Asmaul Husna

More Articles...

As-Shamad

MEI 2013

Ash-Shamad adalah salah satu nama Allah  yang sangat agung (asma ul husna). Kita akan mengetahui keagungan nama ini apabila kita mengetahui penjelasan tentang nama tersebut. As-Shamad yang artinya Penguasa Yang Maha Sempurna dan Bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Allah mempunyai sifat As-Shamad yaitu Allah Yang Maha dibutuhkan. Manusia mempunyai naluri untuk menuhankan sesuatu. Termasuk komunis sekalipun. Ada yang berhasil menuhankan Allah ada yang tidak berhasil menuhankan Allah. Komunis menuhankan sesuatu, karena tidak mengenal Allah. Sehingga dia menuhankan dunia.

Allah berkuasa penuh dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu apapun. Sedangkan kekuasaan manusia lemah, karena pasti ada pengaruh dari yang lain dan sifatnya adalah lemah. Kalau kita bersandar kepada makhluk, makhlukpun membutuhkan sesuatu. Walau kita sering berinteraksi dengan makhluk, hati tetap jangan bersandar kepada-Nya. Karena kalau kita bersandar kepada makhluk, maka martabat kita turun, karena jika tidak diijinkan oleh Allah akan kecewa.

Ketika lautan bergerumuh, ombak menggunung dan angin bertiup kencang, semua penumpang kapal panik dan hanya satu yang bisa dipinta; Allah! Semua penumpang kapal menyeru, "Ya Allah, bantulah kami!"

Ketika seseorang tersesat di hutan rimba, sendiri tanpa teman tanpa kerabat, hanya ditemani pepohonan dan suara-suara yang semakin mencekam, ia tidak mengetahui jalan keluar, tidak pula mengetahui arah yang benar, satu yang hanya diingat; Allah! maka ia berseru "Ya Allah, tolong hamba!"

Ketika musibah menimpa, bencana melanda dan tragedi terjadi, orang-orang yang tertimpa musibah akan selalu berseru; "Ya Allah... Ya Allah...!"

Dalam surat al-Ikhlas Nama Allah Ta’ala yang agung ini disebutkan dalam firman-Nya:

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu)"

Jika seorang hamba mengetahui bahwa Rabbnya Allah Ta’ala memiliki semua sifat mulia dan sempurna, Dia Maha Perkasa dan tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkan-Nya, Dialah tempat bersandar dan bergantung semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari kemurkaan-Nya kecuali dengan kembali kepada-Nya. Dan Dialah satu-satunya yang dituju oleh semua makhluk untuk memenuhi segala kebutuhan, permintaan dan pengharapan mereka, maka ini akan menjadikan hamba tersebut selalu bersandar kepada-Nya semata, tidak meminta keperluannya kecuali kepada-Nya, tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya, serta tidak meminta pertolongan dan berserah diri dalam segala urusannya kecuali hanya kepada-Nya.

Dalam firman-Nya yang lain:

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS an-Naml:62)

Semoga Allah yang menguasai segala-galanya, menolong kita semua agar tidak berharap kepada makhluk. Tetapi cukup berharap kepada Allah SWT. Karena sehebat apapun makhluk dia tidak akan pernah bisa menolong diri kita tanpa izin Allah SWT. Bergabungnya jin dan manusia ingin berbuat sesuatu untuk menolong kita, tetap saja tidak akan pernah terjadi kecuali izin Allah SWT. Bergabungnya jin dan manusia ingin mencelakakan kita, tetap tidak akan jatuh satu helai rambutpun kecuali dengan izin Allah. Andai kita ingin bahagia, berhentilah bergantung kepada makhluk. (yk/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Al-Ahad

APRIL 2013

Allah al-Ahad, artinya Allah yang Maha Esa. Allah Esa Dzat-Nya, Esa sifat-Nya dan Esa perbuatan-Nya. Tiada satupun makhluk yang menyamai-Nya. Keesaan-Nya demikian murni sehingga Al-Ahad yang menunjukan kepada-Nya hanya disebut satu kali dalam al-Qur’an, dan hanya ditunjukan kepada-Nya semata.

Di dalam Al-Qur’an diterangkan, “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas :1-4)

Allah Esa Dzat-Nya karena tidak terdiri atas bagian-bagian dan tidak berbilang. Esa sifat-Nya karena tidak sama dengan makhluk-makhluk-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya. Tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal (ahad) dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Tunggal (al-ahad) dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia.

Nabi Muhammad saw merupakan nabi terakhir dimana dialah satu-satunya nabi yang memiliki mukzizat Al-Qur’an, yakni kitab suci umat Islam, dan kitab penyempurna dari kitab-kitab suci terdahulu (zabur, taurat, injil). Mukzizat Al-Qur’an itulah yang membawa sejarah awal Muhammad bin Abdullah menjadi seorang Rasul Allah.

Berawal ketika beliau tengah berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira. Lalu tiba-tiba datanglah seorang malaikat seraya mengatakan, “Bacalah!” beliau menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”

Lalu malaikat itu menarik dan mendekap beliau dengan erat hingga beliau merasa kepayahan, lalu malaikat Jibril melepas. Kembali ia mengatakan, “Bacalah!” beliau menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”

Lalu Jibril menariknya untuk kedua kalinya dan mendekapnya dengan erat hingga beliau merasa kepayahan kemudian ia melepaskannya. Dia tetap memerintahkan, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Lalu Jibril kembali menariknya untuk ketiga kalinya dan mendekapnya dengan erat hingga beliau merasa kepayahan, lalu melepaskan kemudian mengatakan;

Bacalah dengan (menyebut) Nama Robbmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Robb mu lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Iqraa :1-5)

Kisah tersebut merupakan awal dari turunnya wahyu pertama kali dan merupakan sejarah awal kerasulan nabi Muhammad saw yang merupakan satu-satunya nabi terakhir atau yang disebut dengan khatimul ambiya. Nabi Muhammad membawa agama Islam yang merupakan satu-satunya agama yang diridhoi Allah swt. Dimana agama Islam menjadi kenikmatan terbesar yang saat ini kita rasakan sehingga patutlah kita mensyukurinya dengan selalu beribadah dan mengesakan Allah Yang Ahad. (Yk/berbagai sumber)

Al-Ahad
AddThis Social Bookmark Button

Al-Wahid

MARET 2013

Al-Wahid merupakan salah satu nama Allah (asma ul husna) yang Allah yang baik dan indah. Kata Al- Wahid ini mempunyai makna dari akar kata yang sama, yaitu satu atau tunggal. Nama ini menunjukkan akan ke-Esaan dan ketunggalan-Nya, yaitu Yang tunggal dengan sifat-sifat keagungan, kebesaran dan kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Dialah Yang Maha Esa dalam Dzat-Nya, dan tidak ada tandingan Bagi-Nya.

Konteks yang sesuai untuk memahami Al-Wahid ini salah satunya adalah surat Ar-Ra’d ayat 16 yang artinya sebagai berikut:

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

Menurut Imam al-Ghazali Al-Wahid adalah sesuatu yang tidak terdiri dari bagian-bagian atau tidak berdua. Tidak seperti matahari, yang walaupun ia satu tetapi terdiri dari beberapa bagian-bagian, maka tidak bisa kita katakan wahid apalagi kalau kita tahu bahwa ada lebih dari satu matahari untuk galaksi lain.

Dengan mengetahui tentang Al-Wahid yang merupakan salah satu dari asma ul husna, kita jadi tahu bahwa Allah adalah yang Maha Esa tidak ada satupun yang dapat menyerupai-Nya, tidak ada yang seperti Dia, tidak ada sekutu dalam zat, sifat, perbuatan, perintah. Semua yang lain adalah mahluk ciptaan-Nya. Bagaimana mungkin sesuatu yang dibuat dan dipelihara oleh Nya dapat dipersamakan dengan-Nya.

Ali Al-Khawwash berkata: “Ahad itu ada 4 macam. Pertama, ahad yang tidak berpihak, tidak terbagi, dan tidak memerlukan tempat; dia adalah Tuhan. Kedua, ahad yang berpihak, yang terbagi, dan yang memerlukan tempat; ia adalah jasmani. Ketiga, ahad yang berpihak, tidak terbagi, dan memerlukan tempat; dia adalah nyawa. Keempat, ahad yang tidak berpihak, tidak terbagi, dan memerlukan tempat; ia adalah tabi’at.”

Tidak ada yang Esa mutlak kecuali hanya Allah swt, sebab Dia qadim (sesuatu yang azali). Di dalam surat al-Ikhlas Allah menjelaskan secara jelas mengenai Al-Wahid milikNya.

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Surat Al-Ikhlas  berisi pengajaran tentang tauhid. Oleh karena itu, surat ini dinamakan juga Surat Al-Asas, Qul Huwallahu Ahad, At-Tauhid, Al-Iman, dan masih banyak nama lainnya.  Ada dua sebab kenapa surat ini dinamakan Al-Ikhlash.Yang pertama, dinamakan Al-Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlash. Yang kedua, dinamakan Al-Ikhlash karena surat ini murni membicarakan tentang Allah.

Allah  Al-Wahid ialah Dzat yang munfarid (sendirian) di dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya, tidak terbagi-bagi dan tidak terkelompokkan. Sifat-Nya tidak menyerupai sesuatu dan tidak diserupai oleh sesuatu, dan perbuatan-Nya tidak disekutui oleh apa pun.

Begitu juga yang dikatakan oleh Imam Sya’rani di dalam kitab Al-Yawaqit, bahwa Al-Wahid itu ialah Dzat yang tidak terbagi-bagi dan tidak diserupai. Yakni, tidak ada kemiripan sedikit pun antara Dia dan hamba-Nya. Dan keberadaan-Nya itu tanpa permulaan dan tanpa akhir. Kalau tidak demikian, tentu ia ada yang baru, sedang yang baru itu memerlukan yang mengadakan. Mahasuci Allah dari hal itu.  (yk/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Al-Maajid (Maha Mulia)

FEBRUARI 2013

Al-Maajid adalah Dzat yang sangat sempurna kemuliaan-Nya, atau Yag Mahatinggi, lagi Mahabesar kekuasaan-Nya. Atau Yang Mahabanyak pemberian-Nya. Kemuliaan Dzat, bila digabungkan dengan kebaikan perbuatan.

Sifat Al Majiid memadukan makna-makna Al Jaliil (yang Penuh Keagungan yang Maha Luhur), Al Wahaab (yang Maha pemberi) dan Al Kariim (yang Maha Mulia). Lafazh Majiid ditemukan didalam Al-Qur'an sebanyak 4 kali, 2 kali menunjukkan kemuliaan Allah dan 2 kali menunjukkan kemuliaan Al-Qur'an.

Allah Yang Mahatinggi itu mulia dan agung dalam seuruh ciptaan-Nya dan lebih dari itu. Tak ada tangan yang dapat menjangkau-Nya, tak ada kekuatan yang dapat menyentuh-Nya. Tetapi, Dia lebih dekat kepada hamba-hamba-Nya daripada jiwa mereka sendiri. Dia memiiki cinta dan kasih sayang terhadap mereka yang jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap diri mereka sendiri. Karunia-Nya tidak terbatas: tak ada akhir bagi rahmat-Nya. Keadaan-Nya adalah kesempurnaan, dan perbuatan-Nya adalah kebijaksanaan semata.

Pada arti al-Majid terdapat dua unsur. Salah satunya adalah keagungan-Nya, kekuasaan-Nya yang membuat-Nya jauh berada di atas setiap usaha untuk menjangkau-Nya. Dan yang membuat-Nya dihormati dan ditakuti. Yang lain adalah kemuliaan dan kehormatan-Nya yang diperlihatkan dalam perbuatan dan sifat-Nya yang indah, yang karenanya Dia dipuji dan dicintai.

Berkenaan dengan keagungan dan kemuliaan Tuhan kita, maka hamba-hamba yang baik harus ikhlas, bersungguh-sungguh, dan tulus dalam beribadah kepada-Nya, maupun dalam semua perbuatan kita untuk mencari keridaan-Nya. Mendapat kekuatan dan kemuliaan dengan sendirinya.

Seperti yang terjadi pada Khadijah Binti Khuwailid. Ia adalah wanita pertama yang masuk Islam. Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalah nabi SAW, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta, dan keluarga. Ia istri yang tidak hanya berperan dalam rumah tangga saja, tapi juga ikut serta membantu perjuangan kaum Muslim dengan sepenuh jiwa raga.

Nabi SAW pun bahkan tidak pernah mendapatkan darinya, kecuali peneguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya, dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan , pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati, dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.

Itulah dia, Khadijah ra, yang Allah swt telah mengirim salam kepadanya. Malaikat Jibril menyampaikan salam itu kepada rasulullah SAW seraya berkata, “Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya.”

Kemudian rasulullah SAW bersabda, “Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Dan Khadijah menjawab, “Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (Kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”

Ini adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para sahabat yang terdahulu pertama masuk Islam serta khulafa ar-Rasyidin. Hal ini disebabkan sikap Khadijah ra pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung dakwah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah ra merupakan nikmat yang besar bagi Nabi SAW. Ia mendampingi nabi selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad, dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.

Allah Maha Mulia yang memuliakan hamba-Nya yang benar- benar taat kepada-Nya. Seoga kemuliaan-Nya dapat menyinari hati setiap insane di bumi. Sehingga tercipta perdamaian yang indah, terbuang segala iri dengki, rasa sombong dan angkuh atas apa yang sebenarnya bukan milik kita.  (lin/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Al-Waajid (Allah Maha Menemukan)

JANUARI 2013

Al Waajid adalah salah satu nama Allah (asmaul husna) yang berarti “Maha Menemukan”. Dimanapun dan bagaimanapun permasalahan yang kita alami, Dia akan Menemukan keberadaan kita. Tidak hanya itu, Dia akan membawa solusi yang bahkan seringkali tidak kita sadari.

Allah yang tidak menemukan hambaNya dalam satu keadaan melainkan Allah SWT ambil tindakan sesuai dengan keadaan hamba tadi. Contoh bila seseorang yang sakit memerlukan kesihatan Allah sembuhkan. Sikap Allah mengambil tindakan semasa hambaNya ditemui itulah al-Waajid.

Ini berarti ketika kita menghadapi masalah yang menghimpit, atau merasa bersendirian; atau  tidak ada kawan yang menemani, sebenarnya kita tidak pernah sendiri. Ini karena selalu ada Allah Al-Waajid bersama-sama kita.

Konteks terbaik untuk memahami Al Waajid adalah Surat Adh-Dhuha dalam al-Qur’an. Ketika itu, saat Sang Rasul gundah gulana karena wahyu yang tidak kunjung datang. Beliau khawatir Allah telah meninggalkannya. Lalu, turunlah Surat Adh-Dhuha dimana beliau mendapat jaminan bahwa dirinya tidak akan pernah ditinggalkan olehNya.

Sang Rasul diminta tidak pernah sangsi lagi tentang kehadiran Allah. Hal ini disampaikan melalui kalimat retoris dalam Surat Adh-Dhuha itu sebagai berikut:

Bukankah Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia ‘menemukanmu’ sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?

Seperti pula dikisahkan tentang Nabi Ayub as dalam surat Shaad ayat 44, Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya).”

Nabi Ayyub a.s. saat itu menderita penyakit kulit beberapa waktu lamanya dan ia memohon pertolongan kepada Allah s.w.t. Allah kemudian memperkenankan doanya dan memerintahkan agar ia menghentakkan kakinya ke bumi. Ayyub mentaati perintah itu Maka keluarlah air dari bekas kakinya atas petunjuk Allah, Ayyub pun mandi dan minum dari air itu, sehingga sembuhlah ia dari penyakitnya dan ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Maka mereka kemudian berkembang biak sampai jumlah mereka dua kali lipat dari jumlah sebelumnya. Pada suatu ketika Ayyub teringat akan sumpahnya, bahwa ia akan memukul isterinya bilamana sakitnya sembuh disebabkan isterinya pernah lalai mengurusinya sewaktu ia masih sakit. akan tetapi timbul dalam hatinya rasa hiba dan sayang kepada isterinya sehingga ia tidak dapat memenuhi sumpahnya. Oleh sebab itu turunlah perintah Allah seperti yang tercantum dalam ayat 44 di atas, agar Ayyub dapat memenuhi sumpahnya dengan tidak menyakiti isterinya Yaitu memukulnya dengan seikat rumput.

Di sini menunjukkan sikap wajada Allah, Allah akan memberikan penyelesaian yang sesuai terhadap apa saja keadaan hambaNya.

Mari kita renungkan hidup yang telah kita jalani. Betapa berulang kali kita berada pada kondisi kekurangan atau kebingungan. Bukankah semua itu dapat kita lewati dengan baik? Solusi selama ini mungkin berwujud berupa kehadiran seseorang tertentu atau sumber rizki tertentu, namun jika kita renungkan lebih dalam, mata hati kita akan melihat adanya campur tangan Allah di setiap kejadian itu. (lin/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button