Keuangan Keluarga

More Articles...

Pengelolaan Keuangan Keluarga Akhir Tahun

DESEMBER 2012

oleh : Adam Yaih

(Widyaiswara Madya, Balai Pelatihan Tenaga Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Barat)

 

Apa pun profesi atau pekerjaan Anda, baik selaku pegawai, buruh, atau pelaku usaha dengan skala mikro, kecil, atau menengah, maka akhirnya akan tampak pada besaran pendapatan. Kalau Anda beraktivitas sebagai buruh atau pegawai, maka dapat dipastikan pendapatannya relatif tetap, bisa harian, mingguan, atau bulanan. Namun jika Anda beraktivitas sebagai pelaku usaha atau berwirausaha, maka dapat dipastikan penghasilannya fluktuatif, bisa kecil, bisa besar, bisa untung, bisa rugi, dan bisa juga pas-pasan. Bagi Anda yang berpenghasilan tetap, maka penggunaannya harus lebih selektif, apakah itu untuk konsumsi, transportasi, maupun saving. Tak jarang kita mendengar keluhan ibu-ibu rumah tangga yang harus memutar otak mengatur penghasilan suami yang pas-pasan atau bahkan kurang memadai, dapat mencukupi sampai kepada tanggal diperolehnya lagi pendapatan sang suami. Demikian juga halnya dengan mereka yang beraktivitas sebagai wirausaha, karena berbagai kemungkinan selalu muncul.

 

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Mempersiapkan Keuangan untuk Pendidikan Anak

NOPEMBER 2012

Pendidikan adalah hal utama yang harus didapatkan oleh manusia sepanjang hidupnya. Selain kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan, pendidikan memegang peran penting agar manusia bisa bertahan hidup di muka Bumi.

Manusia yang bijak pasti mendahulukan kebutuhan pendidikan dibanding kebutuhan lainnya. Adapun pendidikan yang lebih utama didapatkan adalah berupa ilmu agama, sedangkan ilmu-ilmu keduniawian lainnya bisa menyusul. Akan tetapi ilmu duniawi pun tak kalah pentingnya agar manusia bisa menjalani kehidupan di dunia dengan baik pula.

Seruan untuk manusia agar mencari ilmu pun terdapat dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 122, yang artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama meraka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar dapat menjaga dirinya.”

Dari ayat tersebut dapat dilihat bahwa memperdalam ilmu pengetahuan pun tak kalah pentingnya dari berjihad di jalan Allah. Dengan memiliki kemampuan (akal dan pikir) yang lebih, maka kita bisa menaklukkan dunia dengan kepala kita.

Sebuah hadis yang berbunyi: “Carilah ilmu sampai ke negeri China,” juga bisa menjadi referensi bahwa kita memang sangat dianjurkan untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, walaupun tempatnya sangat jauh sekalipun. Jangan hanya menyerah pada keterbatasan yang kita miliki, insyaAllah jika kita bersungguh-sungguh, niscaya bantuan dalam bentuk apa pun akan kita dapatkan sehingga kita bisa menggapai ilmu yang kita harapkan.

Dan dalam memenuhi persyaratan untuk mencapai pendidikan yang cukup bagi hidup kita, terkadang manusia “mentok” pada suatu kondisi yang menyebabkan dirinya berhenti mencari ilmu. Kondisi keuangan yang seret adalah salah satu penyebabnya. Nah, bagi umat muslim yang tak ingin pendidikan bagi dirinya terhenti begitu saja, diimbau untuk menabung sejak dini.

Apabila kita (orang dewasa) merasa cukup akan pendidikan yang telah didapat, dan hendak membuat anaknya memiliki pendidikan yang lebih tinggi daripada diri kita, maka persiapan keuangan pendidikan anak di masa depan menjadi salah satu hal penting untuk diperhatikan sejak sekarang. Masa depan pasti akan lebih menantang bagi anak kita, karena berbagai persaingan hidup akan membuatnya berkutat dalam lika-liku kehidupan yang lebih baik.

Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa kita aplikasikan demi tercapainya pendidikan yang cukup bagi anak kita di masa yang akan datang:

1. Menabung di Bank

Kebiasaan menabung merupakan ajaran yang sudah turun-temurun dari nenek moyang kita. Sebagai bukti, adanya celengan dari bahan tembikar yang menjadi alat untuk menyimpan uang. Kegiatan menabung (di celengan) memang baru ada setelah hadirnya mata uang di negeri kita. Dan menabung pun jadi kegiatan yang asyik karena bisa melatih kesabaran dalam mengumpulkan uang demi mendapatkan suatu barang yang diinginkan.

Ya, sudah menjadi kebiasaan orang tua mendidik anak-anaknya untuk menabung (baik di celengan ataupun di bank) agar sang anak bisa memenuhi kebutuhan atau membeli barang yang dananya tak bisa didapatkan dalam waktu sebentar. Sebagai contoh, si anak ingin membeli sepeda seharga Rp 500.000. Sebagai orang tua yang baik, jangan langsung berikan uang sejumlah Rp 500.000, namun ajaklah anak untuk menabung. Dengan menyisihkan uang sehari sebesar Rp 2.000 (misalnya), maka si anak harus menabung selama 250 hari. Apabila sudah mencapai hari ke 150, bolehlah orang tua menyuruh anaknya membongkar tabungannya, dan menghadiahi kekurangan uang yang ada pada tabungan si anak untuk membeli sepeda.

Begitu pula dalam hal menyiapkan pendidikan anak di masa depan. Menabung di bank (khusus membuat tabungan pendidikan) yang tak bisa diambil uangnya dalam jangka waktu tertentu, menjadi salah satu cara yang baik agar orang tua bisa dengan sabar menyisihkan sebagian dari penghasilannya setiap bulan untuk dana pendidikan anak.

2. Asuransi Pendidikan

Memiliki asuransi kini telah jadi salah satu gaya hidup masyarakat dalam mengamankan diri dari keadaan yang kurang baik. Begitu pula dengan mengamankan keuangan untuk pendidikan anak. Kebanyakan dari masyarakat menengah ke atas telah memiliki asuransi pendidikan yang premi-nya (iuran) disetor setiap bulan dengan jumlah tertentu.

Cara ini dinilai efektif oleh beberapa kalangan karena dengan berasuransi akan didapat ketenangan akan kebutuhan keuangan di masa depan demi pendidikan anak di masa yang akan datang. Namun kita sebaiknya berhati-hati pada sejumlah lembaga asuransi karena bisa jadi klaim yang kita minta nanti akan dipersulit, sehubungan dengan kondisi-kondisi yang tidak sesuai dengan perkiraan kita ketika pertama kali berasuransi.

3. Membeli Properti

Salah satu pemikiran yang dianut oleh orang tua zaman dulu tentang mengamankan keuangan adalah dengan membeli properti. Properti dalam hal ini adalah luas. Namun sebagian besar masyarakat lebih menyukai membeli tanah untuk bisa dijual kembali di masa yang akan datang. Kegiatan membeli tanah ini memang lebih banyak dilakukan ketika seseorang memiliki uang banyak dalam satu waktu. Kala ia bingung menggunakan uangnya, maka membeli sebidang tanah merupakan cara yang tepat. Bisa dibayangkan, apabila kita membeli sebidang tanah seharga Rp 10 juta hari ini, maka kemungkinan besar pada 20 tahun yang akan datang harga tanah yang kita miliki itu akan berubah sesuai dengan kondisi di masa yang akan datang.

Kondisi tersebut memungkinkan para orang tua berinvestasi dalam bidang properti yang lumayan menguntungkan, sehingga ketika anaknya tumbuh dan memerlukan biaya pendidikan yang tak sedikit, maka properti tersebut bisa dijual dengan harga yang menggiurkan.

4. Investasi Emas

Memiliki emas sebagai simpanan merupakan salah satu cara efektif dalam mengamankan keuangan keluarga untuk menyiapkan dana pendidikan anak di masa yang akan datang. Sama halnya dengan menabung, membeli emas sejak sekarang merupakan langkah pintar. Tak hanya itu, berinvestasi emas pun lebih dekat pada kesyariahan, apalagi bila yang kita investasikan adalah bentuk uang dinar. Penggunaan dinar memang sudah dilakukan sejak zaman Nabi. Dan penggunaan dinar (emas) dan dirham (perak) dianjurkan dalam agama untuk kegiatan bertransaksi sehari-hari.

Bukti bisa dipakainya cara ini dalam mengamankan keuangan keluarga dalam menyiapkan dana pendidikan anak adalah karena harga emas selalu mengalami kenaikan. Salah satu contoh, pada zaman Rasulullah, harga seekor kambing dengan kualitas sangat bagus adalah satu dinar. Dan kini bisa dibuktikan, bahwa harga kambing dengan kualitas sangat bagus tidak jauh dari satu dinar (Rp 2 juta lebih per Oktober 2012, Red).

Dan keutamaan memiliki emas adalah bahwa simpanan dinar (atau emas dalam bentuk batangan atau perhiasan) pun bisa kita jual sewaktu-waktu ketika kita sangat membutuhkannya.

Dengan mengikuti beberapa tips di atas, insyaAllah keuangan keluarga untuk persiapan dana pendidikan anak di masa depan pun akan terpenuhi. (Ric)

AddThis Social Bookmark Button

Keutamaan Bekerja Dengan Cara Yang Halal, Berinvestasi, dan Keberkahan Harta

OKTOBER 2012

*Oleh: Hamli Syaifullah

Bekerja merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang hidup di dunia. Dengan bekerja, maka seorang muslim akan terangkat derajatnya. Tentunya pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan yang sesuai dengan rambu-rambu Agama Islam, yaiatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt di dalam al-Quran dan al-Hadits . Sehingga hasilnya akan terjamin kehalalannya. Karena kehalalan harta sangatlah berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup orang-orang yang memiliki harta tersebut; baik di dunia ataupun di akhirat kelak ketika berjumpa dengan Allah swt.

Harta yang diperoleh dari pekerjaan yang halal akan berdampak positif terhadap prilaku sehari-hari. Dan dampak yang paling besar bagi seseorang adalah do’anya akan selalu diijabah (terjawab) oleh Allah. Inilah tujuan yang paling utama mengapa ummat Islam diperintahkan untuk selalu mendapatkan harta yang halal; baik berupa zat maupun cara mendapatkannya. Hal ini seperti yang terjadi pada sahabat Nabi, yaitu Sa’ad.

Suatu hari ada seorang sahabat yang memberanikan diri bertanya kepadanya: “Wahai Sa’ad, bolehkan aku bertanya kepadamu?” kata sahabat tadi membuka percakapan. “Apa yang ingin kau tanyakan? Aku tidak keberatan,” jawab Sa’ad. “Mengapa doa-doamu lebih dikabulkan oleh Allah di antara sahabat-sahabat yang lain?” “Aku tidak memasukkan secuil pun makanan ke dalam mulutku kecuali aku tahu dari mana makanan itu berasal dan dari mana ia keluar” jawab Sa’ad serius.

Dari uraian percakapan sahabat Nabi di atas sangat jelas sekali bahwa pekerjaan yang halal akan menentukan kehalalan makanan yang kita masukkan ke dalam tubuh. Dengan memakan makanan yang halal, maka setiap do’a yang dipanjatkan akan selalu dikabulkan oleh Allah. Seperti terkabulnya doa yang dipanjatkan oleh sahabat Nabi, yaitu Sa’ad.

Kita pun bisa berintrospeksi diri, mengapa doa kita sulit dikabulkan oleh Allah? salah satu penyebabnya karena kita tidak berhati-hati dalam mendapatkan makanan yang dihasilkan dari pekerjaan yang tidak halal. Bisa saja makanan yang kita makan terkontaminasi dengan harta yang mengandung riba, maysir, dan gharar. Sehingga mengakibatkan setiap doa yang kita panjatkan sulit dikabulkan oleh Allah.

Tak heranlah jika Rasulullah Saw mengapresiasi orang-orang yang bekerja dengan pekerjaan yang halal. Seperti sabda beliau yang berbunyi: “Barang siapa yang diwaktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di waktu sore itulah ia terampuni dosanya” (HR. Thabari dan Baihaqi)

Rasulullah pun menegaskan bagaimana mulianya orang-orang yang bekerja demi mendapatkan harta yang halal, dari pada orang-orang yang berpangku tangan dan hanya menjadi beban hidup bagi masyarakat lainnya.

“Sekiranya salah seorang dari kamu mengambil tali, lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu menjualnya, hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada orang, baik ia diberi atau ditolak” (HR. Bukhari)

Maka dari itu, jadikanlah bekerja sebagai ladang untuk mengumpulkan pundi-pundi amal akhirat dan untuk mendapatkan keridhaan Ilahi Robbi. Tentunya pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang halal; pekerjaan yang bebas dari riba, maysir, dan gharar. Sehingga kita pun tidak hanya mendapatkan kebahagiaan di dunia saja, akan tetapi mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak.

Investasi Yang Halal

Setelah kita berhasil mendapatkan harta yang halal, kemudian dikeluarkan untuk biaya hidup sehari-hari (konsumsi), dikeluarkan untuk kebutuhan akhirat (Zakat, Infaq, Shodaqoh, Waqaf), maka janganlah lupa kita sisihkan untuk kita investasikan. Di mana investasi menurut  Erni Umi Hasanah dan Danang Sunyoto dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Ekonomi, investasi dalam arti sempit didefinisikan sebagai penanaman modal atau pembentukan modal, sedangkan dalam konteks makro ekonomi (secara luas) investasi adalah pengeluaran atau pembelanjaan barang-barang modal dan perlengkapan produksi untuk menambah barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.

Barangkali kita yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi akan terlalu sulit untuk memahami pengertian di atas, maka secara gambling investasi bisa diartikan sebagai penyisihan harta benda yang dimiliki untuk dinikmati di kemudian hari, bisa dengan cara ditabung di celengan, di bank, di asuransi, ataupun bisa dibelikan barang-barang modal seperti rumah kontrakan, kos-kosan, tanah, emas, dan lain sebagainya. Tentunya pilihan kita akan sangat bervariasi, maka untuk memilih salah satunya sesuai dengan minat dan pengetahuan yang kita miliki.

Namun dalam tulisan ini, Penulis hanya akan fokus membahas investasi yang ada di dunia Perbankan. Karena perbankan merupakan lembaga keuangan tempat berinvestasi yang sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga kita pun mampu mengetahui perbankan seperti apa yang halal untuk dijadikan tempat berinvestasi dan sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam syariah Islam. Perbankan tersebut tak lain adalah Perbankan Syariah.

Perbankan Syariah merupakan solusi kegelisahan masyarakat muslim Indonesia terhadap transaksi perbankan yang mengandung riba, maysir, dan gharar. Selain itu, Perbankan Syariah juga telah teruji kehebatan sistemnya ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998; contohnya adalah Bank Muamalat. Di mana bank ini telah membuktikan bahwa sistem keuangan Islam (Islamic Finance) merupakan sistem yang sangat cocok untuk diterapkan di era ekonomi-politik yang semakin kapitalistik. Terutama bunga bank yang telah terbukti menghancurkan perekonomian dunia.

Maka dari itu, seperti yang telah penulis sampaikan di awal bahwa setelah kita berhasil menyisihkan pendapatan untuk biaya kehidupan sehari-hari (konsumsi) dan juga kebutuhan akhirat (Zakat,Infaq, Shadaqah, Waqaf), maka jangan lupa menyisihkan uang untuk berinvestasi. Salah satu bank yang halal untuk dijadikan tempat berinvestasi adalah Perbakan Syariah. Karena perbankan syariah merupakan lembaga perbankan yang terbebas dari transaksi riba (penambahan uang yang tidak sesuai syariah), maysir (Judi), dan gharar (remang-remang/bisnis yang tidak jelas). Dengan demikian, maka marilah bulatkan tekad dalam diri kita masing-masing untuk berinvestasi di Perbankan Syariah. Investasi tersebut bisa berbentuk jangka pendek seperti tabungan dan bisa berbentuk jangka panjang seperti deposito, tergantung produk investasi mana yang diminati oleh masing-masing di antara kita.

Berkah Dengan Bersungguh-sungguh

Berkah berasal dari kata bahasa Arab yaitu barokatun. Secara etimologi artinya adalah bahagia atau untung. Sedangkan secara epistimologi berkah merupakan ketenangan dan kebahagiaan hati yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-hambanya karena telah berhasil menjalankan perintah dan mejauhi larangannya. Dalam hal ini kehalalan harta yang dimiliki; baik berupa zat mapun cara memperolehnya.

Keberkahan inilah sebenarnya yang dicari oleh ummat Islam. Untuk apa kita memiliki harta yang berlimpah ruah tapi tidak berkah, hanya menjauhkan diri kita dari Allah, hati tidak tenang, pikiran galau memikirkan harta yang masuk dan keluar, grasak-grusuk, dan lain sebagainya. Seperti itulah contoh harta pemberian Allah yang tidak mendatangkan keberkahan kepada pemiliknya.

Maka dari itu, marilah kita bersungguh-sungguh untuk mendaptkan keberkahan dari Allah dengan bekerja melalui cara halal, berinvestasi dengan cara halal, dan yang terpenting meniatkan segala sesuatu hanya karena Allah. Jika hal tersebut mampu dilakukan oleh kita semua, keberkahan perlahan-lahan akan tercurah kepada kita semua. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang mendapatkan keberkahan dari Allah.  Aamiin Ya Robbal Aalamiiin.

 

*Penulis Merupakan Perencana KeuanganSyariah serta Pengamat Ekonomi dan Perbankan Syariah FAI-UMJ

AddThis Social Bookmark Button

Keberkahan Harta Benda Melalui Spritualitas Ekonomi

SEPTEMBER 2012

*Oleh: Hamli Syaifullah

Keberkahan harta benda dalam menjalankan kegiatan ekonomi sehari-hari, merupakan harapan dan dambaan setiap orang. Karena harta benda yang berkah akan memberikan ketenangan pada pemiliknya. Pemilik harta tidak akan merasa dikuasai oleh harta bendanya. Akan tetapi sebaliknya, pemiliklah yang menjadi penguasa terhadap harta yang dimiliki seutuhnya. Inilah salah satu contoh implementasi harta benda yang berkah, dapat berdampak signifikan pada ketenangan hidup pemiliknya.

Seseorang yang berhasil menguasai harta bendanya, ia tidak akan diperbudak oleh harta bendanya. Ia menyimpan harta benda di tangannya, bukan di hatinya. Maksudnya adalah harta benda bagi dirinya hanya menjadi alat (media) untuk beribadah kepada Allah semata-mata; baik berbentuk ibadah mahdoh mapun ibadah ghairu mahdoh. Ketika seseorang telah berhasil menempatkan harta di tangannya dan bukan di hatinya, maka ia akan memposisikan dirinya sebagai kran penyalur berkah dari harta yang dimilikinya kepada orang lain; baik berbentuk Zakat, Infaq, Shadaqah, Waqaf (ZISWAF), yang terpenting dari kesemuanya adalah zakat. Karena zakat merupakan kewajiban yang harus dikeluarkan oleh seseoang yang telah memiliki harta lebih dari nisab (batas) dan haul (jangka waktu setahun), sedangkan yang lainnya akan menjadi pelengkap dari harta zakat yang dikeluarkan.

Hal inilah yang harus ditumbuh kembangkan dalam diri seorang muslim, yaitu kesadaran spritualitas ekonomi untuk menjadikan harta benda berkah, berkembang, dan suci dari hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Penulis sangat yakin sekali bahwa kucuran dari spritualitas ekonomi (Zakat, Infaq, Shadaqah, Waqaf), akan berdampak signifikan terhadap pengurangan beban masyarakat miskin. Bahkan jika dana tersebut dikelolah dengan baik dan benar, bukan hanya mengentaskan kemiskinan, akan tetapi mampu memotong garis kemiskinan sampai ke akar-akarnya. Inilah mulitiplier effect dari konsep spritualitas ekonomi yang diajarkan oleh agama Islam. Sungguh sangat menakjubkan sekali.

Peluang dan Tantangan

Jumlah mayoritas muslim di Indonesia, seharusnya berkorelasi positif dengan jumlah dana zakat yang terkumpul setiap tahunnya. Akan tetapi, hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya. Potensi zakat yang seharusnya berjumlah 200 triliun, hanya mampu terkumpul 2 triliun dalam setahun. Tentunya ada problematika yang harus diselesaikan oleh kita semua. Sehingga besarnya potensi zakat yang seharusnya mampu terkumpul, bisa terealisasi sesuai dengan potensi dan ekspektasi yang ada, ditambah lagi dengan potensi Infaq, Shadaqoh, dan Wakaf. Kesemuanya merupakan potensi yang sangat besar sekali untuk dikembangkan.

Kecilnya dana zakat yang terkumpul setiap tahun, merupakan implikasi dari ketidak tahuan dan kurangnya pengetahuan ummat Islam terhadap kewajiban zakat itu sendiri. Sehingga hal tersebut melahirkan paradigma di masyarakat bahwa zakat hanya wajib kepada orang-orang yang super kaya, dengan harta yang berlimpah. Padahal tidaklah demikian, zakat tidak hanya diwajibakan kepada konglomerat dengan limpahan harta yang sangat banyak, yang harus dikeluarkan 2,5 persen dari harta yang dimiliki (zakat maal). Akan tetapi, zakat juga wajib dikeluarkan oleh orang-orang yang memiliki profesi seperti dokter, guru, pemilik sewa angkutan, pegawai negeri, dan lain sebagainya. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap derivatif dari kewajiban zakat inilah yang menyebabkan dana zakat sangat kecil sekali setiap tahunnya. Maka dari itu, harus ada trobosan terbaru untuk mengajak masyarakat agar cerdas mengeluarkan zakat sesuai dengan kewajibannya.

Selain dana zakat, potensi dari keberadaan Infaq, Shadaqah, dan Waqaf pun sangat besar sekali. Bayangkan saja jika setiap muslim yang ada di Indonesia menginfakkan harta bendanya, anggap saja Rp 1.000,- seminggu, dikalikan dengan jumlah penduduk muslim Indonesia. Sungguh akan banyak dana yang mampu dikumpulkan. Bagaimana kalau dilakukan selama satu bulan? Bagaimana kalau satu tahun? Menurut hemat penulis, kemiskinan pun akan berkurang perlahan-lahan, dan bahkan akan mampu dihapuskan sampai ke akar-akarnya.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan bersama. Pertama, melakukan penyadaran terhadap masyarakat muslim bahwa zakat merupakan kewajiban yang akan berimplikasi pada peningkatan dan keberkahan harta yang dimiliki. Sehingga harta yang dimiliki akan menjadi media untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, mengedukasi masyakat tentang pentingnya zakat melalui pengajian rutin yang diadakan di lingkungan sekitar. Dalam artian bahwa Ustadz yang memimpin pengajian mampu menggiring masyarakat untuk memberikan pemahaman bahwa zakat banyaklah macamnya, seperti: zakat harta, zakat perdagangan, zakat sewa, zakat profesi, zakat kontrakan, dan lain sebagainya. Pemahaman seperti inilah yang harus ditanamkan oleh seorang Ustadz kepada jamaahnya.

Ketiga, membuka konsultasi zakat gratis. Konsultasi tersebut bisa dilakukan oleh BAZ (Badan Amil Zakat) ataupun LAZ (Lembaga Amil Zakat), yang tidak hanya membuka bazaar di Bulan Puasa saja, akan tetapi jasa konsultasi zakat ini tetap berlanjut sepanjang taun. Hal tersebut akan mempermudah calon Muzakki yang hendak mengkonsultasikan apakah kekayaan yang dimiliki sudah wajib zakat atau masih belum wajib zakat. Keempat, mencari Rule Model Muzakki. Diharapkan Rule Model Muzakki akan mampu merangsang para calon Muzakki utuk berzakat. Dalam artian bahwa mencari figur tokoh yang bisa digandeng dalam bentuk iklan, untuk mengajak masyarakat berzakat.

Apabila keempat hal tersebut mampu diaplikasikan, insyaalah potensi zakat akan mengalami kenaikan sedikit demi sedikit setiap tahunnya.

Sejarah  dan Fungsi Zakat

Kewajiban membayar zakat merupakan perintah Allah SWT kepada ummat Islam yang terjadi pada tahun ke dua setelah hijrah. Hal ini membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang sangat kondisional. Karena 10 tahun di Makkah, Rasulullah ketika itu masih belum memiliki political power. Sehingga tidak mungkinlah zakat diturunkan di Makkah. Maka banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari diturunkannya zakat di kota Madinah al-Munawwarah.

Ada beberapa hikmah dan fungsi zakat. Hal ini sesuai dengan apa yang pernah disampaikan oleh Ahmad Nuryadi Asnawi, selaku Syariah Compleance Bank Muamalat Indonesia ketika memberikan pembekalan kepada Relawan Ramadhan Baitulmaal Muamalat (BMM) pada tanggal 18 Juli 2012 di kantor Slipi, bahwa beberapa fungsi zakat, Pertama, fungsi ibadah dan keyakinan. Kewajiban zakat adalah ujian ketaatan bagi kaum muslimin, sekaligus pembuktian keyakinan bahwa sejatinya harta yang didapatkan adalah pemberian dari Allah SWT. Sehingga pembayaran zakat merupakan bentuk syukur atas karunia dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Kedua, fungsi sosial. Zakat merupakan ibadah yang akan memerangi jurang pemisah antara si kaya dan si Miskin. Sehingga tercipta kehidupan yang kondusif dan harmonis dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Ketiga, fungsi ekonomi. Zakat mempunyai fungsi dan peran ekonomi yang sangat signifikan dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat muslim. Melalui pemberdayaan dan pemberian zakat yang tepat sasaran, sehingga dana zakat yang terkumpul mampu diproduktifkan dengan baik dan benar. Keempat, fungsi pembentukan karakter dan mental. Dengan berzakat seseorang akan terbebas dari sifat kikir, dan akan bertambah kasih sayangnya kepada sesama. Karena melalui zakat, kita sudah bisa membiasakan diri untuk mencintai saudara-saudara kita yang lemah dalam hal finansial dan juga non-finansial.

Semoga beberapa fungsi dan peranan zakat yang telah penulis sebutkan di atas, akan semakin meneguhkan keimanan kita kepada Allah SWT. Selain itu, semoga akan semakin menumbuhkan kepercayaan bahwa seberapa besar pun dana zakat yang dikeluarkan, memanglah sangat dibutuhkan oleh mustahik zakat (penerima zakat).

Spritualitas Ekonomi Yang Terencana

Sebagai msyarakat muslim yang taat dan bijaksana, sudah sepatutnyalah kita merencanakan kapan akan membayar kewajiban zakat, kapan akan mendonasikan infaq, shadaqah, waqaf. Kesemuanya perlu direncanakan dengan perencanaan yang matang. Sehingga harta yang dimiliki akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Salah satu contoh harta yang berkah adalah harta yang dimilikinya akan selalu bertambah, dan ketaatan pemiliknya akan bertambah pula  kepada Allah SWT.

Maka dari itu, haruslah ada perencanaan yang matang. Jika zakat yang akan dikeluarkan, berarti perencanannya adalah sampai pada haul (batas satu tahun) dan nisab (batas mengeluarkan zakat), jika Infaq, Shadaqah, dan Waqaf yang akan dikeluarkan, maka bisa dikeluarkan setiap minggu dan bahkan bisa setiap hari. Diharapkan kesemuanya akan mampu mendatangkan keberkahan kepada kita dan harta yang kita kelolah, sehingga kita pun mampu merencanakan berapa jumlah investasi kelak di akhirat dengan baik dan benar. Semoga kita mampu mengamalkan semua ini, amien.

*Penulis Merupakan Perencana Keuangan serta Pengamat Ekonomi dan Perbankan Syariah FAI-UMJ

AddThis Social Bookmark Button

Ritual Mudik, Distribusi Pendapatan dan Perencanaan Keuangan

AGUSTUS 2012

Oleh: Hamli Syaifullah

Walaupun tidak disyariatkan oleh agama, orang Islam yang berada di perantauan menganggap mudik ataupun pulang kampung sebagai ritual wajib menjelang hari raya Idul Fitri. Serasa kurang afdhol (lengkap) jika tidak berkumpul bersama keluarga di kampung. Maka dari itu, jauh hari sebelum menjelang Idul Fitri telah dipersiapkan semuanya dengan matang dan detil. Bahkan sebelum datang bulan Ramadhan pun, hal ini telah menjadi planning (rencana) yang mulai diperbincangkan dan diperdebatkan.

Tak heranlah jika financial planning (perencanaan keuangan) sudah mulai dirancang jauh-jauh hari. Agar ketika mendekati ritual mudik tidak lagi merasa pusing memikirkan cost (biaya) yang harus dipergunakan. Akan tetapi lebih kepada teknis bagaimana prosesi mudik itu sendiri, entah dari pemesanan tiket, siapa saja yang akan dibawa mudik, berapa jumlah uang yang akan dibawa ke mudik, berapa lama waktu yang akan dihabiskan, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah lebih menitik beratkan kepada hal-hal yang bersifat teknis.

Apabila dilihat dari sisi ekonomi, mudik sangatlah bagus dalam menopang perekonomian tempat tujuan mudik. Maksudnya adalah kampung halaman si pemudik. Karena dengan adanya mudik ataupun pulang kampung, ada sebuah pendistribusian penghasilan yang dilakukan oleh orang-orang yang baru datang dari kota. Pendistribusian pendapatan tersebut akan menjadi nilai tambah bagi orang-orang yang ada di desa. Mengapa bisa demikian? Kebanyakan orang-orang yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota semata-mata hendak meningkatkan taraf ekonominya. Yang pada ahirnya untuk mencapai sebuah kesejahetraan hidup. Kesejahteraan ditandai dengan kemakmuran, yaitu meningkatnya konsumsi seiring meningkatnya pendapatan. Pendapatan meningkat sebagai hasil dari produksi yang meningkat pula.

Akumulasi dari penyisihan pendapatan inilah yang akan dibawa pulang oleh orang-orang muslim yang bekerja di kota. Dari penyisihan pendapatan tersebut, sebagian akan dihabiskan di kampung halaman. Sehingga akan terjadi sebuah penyaluran pendapatan yang selama ini berputar di kota dan untuk sementara akan terdistribusi ke desa. Secara kasap mata, akan nampak perubahan yang signifikan dari orang-orang yang berada di kampung tersebut. Sebuah peningkatan ekonomi yang disebabkan adanya keberkahan hari raya Idul Fitri dengan adanya orang-orang yang pulang kampung.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...