Konsultasi Agama

More Articles...

Hukum Membatalkan Puasa dan Berhubungan Suami Istri

AGUSTUS 2013

Assalamualaikum wr. Wb.

Ustadz, suatu ketika saya membatalkan puasa Ramadhan dengan makan, lalu saya berhubungan suami istri. Apakah saya harus membayar puasa saya yang saya batalkan, dan juga harus membayar kafarah (tebusan). Saya harus bagaimana, ustadz? Terima kasih tausiyahnya, Ustadz. (08578198xxxx)

Waalaikumsalam wr. Wb.

Sahabatku yang dirahmati Allah, shaum merupakan salah satu sendi agama dan di atasnyalah didirikanIslam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a; “Ikatan Islam dan sendi agama itu ada tiga, di atasnya didirikan Islam, dan siapa yang meninggalkannya salah satu di antaranya berarti ia kafir terhadanya, dan halal darahnya;1) Mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, 2) shalat fardhu, dan 3) puasa Ramadhan.” (H.R. Abu Ya’la dan Dailami)

Demikian juga hadits yang bersumber dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi SAW bersabda; “Siapa yang berbuka pada satu hari dari bulan Ramadhan tanpa keringanan yang diberikan Allah padanya, tiadalah akan dapat dibayar oleh puasa sepanjang masa walau dilakukannya.” (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah,dan Turmudzi)

Sahabatku, begitu keras ancaman bagi yang membatalkan puasa tanpa udzur yang dibenarkan oleh syara’, dan dia menanggung dosa. Orang yang membatalkan puasa dengan makan atau minum umpamanya, tentu orang itu sudah tidak puasa. Kalau tidak puasa leluasalah ia, tidak terikat dengan sesuatu syarat dan ia tidak harus membayar kafarah, tapi ia menanggung dosa.

Sahabatku, yang harus membayar kafarah ialah orang yang puasa bulan Ramadhan lalu berhubungan suami istri. Maka, wajib ia membayar kafarah (tebusan) sebagaimana hadits yang bersumber dari Abu Hurairah, “Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW lalu berkata: ‘Aku telah binasa ya Rasulullah’ Nabi bertanya: ‘Apa yang membinasakanmu?’ jawabnya: ‘aku telah menyetubuhi istriku di siang hari dibulan Ramadhan. Tanya Nabi: ‘Adakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang hamba?’ jawabnya, ‘Tidak’. Nabi bertanya lagi: ‘Mampukah engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?’ jawabnya: ‘Tidak’ Nabi bertanya lagi: ‘Adakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan 60 orang miskin?’ jawabnya: ‘Tidak’, kemudian ia duduk lalu datanglah seseorang membawa seikat kurma kepada Nabi SAW. Beliau bersabda (kepada orang itu): ‘Sedekahkanlah ini.’ Orang itu bertanya: ‘Apakah saya sedekahkan kepada orang yang lebih miskin daripada saya?’ ‘Ya’ jawab Nabi. Orang tadi berkata pula: ‘Saya adalah orang yang paling miskin di daerah saya’ Nabi tersenyum lalu bersabda: ‘Makanlah dengan keluargamu’

(HR. Bukhari Muslim)

Wallahu a’lam

AddThis Social Bookmark Button

Hukum Puasa bagi Musafir

AGUSTUS 2013

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Saya karyawan perusahaan dan sering ditugaskan ke luar kota. Ustadz, bagaimana puasa bagi orang musafir itu? Ia boleh berbuka puasa dan boleh tidak? Ataukah setiap musafir harus berbuka puasa? Terima kasih tausiyahnya, Ustadz. (03415187xxx)

Wa’alaikumsalam wr. Wb.

Sahabatku yang dirahmati Allah. Puasa merupakan sendi agama. Dan puasa Ramadhan itu hukumnya wajib, berdasarkan kitab al-Qur’an maupun sunnah. Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Adapun bagi orang musafir (dalam perjalanan) Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 185: “...dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..”

Adapun puasa bagi orang musafir, perhatikan hadits Rasulullah yang bersumber dari ‘Aisyah; “Bahwa Hamzah bin ‘Amr al-Aslamiy bertanya kepada Nabi SAW;”Apakah saya mesti puasa dalam perjalanan? (dan adalah dia orang yang suka banyak puasa). Nabi SAW menjawab,”Jika engkau mau, boleh engkau puasa, dan jika engkau tidak mau, boleh engkau berbuka (tidak puasa).” (H.R. Jama’ah, yaitu Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Dalam hadits yang lain terkait pertanyaan Hamzah tadi, Nabi SAW bersabda,” Berbuka (tidak puasa) itu adalah suatu kelonggaran (rukhshoh) dari Allah ta’ala. Maka barangsiapa menerima kelonggaran itu, adalah baik, tetapi barangsiapa suka berpuasa, maka tidak ada dosa atasnya.” (H.R. Muslim dan Nasa’i)

Jadi bagi orang yang musafir, berbuka itu baik, dan berpuasa itu tidak dosa. Jadi bukan keharusan (wajib) berpuasa.

Dan bagi musafir yang tidka kuat dan berakibat pada kesehatannya Rasulullah bersabda, “Bukanlah suatu kebaikan berpuasa dalam safar.” (H.R. Bukhari dan Muslim.)

Wallahu a’lam

AddThis Social Bookmark Button

Hukum Berhubungan Saat Berpuasa di Siang Hari

JULI 2013

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Ustadz, saya berpuasa sunnah agyamul baidh (hari – hari putih), karena birahi yang tidak bisa ditahan lagi, maka siang hari itu saya berhubungan suami istri. Bagaimana hukumnya dan apakah saya harus membayar kaffarah (denda) ?.

Terima kasih ustadz. (081 256 XXXX).


Wa’laikumussalam wr. Wb.

Sahabatku puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13 – 14 – 15 bulan hijriyah) merupakan puasa sunnah. Bagi yang berpuasa sunnah, lalu pada siang hari bercampur (berhubungan badan) dengan istrinya, maka puasanya batal.

Perbuatan itu dilakukan dengan sengaja, sama hal nya orang itu membatalkan puasa sunnahnya dengan berhubungan badan dengan suami istri.

Hal ini hampir serupa dengan yang menimpa atas diri Nabi saw. Yaitu Aisyah berkata : “Pada suatu hari nabi saw. Masuk bertemu aku lalu bertanya ; Adakah sesuatu (makanan) pada kamu? Maka kami jawab tidak ada. Nabi saw. Berkata Kalau begitu aku puasa. Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain. Maka kami berkata; ya rasulullah, kita dapat hadiah hais. Nabi berkata; tunjukkalah dia padaku; sesungguhnya aku hari ini berpuasa, lalu nabi saw. Makan (hais itu). (muslim).

Jelasnya nabi membatalkan puasanya dengan memakan hais (Hais makanan yang dibuat dari kurma, samin dan susu kering).

Sehubungan dengan pembatalan puasa sunnah dengan berhubungan badan tersebut, tidak terdapat satupun keterangan yang mewajibkan orang itu mengkodho (mengganti) puasanya, jika tidak ada keterangan yang menyuruh orang itu membayar kaffrah (denda).

Justru ada riwayat yang menunjukkan tentang hal yang ditanyakan itu pernah terjadi pada zanman khalifah Umar bin Khattab. Ismail bin Umayyah berkata : “Bahwa Umar bin Khattab pernah berkata pada kawan – kawannya, pada suatu hari : Apa pendapat kamu terhadap aku? Sesungguhnya aku hari itu telah berpuasa, lalu aku melihat jariyah (hamba cahaya perempuanku), lalu aku setubuhi dia, lalu Ali ra. Berkata ; engkau sudah puasa sunnah , lalu engkau kerjakan sesuatu yang halal (bersetubuh), aku tidak menganggap apa – apa atas (perbuatan) mu itu ”.

Hal yang sama juga dikerjakan oleh Ibnu Abbas. Wallahu a’lam.

AddThis Social Bookmark Button

Hukum Membayar Hutang Puasa Ramadhan Tahun Lalu di Tahun Ini?

JULI 2013

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Ustadz, apa yang harus saya lakukan jika bulan ramadhan sudah tiba, sedangkan hutang puasa saya pada bulan ramadhan sebelumnya, masih belum terbayarkan, sebanyak 7 hari?

Ustadz, bolehkah hutang puasa saya itu, saya bayar nanti sesudah bulan puasa. Dan apakah saya harus membayar fidyah? Terima kasih atas taushiyahnya.

(081 333 415 XXXX).


Wa’laikumussalam wr. Wb.

Sahabatku, tidak terdapat keterangan agama yang sah yang membatasi waktu untuk membayar hutang puasa. Jadi boleh ditunaikan sekalipun sesudah bulan ramadhan berikutnya.

Memang ada hadits riwayat Imam ahmad yang artinya : “Barang siapa dapati (puasa) ramadahan, padahal ia masi berhutang (puasa) ramadhan yang belum ia tunaikan, maka sesungguhnya tidak diterima dari padanya sebelum ia puasakan hutangnya itu”. (HR. Imam Ahmad ).

Juga riwayat Imam Ahmad yang lain : “Barang siapa dapati ramadhan , padahal ia berhutang sesuatu dari ramadhan (yang lalu) yang belum ia tunaikan, tidak diterima dari padanya (puasa ramadhan yang baru); dan barang siapa puasa sunnah, padahal ia masih berhutag puasa yang belum ia tunaikan, maka sesungguhnya tidak diterima (puasa sunnah) dari padanya sebelum ia puasakan hutangnya itu’. (HR. Imam Ahmad).

Maksud kedua hadits tersebut ialah membayar hutang puasa ramadhan tidak boleh ditunda sampai bulan ramadhan berikutnya. Namun dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ibnu Sahi’ah, yang padanya ada “ pembicaraan’ dan dia lemah dalam hafalannya. Sehingga haditsnya baru bisa diterima kalau ada hadits lain yang shahih (kedua) hadits tadi tidak terdapat maka tetaplah tidak bias dijadikan hujjah (tidak diterima).

Namun Imam An – Nakha’I memberikan catatan bahwa perbuatan semacam ini (menunda bayar hutang puasa sampai ramadhan berikutnya) adalah perbuatan tercela dan hendaklah mohon ampunan kepada Allah Swt. Tapi ia membolehkannya. Wallahu A’lam.

AddThis Social Bookmark Button

Hukum Tidak Sholat Berjamaah di Masjid

JUNI 2013

Assalamu’alaikum wr wb

Di tempat kerja saya dibagi tiga shift, sedangkan waktu sholat yang disediakan hanya 10 menit sehingga tidak mungkin untuk mendatangi masjid. Padahal orang buta saja diharuskan untuk mendatangi masjid, bagaimana saya harus bersikap? Mohon taushiyahnya, ustadz, dan terima kasih (08125234xxxx)


Wa’alaikumsalam wr wb

Sahabatku sholat berjamaah di Masjid diwajibkan oleh sebagian ulama berdasarkan hadist Rasulullah SAW yang bersumber dari Abu Hurairah ra, ia berkata:“Wahai Rasulullah sesungguhnya aku tidak mempunyai penuntun yang bisa mengajakku ke Masjid. Dan dia meminta kepada RAsulullah SAW agar memberikannya rukhsoh (keringanan) agar dirinya sholat di rumah, maka kemudian Rasulullahpun memberikan rukhsoh kepadanya. Namun ketika orang itu membalikkan badannya, Rasulullah memanggilnya dan berkata: ‘Apakah engkau mendengar panggilan Adzan?” dia menjawab ‘Ya’ lalu Rasulullah berkata, penuhilah panggilan itu.” (HR. Muslim & Nasa’i)


Namun, demikan bila terdapat uzur yang sulit dilaksanakan seperti kasus yang anda hadapi, maka yang penting anda tetap sholat berjama’ah bersama teman-teman anda secara bergiliran. Berdasarkan hadist yang bersumber dari Ibban bin Malik:“Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya pandanganku buruk, aku biasa melaksanakan sholat bersama kaumku, namun apabila turun hujan maka jalan antara aku dan mereka menjadi terhalang, sehingga aku tidak dapat mendatangi mushola mereka dan sholat berjamaah. Aku berharap engkau bisa melaksanakan sholat dirumahku, karena aku telah menjadikannya mushola, Rasulullah SAW menjawab, ‘Saya akan lakukan, Insya Allah’,” (HR. Muslim)

Sahabatku, bila adzan dikumandangkan atau waktu sholat telah tiba, maka segeralah sholat berjama’ah di masjid, kecuali bagi mereka yang memiliki uzur seperti, sakit, cacat fisik sehingga sulit untuk ke masjid, dokter yang sedang melakukan operasi atau hal lain yang sulit untuk mendatangi masjid seperti yang anda alami, yang penting tetap sholat berjama’ah.”

Hadist Rasulullah SAW: Seandainya manusia mengetahui keutamaan dari adzan dan shaf pertama dan mereka mengetahui bahwa mereka tidak akan mendapatinya kecuali dengan bersusah payah, maka pasti mereka akan bersusah payah . dan seandainya mereka mengetahui keutamaan dari datang lebih awal pasti mereka akan berlomba-lomba medapatkannya. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan di dalam sholat isya dan subuh pasti mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.” (HR. Bukhari-Muslim)


Wallahu’alam.

AddThis Social Bookmark Button