Al-Haq (Yang Maha Benar)
DESEMBER 2011

Allah berfirman dalam surat al-Hajj, ayat 6, “Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq ( Maha Benar) dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Secara bahasa, al-haq berarti kebenaran. Maksudnya adalah yang ada secara pasti, yang cocok dan sesuai dengan sebenarnya, yang ada dengan tanpa keraguan, tidak sia-sia dan tidak binasa. Allah memiliki sifat al Haq (Maha Benar), Dia adalah kebenaran absolut, selain Dia adalah kebenaran palsu. Itu artinya Allah adalah sumber kebenaran itu sendiri.
Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Al-Haq, Yang Maha Benar, pada Dzat dan sifat-Nya. Maka ada-Nya adalah suatu kepastian. Maha sempurna seluruh sifat-Nya. Dzat-Nya mengharuskan keberadaan-Nya, dan tiada keberadaan sesuatu dari suatu apapun kecuali dengan kehendak-Nya. Dialah yang masih tetap dan terus memiliki sifat keagungan, keindahan, dan kesempurnaan. Ucapan-Nya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya juga benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya adalah benar, dan segala sesuatu yang disandarkan kepada-Nya adalah benar.
Semua manusia cepat atau lambat akan menghadap Tuhannya. Maka berlaku benar dalam hidup adalah jalan terbaik sebagai bekal untuk menuju Yang Maha Benar. Orang yang beriman tidak akan cemas dan putus asa dalam menjalani peliknya kehidupan, karena ia yakin akan kebenaran janji-janji Allah yang diberikan kepada orang-orang yang beriman. Kepercayaan penuh terhadap Yang Maha Benar itulah yang menjadikan hidupnya lebih tenang dan bahagia.
Kehidupan dunia memang begitu indah, namun fana dan penuh tipu daya. Setan sering kali memperdaya manusia dengan segala iming-iming kenikmatan semu. Namun Allah tidak membiarkan hamba Nya terombang-ambing dalam sesat, oleh karena itu, Ia menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang benar untuk umat manusia. Petunjuk kebenaran tersebut telah jelas dan nyata, sekarang tinggal manusianyalah yang memutuskan untuk taat pada kebenaran atau malah berpaling darinya.
Kisah sahabat Nabi, Salman al-Farisi yang pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia, sebagai seorang Persia. Ia menganut agama Majusi, tapi ia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Kemudian ia mengalami pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab dan akhirnya memeluk agama Islam. Puluhan tahun perjalanannya meninggalkan ayah, harta, dan keluarganya. Sebuah hal baik dan tinggi yang membutuhkan penantian, pengorbanan, perjuangan, dan kesabaran. Bahkan, ia pernah menjadi budak demi pencarian kebenaran agama yang haq. Setelah memeluk Islam, Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam pertempuran khandaq. Ia adalah sosok sahabat yang zuhud dan siap mati demi membela agama yang haq, Islam.
Dapat disimpulkan bahwa "Al-Haq" (kebenaran sejati) itu adalah kebenaran yang bersumber dari Allah. Dan segala sesuatu yang tidak bersumber dari Allah adalah Bathil (kebatilan). Dengan demikian jelaslah bahwa orang-orang yang bahagia adalah orang-orang yang mengenal al-haq dan mengikutinya. Sedangkan orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang tidak mengenal al-haq sehingga mereka tersesat darinya. Atau orang-orang yang mengetahui al-haq tetapi mereka menyelisihinya dan mengikuti selainnya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar. (Pit)






