Asy-Syahiid , Maha menyaksikan; Allah maha menyaksikan seluruh perbuatan makhluk-Nya

NOVEMBER 2011

Maha menyaksikan; Allah maha menyaksikan seluruh perbuatan makhluk-Nya

Allah Azza wa Jalla Maha Melihat, melihat setiap apa yang kita lakukan, dan kelak akan memintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah kita lakukan. Maka dari itu, melakukan sebuah pekerjaan atau ‘amal dengan kualitas terbaik, menjadi sebuah keniscayaan.

Asy-Syahiid dapat berarti bahwa Allah adalah zat yang maha mengetahui segala urusan alam semesta beserta isinya tanpa kecuali. Dengan kata lain hanya Allah lah yang mampu mengetahui dan melihat semua yang diucapkan dan dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya. Salah satu makna asy-Syahiid adalah bahwa Allah itu selalu ada dan menyaksikan seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi. Dia lah Allah yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Allah menjadi saksi atas apa yang telah disampaikan oleh para rosul-Nya serta menjadi saksi pula atas ketaatan setiap hamba. Allah lah yang dapat menghisab amal manusia serta membalasnya dengan adil karena Allah Maha menyaksikan segala aktifitas hamba-hamba-Nya.

Allah sebagai Asy-Syahiid dapat dipahami bahwa Allah hadir, tidak gaib dari segala sesuatu, serta “menyaksikan segala sesuatu”. “Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu. Allah dapat disaksikan pula oleh segala sesuatu melalui bukti-bukti kehadiran-Nya di dunia. Apakah ada keraguan terhadap keberadaan Allah, Dzat Pencipta langit dan bumi”. Asy-Syahiid-Nya Allah; sifat Menyaksikan-Nya Allah berbeda dengan menyaksikannya manusia. Perbuatan menyaksikan Allah meliputi segala sesuatu, tidak terbatas ruang dan waktu, hingga detail yang tak mungkin dilakukan makhluk. Sebagai ilustrasi, tatkala kita menyaksikan pertandingan sepakbola, kita terikat pada satu objek, satu waktu tertentu, dan satu kondisi tertentu pula. Lain halnya dengan Maha Menyaksikan yang

Allah swt lakukan.

 

 

Meneladani sifat Asy-syahiid:

Pertama, kita dituntut untuk berlaku ihsan dalam hidup; Berhati-hati dalam berbicara dan bertingkah laku, mengucapkan basmallah ketika akan melakukan sesuatu dan melakukan segala sesuatu dengan cara terbaik. Allah SWT melihat apa yang kita lakukan, dan kelak  akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang kita lakukan tersebut. Karena itu, melakukan sebuah pekerjaan atau amal dengan kualitas terbaik, menjadi sebuah keniscayaan. Rasulullah SAW mengungkapkan makna ihsan ini tatkala beliau ditanyai Malaikat Jibril, Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Kedua, Menjadi saksi yang benar dan tidak mudah dipengaruhi. Kita dituntut untuk menjadi saksi kebenaran atau pembela kebenaran. Allah SWT berfirman dalam surat ash-Shaff ayat 10-12,” Hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.”  Tidak mudah menjadi manusia istiqamah dalam kebenaran, diperlukan pemahanan yang baik, tekad kuat meraih ridha Allah, serta ketahanan mental yang ekstra untuk menahan segala tekanan dan godaan. Ketiga, kita dituntut untuk menjadi teladan kebaikan. Salah satu kunci perubahan adalah teladan. Dengan menjadi teladan, amal ibadah kita “disaksikan” oleh orang-orang di sekitar kita. Jika kita mampu menjadi teladan kebaikan, sebagaimana diperankan Rasulullah SAW, maka ketika itu kita telah meneladani Allah dalam sifat-Nya sesuai kemampuan kita sebagai makhluk.

Dulu dimasa sahabat, sikap muraqabah (selalu merasa diawasi) tertanam dengan baik dihati setiap kaum muslimin. Kita bisa ambil sebuah contoh kisah. Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Umar berkata kepada anak tersebut: Wahai anak gembala, juallah kepada saya seekor kambingmu! Si anak gembala menjawab : Kambing-kambing ini ada pemliknya, saya hanya sekedar menggembalakannya saja. Umar lalu berkata : Sudahlah, katakan saja kepada tuanmu, mati dimakan serigala kalau hilang satu tidak akan ketahuan. Dengan tegas si anak itu menjawab : Jika demikian, dimanakah Allah itu? Umar demi mendengar jawaban si anak gembala ia pun menangis dan kemudian memerdekakannya.

Lihatlah, seorang anak gembala yang tidak berpendidikan dan hidup didalam kelas sosial yang rendah tetapi memiliki sifat yang sangat mulia yaitu sifat merasa selalu diawasi oleh Allah dalam segala hal. Itulah yang disebut dengan muraqabah. Muraqabah adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin menjadikan takwa sebagai bekal hidup kita ditahun ini dan tahun yang akan datang. Jika sikap ini dimiliki oleh setiap muslim, insya Allah kita tidak akan terjerumus pada perbuatan maksiat karena Allah akan selalu menyaksikan semua perbuatan kita. Imam Ghazali mengatakan : ‘Aku yakin dan percaya bahwa Allah selalu melihatku maka aku malu berbuat maksiat kepada-Nya”.

Semoga Allah yang Maha Menyaksikan, mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk bersikap ihsan, merasa melihat dan dilihat Allah dalam setiap gerak langkah kita dan memdorong setiap manusia untuk dapat berintrospeksi. (nda)

AddThis Social Bookmark Button