Ibrah

Mewarnai Kreativitas Anak Dengan Cinta

FEBRUARI 2012

Sifat dasar manusia berbeda-beda, baik temperamen, gaya, sikap, maupun emosinya. Begitu juga seorang anak, akan berbeda dari anak lain, baik potensi maupun hal lainnya. Masing-masing anak memerlukan karekteristik pengalaman yang berbeda untuk mengembangkan kreativitasnya.

Orang tua memprediksi dan menentukan pengalaman apa saja yang akan bermanfaat untuk pengembangan kreativitasnya. Bahkan, untuk tahap-tahap tertentu perlu memilihkan pengalaman mana yang mesti dilalui anak. Misalnya ketika masih dalam kandungan, orang tua bisa memilihkan anak antara mendengarkan lagu pop dan mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur’an.

Dengan kata lain, orang tua menjadi faktor penentu pengembangan kreativitas anak. Salah satu unsur dalam menumbuhkan kreativitas anak adalah dengan memotivasi kelebihan anak. Kelebihan yang harus terus digali untuk menumbuhkan dan mengembangkan secara kontinyu bakat dan kemampuan yang dimiliki anak.

Menumbuhkan Rasa Senang

Seseorang yang sudah meyenangi suatu kegiatan, maka hal-hal yang orang lain tampak berat akan terasa ringan baginya. Rasa ringan itu diperoleh orang yang sedang gembira karena ia tidak terbebani oleh beban psikologis. Tidak terbebani tuntutan yang memberatkan.

Orang tua yang dapat menciptakan suasana menyenangkan di rumah dan sekelilingnya sudah merupaka imbalan tersendiri bagi anak. Anak dapat mengekspresikan dirinya dengan perasaan aman, tidak takut dihukum. Dengan keleluasaan mengekspresikan diri itu, tanpa menekan perasaan-perasaan dan emosi anak, ia akan berkembang harga dirinya. Seiring dengan perkembangan harga diri, kreativitas sebagai daya cipta yang bersifat individual akan meningkat pesat.

Langkah orang tua menciptakan suasana menyenangkan bisa ditempuh dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengembangkan pola-pola komunikasi yang positif. Di sini, orang tua seyogyanya menghindarkan diri dari penggunaan kata-kata yang bersifat membebani anak. Seperti kata “harus” yang berkonotasi tidak boleh memilih alternative lain. Orang tua bisa menggunakan kata “seyogyanya”, “sebaiknya”, dan kata lain yang terasa ringan.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

MEMPERTAHANKAN TAUHID AGAR HATI TIDAK SEMPIT

JANUARI 2012


Allâh  SWT berfirman; “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 163).

 

Kewibawaan Kalimat Tauhîd

Tauhîd yang bermakna mengesakan Tuhan semesta alam adalah sebuah pengakuan dan sumpah seorang hamba akan Tunggalnya Rabbul Alamin. Allâh SWT tunggal dengan kesempurnaan dan keabadian-Nya. Berbeda dengan makhluk, bisa jadi seseorang tunggal dalam keheningan di rumah atau di hutan, namun ia tidak sempurna, karena makhluk masih membutuhkan makanan, minuman, udara, nafas dan bantuan makhluk lain, terlebih sepanjang apapun usia makhluk ia akan menemui masa wafatnya.

Demikianlah keesaan Allâh SWT, bagi yang memahami akan kewibawaan Allâh SWT, maka ia akan semakin faham keagungan Allâh SWT dan akan semakin menyempurnakan Tauhîd nya. Dalam pandangan syariat, untuk mengesakan Tuhan Semesta Alam, banyak kalimat yang dapat digunakan, antara lain; syahadat yaitu sumpah seorang hamba akan keesaan Allâh  ‘Asyhadu an la ilâha illa Allâh’. Selain itu, dapat juga membaca tahlîl, La ilâha  illa Allâh’. Kalimat tahlîl ini adalah kalimat Tauhîd, sepintas sangat ringan dibaca dan kalimatnya pun tidak panjang. Namun kewibawaannya sungguh sangat agung. Rasulullah SAW bersabda; “Jika kalimat la ilâha  Illa Allâh ditimbang dengan langit dan bumi niscaya kalimat tahlîl itu akan jauh lebih berat timbangannya”. Dalam riwayat lain, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Al-asmâ’ wa Al-Shifât bahwa Ibnu Abbâs berkata; “Pengucapan kalimat Tauhîd  adalah pangkal dari setiap ketakwaan”.

 

Kalimat Tauhîd  Membawa Selamat

Begitu berwibawanya kalimat Tauhîd, hingga dengan mengucapkannya mampu menyelamatkan pengucap dari musibah dunia dan akhirat. Dikisahkan dalam Al-Qur’ân surat Al-Anbiya’: 87 tentang Nabi Yûnus as yang ditelan ikan besar, sungguh ketika di dalam ikan ia dalam keadaan payah, tanpa makanan dan minuman, bahkan dalam keadaan gelap gulita berada dalam samudra laut yang terdalam. Dalam kesulitan seperti itu Nabi Yûnus as menyeru dan munajat kepada Allâh SWT, diawali dengan kalimat Tauhîd, ‘La Ilâha Illa anta subhânaka inni kuntu min al-Dzalimîn’. Kalimat inilah yang mengundang kasih sayang Allâh hingga Nabi Yûnus as dibebaskan dari kesulitan yang amat berat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dalam kitab sunannya bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Sebaik baik do’a adalah membaca kalimat Tauhîd”. Kalimat inilah yang membedakan seorang muslim dengan kafir, kalimat inilah yang menyelamatkan setiap pengucapnya dari api dunia dan api neraka.  Maka itu ketika Muadz bin Jabal hendak diutus Rasulullah SAW ke negeri Yaman, Rasulullah berpesan; “Nanti akan datang ahli kitab bertanya kepadamu tentang kunci syurga, maka jawablah bahwa kunci syurga itu kalimat la ilâha illa Allâh”, demikian pesan Nabi saw sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya. Kalimat Tauhîd sejatinya terdiri dari nafy (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Dalam pandangan ulama tasawuf, penggunaan itsbat saja juga masuk ke dalam kalimat Tauhîd. Seperti pengucapan kalimat ‘Allâh ’ tanpa diawali dengan la ilâha illa. Bahkan lafadz Allâh tidak kalah hebatnya dengan pengucapan lafadz lainnya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahîh Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Tidak akan terjadi kiamat pada seseorang jika masih ada yang menyebut nama ‘Allâh’, ‘Allâh”. Demikian indahnya Nama Maha Suci, menyebut lafadz-Nya saja mampu menahan bencana terbesar di alam ini, kiamat. Terlebih bencana banjir, kebakaran dan kehinaan pasti kan tertahan jika setiap manusia mengucapkan ‘Allâh ’ ‘Allâh ’, mengesakan Allâh .

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Peran Politik Wanita Muslim

DESEMBER 2011

Wanita  dalam dunia politik sudah menjadi pemandangan yang biasa di era modern ini. Namun selalu saja menyisakan pro dan kontra juga keraguan akan kemampuannya. Benarkah wanita tak pantas berkarir di kancah politik?

 

Isu tentang Status Wanita dalam Islam akan selalu menjadi wacana yang selalu mengundang pro dan kontra. Meskipun dalam satu segi hak-hak wanita sudah dilegalisasikan dan tertuang dalam al-Quran dan Hadis Nabi SAW, namun ternyata setelah Rasulullah SAW wafat, kondisi wanita Islam (baca: Arab) dianggap mengalami perubahan yang signifikan berkaitan dengan konsep kebebasan wanita seiring dengan perubahan interpretasi para ulama fiqh terhadap validitas sumber-sumber hak wanita dalam Islam. Sementara itu ada stigmatisasi dalam masyarakat kita, bahwa wanita tak perlu berperan di luar rumah.Begitu pun halnya dengan peran wanita dalam dunia politik.

Fenomena  banyaknya wanita karir yang terjadi belakangan ini  membuat setiap masyarakat setidaknya bisa menoleh ke belakang sejenak, melihat kembali dalam nash tentang ketentuan persamaan hak antara pria dan wanita dalam hal bekerja di luar rumah.

Wanita adalah manusia yang dibebani kewajiban sebagaimana halnya pria.Ia berkewajiban menyembah-Nya, menegakkan agama, menunaikan kewajiban, menjauhkan yang haram, berda'wah dalam kebaikan serta amar ma'ruf nahyi munkar.Wahyu Illahi mencakup pria dan wanita, kecuali ada dalil yang menerangkan tentang spesifikasi wahyu hanya untuk kaum pria. Manakala Allah SWT berfirman: yaa ayyuhan naas (wahai sekalian manusia) atau yaa ayyuhal ladziina aamanuu (hai orang-orang yang beriman), maka wanita juga termasuk di dalamnya. Ummu Salamah ketika mendengar seruan Nabi: "ayyuhan naas" (wahai manusia….) Ia segera menjawab panggilan tersebut, padahal ia tengah asyik dengan kesibukannya. Para sahabat heran dengan sikapnya yang begitu tergesa-gesa."Saya juga manusia", kata Ummu Salamah saat itu.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Haji Mardud atau Haji Maqbul atau Haji Mabrur?

NOVEMBER 2011

Drs. Azwar Chatib, M.Si

Dosen Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Melaksanakan ibadah haji tentunya tak sekadar untuk mendapatkan gelar haji, melainkan mengharap ridho Allah semata, dengan begitu amalannya diterima dan menjadi tidak sia-sia

 

Apa Haji Mabrur itu

Kata mabrur berasal dari bahasa Arab yaitu al birrun yang artinya ‘baik’, dan al mabrur sendiri berarti yang penuh kebaikan. Dari arti katanya sendiri telah jelas bahwa haji mabrur adalah haji yang penuh dengan kebaikan. Sebagian ulama mengatakan haji mabrur itu adalah haji yang tidak ada maksiat dan cacat cela di dalamnya.

Untuk mengetahui makna haji mabrur, perlu diketahui mengenai tingkatan-tingkatan haji. Tingkatan haji itu ada tiga, yang pertama haji mabrur, yang kedua haji maqbul, dan yang ketiga haji mardud. Haji maqbul (diterima) adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah, dan telah menggugurkan kewajiban berhaji. Haji mardud (ditolak) adalah haji yang di tolak oleh Allah karena di dalamnya dicampuri oleh perbuatan dosa serta maksiat kepada Allah, tidak menggugurkan kewajiban berhaji dan menjadi sia-sia ibadah hajinya.

Haji mabrur merupakan tingkatan  haji yang tertinggi, yaitu haji yang diterima oleh Allah, telah menggugurkan kewajiban berhaji, dan dapat mengantarkan pelakunya kepada perilaku yang lebih baik dari sebelumnya.

 

Menggapai Kemabruran dalam Berhaji

Sekalipun untuk menggapai predikat mabrur dari Allah begitu sulit, namun semua itu dapat diupayakan jika kita bersungguh-sungguh. Salah satunya adalah dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin mendapat gelar haji, atau karena hal-hal keduniawian yang lain.

Mengikuti cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu dengan melaksanakan rukun haji, wajib haji, dan sunah-sunah yang diajarkan. Ini merupakan ilmu yang harus dimiliki bagi orang yang ingin berhaji. Tanpa ilmu, amalan yang dilakukan akan sia-sia.

Berhaji menggunakan harta yang halal,  halal dalam kepemilikannya dan halal pula cara mendapatkannya. Sia-sia sajalah apabila kita berhaji dengan menggunakan uang yang haram, misalnya uang hasil korupsi atau mencuri. Allah akan menolak amalan tersebut.

Tidak ada maksiat dan rafas (perbuatan tercela) di dalamnya. Dalam berhaji selalu melaksanakan yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangannya.

 

Ciri Orang Mendapatkan Haji Mabrur

Seseorang yang telah meraih haji yang mabrur, tidak hanya hubungan dengan Allah yang menjadi baik, tetapi hubungan dengan sesamapun menjadi semakin baik. Dia akan tampil dengan perilaku yang baru yang lebih baik dari sebelumnya, berakhlak mulia dan lebih islami. Dia juga tampil dengan memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain.

Dalam hadits Rasulullah: “Al hajjul mabrrur laisa lahuu jazaa illal jannah.” HR Bukhari,  bahwa haji mabrur akan selalui ditandai dengan perubahan dalam diri pelakunya dengan mengalirnya amal saleh yang tiada putus-putusnya.

 

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Pada hakikatnya haji yang mabrur membuat pelakunya semakin peka dan peduli dengan keadaan sosial disekitarnya. Sehingga ia memposisikan diri untuk selalu berbuat baik dan senantiasa berbagi dengan orang lain. Hal ini merupakan aplikasi dari serangkaian ibadah haji yang telah dilaksanakannya.

Setiap rangkaian ritual ibadah haji yang dilakukan itu mengandung makna dan hikmah tersendiri yang mengantarkan pelakunya kepada Sang Pencipta dan hakikat dirinya sebagai manusia.  Hal ini menjadikan dia tahu dan sadar bahwa hajinya bukan sekadar tanggung jawab personal, tapi juga menyadari bahwa dia punya tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Tanggung jawab itu ditunjukkan dengan perbuatan nyata sehari-hari yang bermanfaat bagi banyak orang. Dengan begitu keberadaannya menjadi sangat berarti bagi orang-orang disekitarnya. Inilah yang menjadi nilai tambah pada haji mabrur, tidak hanya mulia di mata Allah tetapi juga mulia di hadapan manusia.

 

Menjadi Mabrur Merupakan Sebuah Proses

Menjadi haji mabrur merupakan sebuah proses panjang yang harus terus diupayakan. Tak hanya sebatas saat melaksanakan ibadah haji, tapi juga harus berlanjut sampai setelah kepulangan dari berhaji. Memang tak mudah, tapi ini bukan suatu hal yang mustahil bagi orang yang bersungguh-sungguh dan kuat imannya.

Untuk itu, sangat diperlukan sikap selalu istiqomah dalam menaati dan tuduk kepada Allah SWT, agar akhlak yang baik itu senantiasa tertanam di dalam diri dan menjadi kepribadian diri. Bila kepribadian seperti itu terus berlanjut sampai ajal menjemput, insya Allah akan mendapatkan kemabruran yang berujung diridhoi Allah untuk masuk ke syurga yang telah dijanjikan-Nya.  •

AddThis Social Bookmark Button

Mengundang Cinta Allah Dengan Sayangi Binatang

OKTOBER 2011

Aang Saeful Milah, M.A*

Setidaknya ada lima surah dalam al-Qur’ân yang dinamai dengan nama binatang, Al-Baqarah (sapi), Al-Naml (semut), Al-Fîl (gajah), Al-Ankabût (laba laba) dan Al-Nahl (lebah). Penamaan surah dalam al-Qur’ân dengan nama binatang tentu memiliki tujuan dan rahasia agung. Dalam perspektif Ulumul Qur’ân nama surah dalam al-Qur’an selalu berkaitan erat dengan uraian yang terkandung dalam surah tersebut. Surah al-Fil misalnya, di dalamnya mengandung uraian tentang pasukan

bergajah.

Di sisi lain, munculnya kisah binatang dalam Al-Qur’ân memberi kesan adanya interaksi besar antara manusia dengan binatang dari zaman ke zaman. Anjing misalnya, yang menjadi pembahasan menarik dalam surah al-Kahfi, seekor anjing (Kalb) yang turut serta dalam perjalanan orang orang shaleh. Lainnya, seekor sapi (Baqarah) yang menjadi ujian bagi umat Nabi Musa as, itu terkisahkan dengan dramatis dalam surah al-Baqarah. Belum lagi tentara Nabi Sulaiman as yang di antaranya terdiri dari binatang seperti burung hud hud, kisah ini juga terurai jelas dalam surah Al-Naml.

Nabi S.A.W pun Tak Kecewakan Binatang

Dalam kitab kitab sirah dikisahkan bahwa para nabi sejak Adam as hingga Muhammad, SAWtercatat pernah menggembala binatang, seperti; Adam as, Ibrahim.as, Isma’il as, dan Muhammad.SAW. Ibnu Sa’ad seorang ahli sejarah meriwayatkan bahwa nabi Muhammad SAWmemiliki unta dan kambing perahan masing masing tujuh ekor, itu belum termasuk kuda dan bighal. Dan diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari bahwa binatang binatang peliharaan Nabi SAWitu diberi nama nama indah seperti; al-Lahif, al-Ward, ’Ajwah, Barakah, Suqya, Qomar dan lainnya.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...