Ibrah

More Articles...

Dalam Suka dan Duka, Teruslah Berusaha

DESEMBER 2012

Ahmad Khairudin

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik baik dan (bencana) yang buruk buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)“. (Q.s.Al A’raf 7:168).

Dalam kehidupan ini kita  akan terus berproses menjalani kehidupan, melewati berbagai proses pembelajaran kehidupan, serta  mengalami sebuah fase yang namanya pendewasaan diri, yang biasanya ditandai dengan hadirnya berbagai ujian ataupun nikmat kehidupan.  Oleh karena itu banyak hal yang harus kita siapkan untuk menempuh fase ini. Karena, terkadang ujian itu berbentuk nikmat dan terkadang ujian itu berbentuk kesusahan.

Kesiapan disini, meliputi bagaimana kita menyiapkan diri untuk menempuh fase ini, mengintrospeksi diri dan menyeleksi sikap yang mana seharusnya dimiliki oleh seseorang yang dikatakan dewasa. Banyak bertanya kepada orang yang dipercayai yang sekiranya bisa membimbing kita untuk belajar banyak  dari dia sebagai bekal buat kita dalam mendewasakan diri dalam kondisi hati baik suka ataupun duka.

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Menikmati Hidup Adalah Pilihan

NOPEMBER 2012

AHMAD KHAIRUDIN *Trainer dan Motivator Pendidikan

Setiap waktu yang berlalu tiap detiknya bahkan memang ada satu waktu yang memang sengaja kita khususkan untuk berdoa kepada Allah. Tentu kita berdoa kepada Allah SWT agar Dia memberikan kenikmatan dunia dan kebahagiaan di akhirat. Ini menjadi sebuah alasan dasar ketika seseorang ditanya apa tujuan hidupnya. Itulah sifat dasar manusia, ingin sekali menikmati indahnya dunia dan manisnya akhirat. Tapi apalah arti sebuah kenikmatan hidup yang dimaksud tanpa adanya tujuan yang lebih mulia yaitu mengharap ridho Allah SWT.

Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan seseorang hamba untuk mencari ridho Allah merupakan sebuah amal saleh, contohnya perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia atau berdakwah. Jika kita memaknainya dengan nilai keikhlasan, itu akan menjadi nikmat yang diberikan oleh Allah langsung kepada kita. Contoh lain, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih baik diri sendiri maupun keluarga. Memperluas wawasan dengan membaca dan belajar terutama tentang agama, berbicara dengan sopan kepada orang tua, menyayangi orang yang umurnya lebih muda, mengingatkan orang tentang akhirat.

Menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang tidak hanya kepada sesama manusia tapi juga kepada binatang, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain. Serta, membalas kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran. Semua ini merupakan cara kita menikmati kehidupan yang berbuah amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah. Karena, menikmati kehidupan adalah pilihan, antara sikap kita mau atau tidak mensyukuri tiap hal yang kita lakukan. Sebab, jika setiap aktivitas yang kita lakukan diniatkan ikhlas untuk Allah, mungkin kita bisa menikmati kehidupan dengan cara yang lain, dengan cara yang sederhana, dan dengan sebuah nilai keihklasan yang berbuah surga. Wallahu a’lam.

Do’a Sederhana kunci dari kebaikan. “ Robbana atina fi ddunya hasanah wa fi l akhiroti hassanah wa qina adza bannar “Artinya, : “Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka.” Sebuah Do’a yang tentunya kita sudah hafal me-lafadz-kannya, doa yang sudah sering kita baca dalam kehidupan sehari-hari, pasti banyak dari kita hafal dari do’a tersebut, namun masih ada yang menyepelekan do’a dalam hidupnya, mereka merasa cukup sehingga doa bukan lagi sebuah alat komunikasi yang di gunakan untuk berinteraksi langsung pada Allah, namun hanya sebuah lantunan ucapan yang dilafadzkan kemudian diaminkan. Padahal do’a sederhana ini adalah kunci dari kebaikan, sebuah do’a yang singkat namun meminta nikmat besar di dalamnya, sebuah nikmat kebaikan dunia dan akhirat dan memohon agar dijauhkannya dari siksa api neraka. Menikmati Indahnya Dunia dan Manisnya Akhirat Kerjakan apa saja yang telah menjadi hak dan kewajibanmu, karena kebahagiaan hidupmu terletak di situ. (Musthafa al-Gholayani).

Bicara mengenai bagaimana menikmati kehidupan dunia tentu yang kita cari adalah kesuksesan, karena kesuksesan adalah akar dari buah kebahagiaan. Mata terkadang lebih jujur daripada hati, ia mampu langsung mengeluarkan ekspresi ketika melihat apa yang membuatnya senang. “Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu.Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala bagi mereka dengan tanpa batas (di akhirat)” (QS. Az Zumar:10).

Manusia sering tergoda dengan manisnya dunia dengan berbagai macam fasilitas yang tersedia, dan tidak sedikit yang akhirnya melupakan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah. Bahkan, mereka sangat mencela berbagai kepahitan di dunia ini dengan berbagai macam umpatan, keluh kesah ataupun amarah. Terlihat sebagian manusia yang menghina seseorang menderita karena berjuang mencari harta dan rezeki yang halal serta terbebas dari unsur kemaksiatan, atau minuman keras dan perusakan citra agama yang telah mewabah di negara kita ini. Hendaklah kita mengetahui bahwa kepahitan dunia adalah kemanisan akhirat, begitu pula sebaliknya kemanisan dunia adalah kepahitan di akhirat.

Sungguh, lebih baik bila seseorang beralih dari kepahitan sementara kepada kemanisan abadi daripada sebaliknya. Jika ini belum bisa kita pahami, maka perhatikanlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam yang artinya: “Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR. Muslim) Kebanyakan manusia mengutamakan kemanisan sementara dengan mengorbankan kemanisan abadi, serta tidak kuasa menanggung kepahitan sesaat untuk mendapatkan kemanisan abadi. Kehinaan sesaat untuk meraih kemuliaan abadi, serta ujian sesaat untuk mendapatkan kesentosaan abadi. Baginya yang ada sekarang adalah nyata, sedangkan yang nanti masih gaib. Imannya lemah dan kekuasaan nafsu benar-benar kukuh, sehingga lahirlah sikap mengutamakan dunia dan penolakan terhadap akhirat. Inilah keadaan mereka yang pandangannya tertuju hanya kepada perkara-perkara nyata, permulaan, dan dasarnya saja.

Maka ajaklah diri kita untuk melihat apa yang dipersiapkan oleh Allah, yaitu Surga akhirat yang membiasakan kenikmatan abadi, kebahagiaan selamanya, dan kemenangan paling besar. Serta kepada apa yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang yang malas dan lalai serta tidak menjadikan syariat sebagai landasan mencari kenikmatan/rezeki. Yaitu, berupa kehinaan, hukuman, dan penyesalan yang kekal. Pilihlah mana di antara keduanya yang lebih layak untuk kita ambil. Karena menikmati kehidupan adalah pilihan, dan hasilnya adalah apa yang telah kita tanam sebelumnya dalam kehidupan ini, baik untuk dunia, maupun akhirat. Tentunya dengan berbagai konsekuensi yang harus diterima berdasarkan pilihan tersebut.

Meskipun terkadang dalam memilih ada kesalahpahaman, masih ada waktu bagi kita untuk mulai memperbaikinya dari awal. Memperhitungkan langkah kecil yang akan kita buat dengan matang, melandaskan semua niat hanya karena Allah. Dan tetap bersyukur dengan proses hidup yang diberikan Allah agar kita bisa menjalani semua dengan usaha dan ikhtiar dengan selalu bertawakkal pada-Nya. Karena semua berasal dari Nya, dan akan kembali pada-Nya. Wallahu ‘Alam.

AddThis Social Bookmark Button

NILAI KEBAIKAN DARI SEBUAH USAHA

OKTOBER 2012

*Bagas Triyatmojo, S.T

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhan-mulah engkau berharap” [QS. Al-Insyirah : 5 - 8].

Hidup ini indah. Bagaimana tidak? Begitu banyak nikmatNya yang diberikan kepada makhlukNya, secara cuma - cuma, yang kita tidak perlu mengusahakannya. Udara untuk bernafas, darah yang mengalir, jantung yang tetap memompa, paru - paru yang menghirup dan menghembuskan. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Ada pula, sesuatu yang harus kita usahakan untuk mendapatkannya, kecerdasan, kekayaan, kesuksesan, dan banyak hal lainnya.

Sesuatu hal yang harus kita usahakan itu, ada yang mudah, ada yang sulit. Namun sekali lagi, betapa Maha Baiknya Allah, karena dalam firmannya, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Tiada hal yang sulit, melainkan ada kemudahan menyertainya. Maka seseorang yang beriman akan yakin, bahwa setiap masalah, setiap ujian, setiap halangan dalam mencapai sesuatu adalah mudah, karena di dalamnya ada pertolongan Allah, yang dijemput dengan usaha, do’a dan kepasrahan sebanyak-banyaknya. Kepasrahan (tawakkal) adalah bagian akhir setelah dilakukannya do’a dan usaha. Tidak ada gunanya kita berserah, berharap, pasrah, bila usaha pun tidak nyata dan do’a pun tidak ada. Berusahalah, berdo’alah, baru pasrah.

Menyeimbangkan Usaha dengan Do’a.

Usaha, adalah seperti namanya, Usaha. Ya, hanya Usaha. Dengan usaha, kita belum tentu mendapatkan apa yang kita inginkan. Namanya juga hanya usaha. Itulah alasan kita berusaha, karena tidak tahu akan mendapatkan sesuatu atau tidak, maka kita mencobanya, dengan usaha. Usaha adalah segala hal yang masih mungkin kita lakukan sebagai manusia. Namun adakalanya, usaha-usaha kita terkendala karena keterbatasan kita sebagai manusia, kita tidak mampu lagi mengusahakannya, karena lelah setelah sedemikian banyaknya usaha, atau karena kelemahan kita.

Kita sangat perlu untuk mengakui bahwa kita lemah, karena saat itulah kita membutuhkan Yang Maha Kuat, Yang Maha Perkasa, di sinilah peran do’a, saat kita meminta kepadaNya. Orang yang merasa dirinya kuat untuk menampung segala beban kehidupan, tidak akan pernah terpikir untuk berdo’a. Tetapi saat kita sadar bahwa kita lemah, bahwa kita tidak mampu, maka akan muncul kesadaran untuk bertumpu, untuk mencari sandaran yang Maha Kokoh, lalu meminta. Meminta apa? Mintalah kekuatan. Di sinilah kita mendapatkan kekuatan yang sebenarnya. Orang yang sedari awal merasa dirinya kuat, kesombongannyalah yang membisikinya demikian. Namun orang lemah yang meminta kepada Allah untuk dikuatkan, kekuatannya diliputi oleh kerendahan hati, karena sadar akan makna Laa haula walaa quwwata illa billah (tiada ada daya dan kekuatan melainkan datangnya dari Allah), berbeda sekali.

Sederhananya, usaha dan do’a adalah sesuatu yang harus berjalan beriringan. Tidak timpang sebelah. Usaha perlu ada, karena tidak mungkin kita berpindah kalau tidak bergerak, dan pengiringnya adalah do’a, karena kita tidak tahu, kapan masalah akan membuat kita kesulitan bergerak. Do’a akan mempermudah setiap usaha.

Sejauh Mana Harus Berusaha?

Orang yang nyaris berhasil, akan gagal, ketika dia terlena dengan ke-hampir berhasil-annya, dan berhenti berusaha. Orang yang nyaris gagal, akan berhasil, ketika dia bangkit dan berusaha mengubah ancaman kegagalannya, menjadi keberhasilan.

Selama kita masih mengusahakan sesuatu, selama itu pula peluang untuk berhasil akan tetap bersinar. Tetapi bila kita tidak berusaha, kita PASTI gagal. Ibarat melakukan perjalanan ke suatu tujuan, kita pasti akan sampai selama tetap berjalan, sekalipun tersesat, sekalipun berputar putar karena kebingungan, pada akhirnya kita akan sampai. Namun bila kita tidak berusaha bergerak, PASTI kita tidak akan pernah sampai. Karena itu, usaha adalah sesuatu yang perlu dilakukan terus menerus, selama kita masih mengharapkan keberhasilan.  Perlu dicatat bahwa “terus menerus” bukan berarti tidak beristirahat.

Berusahalah sungguh-sungguh hingga tuntas, iringi dengan do’a yang pantas, kepasrahan yang ikhlas, maka keberhasilan telah menanti dengan jelas.

Aku tidak mampu.”

Kita tidak harus bisa, kita tidak harus mampu, tapi kita perlu tetap berusaha, lalu lihatlah bagaimana Allah Maha Mampu untuk membuat kita mampu. Di dalam proses usaha itulah kita belajar, belajar dari kesalahan, belajar dari pengalaman, yang pada akhirnya membuat kita mampu. Allah sendiri yang telah berjanji, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…..”. Di saat kita tidak sanggup akan suatu ujian atau masalah, maka tetaplah berusaha, tetaplah berdo’a, kita akan dibuat sanggup olehNya. Insya Allah.

Bagaimana bila tidak berhasil juga setelah berusaha? Maka yang kita perlu lakukan adalah mendefinisikan kembali apa itu berhasil.

Dalam banyak kasus, seseorang menganggap keberhasilan adalah ketika tergapainya apa yang ditargetkan, tercapainya apa yang diinginkan. Kita harus tahu, terkadang yang kita inginkan sebenarnya tidak cukup baik untuk kita. Boleh jadi di mata kita baik, tapi mungkin tidak di mata Allah, Allah Maha Tahu, sedang kita tidak tahu. Contoh sederhana, kita sedang mengusahakan untuk memperoleh jabatan atau kepemimpinan tertentu, tapi Allah lebih tahu, bisa jadi kita yang sekarang, belum mampu adil bila mendapatkan jabatan atau kepemimpinan tersebut, yang pada akhirnya, memberatkan pertanggungjawaban kita di akhirat kelak.

Pastikan yang Kita Usahakan itu Sesuatu yang DiridhaiNya

Berbaiksangkalah kepada Allah dalam setiap keadaan, saat kita berusaha namun ternyata berakhir bukan dengan keberhasilan. Maka, yakini saja itu bukan akhirnya, dan lanjutkanlah usaha-usaha kita. Ketahuilah, sekalipun kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita memperoleh pembelajaran, sepanjang apa yang telah kita usahakan. Pastinya kita semua setuju, pembelajaran dan pengalaman tersebut akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Bukankan sabda Nabi Muhammad, bila menjadi lebih baik dari sebelumnya, seorang manusia telah beruntung? Tidakkah itu cukup?

Semoga, kita bisa memaknai arti usaha dan berhasil dalam lingkup iman dan taqwa. Bahwa Allah selalu bersama kita, dalam suka atau sedih, bahagia atau terluka, gagal atau berhasil. Dan yakini, Allah tidak akan pernah mengubah nasib hamba-Nya, sebelum hamba itu berusaha, sekuat tenaga, sesuai ajaran syariat Islam. Wallahu a’lam bishshowab. (*Penulis merupakan pengajar di Komunitas Peduli Anak Jalanan Jakarta)

AddThis Social Bookmark Button

KETERATURAN SEBAGAI CERMIN KEHORMATAN ISLAM

SEPTEMBER 2012

Oleh: Fauzi Hasan

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. Ash-Shaff: 4)

Kehormatan Islam dewasa ini sungguh sangat tergerus. Wacana-wacana mengenai keislaman cenderung dikaitkan dengan hal-hal yang mencoreng kehormatannya sebagai sistem hidup bernilai tinggi. Terorisme, kekerasan, kemiskinan, dan lingkungan kumuh adalah beberapa stigma negatif yang tidak pernah lepas disandangnya. Belum lagi jika melihat Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, namun tingkat korupsi termasuk dalam deretan negara-negara terkorup. Sebuah prestasi yang tidak patut dibanggakan.

Umat Islam saat ini ditamsilkan ibarat buih di lautan. Banyak namun bercerai-berai, gampang ditampiaskan, hanya berupa gerombolan acak dan bukan sebagai barisan kokoh nan teratur. Tengoklah di berbagai media massa, bagaimana kehormatan umat Islam begitu direndahkan dengan berbagai penindasan hingga penghilangan nyawa. Namun tidak ada satu negara Islam pun yang berani secara terbuka menentang ketidakadilan ini hingga membuat negara penindas ketakutan dan meminta maaf atas kesewenang-wenangannya. Hal ini terjadi karena umat Islam tidak bersatu, tidak sebagai barisan kokoh nan teratur.

Berbicara mengenai keteraturan, Islam sebagai sebuah sistem hidup dan the way of lifemengajarkan akan pentingnya keteraturan dalam melakukan segala aktivitas. Aktivitas wudhu dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan dan diakhiri dengan membasuh kedua kaki. Aktivitas sholat diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.Semua harus berjalan sesuai urutannya masing-masing, tidak ada yang dibolak-balik.

Bentuk keteraturan lainnya dapat disimak pada sebuah cerita dari seorang da’i yang bernama Dr. Yahya di negeri Paman Sam. Beliau berbincang denganseorang non-muslim Amerika tentang jamah haji dalam sebuah tayangan yang sedang mereka tonton di TV. Dr. Yahya bertanya kepadanya tentang waktu dibutuhkan agar orang-orang di Masjidil Haram dapat berbaris dengan rapi. Si non-muslim memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mengatur jutaan jamaah adalah sekitar 2-3 jam. Saat dikatakan jamaah ini menyebar hingga ke lantai keempat masjid, ia pun menyebutkan 12 jam waktu yang dibutuhkan untuk merapikan barisan. Namun ketika diberikan fakta bahwa jamaah ini berasal dari negara yang berbeda-beda, dengan bahasa ibu yang berbeda-beda, ia pun mengatakan mustahil bisa merapikan barisan yang sebanyak itu. Justru sebaliknya, tayangan di TV itu menunjukkan hanya dengan sebuah seruan iqomah dan ucapan dari Imam Sholat, “Istawuu..!”, maka berdirilah jutaan jamaah dalam shaf-shaf barisan yang tersusun menjadi rapi hanya dalam waktu kurang dari 2 menit. Subhanallaah! Kepatuhan melahirkan keteraturan.Si non-muslim terperanjat dan terkagum-kagum melihat kejadian yang menurutnya langka itu.

Selain sholat, keteraturan juga diajarkan dalam ibadah puasa. Momentum berpuasa mengajarkan keteraturan bagi setiap muslim. Keteraturan tersebut berupa arahan untuk menjalankan aktivitas kehidupan dengan baik, efisien, serta menyehatkan. Puasa mengajarkan setiap muslim untuk makan dan tidur dengan lebih teratur. Puasa Ramadhan memberi peluang bagi kita untuk memberi asupan makanan yang lebih terukur bagi tubuh. Selain itu, puasa juga mengatur pengendalian hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak dikendalikan ibarat kuda liar yang akan mengancam sang pemilik. Jika dibiarkan, ia akan merusak benda-benda di sekitarnya. Namun ketika kuda liar sudah ditundukkan, dijinakkan, dan diatur, maka kuda liar ini akan berubah wataknya menjadi penurut dan mematuhi segala perintah pemilik kuda.

Tidak hanya aktivitas ibadah ritual, keteraturan juga tercermin dari aktivitas non-ritual dalam konteks pergaulan di masyarakat (sosial). Tanpa keteraturan di jalan raya, maka yang terjadi adalah tingginya angka kecelakaan. Tanpa keteraturan dalam berbisnis, maka pengusaha-pengusaha tidak akan pernah sukses. Tanpa keteraturan dalam berlatih, maka prestasi tidak akan pernah digenggam olahragawan. Tanpa keteraturan, maka tentara manapun akan kalah dalam peperangan. Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam pun senantiasa mengingatkan untuk menjaga fitrah diri sebagai manusia. Jika sedang marah, maka aturlah diri untuk bisa mengendalikannya. Jika sedang senang, maka aturlah diri untuk tidak berlebihan. Jika sedang susah, maka aturlah diri untuk tidak menyusahkan orang lain dan menyiksa diri sendiri. Jika sedang sedih dan kalut, maka aturlah diri agar tidak lekas putus asa. Semua ini adalah bentuk-bentuk ibadah kepada-Nya.

Dari tulisan di atas, kita memahami bahwa keteraturan pada hakikatnya beresensi spiritual, dan untuk membangunnya harus dimulai dari diri sendiri. Jika keteraturan sudah dimulai dari diri sendiri dan dilakukan secara masif oleh setiap individu, maka keteraturan umat Islam pun menjadi keniscayaan. Keteraturan akan menciptakan kekokohan dan kekuatan umat Islam. Kendati tidak mudah, namun big achievement is begin from one small step.Cita-cita menjadikan umat Islam yang kuat dan terhormat, Insya Allah akan menjadi kenyataan. Keteraturan telah menjadi cerminan kehormatan Islam dan menjadi salah satu nilai agung yang dijunjungnya. Semoga kita senantiasa diberi kemampuan dalam menjalankan keteraturan dalam setiap sisi kehidupan, sebagai wujud pengabdian kita kepada Sang Maha Teratur. Wallahu A’lam bish Shawwaab. (Penulis adalah Ketua Umum YISC Al-Azhar Periode 2012-2013)

AddThis Social Bookmark Button

Mewujudkan Regenerasi Kepemimpinan

AGUSTUS 2012

Oleh: Muhammad Fadli

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS An-Nisa: 59).

Ada yang menarik kala kita mencermati ayat tersebut di atas, yakni perintah kepada orang-orang yang beriman untuk menaati Allah, menaati Rosul, dan pemimpin (ulil amri). Ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rosul adalah sesuatu yang mutlak, namun pada pemimpin dihubungkan oleh kata “dan” tanpa ada kata “taatilah” yang mengiringinya. Sebagian ulama berpendapat, maksud dari ayat tersebut bahwa tiada ketaatan kepada pemimpin manakala ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rosul diabaikan oleh sang pemimpin dalam menjalankan kebijakannya. Namun manakala pemimpin telah menjalankan kepemimpinannya berdasarkan aturan yang digariskan Al-Qur’an dan Ash-Sunnah, maka adalah kewajiban bagi tiap orang yang mengaku beriman untuk menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh seorang pemimpin, sami’na waato’na (kami dengar dan kami taat).

AddThis Social Bookmark Button

Read more...