Membina Keluarga

More Articles...

Agar Si Kecil Selalu Berbuat Baik

AGUSTUS 2013

Bagi semua orang tua, anak menjadi harta yang paling berharga di dunia ini. Sebagai titipan Allah SWT, masa depan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Tidak hanya sebuah masa depan yang sukses yang diharapkan orang tua, melainkan akhlak yang baik dan keholehan juga menjadi harapan orang tua terhadap anak.

Di masa globalisasi saat ini keharusan orang tua untuk menanamkan akhlak yang baik kepada anak menjadi semakin tinggi. Hal ini dilakukan mengingat semakin banyaknya pengaruh dari luar yang dapat membentuk karakter anak. Ketika pengaruh yang datang negatif, maka kemungkinan anak kita bisa tumbuh menjadi anak dengan perilaku yang kurang baik.

Hal ini juga terjadi pada Ibu Sri (32 th). Ia selalu mencoba untuk terus menumbuhkan akhlak yang baik kepada anak-anaknya lewat berbagai contoh yang ia berikan.

“Saat ke pasar, kita memberikan sedekah kepada seorang kakek pengemis. Hal itu secara langsung memberikan teladan kepada anak agar ia mampu untuk berbagi. Karena sesedikit apapun yang kita beri, pastinya akan sangat bermanfaat untukny,” ujar Ibu Sri.

Atau suatu saat orang di sekitar kita melakukan pekerjaan dengan baik, diskusikan bersama si kecil. Ketika kita sedang berbelanja di supermarket, ucapkan terima kasih kepada kasir karena telah memasukkan barang belanjaan ke dalam kantong dan katakan, “Si Mbak sangat hati-hati memasukkan semua barang sehingga telur yang kita beli tidak pecah.”

Ia juga menghimbau kepada semua orang tua yang mempunyai anak yang masih kecil, agar senantiasa menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik dalam diri anak tersebut. Sehingga nantinya, anak kita akan menjadi anak yang berpeilaku baik dan berakhlak baik.

Berakhlak Baik Sesuai Qur’an dan Hadits

Bagaimana caranya agar anak kita tetap berada dalam koridor akhlak yang sesuai al-Qur’an dan hadits serta selalu beruat baik? Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua agar si buah hati selalu berbuat baik.

Like a Father Like a Son

Banyak yang berkata bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan bahwa sedikit banyak anak adalah cerminan dari kedua orang tuanya. Dengan demikian dapat diartikan bila orang tua baik, maka insya Allah anaknya akan baik. Sebaliknya, bila orang tua tidak baik, maka kemungkinan anak akan juga tidak baik.

Mengingat hal di atas, maka sebelum bercita-cita memiliki anak sholeh atau yang selalu berbuat baik, orang tua haruslah terlebih dahulu memperbaiki diri atau mensholehkan diri sendiri. Orang tua juga hendaknya melengkapi diri dengan berbagai ilmu pengasuhan anak, agar selama mengasuh dan mendidik anak tetap sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan hadits.

Perlunya memperbaiki diri sendiri sebelum mendidik anak, karena pada dasarnya anak belajar dengan cara meniru perilaku orang tuanya. Oleh karena itu, apabila orang tua senantiasa memperbaiki diri, bersikap baik di depan anak, maka niscaya anak akan mengikuti jejak kebaikan orang tua. Jadi, sekadar memerhatikan anak untuk berbuat baik saja tidaklah cukup, karena orang tua harus sanggup memberikan tauladan yang baik dalam segala hal.

Misalnya, seorang anak yang melihat ayahnya selalu berdzikir dan bertahlil, bertahmid, dan bertasbih, maka dia pun akan mengikutinya.

Sungguh indah andaikata kita adalah pribadi yang selalu berbuat baik kepada orang tua kita dengan berdoa untuk mereka dan memohon ampunan kepada Allah bagi keduanya, selalu menanyakan keadaannya, dan tenang berada bersama keduanya.

Menganjurkan Anak Berteman dengan Para Ulama

Dari Abu Umamah ia berkata, “Rasulullah bersabda, “ Sesungguhnya Luqman berpesan kepada puteranya,’Wahai anakku, hendaklah kalian berteman dengan para ulama, dengarkan perkataan orang-orang yang bijak, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah seperti halnya Dia menghidupkan tanah yang mati dengan hujan yang lebat,” –H.R. Thabrani-

Nabi SAW juga menganjurkan agar menghormati dan memuliakan para ulama serta mengetahui hak dan kedudukan mereka. Sabdanya dalam hadits riwayat Ahmad, “Bukan termasuk ummatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kita dan menyayangi orang yang lebih kecil di antara kita serta mengetahui hak orang alim di antara kita.”

Sedangkan dari al-Ghazali berkata, “seyogyanya anak diajari taat kepada orang tuanya, gurunya, dan pendidiknya. Juga diajari taat dan patuh kepada setiap orang yang lebih tua, baik yang masih ada hubungan kerabat maupun orang lain. Dan seyogyanya pula ia menghormati dan memuliakan mereka, serta tidak main-main di hadapan mereka. Sudah barang tentu ketaatan anak kepada mereka adalah dalam hal kebaikan. Ia tidak hanya dianjurkan berteman dengan orang-orang alim saja, tetapi ia juga dianjurkan berkawan dengan para mujahid di medan laga.”

Begitulah, betapa Islam mengajarkan kepada kita sebagai orang tua agar anak bisa berteman dengan orang-orang alim dan ulama. Hal ini agar mereka bisa menyerap ilmu yang ada dalam diri para ulama itu, serta meneladani kepribadian mereka yang shaleh.

Memuji Anak Secara Tepat

Ibu Sri memiliki anak berumur tujuh tahun, Ia berhasil menjadi juara kedua lomba pidato tingkat nasional, dan berkata, “Ibu, lihat! Aku pintar sekali.

Pujian di sini memang benar, namun alangkah baiknya ketika kita sebagai orang tua memberikan pujian secara tepat? Ya, bisa saja. Anak sepertinya masih ingin terus mengembangkan diri. Dan kita harus memberinya semangat dan dorongan agar ia terus bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Hal ini bisa menekan sifat arogan di masa mendatang.

Kemudian, cara memujinya yang benar adalah dengan memfokuskan kepada usaha, bukan hasil. Lalu hindari pujian umum (seperti “Anak pintar!”). Lontarkan pujian yang spesifik, seperti, “Kamu pantang menyerah meskipun baru mencapai juara dua,” sehingga anak paham betul hal yang bisa ia kerjakan dengan baik.

Menyiapkan Masa Depan Anak dengan Ilmu

Mengajarkan ilmu kepada anak bagaikan mengukir di atas batu, apapun ilmu itu insya Allah akan mudah diserap oleh anak. Mengajarkan kebaikan kepada tidak harus menunggu anak remaja apalagi dewasa. Kebaikan dan akhlakul karimah hendaknya ditanamkan sedari dini kepada anak.

Akhlak yang baik bisa dimulai, bahkan dari anak masih dalam kandungan. Hal ini terbukti ketika ada seorang ibu saat hamil sering memperdengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an. Setelah lahir, anak tersebut mempunyai kecintaan luar biasa terhadap al-Qur’an.

Lalu? Kita hanya tinggal membimbingnya dan mengarahkannya agar mendapat ilmu yang ia pilih. Membebaskan anak untuk memilih pendidikan seperti apa yang diinginkan, serta meminta anak untuk selalu bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah ia buat.

Memberikan ilmu sebanyak-banyaknya kepada anak adalah kewajiban bagi kita sebagai orang tua. Karena dengan ilmu, maka seseorang akan menjadi pribadi yang berbeda, berkepribadian, dan berkarakter kuat.

Ikut Memerhatikan Lingkungan Anak

"Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap." (HR. Bukhari Muslim).

Begitulah Rasulullah SAW berpesan agar kita berhati berhati-hati memilih berhati- hati dalam memilih teman, serta peka terhadap pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitar kita. Hal ini juga diberlakukan kepada anak-anak kita. Kebanyakan anak-anak belum memahami bagaimana memilih teman dalam bergaul dan belum bisa membedakan baik dan buruk. Maka, di sinilah orang tua ditantang untuk menjaga anak dari pengaruh buruk yang akan membentuk kepribadian anak di masa depan.

Berikhtiar dan Doa

Sebagaimana menjalankan segala bentuk usaha, untuk mendidikan anak agar menjadi anak yang baik juga memerlukan ikhtiar. Ikhtiar ini bisa diaplikasikan dengan cara menasihati anak dengan lemah lembut jika anak melakukan kesalahan. Selain itu juga menghindari berkata kasar saat menasihati anak. Yang terpenting adalah tetap memberikan contoh yang baik di depan anak, baik dari sikap, perkataan, dan perbuatan.

Dalam hal berdoa, tentu setiap orang tua ingin anaknya menjadi anak yang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Maka, teruslah berdoa untuk kebaikan anak. Berdoa agar anak kita menjadi anak shaleh dan shalehah. Menjadi kebanggan keluarga, dan mampu untuk terus berjalan di jalan Allah. Aamiiin. (nir)

Mendidik Anak Berakhlak Mulia Sejak Dini

  1. Kenalkan sejak dini betapa indahnya Islam lewat cerita atau lantunan ayat suci al-Qur’an
  2. Bersikap sopan dan santun kepada orang yang lebih tua
  3. Menyayangi teman seperti menyayangi diri sendiri
  4. Selalu mendoakan orang tua
  5. Tidak berbohong dan berkata kasar
  6. Mengajarkan adab-adab islami dalam kehidupan anak
AddThis Social Bookmark Button

Keutamaan Maaf dalam Keluarga

AGUSTUS 2013

Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah akan mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang-Q.S. An-Nur:22-

Setiap keluarga pasti mengingkan suasana dalam keluarga harmonis dan bahagia. Hal itu harus diawali dengan sikap untuk saling memaafkan satu sama lain dalam sebuah ikatan rumah tangga.

Seperti yang dikatakan Ibu Atik (31), “Dalam keluarga setiap masalah selalu ada. Salah faham begitu juga. Tetapi, kembali kepada masing masing pasangan dalam menyikapinya. Harus ada salah satu fihak yang mengalah. Bukan berarti karena kalah, lebih pada memahamkan secara halus dan tanpa emosi,” sahutnya.

Ketika ia dan suami ada masalah, ia selalu berusaha membicarakannya dalam suasana santai. Hal ini bisa mengakibatkan solusi yang tepat dengan pemikiran yang rileks.

“Karena sejatinya setiap masalah itu pasti ada solusinya, tinggal kita mau atau tidak melakukannya,” imbuhnya.

Mulianya Memaafkan

Memaafkan adalah perbuatan mulia. Apalagi, ketika maaf itu terucap dalam sebuah ikatan keluarga. Hubungan yang renggang jadi dekat. Komunikasi menjadi lancar. Dan akhirnya, sebuah keharmonisan akan tercipta selanjutnya.

Sebuah keluarga semestinya selalu menerapkan sikap saling memaafkan. Dalam hadits riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dijelaskan bahwa Nabi SAW bersabda, bahwa barang siapa menahan kemarahan, padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah kelak memanggilnya di hadapan para makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.

Dalam sebuah keluarga, hendaknya semua mengetahui bahwa dengan memberi maaf, ia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT, dan semua orang akan menghormatinya. Serata orang yang menjelekkannya akan datang kepadanya untuk meminta maaf. Hal tersebut sebagaimana forman Allah dalam surat Fushshilat ayat 34, “Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia, akan menjadi seperti teman setia.”

Dari hadits riwayat Muslim juga dikatakan,Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta; tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sifat memberi maaf, kecuali kemuliaan; dan tidaklah seorang hamba merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah meninggikan derajatnya.”

Memberi maaf juga merupakan kemuliaan jiwa seseorang. Karena seseorang yang dermawan dalam memberikan maaf adalah seorang hamba yang jiwanya mulia, semangatnya tinggi, dan memiliki sifat sabar yang besar.

Menumbuhkan Sifat Pemaaf

Allah mendidik kepada rasul-Nya akhlak yang agung. Allah berfirman kepada Rasul-Nya yang berarti, “Jadilah engkau seorang yang pemaaf, dan perintahkanlah orang-orang untuk mengerjakan yang ma’ruf (baik), serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.S. al-A’raf: 199). Allah juga berfirman yang artinya, “Maka barangsiapa memberi maaf dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tangguhan) Allah.” (Q.S. asy-Syura: 40)

Memaafkan awalnya memang berat. Setelah hati kita tersakiti oleh perkataan atau perbuatan orang lain, kemudian kita diminta untuk memaafkan, tentu kita sulit melupakan perbuatannya dan sulit memaafkannya. Bukan hal mudah, tetapi yakinlah, kita bisa melakukannya.

Dari Abu Hurarirah ra, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah memaafkannya, apakah ia berada di pihak yang benar ataukah yang salah, apabila tidak memaafkan, niscaya tidak akan mendatangi telagaku di akhirat.: (H.R. al-Hakim). Nabi juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak mau memberi ampun kepada orang, maka ia tidak akan diberi ampun.” (H.R. Ahmad dari Jabir ibn Abdullah ra).

Mulai dari awal, mulailah berprasangka baik dengan berfikir, bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia dan disenangi Allah. Kemudian berusahalah untuk bersikap yang tidak menyakiti orang lain seperti, berkata baik, sopan, dan tidak menyanggah ucapan anggota keluarga lain yang lebih tua, dan sebagainya.

Menumbuhkan sikap maaf ini juga bisa dengan cara selalu berprasangka baik. Misalnya berprasangka baik bahwa orang yang menyakiti ingin menasihati kita, bahwa ia menyayangi kita, hanya caranya saja yang salah.

Dan paling penting, ketika kita melakukan kesalahan, segeralah meminta maaf. Atau, memberi maaf sebelum orang yang menyakiti kita datang dan meminta maaf kepada kita. Insya Allah, dengan itu kita berproses menjadi seseorang yang pemaaf.

Pentingnya Komunikasi Antar Anggota Keluarga

Tidak akan terjalin sebuah ikatan rumah tangga ketika masing-masing tidak pernah bertegur sapa, atau saling menasihati dalam kebaikan. Itulah pendapat ibu Atik menyikapi betapa pentingnya sebuah komunikasi dalam keluarga. Bahkan, bisa jadi lamanya seorang anggota keluarga memaafkan anggota keluarga yang lain karena kurangnya komunikasi.

Di sinilah peran seorang suami atau kepala keluarga untuk memberikan solusi terbaik. Bentuk komunikasi antar pihak yang bermusuhan bisa dilakukan dengan ngobrol santai saat liburan akhir pekan, atau saat acara kumpul keluarga.

Komunikasi dua arah harus dibangun secara baik dan konsisten oleh masing-masing anggota keluarga. Hal ini untuk mencegah terjadinya perpecahan dalam sebuah ikatan rumah tangga. Karena sebuah rumah tangga takkan pernah utuh tanpa terbangunnya komunikasi yang baik.

Memaafkan Menambah Pundi Kebaikan

Dalam sebuah kehidupan, perbuatan memaafkan bisa menambah pundi kebaikan. Menambah poin seseorang tidka hanya di mata Allah, tapi juga di mata manusia lain, terutama di mata anggota keluarga yang lainnya.

Dengan saling memaafkan pula, seseorang akan merasa bahwa ia merasa dihargai, dan diakui keberadaannya dalam keluarga tersebut.

Ada beberapa momen indah untuk keluarga bisa saling memaafkan. Di antaranya menjelang puasa Ramadhan. Biasanya momen ini digunakan sebaik-baiknya oleh setiap orang, tua-muda, kecil-dewasa untuk saling memaafkan. Berharap agar puasanya mendapat berkah dan tidak ada beban karena sudah meminta atau memberi maaf.

Kesempatan lain bisa saat lebaran tiba. Ini biasanya dilakukan saat semua kelaurga besar berkumpul, jadi tidak terlalu sulit untuk langsung meminta maaf kepada yang bersangkutan tanpa harus mengirimkan pesan melalui SMS atau telepon karena tidak sempat bertemu.

Momen lain juga bisa saat sakit. Misalnya seorang anak sudah lama sakit dan tidak sembuh, lalu ia merasa pernah melakukan kesalahan pada ibunya. Kemudian ia meminta maaf kepada sang ibu, dan memohon agar didoakan cepat sembuh. Dan sebagainya. Meski seharusnya, memaafkan sendiri tidak membutuhkan waktu yang khusus. Ketika kita sudah tahu harus memberi maaf atau meminta maaf, maka segerakanlah.

Memaafkan Jembatan Menuju Tuhan

Tidak berlebihan saat kita mengatakan bahwa ketika kita berhasil memaafkan, maka itu adalah jembatan kita menuju Tuhan. Menuju tangga kebaikan sebagai makhluk-Nya agar bisa menjadi pribadi yang baik dan tidak menyakiti orang lain baik dengan lisan atau perbuatan kita.

Dengan memaafkan, sebuah keluarga akan lebih dekat. Rasa kekeluargaannya pun semakin terasa kental. Tidak ada waktu selain saling memberi dan menerima. Menasihati saat ada yang berbuat salah, atau bersedia ditegur ketika kita sendiri yang melakukan salah.

Dengan begitu, insya Allah, keluarga kita menuju keluarga yang indah. Keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dalam ridho-Nya. Menjadi sebuah keluarga yang utuh dan tidak terpecah dalam perbedaan pendapat maupun permusuhan karena hal-hal yang seharusnya bisa diatasi secara bersama.

Semoga keluarga kita adalah satu dari banyak keluarga yang diberkahi-Nya. Satu dari sekian yang selalu dilindungi-Nya dari segala yang berbau perpecahan dan permusuhan. Serta menjadi keluarga yang senantiasa memegang teguh ajaran-Nya dalam sendi-sendi kehidupan, baik dalam berhubungan dengan Allah, hubungan dengan manusia, dan hubungan dengan lingkungan kita.

Semoga pula, keluarga kita terhindar dari fitnah karena tidak adanya ‘maaf’ dari pihak tertentu yang memusuhi kita, baik secara lahir maupun batin. Aamiiin. (lin)

Tips Menjaga Sifat Pemaaf dalam Keluarga

  1. Selalu bermuhasabah diri baik sendiri, maupun bersama-sama dalam keluarga
  2. Saling menegur dan menasehati antar anggota keluarga
  3. Tidak pernah merasa paling benar dalam hal apapun
  4. Selalu bersabar dan menyelesaikan masalah dengan tenang, tanpa emosi
  5. Selalu berdoa untuk kebaikan keluarga, dunia dan akhirat
AddThis Social Bookmark Button

Mendidik Anak Agar Menjalankan Puasa dengan Menyenangkan

JULI 2013

Tanpa terasa bulan suci Ramadhan hampir tiba, bulan penuh rahmat dan berkat buat semua manusia. Bagi umat islam yang telah dewasa tentu sudah tahu apa tujuan, makna, dan faedah puasa, lalu bagaimana dengan anak-anak yang baru belajar puasa? Apa yang harus dilakukan agar anak merasa senang menjalankan puasa Ramadhan?

Bagi anak yang baru belajar puasa, orang tua kerap harus berusaha untuk memahami karakter anak yang terkadang banyak maunya. Apalagi di saat ada godaan-godaan dari teman-temannya yang tidak puasa. Lantas bagaimana orang tua harus bersikap?

Perkenalkanlah, Apa Itu Puasa Ramadhan?

Puasa di bulan Ramadahan hukumnya wajib bagi orang Islam yang sudah baliq. Tidaklah mudah menjalankan puasa untuk pertama kali, apalagi untuk anak-anak. Untuk itu ada baiknya jika kita dapat mengajarkan puasa pada anak sejak dini, orang tua harus memperkenalkan ibadah puasa pada anak yang sudah cukup mampu untuk melaksanakan ibadah wajib ini.

Para sahabat muslimah di jaman Rasulullah SAW juga telah mengenalkan puasa kepada anak-anak. Mereka merancang kreativitas bagi putra-putrinya, khusus untuk menggembirakan hati mereka agar melupakan waktu yang terasa berjalan lambat selama berpuasa. Seperti tampak dalam sebuah kisah, ketika Rasulullah SAW mengutus seseorang pada hari Asyura ke perkampungan orang-orang Anshar dan bersabda, “Siapa yang pagi ini shaum hendaklah ia shaum dan menyempurnakan puasanya. Maka kami pun menyempurnakan puasa hari itu dan kami mengajak anak-anak kami shaum. Mereka kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari benang sutra. Jika mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu sampai datang waktu berbuka.”  (HR Bukhari-Muslim).

Untuk mengajarkan anak berpuasa, coba jelaskan tentang makna ramadhan. Gunakanlah bahasa anak dan dengan menyenangkan. Salah satu caranya bisa melalui cerita-cerita islami, dongeng yang berisi tentang makna bulan suci ini. Serta yang paling penting adalah anak orang tua memberi contoh.

Bagi anak untuk melaksanakan puasa penuh tentu tidak mudah. Untuk belajar puasa anak bisa dilatih untuk makan disaat lapar dan makan tidak sampai kekenyangan. Jika sudah terbiasa, anak bisa diajak untuk berpuasa secara bertahap, misalnya untuk seminggu pertama anak berpuasa setengah hari sampai zuhur, lalu bisa bertahap jika anak sudah dirasa kuat menjalankan puasa sampai magrib.

Berikan Motivasi dan Semangat!

Orang tua sebaiknya selalu memberikan semangat kepada anak untuk melaksanakan puasa, jika anak tidak tahan maka biarkan dulu mereka makan lalu disambung lagi. Berikan pula penghargaan untuk memotivasi mereka. Penghargaan tidak harus dalam bentuk barang, bisa dalam bentuk pujian, ungkapan rasa senang, serta kedekatan emosi.

Ajaklah anak terlibat ketika saat berbuka, tarawih, makan malam, dan sahur sejak dini. Menghargai anak jika anak telah mengerjakan kebaikan, tetapi jangan dicela bila belum berhasil. Orang tua bisa memberi contoh yang baik untuk anak ketika bukan ramadhan, tidak mengeluh ketika beraktivitas saat puasa, beraktivitas yang menyenangkan dan menjalani puasa dengan penuh kesabaran.

Ketika berpuasa orang tua sementara harus menyembunyikan makanan-makanan yang dapat menggoda puasa anak. Tetapi ketika berbuka orang berusaha untuk menyajikan makanan favorit bagi anaknya. Khususnya ketika makan sahur, agar anak bersemangat untuk makan sahur.

Pada malam hari, ada baiknya berikan anak makan lagi sebelum tidur atau pada saat-saat senggang di waktu malam. Jangan lupa untuk memberikan makanan yang mengandung gizi yang seimbang untuk anak. Beri makanan atau minuman yang mengandung gula saat puasa. Untuk sahur, perbanyaklah makanan dari jenis protein dan lemakseperti susu, daging, nasi, telur, ikan, dan lainnya sebagai cadangan energi.

Jadilah Panutan Untuk Anak-anak Kita

Mendidik anak melakukan puasa wajib seperti puasa Ramadhan, biasanya menjadi keinginan tersendiri bagi para orangtua umumnya. Harapan mereka tentunya ingin menjadikan anak sejak usia dini mampu melakukan kewajibannya sebagai seorang hamba Tuhan yang memiliki ketakwaan lebih baik di setiap waktunya. Selain itu, hal tersebut penting bagi anak untuk masa usianya yang mendatang.

Latihan puasa memiliki arti penting, baik bagi anak maupun orang tua. Jika sejak usia dini anak dibiasakan memahami arti takwa yang sebenarnya, maka hingga dewasa nanti ia akan terbiasa. Orang tua pun akan bahagia memiliki anak yang sejak dini dibentuk menjadi hamba yang bertaqwa.

Sosok orang tua akan menjadi panutan serta teladan bagi anaknya sejak dini. Karenanya, orang tua harus secara konsisten untuk memberikan contoh atau teladan, baik tingkah laku ataupun perkataan yang mencerminkan ketakwaan kepada Allah SWT, salah satunya dengan melakukan puasa wajib. Anak senantiasa dimantapkan bahwa Allah SWT yang menciptakan seluruh isi alam semesta ini. Adanya gunung, langit, awan, bumi, dan sebagainya menjadi petunjuk adanya kekuasaan Allah SWT.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan puasa yang harus dikerjakan oleh manusia yang sudah memenuhi syaratnya. Anak harus mengetahui balasan yang diberikan Allah jika mereka melaksanakan kewajiban itu. Syurga dan neraka adalah hal yang harus diceritakan kepada anak sebagai dua tempat yang akan menjadi balasan dari Allah SWT.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…” (HR. Bukhari [1896] dari Sahl radhiyallahu’anhu).

Semoga kita semua bisa melaksanakan puasa Ramadhan tahun ini dengan baik. Bisa menjadi pribadi lebih baik lagi. Dan bisa membuat anak-anak kita tahu, faham, kemudian melaksanakan puasa Ramadhan dengan senang dan ikhlas. Aamiiin. (Eby/Berbagaisumber)

Tips mengajarkan puasa kepada si kecil:

  1. Jelaskanlah konsep Ramadhan kepada anak, dengan begitu anak bisa merasakan semangat ramadhan. Anak-anak biasanya belajar dan memahani semangat Ramadhan dari orangtua mereka, kakak, atau keluarga yang lebih tua. Saat anak sudah menyadari pentingnya puasa, dia secara otomatis akan belajar menghargai dan menjalaninya.
  2. Ada baiknya orangtua tidak menunjukkan rasa lapar dan haus saat berpuasa di depan anak-anak. Tunjukkan pada anak kalau puasa itu harus dijalani dengan kesabaran dan tidak banyak mengeluh.
  3. Usahakanlah untuk selalu member semangat agar terus berpuasa. Misalnya saja dengan mengatakan: “Kamu pasti bisa, Dik. Tinggal dua jam lagi, Semangaat!”
  4. Memberikan hadia setelah si anak bisa menjalankan puasa sesuai kesepakatan, tidak ada salahnya dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas prestasinya, agar lebih termotivasi orangtua bisa menjanjikan memberikan hadiah saat lebaran tiba.
  5. Buatkan menu kesukaan anak untuk sahur dan berbuka puasa, dan pastikan anak kita makan yang cukup saat sahur.
  6. Usahakan agar anak tetap sibuk selama puasa agar anak tidak terlalu ingat akan rasa lapar dan hausnya. Misalnya orangtua bisa mengajak anak untuk membaca bersama, mengaji bersama, atau menonton film favoritnya.
  7. Terakhir, buatlah kompetisi sehat antar anak. Cara ini efektif jika anak memiliki teman sepermainan, teman di rumah atau sepupu yang seumuran. Kompetisi ini bisa memotivasinya kalau mereka memiliki kekuatan yang sama dengan teman-teman mereka.

Semoga berhasil

AddThis Social Bookmark Button

Menjaga Hawa Nafsu dalam Keluarga Selama Ramadhan

JULI 2013

Ramadhan adalah momen yang paling ditunggu setiap muslim yang ada di bumi. Mereka bersuka cita menyambutnya dengan bahagia. Ada banyak keberkahan, manfaat, dan bermacam pembelajaran terbingkai di indahnya Ramadhan.

Bulan Ramadhan atau dengan nama lain bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Di bulan ini, seluruh umat Islam melaksanakan puasa selama 29/30 hari lamanya. Menahan lapar, haus, dan nafsu diri demi sebuah kemenangan hakiki.

Ramadhan menjadi ajang untuk menahan nafsu. Nafsu yang merupakan sifat dalam diri manusia yang selalu membawa dirinya pada perilaku jahat yang merusak. Ramadhan adalah bulan penjara bagi hawa nafsu, karena puasa di bulan Ramadhan mengharuskan manusia menahan dirinya dari nafsu-nafsu duniawi. Nafsu ini merupakan gairah dalam diri manusia yang harus dimanajemen dan dikelola secara baik.

Seperti ibu Yati (30th) yang mengatakan bahwa bulan Ramadhan menjadi momen tepat untuk bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Salah satunya adalah dengan menahan hawa nafsu dari emosi, keinginan yang kadang di luar kuasa kita, dan keinginan lain yang tak seharusnya.

Hakikat Puasa Sebenarnya

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan tas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah/2: 183)

Seperti yang dijelaskan pada ayat di atas, maka wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk berpuasa. Apalagi puasa Ramadhan yang hanya ada setahun sekali. Di sini, hakikat puasa yang sebenarnya adalah menahan seluruh anggota tubuh dari panca indera manusia, mulai dari penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, hingga peraba, dari hal-hal yang dilarang dan diharamkan Allah. Tentunya, juga menjauhi diri dari segala sifat tercela baik di waktu siang maupun malam.

Nafsu ini tempat abadi segala keinginan, impian, cita-cita. Semua itu sah-sah saja asalkan masih berada di batas-batas yang diridhai Allah. Tetapi, ketika semua itu berubah menjadi obsesi dan ambisi yang terlalu besar, akan membahayakan jiwa siapapun. Karena, ia akan merusak iman seorang hamba pada Allah. Misalnya seseorang terobsesi menjadi kaya, kemudian menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan itu, sampai melanggar batas-batas kehendak Allah, maka sejatinya ia merugikan dirinya sendiri.

Dalam hadits yang diriwayatkan Thabarani dan Imam Baihaqy, rasulullah saw bersabda, “Ibadah puasa untuk Allah, tidak ada yang mengetahui pahala yang melakukan kecuali Allah Azza wa Jalla.”

Tentunya untuk mencapai pahala khusus dalam ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan harus memenuhi beberapa syarat berikut.

Pertama, niat berpuasa karena Allah. Kedua, menjaga perkara-perkara yang membatalkan ibadah puasa (mufthirot) seperti masuknya makanan/ minuman ke dalam perut dengan sengaja, dan sebagainya.

Ketiga, menjaga perkara-perkara yang membatalkan pahala puasa (muhbithot) seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), berbohong, melihat wanita yang bukan mahramnya dengan sengaja disertai syahwat.

Menahan Hawa Nafsu Secara Baik

Setiap orang pasti tidak ingin terjatuh dalam nafsu yang merugikan dirinya. Apalagi ketika memasuki puasa Ramadhan. Ada beberapa hal yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar saat puasa, kita bisa menahan hawa nafsu kita secara baik.

Pertama, memperbanyak bangun malam. Dari pada sekedar begadang. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan shalat tarawih, dan atau shalat tahajud secara kontinyu dan terus menerus.

Kedua, memperbanyak tadarus al-Qur’an dan mentadabburi isi al-Qur’an. Sehingga, kita tidak hanya membaca dan memahami maknanya. Akan tetapi, kita nantinya kemudian mempraktekkan ayat-ayat al-Qur’an itu dalam kehidupan kita (mengamalkannya).

Ketiga, bersedekah dan melakukan amal kebaikan. Dengan bersedekah hati kita akan tenang. Bersedekah dengan tulus dan ikhlas akan membuat hati kita menjadi damai, dan menambah pahala. Amal kebaikan pun tak melulu sedekah. Ketika kita tak mampu memberikan sedekah dalam bentuk materi, kita bisa membantu orang lain dengan tenaga kita. Misalnya, membantu warga membersihkan jalan atau parit yang kotor, dan lainnya. Membantu tanpa pamrih tanpa berharap balasan dari orang yang kita bantu.

Keempat, memberi berbuka kepada orang-orang yang sedang berpuasa. Ada hadits yang mengatakan bahwa barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka orang-orang puasa, maka ia mendapat pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut. Ketika kita memberikannya saat berpuasa, maka pahala kita berlipat ganda.

Kelima, I’tikaf di akhir Ramadhan. Bagi sebagian orang, khususnya laki-laki, dan wanita yang disertai mahramnya, i’tikaf menjadi momen spesial. Berdiam diri di masjid sejak Shubuh di hari ke 21, tanpa keluar masjid, kecuali saat mendesak seperti mandi, buang hajat, dan menemani mahram saat malam hari keluar. I’tikaf ini sangat berguna untuk kita mendekatkan diri kepada Allah, menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana firman Allah dalam surat 97 ayat 3. Selain itu, i’tikaf di masjid dapat memerangi hawa nafsu, karena masjid adalah tempat beribdah dan membersihkan jiwa.

Keenam, umrah, dakwah, dan jihad. Disunnahkan untuk setiap muslim berjihad baik dengan lisan, maupun perbuatan secara ma’ruf. Umrah juga bisa dilakukan saat bulan Ramadhan.

Melawan Nafsu dengan Lailatul Qadar

Rasulullah telah memberi kami kabar tentang Lailatul Qadar. Beliau bersabda: “Lailatul Qadar adalah 10 akhir di bulan Ramadhan, yaitu pada malam 21 atau malam 23 atau malam 25. Atau malam 27 atau malam 29 atau diakhir malam Ramadhan. Barang siapa menghidupkannya (shalat) dengan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang”.

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda :“Barang siapa menghidupkan (shalat) malam Lailatul Qadar dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (Muttafaqun Alaih)".

Seseorang yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan adalah melawan nafsu, dengan menghindari segala macam bentuk kemaksiatan serta memperbanyak ibadah, terutama shalat malam (qiyamul lail) selama bulan Ramadhan, atau kita menjadi hamba yang kalah melawan nafsu.

Puasa Mempererat Keluarga

Ibu Yati mengatakan bahwa dalam keluarganya, setiap Ramadhan selalu disambut dengan gembira. Bahkan ada beberapa di antaranya yang rela pulang kampung lebih awal demi menikmati momen puasa bersama keluarga di kampung halaman.

“Biasanya, pas puasa itu menjadi waktu yang tepat untuk silaturahim ke saudara-saudara yang lain. Yang sebelumnya jarang sekali bersilaturahim karena jauhnya jarak. Kami biasanya juga sowan ke rumah bapak dan ibu di kampung beberapa hari sebelum lebaran. Kami bisa nikmati lagi kebersamaan bersama anggota keluarga yang lain. Itulah harga yang pantas untuk kebahagiaan sebuah Ramadhan. Puasa dapat, pahala Insya Allah dapat, dan silaturahim terjaga selalu,” ujarnya.

Seperti yang telah dikemukakan ibu Yati di atas, puasa Ramadhan memberikan banyak kemanfaatan yang luar biasa. Salah satu di antaranya adalah mempererat keluarga. Jalinan yang tadinya tak rapi menjadi erat kembali. Keharmonisan dalam rumah tangga pun akan tercapai dengan indah. Semua kemarahan, iri, benci pun luruh dalam kebersamaan yang merekatkan lagi hubungan yang lama renggang.

Puasa Ramadhan, Hujan Keberkahan

Setiap keluarga pasti mengharapkan rumah tangga yang harmonis. Hal ini tidak akan tercapai ketika satu sama lain saling mengedepankan hawa nafsu semata. Ada baiknya dai masing-masing pihak ada yang mengalah. Memberikan teladan berperilaku baik di dalam keluarga dengan menegur baik-baik saat ada yang berbuat salah. Kemudian, bersegera memaafkan ketika mereka mengakui kesalahan dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tak baik itu lagi.

Di sisi lain, butuh rasa saling menghormati, menghargai, dan menjaga hati setiap anggota kelaurga sehingga terjadi komunikasi dua arah. Dengan begitu tercipta rasa nyaman, saling terbuka, dan bisa saling mengisi kekurangan dan kelebihan setiap anggota keluarga yang ada.

Puasa ramadhan yang terlalui pun menjadi ramadhan yang penuh berkah, kebahagiaan, dan rekatnya ikatan kekeluargaan masing-masing anggota keluarga tersebut. Penting juga untuk selalu menyempatkan diri bersantai bersama untuk saling bercerita kegiatan setiap anggota keluarga saat Ramadhan.

Tidak lupa untuk bersama-sama shalat tarawih ke masjid, tadarus al-Qur’an bersama, dan mengikuti kajian-kajian Islam di lingkungan tempat tinggal.

Terakhir, terjalinnya kebersamaan, ikatan kekeluargaan yang kuat, dan indahnya saling menasehati dan mengingatkan antar anggota keluarga pun akhirnya membuat hubungan sebuah rumah tangga insya Allah sakinah, mawaddah, warahmah dalam ridho-Nya. (lin/ berbagai sumber)

Tips Menahan Nafsu Amarah

  1. Arahkan ke perilaku konstruktif . Sebagian orang memilih untuk memfokuskan diri pada hal-hal positif daripada memikirkan hal-hal yang memicu amarah.
  2. Teknik olah nafas, misalnya meditasi
  3. Berlatih olah tubuh seperti yoga
  4. Membayangkan pengalaman yang membuat Anda santai, misalnya jalan-jalan di sepanjang pantai
  5. Mengulangi kalimat "Tenang, tenang" juga bisa membantu
  6. Komunikasi yang lebih baik
  7. Selipkan humor dalam obrolan
  8. Rehat sejenak
  9. Mengucapkan istighfar, ‘astaghfirullah al adziim’
AddThis Social Bookmark Button

Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini pada Anak

JUNI 2013

Semestinya orang tua selalu memperhatikan kondisi anak dan pekerjaan apa yang sesuai dengan potensinya. Orang tua perlu membiarkan anak memilih dan menggeluti pekerjaan yang cocok dengan kecenderungan dan potensinya, selagi pekerjaan tersebut diperbolehkan oleh agama. Jika orang tua membebani anaknya sesuatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan potensinya, maka dia tidak akan berhasil. Bahkan potensinyang dimiliki akan hilang begitu saja. Jika orang tua melihat anaknya memiliki pemahaman yang bagus, dan hafalan yang  baik, maka ini termasuk tanda-tanda anak siap menerima menjadi ulama, dan sebagainya. Semua ini tentu dilakukan orang tua setelah ia mengajari anak-anaknya kewajiban-kewajiban agama mereka. Yang demikian itu telah dimudahkan atas setiap orang. Dengan adanya pengajaran agama seperti itu, maka tegaklah hujjah Allah atas hamba-Nya. Karena sesungguhnya Dia mempunyai hujjah yang kuat atas hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia mempunyai kenikmata yang sempurna untuk dia berikan kepada mereka.-Ibnul Qayyim al-Jauziyyah-

Saat ini dunia wirausaha sudah tidak asing bagi seluruh lapisan masyarakat, apalagi di dunia anak-anak. Yang perlu di garis bawahi, wirausaha pada anak anak membutuhkan banyak bimbingan dan dukungan dari orang-orang dewasa, orang tua maupun guru.

Anak-anak yang sudah mengenal wirausaha sejak dini mendapatkan manfaat berlimpah untuk masa depannya kelak. Karena, pada masa ini anak-anak yang dari awal belajar menumbuhkan jiwa wirausaha, mereka akan menjadi pribadi yang kreatif.

Melatih Anak Berkepribadian Kreatif

Tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jika jiwa wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa.

Ibu Lia (32th) mengatakan bahwa seorang anak akan menjadi sesuai apa yang ia inginkan ketika kita sebagai orang tua mampu menemukan potensi anak tersebut.

“Kita sebagai orang tua bertugas membimbingnya menjadi pribadi yang kreatif, sesuai dengan potensinya. Anak yang kita paksakan potensi yang ia tak miliki, biasanya tidak akan kreatif dan cenderung menjadi anak yang suka membangkang,” ujarnya.

Anaknya, Thoriq (6th), merupakan anak yang aktif, tidak bisa diam. Dan terkadang selalu membuat sesuatu yang kadang tak terfikir oleh sang ibu. Misalnya suatu hari, tiba-tiba ia menyerahkan pesawat kertas yang ia buat sendiri, hanya dengan melihat contoh pembuatannya di buku. Dari sini ibunya tahu, bahwa anaknya berpotensi menjadi manusia yang cerdas karena mampu menangkap dengan cepat ilmu dari buku yang dilihatnya.

Menurut Kak Seto, setiap anak yang kita hargai berbagai kelebihannya, ia akan percaya diri dan bisa mengembangkan potensinya. Dari sini, anak siap menjadi seorang wirausaha dengan gagasan yang orisinal, serta mampu memecahkan masalah, dan dapat memberikan terobosan yang baru.

Anak yang sudah belajar wirausaha sejak kecil akan melatih dirinya sendiri menjadi manusia yang mandiri, dengan mengandalkan kreativitasnya. Ia pun mulai tumbuh menjadi pribadi yang kreatif.

Untuk menjadi kreatif, anak harus berada dalam kondisi aman, dengan tidak banyak memberikan kritik berlebih dari kita sebagai orang tuanya. Anak juga harus kita berikan kesempatan memberikan ide dan membuat terobosan baru.

Mengajak Anak Menjadi Produktif dan Tidak Konsumtif

Sebuah keluarga harus punya pemahaman bahwa kegiatan wirausaha merupakan syarat bagi anak mandiri ke depan. Keluarga menjadi tolok ukur bagi si anak sebagai pihak yang selalu memotivasinya melakukan hal-hal kreatif sehingga menjadi manusia produktif. Artinya, selalu bisa menghasilkan ide dan penemuan baru yang akan membawanya pada kemandirian diri

Kita sebagai orang tua juga harus menanamkan dalam diri anak agar tidak menjadi pribadi yang konsumtif. Pribadi konsumtif hanya memberikan kerugian bagi si anak tersebut ke depannya. Contohnya saja, si anak sehari menghabiskan uang sebanyak mungkin tanpa berfikir uang itu sebenarnya bisa dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat, seperti membeli peralatan melukis untuk ia menghasilkan lukisan-lukisan yang bagus. Dan hasilnya bahkan ia bisa jual ke orang lain sehingga jerih payah kreativitasnya terbayar, uangpun kembali lebih banyak.

Hal lain yang bisa dilakukan agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi produktif adalah dengan memasukkannya ke ekstrakurikuler di sekolah, sesuai dengan minat dan bakatnya. Dari sini kita nanti akan melihat betapa anak kita mulai tumbuh perlahan menjadi pribadi yang kreatif dan produktif.

Membantu dan Mengajari Anak yang Kurang Produktif

Diriwayatakan dari Abu  Sa’id al-Khudr, ia berkata:”Pada suatu ketika Nabi berjalan melewati seorang anak yang sedang menguliti kambing. Lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Minggirlah kamu! Akan aku tunjukkan kepadamu bagaimana cara menguliti kambing.’ Lalu Rasulullah SAW memasukkan tangannya di antara kulit dan daging lalu memisahkan antara daging dan kulit, hinga sampai pada ketiak kambing tersebut. Dan beliau berkata, ‘Wahai, anak. Demikianlah cara menguliti kambing, teruskanlah.’ Kemudian, beliau terus berjalan dan shalat (mengimami) para sahabat dan tanpa berwudhu (lagi).

Dari contoh di atas jelas bahwa Nabi SAW saja tidak enggan untuk berhenti dan membantu menyelesaikan pekerjaannya, kemudian mengajari sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya, kendati beliau sedang menuju masjid untuk mengimami shalat. Maka, begitu pula orang tua punya kepentingan membantu dan membimbing anaknya ketika mereka menemukan sesuatu yang sulit, dan mereka belum tahu solusinya. Hal ini dilakukan agar ke depan sang anak bisa mengatasi masalah dan menjadi pribadi  produktif dengan pemecahan masalah baru sesuai dengan tingkatan kesulitannya.

Memotivasi Anak agar Mandiri dan Melarang Bermalas malas

Dalam hal ini, orang tua bertanggung jawab pada anak untuk mengajarkan mereka bisa memotivasi diri untuk bekerja keras. Anak juga harus kita beri kesempatan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Di samping itu, peran lingkungan, semisal guru-guru juga punya pengaruh dalam pembentukan pribadi anak. Mereka semua turut berperan membuat anak agar bisa menjadi seorang entrepreneur. Guru di sini harus kreatif dalam mengajar dan membuat soal, sehingga anak diberi kesempatan berpikir banyak.

Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan.

Dalam menumbuhkan sifat wirausaha pada diri anak sendiri memerlukan latihan bertahap. Latihan ini bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Misalnya, mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Dalam mengajarkan anak mengelola uang ini, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan,namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua untuk taat aturan.

Tahap selanjutnya si anak mulai dapat diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat diajarkan jual beli. Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal usaha untuk mendapatkan sesuatu, dengan kata lain bisnis kecil kecilan.


Seperti halnya Rasulullah SAW. Beliau sangat memperhatikan pertumbuhan potensi anak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan ekonomi. Beliau membangun kepercayaan diri dan memotivasinya agar hidup mandiri. Hal itu dimaksudkan agar ia mampu berinteraksi dengan sekian macam unsur masyarakat dan juga berinteraksi dengan individu-individu dari masyarakat itu. Dengan cara seperti itu ia akan memperoleh pengalaman nyata, di samping memperkokoh kepercayaan diri di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian kehidupannya akan menjadi baik.

Diriwayatkan dari Amru bin Harits bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah SAW berjalan melewati Abdulla bin Ja’far yang ketika itu ia sedang berjualan seperti anak-ana kecil yang berjualan, lalu ia berdoa, “Ya Allah, berkahilah dia dalam jual belinya.”

Ini merupakan bukti perhatian Nabi SAW agar anak berlatih makan dari hasil keringat sendiri. Abdullah bin Ja’far adalah cucu dari paman Nabi. Sedang ayahnya adalah komandan kaum muslimin yang syahid dalam perang Mut’ah. Walau demikian, ketika Nabi SAW melihat dia berjualan kulit yang disamak, ia tidak merasa malu dan risih dari yang demikian. Padahal ia dari keturunan manusia yang terhormat, baik di sisi Allah maupun di sisi manusia. Namun demikian, beliau tidak melarang Abdullah dari jual beli itu, justru beliau mendoakan agar ia mendapat barakah dan keuntungan.

Sekarang, tinggal tugas kita sebagai orang tua membimbing anak dan mengajarinya berbagai cara untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dalam dirinya sejak dini. Sehingga suatu saat, ketika mereka siap, mereka akan menjadi bagian entrepreneur-entrepeneur muda yang tangguh dan sukses. Aamiiin ya rabb al-alamiin.  (lin/ berbagai sumber)

 

Tips Menumbuhkan Jiwa Wira Usaha dalam Diri Anak

  1. Latihlah anak memecahkan masalah secara efektif. Bisa dengan bertukar fikiran mencari kemungkinan solusi, menimbang pro kontra, dan memilih pilihan terbaik
  2. Bantu anak belajar dari egagalan. Membimbingnya untuk mencoba, jika gagal, mempelajari lagi, hingga berhasil
  3. Latihlah anak membuat keputusan agar tumbuh kepercayaan diri
  4. Menumbuhkan rasa keahlian dalam mengambil resiko. Bimbing dahulu pertamanya, lalu perlahan biarkan anak mengatasi pilihan sulita, sehingga tumbuh kemandirian dan ahli dalam setiap keputusan yang diambil
  5. Ajarkan anak untuk memberikan pendapat. Dengan catatan, pendapatnya disertai dengan alasan yang jelas.
AddThis Social Bookmark Button