Mengundang Cinta Allah Dengan Sayangi Binatang
OKTOBER 2011
Aang Saeful Milah, M.A*
Setidaknya ada lima surah dalam al-Qur’ân yang dinamai dengan nama binatang, Al-Baqarah (sapi), Al-Naml (semut), Al-Fîl (gajah), Al-Ankabût (laba laba) dan Al-Nahl (lebah). Penamaan surah dalam al-Qur’ân dengan nama binatang tentu memiliki tujuan dan rahasia agung. Dalam perspektif Ulumul Qur’ân nama surah dalam al-Qur’an selalu berkaitan erat dengan uraian yang terkandung dalam surah tersebut. Surah al-Fil misalnya, di dalamnya mengandung uraian tentang pasukan
bergajah.
Di sisi lain, munculnya kisah binatang dalam Al-Qur’ân memberi kesan adanya interaksi besar antara manusia dengan binatang dari zaman ke zaman. Anjing misalnya, yang menjadi pembahasan menarik dalam surah al-Kahfi, seekor anjing (Kalb) yang turut serta dalam perjalanan orang orang shaleh. Lainnya, seekor sapi (Baqarah) yang menjadi ujian bagi umat Nabi Musa as, itu terkisahkan dengan dramatis dalam surah al-Baqarah. Belum lagi tentara Nabi Sulaiman as yang di antaranya terdiri dari binatang seperti burung hud hud, kisah ini juga terurai jelas dalam surah Al-Naml.
Nabi S.A.W pun Tak Kecewakan Binatang
Dalam kitab kitab sirah dikisahkan bahwa para nabi sejak Adam as hingga Muhammad, SAWtercatat pernah menggembala binatang, seperti; Adam as, Ibrahim.as, Isma’il as, dan Muhammad.SAW. Ibnu Sa’ad seorang ahli sejarah meriwayatkan bahwa nabi Muhammad SAWmemiliki unta dan kambing perahan masing masing tujuh ekor, itu belum termasuk kuda dan bighal. Dan diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari bahwa binatang binatang peliharaan Nabi SAWitu diberi nama nama indah seperti; al-Lahif, al-Ward, ’Ajwah, Barakah, Suqya, Qomar dan lainnya.
Tak ada yang memungkiri bahwa Rasululllah SAWadalah seorang penyayang dan ramah pada setiap makhluk, tak pernah mengecewakan siapapun, meskipun ia binatang. Siapa saja dari sahabatnya yang berperilaku tidak ramah pada binatang, pasti kan dibimbingnya. Diriwayatkan dalam sirah Ibni Hisyam, suatu ketika ada unta mengamuk di Madinah al-Munawwarah, melihat unta yang tak terkendali itu, sahabat-sahabat Nabi SAWmenyiapkan kandang sebagai sebuah perangkap. Melihat itu Nabi SAW menegur sahabat dan berkata; ‘lepaskan unta itu! Para sahabat khawatir jika dilepaskan sang unta kan lukai Nabi Muhammad SAW, dan Nabi SAWpun menghampiri unta tersebut. Melihat kedatangan Nabi SAWunta itu menciumi Nabi SAWdan seakan membisikkan sesuatu di telinga Nabi SAW, usai menenangkan unta, Nabi SAWberkata; ’siapakah pemilik unta ini? Sahabat pemilik unta pun menghampiri Nabi SAWdan berkata; ‘saya pemilik unta itu ya Rasulullah. Rasul SAWbersabda; ‘Ketahuilah barusan unta mu berkeluh pada ku akan perlakuan mu yang terlalu keras dalam mempekerjakannya hingga ia memiliki waktu istirahat sedikit.
Demikianlah akhlak Rasul SAWyang mesti dijadikan uswah oleh umatnya tuk senantiasa sayangi dan tidak kecewakan makhluk apapun, meski pada seekor binatang. Terlebih, kini sering kita dapati penjual binatang, burung, ayam, kelinci dan binatang lainnya, manusia kian mudah mendapatkannya namun kurang dalam merawatnya.
Meniru Rahman Allah S.W.T
Allah SWTRahman dan Rahim. Dalam tafsir Kementerian Agama rahman dan rahim diartikan; Allah SWTMaha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam bahasa Indonesia kasih dan sayang memiliki makna yang sama, nyaris tak ada perbedaan. Berbeda dengan bahasa syariat, Ibnu Abbas. r.a menjelaskan bahwa Rahman bermakna kasih sayang untuk seluruh makhluk; jin, manusia mukmin atau kafir, binatang maupun tumbuh tumbuhan semuanya mendapatkan Rahman-nya Allah SWT. Sedangkan Rahim adalah kasih sayang khusus bagi mukmin berupa ketenangan (ithmi’nan) dan syurga Allah SWT.
Sifat Rahman dan Rahim Allah SWTitu terpancar ke seluruh makhluk, nyatanya kita dapat melihat makhluk Allah SWTmemiliki sifat kasih sayang, termasuk binatang. Tidak jarang kita saksikan antar binatang saling bermain dan bercanda, bahkan tidak sedikit manusia yang sangat menyayangi binatang, meskipun terkadang melebihi kasihnya pada sesama. Mengapa demikian? karena Allah meletakkan sifat kasih sayang-Nya pada setiap makhluk.
Maka itu, untuk mencapai kemuliaan di sisi Allah SWThendaknya manusia meniru sifat-sifat Allah SWT. Karena, disinilah letak keunggulan manusia diantara makhluk lainnya, sebagai khalifah. Dalam pandangan Ibnu Arabi, dipilihnya manusia sebagai khalifah karena manusia memiliki keistimewaan luhur yaitu sebagai lokus penampakan nama nama (asma) dan sifat sifat Allah SWT. Kita dapati manusia pemaaf, bijaksana, pemberi bahaya, pemberi manfaat itu semua merupakan pantulan dari asma-Nya.






