Asmaul Husna

More Articles...

Al-Muqaddim (Allah Maha Menyegerakan)

AGUSTUS 2013

Al-Muqaddim artinya Maha Mendahului, Allah mendahulukan siapa yang di kehendakiNya. Allah menganugerahkan kepada sebagian hambaNya cinta yang tenang yang diciptakannya dalam hati manusia, sedang yang lain dengan sorak sorai yang keras.

Orang yang beriman harus sadar bahwa sekalipun Allah dapat mendahulukan orang yang dikehendakiNya, namun hukum-hukum Allah tetap berlaku. Untuk itu kita harus belajar berselaras dengan Allah dan bekerja sesuai hukum-hukumNya. Walaupun seorang hamba memiliki niatan yang baik di dunia dan telah mengusahakan yang terbaik, namun jika Allah tidak mengizinkan apa yang diusahakannya tidak akan terjadi sesuai keinginan hamba tersebut, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba tersebut.

Jika seorang hamba menerima apa yang ditetapkan oleh Allah tentang yang telah diusahakan nya, ia merupakan hamba yang maju karena membuatnya semakin dekat kepada Allah. Karena ukuran kemajuan seseorang diukur dari derajat kedekatannya dengan Allah.

Allah Al-Muqaddim dapat dipahami bahwa dia adalah Dzat yang mendahulukan. Menurut ulama, asmaul husna tersebut dimaknai bahwa Allah selalu mendahulukan petunjuk sebelum peringatanNya, mendahulukan peringatan sebelum siksaNya.

Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu bertengkar dihadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah member ancaman kepadamu.” QS. Qaf:28

Sebagai Sumber Inspirasi Sukses

Apakah kiranya yang didahulukan? Di antaranya ialah mendahulukan usaha (ikhtiar), mendahulukan kewajiban daripada hak, mendahulukan perbaikan karakter dan sebagainya.

Untuk mencapai sukses dan hidup beruntung, kita seharusnya mendahulukan ikhtiar. Apabila kita telah berikhtiar dengan cara bekerja keras, barulah kemudian kita bertawakal. Hasilnya kita serahkan Allah yang menentukan.

Untuk menjadi orang berjiwa besar dan bijak, hendaknya kita mendahulukan kewajiban daripada hak. Tunaikanlah kewajiban terlebih dahulu barulah kemudian kita mengharapkan hak. (Eby/Berbagaisumber)

AddThis Social Bookmark Button

Al-Muqtadir (Allah Maha Berkuasa)

JULI 2013

Kata al-Qadir dengan al-Muqtadir hampir mempunyai kesamaan makna. Al-Qadir artinya Yang Maha Menentukan. Sedangkan al-Muqtadir Yang Maha Berkuasa. Namun menurut sebagian ulama berpendapat, al-Muqtadir memiliki makna yang lebih kuat. Allah al-Muqtadir artinya Allah Yang Maha Kuasa (qudrat). KekuasaanNya tidak terbatas meliputi segala yang mungkin dan yang tidak memungkinkan dijangkau akal manusia.

Maka, siapa yang berani menentang kekuasaan-Nya yang begitu agung? Dia lebih berkuasa dari apapun dan siapapun di muka bumi ini. Bahkan, air, gunung, dan seluruh alam ini tunduk patuh hanya pada-Nya, tanpa terkecuali.

Sumber Inspirasi Sukses

Al-Muqtadir sebagai asma dan sifat Allah dapat menjadi sumber inspirasi sukses. Asmaul husna ini mengandung pesan agar kita memiliki jiwa kepemimpinan dan dan berpotensi.

Seperti teladan bagi seluruh umat, Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah contoh paling utama sosok inspirator yang sukses dalam segala bidang, baik duniawi maupun ukhrawi. Ia mampu mengubah pemikiran umat yang tadinya jahiliyah menjadi umat muslim yang kuat dan taat. Mempunyai pengaruh baik bagi kaum muslim, maupun non muslim dalam bidang perdagangan. Dan dipercaya menjadi pemimpin seluruh umat muslim dengan daerah kekuasaan dari barat sampai ke timur. Dialah sosok yang disegani semua kaum, dari anak kecil, muda, dewasa, dan lanjut usia dengan jiwa kepemimpinan yang sampai saat ini belum ada yang bisa menandinginya.

Bahkan, para sahabat-sahabat Nabi pun mengakui kehebatan beliau dalam memimpin daulah Islamiyah saat itu. Tidak ada kebijakan yang diambil, yang kebiajakan itu bisa memberatkan salah satu pihak. Dialah pemimpin sebenar-benar pemimpin yang menjadi legenda, hingga saat ini.

Kebajikan sifat dan karakternya ini sudah terlihat semenjak ia belum menyandang gelar rasul. Seorang lelaki yang diberi gelar al-amin oleh masyarakat, yang artinya orang yang terpercaya, bahkan sebelum ia menjadi rasul.

Dan sesungguhnya dalam hal ini, al-Muqtadir juga dapat menjadi inovasi dalam pembentukan kepribadian agar seseorang memiliki jiwa kepemimpinan. Kepemimpinan ini minimal dapat memimpin diri sendiri. Kemudian meluas menjadi pemimpin dalam lingkungan sosial terkecil (sebuah rumah tangga). Lalu meningkat menjadi pemimpin lebih luas lagi.

Mulai sekarang hendaknya kita melatih diri agar terbiasa berpikir kritis, bertindak cermat, dan penuh perhitungan. Jadilah orang yang percaya diri dan tidak terombang-ambingkan pendapat orang lain yang tidak benar. Selanjutnya kita harus tegas dalam mengambil keputusan. Inilah karakter pribadi yang memiliki jiwa kepemimpinan.

Selain itu hendaknya kita memotivasi diri untuk menjadi manusia yang berpotensi. Di dalam diri ini terdapat potensi yang jika dilatih akan memunculkan energi luar biasa. Cobalah untuk mengenali diri sendiri. Pasti kita akan mendapatkan bakat dan keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Biasanya potensi itu bisa dikembangkan melalui berlatih dan terus menggali ilmu pengetahuan. Dengan cara ini kita akan mudah mendapatkan sukses hidup. (lin/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Al-Qadir (Maha Menentukan)

JUNI 2013

Al-Qadir artinya Maha Menentukan. Ada yang memaknai bahwa Allah adalah Dzat yang memegang kekuasaan dari setiap hamba-Nya yang mempunyai kekuasaan.

Berkaitan dengan sifat dan asma Allah al-Qadir, diterangkan dalam al-Qur’an surah al-Isra’ ayat 99: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang dzalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.”

Al-Qadir ialah Dzat yang kalau Dia mau, Dia lakukan, dan kalau tidak mau, tidak Dia lakukan, dan bukan termasuk syarat-Nya untuk mesti menghendaki. Yang kuasa secara mutlak itu ialah yang menciptakan segala sesuatu yang ada dengan penciptaan yang tersendiri dan terlepas dari bantuan lainnya-Dia adalah Allah SWT.

Sedangkan hamba, ia juga mampu berbuat sesuatu, akan tetapi kurang sempurna, karena tidak bisa kecuali sebagian yang mungkin. Dan yang menciptakan kemampuan si hamba itu tidak lain adalah Allah SWT.

Berakhlak dengan kedua ism ini mengharuskan kita tidak melalaikan sesuatu pun dari kehendak Allah sesuai dengan kemampuan kita, dan mencurahkan segenap kemampuan kita dalam berbuat bakti kepada-Nya guna mencapai ridha-Nya.

Menjadi Sumber Inspirasi Sukses

Al-Qadir mengandung pesan agar kita senantiasa bertawakal kepada Allah dan tidak sombong dalam menjalani kehidupan.

Bertawakal kepada Allah mencakup niat yang baik ketika hendak mengawali sebuah pekerjaan. Ingat selalu untuk senantiasa menyertai doa dengan harapan Allah mengabulkan hajat (keinginan kita).

Termasuk tawakal adalah terlebih dulu berikhtiar untuk mencapai sukses. Kemudian hasilnya kita serahkan kepada kebijaksanaan Allah. Apapun yang kita dapatkan dari jerih payah harus dinilai baik. Jika terkesan tidak baik, sesungguhnya di balik itu tersimpan kebaikan.

Adapun akhlak yang tercakup dalam sifat tidak sombong dengan tida merasa bahwa hasil yang kita dapatkan sepenuhnya atas jerih payah sendiri. Rendah dirilah. Sesungguhnya sukses yang tergenggam di tangan itu karena adanya turut campur Allah dan orang-orang di sekeliling kita.

Tidak sombong ketika memulai sesuatu. Boleh kita merasa yakin jika apa yang hendak kita kerjakan itu berhasil. Namun ingat, tanpa ijin Alla semuanya menjadi berantakan.

Seperti Abdurrahman ibn Auf, sahabat Nabi SAW yang kaya, tapi tidak sombong. Dan selalu menyisihkan hartanya untuk zakat dan menyantuni fakir miskin pada masa Rasulullah SAW.

Dengan demikian, apabila kita telah merengkuh kekayaan, manfaatkanlah untuk sarana menolong fakir miskin. Dan tentunya, menganggap kekayaan itu hanyalah sebuah titipan (amanah dari Allah). (lin/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

As-Shamad

MEI 2013

Ash-Shamad adalah salah satu nama Allah  yang sangat agung (asma ul husna). Kita akan mengetahui keagungan nama ini apabila kita mengetahui penjelasan tentang nama tersebut. As-Shamad yang artinya Penguasa Yang Maha Sempurna dan Bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Allah mempunyai sifat As-Shamad yaitu Allah Yang Maha dibutuhkan. Manusia mempunyai naluri untuk menuhankan sesuatu. Termasuk komunis sekalipun. Ada yang berhasil menuhankan Allah ada yang tidak berhasil menuhankan Allah. Komunis menuhankan sesuatu, karena tidak mengenal Allah. Sehingga dia menuhankan dunia.

Allah berkuasa penuh dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu apapun. Sedangkan kekuasaan manusia lemah, karena pasti ada pengaruh dari yang lain dan sifatnya adalah lemah. Kalau kita bersandar kepada makhluk, makhlukpun membutuhkan sesuatu. Walau kita sering berinteraksi dengan makhluk, hati tetap jangan bersandar kepada-Nya. Karena kalau kita bersandar kepada makhluk, maka martabat kita turun, karena jika tidak diijinkan oleh Allah akan kecewa.

Ketika lautan bergerumuh, ombak menggunung dan angin bertiup kencang, semua penumpang kapal panik dan hanya satu yang bisa dipinta; Allah! Semua penumpang kapal menyeru, "Ya Allah, bantulah kami!"

Ketika seseorang tersesat di hutan rimba, sendiri tanpa teman tanpa kerabat, hanya ditemani pepohonan dan suara-suara yang semakin mencekam, ia tidak mengetahui jalan keluar, tidak pula mengetahui arah yang benar, satu yang hanya diingat; Allah! maka ia berseru "Ya Allah, tolong hamba!"

Ketika musibah menimpa, bencana melanda dan tragedi terjadi, orang-orang yang tertimpa musibah akan selalu berseru; "Ya Allah... Ya Allah...!"

Dalam surat al-Ikhlas Nama Allah Ta’ala yang agung ini disebutkan dalam firman-Nya:

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu)"

Jika seorang hamba mengetahui bahwa Rabbnya Allah Ta’ala memiliki semua sifat mulia dan sempurna, Dia Maha Perkasa dan tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkan-Nya, Dialah tempat bersandar dan bergantung semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari kemurkaan-Nya kecuali dengan kembali kepada-Nya. Dan Dialah satu-satunya yang dituju oleh semua makhluk untuk memenuhi segala kebutuhan, permintaan dan pengharapan mereka, maka ini akan menjadikan hamba tersebut selalu bersandar kepada-Nya semata, tidak meminta keperluannya kecuali kepada-Nya, tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya, serta tidak meminta pertolongan dan berserah diri dalam segala urusannya kecuali hanya kepada-Nya.

Dalam firman-Nya yang lain:

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS an-Naml:62)

Semoga Allah yang menguasai segala-galanya, menolong kita semua agar tidak berharap kepada makhluk. Tetapi cukup berharap kepada Allah SWT. Karena sehebat apapun makhluk dia tidak akan pernah bisa menolong diri kita tanpa izin Allah SWT. Bergabungnya jin dan manusia ingin berbuat sesuatu untuk menolong kita, tetap saja tidak akan pernah terjadi kecuali izin Allah SWT. Bergabungnya jin dan manusia ingin mencelakakan kita, tetap tidak akan jatuh satu helai rambutpun kecuali dengan izin Allah. Andai kita ingin bahagia, berhentilah bergantung kepada makhluk. (yk/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Al-Ahad

APRIL 2013

Allah al-Ahad, artinya Allah yang Maha Esa. Allah Esa Dzat-Nya, Esa sifat-Nya dan Esa perbuatan-Nya. Tiada satupun makhluk yang menyamai-Nya. Keesaan-Nya demikian murni sehingga Al-Ahad yang menunjukan kepada-Nya hanya disebut satu kali dalam al-Qur’an, dan hanya ditunjukan kepada-Nya semata.

Di dalam Al-Qur’an diterangkan, “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas :1-4)

Allah Esa Dzat-Nya karena tidak terdiri atas bagian-bagian dan tidak berbilang. Esa sifat-Nya karena tidak sama dengan makhluk-makhluk-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya. Tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal (ahad) dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Tunggal (al-ahad) dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia.

Nabi Muhammad saw merupakan nabi terakhir dimana dialah satu-satunya nabi yang memiliki mukzizat Al-Qur’an, yakni kitab suci umat Islam, dan kitab penyempurna dari kitab-kitab suci terdahulu (zabur, taurat, injil). Mukzizat Al-Qur’an itulah yang membawa sejarah awal Muhammad bin Abdullah menjadi seorang Rasul Allah.

Berawal ketika beliau tengah berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira. Lalu tiba-tiba datanglah seorang malaikat seraya mengatakan, “Bacalah!” beliau menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”

Lalu malaikat itu menarik dan mendekap beliau dengan erat hingga beliau merasa kepayahan, lalu malaikat Jibril melepas. Kembali ia mengatakan, “Bacalah!” beliau menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”

Lalu Jibril menariknya untuk kedua kalinya dan mendekapnya dengan erat hingga beliau merasa kepayahan kemudian ia melepaskannya. Dia tetap memerintahkan, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Lalu Jibril kembali menariknya untuk ketiga kalinya dan mendekapnya dengan erat hingga beliau merasa kepayahan, lalu melepaskan kemudian mengatakan;

Bacalah dengan (menyebut) Nama Robbmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Robb mu lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Iqraa :1-5)

Kisah tersebut merupakan awal dari turunnya wahyu pertama kali dan merupakan sejarah awal kerasulan nabi Muhammad saw yang merupakan satu-satunya nabi terakhir atau yang disebut dengan khatimul ambiya. Nabi Muhammad membawa agama Islam yang merupakan satu-satunya agama yang diridhoi Allah swt. Dimana agama Islam menjadi kenikmatan terbesar yang saat ini kita rasakan sehingga patutlah kita mensyukurinya dengan selalu beribadah dan mengesakan Allah Yang Ahad. (Yk/berbagai sumber)

Al-Ahad
AddThis Social Bookmark Button