MEMPERTAHANKAN TAUHID AGAR HATI TIDAK SEMPIT
JANUARI 2012

Allâh SWT berfirman; “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 163).
Kewibawaan Kalimat Tauhîd
Tauhîd yang bermakna mengesakan Tuhan semesta alam adalah sebuah pengakuan dan sumpah seorang hamba akan Tunggalnya Rabbul Alamin. Allâh SWT tunggal dengan kesempurnaan dan keabadian-Nya. Berbeda dengan makhluk, bisa jadi seseorang tunggal dalam keheningan di rumah atau di hutan, namun ia tidak sempurna, karena makhluk masih membutuhkan makanan, minuman, udara, nafas dan bantuan makhluk lain, terlebih sepanjang apapun usia makhluk ia akan menemui masa wafatnya.
Demikianlah keesaan Allâh SWT, bagi yang memahami akan kewibawaan Allâh SWT, maka ia akan semakin faham keagungan Allâh SWT dan akan semakin menyempurnakan Tauhîd nya. Dalam pandangan syariat, untuk mengesakan Tuhan Semesta Alam, banyak kalimat yang dapat digunakan, antara lain; syahadat yaitu sumpah seorang hamba akan keesaan Allâh ‘Asyhadu an la ilâha illa Allâh’. Selain itu, dapat juga membaca tahlîl, La ilâha illa Allâh’. Kalimat tahlîl ini adalah kalimat Tauhîd, sepintas sangat ringan dibaca dan kalimatnya pun tidak panjang. Namun kewibawaannya sungguh sangat agung. Rasulullah SAW bersabda; “Jika kalimat la ilâha Illa Allâh ditimbang dengan langit dan bumi niscaya kalimat tahlîl itu akan jauh lebih berat timbangannya”. Dalam riwayat lain, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Al-asmâ’ wa Al-Shifât bahwa Ibnu Abbâs berkata; “Pengucapan kalimat Tauhîd adalah pangkal dari setiap ketakwaan”.
Kalimat Tauhîd Membawa Selamat
Begitu berwibawanya kalimat Tauhîd, hingga dengan mengucapkannya mampu menyelamatkan pengucap dari musibah dunia dan akhirat. Dikisahkan dalam Al-Qur’ân surat Al-Anbiya’: 87 tentang Nabi Yûnus as yang ditelan ikan besar, sungguh ketika di dalam ikan ia dalam keadaan payah, tanpa makanan dan minuman, bahkan dalam keadaan gelap gulita berada dalam samudra laut yang terdalam. Dalam kesulitan seperti itu Nabi Yûnus as menyeru dan munajat kepada Allâh SWT, diawali dengan kalimat Tauhîd, ‘La Ilâha Illa anta subhânaka inni kuntu min al-Dzalimîn’. Kalimat inilah yang mengundang kasih sayang Allâh hingga Nabi Yûnus as dibebaskan dari kesulitan yang amat berat.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dalam kitab sunannya bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Sebaik baik do’a adalah membaca kalimat Tauhîd”. Kalimat inilah yang membedakan seorang muslim dengan kafir, kalimat inilah yang menyelamatkan setiap pengucapnya dari api dunia dan api neraka. Maka itu ketika Muadz bin Jabal hendak diutus Rasulullah SAW ke negeri Yaman, Rasulullah berpesan; “Nanti akan datang ahli kitab bertanya kepadamu tentang kunci syurga, maka jawablah bahwa kunci syurga itu kalimat la ilâha illa Allâh”, demikian pesan Nabi saw sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya. Kalimat Tauhîd sejatinya terdiri dari nafy (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Dalam pandangan ulama tasawuf, penggunaan itsbat saja juga masuk ke dalam kalimat Tauhîd. Seperti pengucapan kalimat ‘Allâh ’ tanpa diawali dengan la ilâha illa. Bahkan lafadz Allâh tidak kalah hebatnya dengan pengucapan lafadz lainnya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahîh Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Tidak akan terjadi kiamat pada seseorang jika masih ada yang menyebut nama ‘Allâh’, ‘Allâh”. Demikian indahnya Nama Maha Suci, menyebut lafadz-Nya saja mampu menahan bencana terbesar di alam ini, kiamat. Terlebih bencana banjir, kebakaran dan kehinaan pasti kan tertahan jika setiap manusia mengucapkan ‘Allâh ’ ‘Allâh ’, mengesakan Allâh .
Mengesakan Tapi Jangan Mengabaikan
Tanyakan pada setiap jiwa muslim, apakah anda mengesakan Allâh? Jawabannya dipastikan; “Benar saya meyakini bahwa Allâh adalah Esa, dia tidak beranak dan diperanakan, Maha Pencipta dan tidak dicipta, Maha Raja langit dan bumi, Maha Memberi dan Mengasihi”. Namun perhatikan setiap pola fikir dan sikap sebagian muslimin yang terjebak dalam kemilauan dunia fana’, mengesakan Allâh swt, tapi mengabaikan ketergantungannya pada Allâh swt. Mengejar dunia seakan dunia memberikan dan memenuhi apa yang diinginkannya. Ini tercermin dari; siapa yang mereka idolakan? seberapa besar keberpihakan mereka pada Allâh swt? Bagaimana mereka bersikap pada syariat Allâh swt? Pertanyaan sederhana tadi cukup untuk mengukur kuat atau lemah seseorang dalam menjaga Tauhîd.
Ada yang berpendapat bahwa jika diringkas sesungguhnya tugas manusia di dunia hanyalah satu yaitu mempertahankan Tauhîd. Dasar pemahaman ini didasari keyakinan bahwa sebelum manusia hidup di dunia telah bertauhîd dan bersumpah bahwa Allâh adalah Tuhan Esa, Tuhan semesta Alam. Ini berdasarkan firman Allah SWT; “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman); “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab; “Betul (Engkau Tuhan kami)”. (QS. Al-A’raf: 172). Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah penegasan bahwa fithrah seorang manusia adalah bertauhid.
Untuk mempertahankan tauhid dewasa ini, nampaknya kita perlu belajar banyak pada para sahabat Nabi saw seperti Bilal bin Rabah. Bilal adalah seorang sahabat yang disiksa dengan cara ditindih batu besar beralaskan panasnya padang pasir, Bilal dipaksa untuk melepaskan tauhid, ajaran sayyiduna Muhammad saw. Kini, tidak salah juga kita belajar pada keteguhan dan kesabaran muslimin di palestina yang dijajah yahudi, dan juga pada muslimin papua yang masih minoritas dan berkekurangan muballigh, juga pada muslimin minoritas yang hidup di Eropa dan Amerika yang tetap teguh dalam tauhid. Makanya aneh, jika di kota besar ini, para da’i begitu banyak, majelis ta’lim bertaburan, masjid dan mushala terhampar di setiap kampung. Namun akidah dan keyakinan akan keramahan dan kasih sayang Allah swt terlupakan. Boleh jadi sebagian muslimin terjebak pada penyimpangan karena kurang dekatnya mereka pada orang orang shalih dan majelis majelis mulia yang terhampar di setiap lingkungan. Memang akan terasa berat menunda kenikmatan sejenak yang didepan mata, namun bukankah nikmat abadi yang tak pernah terlihat oleh mata dan tersirat dalam fikir telah menanti setiap jiwa suci yang selamat dari jebakan dunia. Maka itu, bergabunglah dengan orang orang selamat. Wa Allah A’lam[]
Aang Saeful Milah, M.A
*Dosen IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten.






