

Dalam menjalankan hidup, hendaknya menggantungkan semuanya hanya kepada sang pencipta.  Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihan akal fikiran.  Jangan melakukan hal-hal yang membuat kita seolah-olah larung dalam hegemoni mitos.

Hal serupa dituturkan oleh Nurhasraniah, ibu dari dua orang anak ini mengatakan jika mitos atau takhayul hanyalah sebuah ilusi semata dari kepercayaan seseorang terhadap adanya kekuatan gaib. Misalnya, kalau dulu ada ibu-ibu hamil, maka di samping tempat tidurnya harus diletakkan sapu lidi terbalik, dengan maksud agar ibu hamil tersebut tidak diganggu roh-roh jahat atau kuntilanak.

Padahal kalau difikirkan secara rasional, hal itu sungguh tidak masuk akal, meletakkan sapu lidi secara terbalik agar tidak diganggu kuntilanak. Seharusnya, sebagai umat muslim, kita hanya menggantungkan semua hanya kepada Allah, Tuhan yang menguasai seluruh alam. Banyak cara yang dilakukan agar terhindar dari gangguan jin dan sebangsanya, dengan mendekatkan diri kepada Allah, membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, berdzikir dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menghindarkan diri dari gangguan mahluk-mahluk halus.

Menyikapi Mitos

Ustadz Syafriansyah mengatakan jika mempercayai mitos merupakan sesuatu yang tidak baik, jangan terlalu mempercayai hal-hal yang bisa menjurus kepada kemusrikan. Sebagai seorang muslim, memang ada anjuran terhadap kita untuk mempercayai hal-hal gaib. Akan tetapi, hal-hal yang ghaib itu hanya patut kita tahu, bukan untuk kita yakini.

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah 2-3 yang artinya, “Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan kepadanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka.”

Firman Allah menjelaskan jika Al-Qur’an merupakan petunjuk yang sebenar-benarnya bagi manusia yang bertakwa. Sebagai seorang muslim, kita juga harus mempercayai akan adanya hal-hal gaib, namun mempercayai dalam hal-hal baik, yaitu percaya terhadap makhluk-makhluk yang Allah ciptakan selain manusia, seperti adanya malaikat, jin dan setan. Dalam mempercayai jangan menjadikannya sebagai acuan hidup  yang membuat kita terhegemoni dan menggantungkan peruntungan terhadap mitos tersebut.

Selalu mendekatkan diri kepada Allah dan menumpukan segala sesuatu kepada Allah merupakan langkah yang dilakukan oleh bu Nurhasraniah terhadap keluarganya.

“Percaya sih jangan terlalu, kita hanya mengambil nilai positifnya saja, misalnya seorang anak gadis yang makannya berserakan atau masih menyisakan makanan dipiring, jangan dikatakan nantinya akan memiliki adik ipar banyak. Mungkin maksudnya agar si anak menghabiskan makanannya dipiring tanpa meniggalkan sebutir nasi pun.  Karena membuang-buang makanan itu tidak baik dan harus disyukuri. Ya, mensyukurinya dengan cara menghabiskan makanan yang ada dipiring tersebut,”  tutur wanita berkerudung itu.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan terkait dengan mitos ini. Pertama, jadikan mitos hanya sebagai pengetahuan, bukan pendidikan wajib yang harus diketahui keluarga kita secara menyeluruh dan mendetail, karena itu akan mengakibatkan datangnya keraguan atas keyakinan kita pada ajaran Allah, yaitu Islam.

Kedua, mitos biasanya berupa cerita-cerita leluhur yang turun temurun. Terkadang ada yang ditambah, ada yang dikurangi ceritanya. Dengan demikian kita tidak perlu terlalu mempercayainya seratus persen. Mungkin saja, ceritanya setelah keturunan sekian berubah, atau justru melenceng dari cerita awalnya.

Ketiga, tanamkan pendidikan agama secara kontinyu dan terus menerus pada keluarga, sehingga mereka tidak terlalu mempercayai segala sesuatu yang tidak berasal dari syariat Allah.

Keempat, jadikan Allah sebagai sandaran dan tempat berharap segala sesuatu atas setiap peristiwa dan kejadian yang kita alami. Bukannya pada sesuatu atau mitos yang belum tentu terbukti kebenarannya.

Pada intinya segala sesuatu harus disandarkan kepada Allah, karena Allah tempat kita meminta dan tiada sesuatu yang bisa menandingi kekuatan-Nya.

Mengembalikan Segala Sesuatu Hanya pada Allah

Seperti yang telah Allah firmankan dalam surat al-Ikhlash ayat 1-4:

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

Dengan demikian jelaslah sudah, mitos hanya kepercayaan berdasar sesuatu yang tidak berasal dari Allah. Sesuatu yang harusnya tidak kita yakini secara pasti. Bahkan dalam keluarga, hal ini tidak bisa diterapkan kepada semua anggotanya. Akan lebih baik ketika dalam sebuah keluarga kita tanamkan nilai-nilai Islam dan perilaku yang disukai Allah. Perilaku yang berdasarkan keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya. Sehingga sebuah keluarga akan mempunyai pondasi yang kokoh setelah menerapkan ajaran Islam dalam kehidupannya secara menyeluruh.

Semoga setelah kita menanamkan ajaran-ajaran Islam dalam keluarga, Allah memberkahi keluarga kita kini, esok, dan nanti. Allahumma aamiiin. (Mar)

 

Tips  Menghindari Mitos dalam Keluarga

  1. Jangan terlalu percaya terhadap hal-hal gaib yang dapat menyesatkan kita pada kemusrikan
  2. Berfikir positif dalam melakukan sesuatu
  3. Perbanyak membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya
  4. Selalu mendekatkan diri kepada Allah, karena Dia-lah tempat bertumpunya semua mahluk.   (Mar)
AddThis Social Bookmark Button

Mendidik Anak Sesuai Bakatnya

APRIL 2013

Ketika seorang anak telah lahir, mulai saat itulah pendidikan pada anak diberikan secara lebih intensif. Sebab, pendidikan yang kurang dari kedua orang tuanya dapat membuat anak terpengaruh dengan lingkungannya.

Kehidupan telah mengajarkan banyak hal kepada setiap orang tua untuk menjadikan anaknya generasi penerus keturunan dari orang tuanya. Menjadikannya berakhlak baik, berilmu, dan beragama dengan baik. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah mendidik anak sesuai bakatnya.

Dengan mendidik anak sesuai bakatnya, ia akan menjalani proses pengajaran itu dengan perasaan nyaman, senang, dan gembira. Ia akan merasa apa yang dilakukannya tidak akan sia-sia. Tentu saja hal ini harus mendapat dukungan penuh dari orang tua.

Orang tua yang bijak dituntut agar pintar menyalurkan bakat anak. Dengan begitu, bakat yang dimiliki anak  bisa berkembang dan bermanfaat dalam menentukan arah masa depannya.

Bakat atau keterampilan adalah kelebihan andak dalam bidang motorik, dimana anak bisa menguasai suatu bidang keilmuan atau pekerjaan lebih cepat dari anak lain. Temukan bakatnya sejak dini agar kita sebagai orang tua pintar menyalurkan bakat anak sesuai dengan bakat dan keterampilan yang dimilikinya.

Mengenali Bakat Anak

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat pernah berkata, ''Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci (fithrah, Islam). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.''

Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan itu laksana sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanya, karakter anak bisa berwarni-warni: berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah.

Lalu, bagaimana cara kita sebagai orang tua bisa mendidik anak dengan terlebih dahulu mengenali bakatnya di bidang apa?

Anak berbakat sangat mudah dikenali, bakat yang dimilikinya pun bisa dilihat dengan memperhatikan apa yang dilakukannya. Misalkan jika anak kita adalah anak yang berbakat melukis, maka anak kita  akan mengetahui garis dan komposisi warna yang bagus pada gambarnya. Jika anak kita anak yang berbakat dalam bidang menyanyi, maka dia akan bisa mengetahui nada dan not dengan baik dan bisa mengikutinya sehingga tercipta nada yang indah.

Apapun bakat anak kita, temukan sejak dini. Langkah selanjutnya adalah kita harus pintar menyalurkan bakat anak sesuai dengan bakat atau keterampilan yang dimilikinya.

Mengikut sertakan dalam Kursus atau Les Sesuai Bakat Anak

Bakat adalah sebuah anugerah, namun jika bakat dan keterampilan tidak diasah dan dikembangkan, maka itu tidak akan menjadi manfaat dan berkah bagi pemiliknya. Tetapi jika dikembangkan, maka bakat tersebut bisa menjadi bekal kehidupannya di masa depan.

Saat ini banyak sekali lembaga kursus atau les dengan bidang tertentu, mulai dari kursus matematika, bahasa inggris, les piano, les balet, les gitar dan les lainya.

Jika  kita sudah menemukan bakat anak, maka masukkanlah dia dan ikut sertakan dalam kegiatan kursus atau les yang bisa mengembangkan bakat atau keterampilannya. Lewat kegiatan ini, maka bakat anak-anak akan semakin terasa kemampuanya.

Hal penting yang harus diingat setiap orang tua. Jangan pernah memaksakan anak mengikuti les atau kursus yang tidak disukainya. Karena, dengan tindakan seperti itu justru akan membuat anak menjadi pemberontak atau marah dengan keputusan kita. Anak akan tertekan dan merasa orang tuanya mengintimidasinya melakukan tindakan yang tidak disukainya.

Jika anak sudah menemukan bakat, dan kemudian mengikuti kegiatan kursus sesuai bakatnya, hal lain yang harus diperhatikan adalah ketelatenan. Ya. Ketelatenan kita sebagai orang tua untuk selalu membimbing dan mengarahkan anak menuju bakatnya dengan baik dan benar. Mengingatkannya untuk mengikuti kursus secara rutin, dan selalu melatih kemampuan bakatnya secara konsisten.

Uji Bakat Anak dengan Mengikutkannya Lomba

Setelah anak kita terasah dan semakin terampil mempergunakannya, maka segera sediakan media untuk menguji bakat anak dan menjadikannya lebih berkembang. Misalnya dengan mengikutkan anak dalam berbagai lomba dari bakat atau keterampilan tertentu.

Misalnya, anak kita berbakat dalam melukis, maka banyak lomba lukis yang bisa diikuti. Sediakan segala keperluan lombanya agar anak lebih semangat dan berusaha lebih keras.

Denga mengikutsertakannya dalam lomba, ada banyak hal yang bisa dicapai, antara lain jiwa berkompetisi dan keinginan untuk menjadi yang terbaik, menjadi wadah atau sarana untuk menyalurkan bakat dan keterampilan yang dimiliki, serta melatih kepercayaan diri .

Untuk masalah hadiah, itu hanyalah sebuah hal yang menjadi hasil penghargaan dari usaha keras yang dilakukannya.

Tetap Terapkan Iman dalam Bakatnnya

Mendidik sesuai bakat memang penting. Tapi jangan lupakan bahwa anak juga harus mendapat arahan yang baik dan benar dari bakatnya itu. Sebagai orang tua, terapkan selalu agar bakat anak tidak bertentangan dengan ajaran agama. Atau mungkin, justru bisa dikembangkan bakat tersebut untuk kebaikan agama dan kehidupannya di masa datang.

Contohnya ajang kompetisi pildacil di sebuah stasiun TV nasional. Ajang ini selain mengembangkan bakat anak, juga bisa menuntunnya untuk memberikan kebaikan bagi dirinya, orang lain, keluarga, dan umat manusia.

Semoga setiap apa yang kita usahakan untuk anak kita bisa memberikan kebaikan, amalan, dan ilmu yang bermanfaat untuk mereka. Tidak hanya bermanfaat untuk saat ini, tapi juga untuk esok, dan masa yang akan datang. Allahumma aamiiin. (lin/ berbagai sumber)

Tips Mengembangkan Bakat Anak

  1. Tanyakan langsung pada anak apa kegiatan yang disukainya
  2. Arahkan bakat anak secara teratur dan konsisten
  3. Terapkan sistem pujian setiap ia berhasil melalui satu fase latihan dalam pengembangan bakatnya
  4. Ajarkan selalu mengucap doa sebelum dan sesudah latihan agar bakatnya terasah dengan baik
  5. Selalu memberi motivasi lahir dan batin dengan cara yang baik
AddThis Social Bookmark Button